
Malam ini adalah malam dimana Willy akan mengumumkan berita kehamilan Lintang kepada seluruh keluarga besarnya. Ia sengaja belum memberi tahu siapa pun termasuk Ibunya sendiri. Willy jadi ingat percakapannya siang tadi saat berbicara dengan ibunya di telepon.
"Tumben Will kamu minta diadakan acara jamuan makan malam. Kan belum tanggalnya ini." Ujar Miranti. Keluarga besar mereka memang tetap akan mengadakan acara jamuan makan malam yang diadakan di rumah induk setiap bulan sebagai agenda rutin mereka.
"Iya Ma, ada hal yang pengen aku sama Lintang sampaikan malam ini." Sahut Willy, akhirnya Ibunya mengiyakan saja.
Sekarang Lintang dan Willy sedang bersiap. Willy melihat istrinya telah cantik dan rapi dengan gaun panjang semata kaki berwarna hitam dengan sedikit gliter yang pas membentuk tubuhnya. Rambutnya ia bentuk sedemikian rupa membuat penampilannya semakin anggun.
Willy memeluk Lintang dari belakang. Aroma wangi rambutnya seketika menyeruak indera penciuman.
"Kau cantik sekali." Bisik nya tepat di telinga Lintang.
Lintang tersenyum, sambil memandang cermin yang memantulkan bayangan mereka berdua. Willy juga terlihat meletakkan telapak tangannya di atas perut Lintang.
"Aku tidak sabar melihat ini akan membesar." Kata Willy lagi, ia mengusap perut Lintang yang masih ramping dengan lembut.
"Ya, dan dia akan menjadi gendut sekali." Lintang menimpali.
"Tak apa, aku tetap mencintaimu bagaimana pun bentuk mu nanti." Willy menghibur istrinya itu.
"Tapi, aku takut di luar sana akan banyak yang menggoda mu lagi." Balas Lintang, ia mulai tidak enak hati.
"Aku tidak akan menggubris mereka. Kau akan bertambah cantik dengan perut buncit mu nanti." Hibur Willy sambil menjawil hidung bangir istrinya. Mau tak mau Lintang jadi tersenyum juga mendengar celotehan suaminya itu.
__ADS_1
"Hmmm, apa Kakak sudah memberi tahu Mama tentang kehamilanku?" Tanya Lintang.
"Belum sayang, nanti akan kita umumkan, aku sengaja untuk memberi kejutan pada mereka." Sahut Willy sambil tersenyum.
Willy kemudian melepaskan dekapannya dari belakang tubuh istrinya itu. Ia mengajak Lintang untuk segera turun menuju mobil mereka. Keduanya berjalan saling bersisian. Willy tak henti menggenggam tangan istrinya penuh kasih dan sayang selama perjalanan sampai akhirnya mereka tiba di mobil yang segera membawa mereka menuju rumah induk.
...****************...
Mobil memasuki pekarangan rumah luas itu. Di sana juga telah terparkir beberapa mobil milik anggota keluarga besarnya yang lain. Nampaknya hanya mereka berdua lah yang datang paling terakhir. Willy dan Lintang melangkah menuju taman belakang. Beberapa pelayan yang sibuk mondar mandir menyiapkan hidangan menyapa mereka. Lintang bahkan sempat memeluk Mbok Nah tadi.
Di sana ternyata telah menunggu anggota keluarga yang lain. Lintang juga melihat Zacky ada di sana. Duduk tak jauh dari adiknya, Audy. Zacky melihat Lintang yang nampak cantik sekali malam ini. Ia juga membalas senyuman Lintang dan mencoba mengusir perasaan yang tidak kunjung pergi. Namun, Zacky tetap mencoba bersikap santai, ia harus tahu diri.
"Ini nih yang bikin acara malah baru datang." Goda Miranti Ibunya yang segera menyambut kedatangan mereka dengan sukacita.
Lintang memeluk Ibu Mertuanya itu dengan rindu. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu. Willy juga melakukan hal yang sama. Miranti bisa melihat Willy yang kini nampak berbeda. Ia terlihat sangat mencintai Lintang, tidak seperti awal ketika ia melihat dan akhirnya menikahi gadis itu. Miranti tersenyum, ia tahu watak putra nya. Ia tahu ketika Willy sudah menggilai sesuatu, ia akan sangat erat menggenggamnya. Ia jadi tersenyum sendiri.
"Kami maklum Will, sedang hangat-hangatnya, iyakan Mbak yu?" Tante Monik menggoda keduanya. Miranti juga hanya senyum-senyum menanggapi hal itu. Ia mengerti, ia juga pernah muda.
"Jadi apa yang akan kau sampaikan pada kami semua malam ini Will?" Tanya Ricky, Ayahnya. Willy memandang Lintang yang mengangguk pelan.
"Semoga ini berita bahagia untuk semua yang sudah berkumpul di sini malam ini." Willy membuka kalimat pertamanya. "Aku dan Lintang akan segera memiliki anak." Sambung Willy langsung ke inti acara.
Lama mereka terdiam sampai akhirnya.
__ADS_1
"Ma, kita akan punya cucu. Cucu, Ma. Cucu." Ricky memecahkan keheningan yang sempat tercipta tadinya. Disusul dengan suara lain yang menyambut bahagia kisah ini. Miranti sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memeluk Lintang erat lalu mengelus perut menantunya itu dengan haru.
Zacky melihat keduanya juga dengan penuh perasaan. Ia senang, tebakannya tidak meleset. Lintang akan menjadi ibu. Zacky menekan dalam semua perasaan terlarang itu. Ia bisa melihat lewat sorot matanya, betapa Lintang dan Willy kini saling mencintai.
Saat acara telah berakhir, Lintang di temani oleh Audy, Tante Monik juga Miranti. Mereka sedang berbincang di samping kolam renang. Audy semangat sekali bertanya tentang kehamilan Lintang, pun demikian halnya dengan Tante Monik dan Mama Miranti yang tidak kalah antusiasnya.
Zacky dan Willy duduk bersisian di kursi taman. Lama keduanya terdiam sampai akhirnya, Zacky menjulurkan tangan mengajak Willy berjabat untuk mengucapkan selamat atas kehamilan Lintang.
"Selamat ya Will, gue ikut senang." Ujar Zacky tulus yang segera di sambut Willy dengan senang hati pula.
"Makasih Zack. Makasih juga kemarin lo udah bantu Lintang, gue hutang budi sama lo." Balas Willy.
"Lo tau gue bakal selalu siap buat dia kapan pun." Zacky terkekeh, Willy menanggapinya dengan senyuman kecil.
"Makasih juga karena lo udah berbesar hati menerima hubungan gue sama Lintang." Lanjut Willy ia melihat Zacky yang tengah menerawang.
"Kakek itu gak salah pilih kok Will. Dia tau akhirnya cuma lo yang benar dicintai Lintang. Kita mencintai perempuan yang sama, dan gue harus mundur saat gue tahu Lintang lebih memilih lo." Kata Zacky lagi. Ia menyunggingkan senyumnya.
"Gue berhutang banyak sama lo." Sahut Willy.
"Bayar dengan berbuat baik dan terus bahagiain Lintang." Timpal Zacky. Ia tertawa, lebih tepat menertawakan nasibnya sendiri.
"Lo bisa memimpin perusahaan pusat Zack, kalo lo mau gue bakal serahin itu ke tangan lo." Kata Willy lagi.
__ADS_1
"Lo tau kan dari dulu gue gak peduli sama perusahaan itu. Lo lah yang lebih pantas." Zacky menanggapi. Ia memang tidak pernah berambisi ingin menguasai apa yang memang menjadi hak sepupunya itu kecuali tentang Lintang. Ia memang menyayangi juga mencintai Lintang, ia berambisi ingin memilikinya namun, ia tahu harus mundur teratur saat tahu dan mengerti Lintang lebih mencintai sepupunya itu.
"Zack, gue bangga punya sepupu kayak lo. Lo dan Lintang mengubah semua pandangan gue tentang hidup, bahwa gak semua hal yang bahagia itu harus tentang uang." Kata Willy, ia menengadahkan mata memandang langit yang cerah berbintang. Keduanya kemudian sama-sama diam dan hanyut dalam euforia perasaan masing-masing. Tak ada lagi permusuhan, itu yang terlihat kini dari keduanya.