
"Setya, putar balik! istriku akan segera melahirkan!" Willy memerintahkan itu pada Setya setelah menerima telepon dari Mbok Nah. Mereka sudah setengah perjalanan dan harus segera kembali secepatnya. Pantas saja dari tadi hatinya tak tenang meninggalkan Lintang. Hatinya semakin tak tenang. Ia berharap bisa menyusul Lintang secepatnya di rumah sakit.
Lintang sendiri saat ini sudah berbaring. Di temani mama ia berusaha menenangkan diri. Ini memang bukan persalinan pertama lagi, tapi tetap saja ia merasa sangat deg-degan saat ini.
"Nona, jangan terlalu banyak bergerak ya. Karena semakin banyak nona bergerak, air ketuban yang keluar akan semakin banyak juga." Perawat yang juga kepala bidan itu mengingatkan Lintang untuk tetap tenang.
"Sus, pasangkan infus ya." Perintah itu langsung dari Dokter Nuri yang menangani persalinan Lintang.
"Untuk apa infus dok?" Mama yang ingin tahu bertanya serius.
"Penting sekali memasang infus untuk pasien dengan kasus ketuban pecah seperti ini, Bu. Kita mengharapkan cairan akan tetap tersuplai ke rahim sebagai pengganti cairan yang keluar." Jelas dokter. Mama manut. Lintang ikut saja. Ia menurut semua yang akan dilakukan padanya.
Setelah memasang infus perawat memeriksa apakah sudah ada bukaan atau belum mengingat ketuban yang sudah pecah duluan itu. Ternyata belum ada pembukaan.
"Nona, kita pasang induksi ya." Kata perawat. Lintang mengangguk meski ia tahu pemasangan induksi akan membuat perutnya menjadi lebih mulas.
Beberapa menit setelah induksi dipasang, Lintang merasakan kontraksi semakin menyakiti dirinya. Lintang mengerang tertahan.
"Suster sakit sekali. Ma, sakit." Lintang hampir menangis setelah merasakan kontraksi semakin kuat dan cepat.
"Tenanglah Nona, induksi memang akan membuat nona merasa lebih nyeri, tapi itu akan mempercepat bukaan. Karena terlalu lama bayi dalam kandungan dengan ketuban yang sudah keluar bisa menyebabkan bayi kekeringan." Perawat berusaha menenangkan Lintang.
Lintang pasrah dengan semua instruksi. Ia akan menuruti semua yang dikatakan perawat dan dokter. Ia akan tetap bersabar dan menanti. Menunggu hingga pembukaan ada. Meski tubuhnya telah pegal sekali, balik kiri balik kanan, meringis, merintih, menangis. Mama menguatkan Lintang di segala situasi.
"Ma, suamiku.. "Lintang tidak sanggup meneruskan kalimatnya, perutnya terasa di cengkram kuat. Ia kembali meringis. Menggigit bibir menahan sakit yang teramat sangat.
__ADS_1
perawat masuk lagi, kembali memeriksa pembukaan setelah satu jam.
"Belum ada pembukaan Nona, bersabarlah, terus berdoa." Perawat kembali melaporkan perkembangan. Lintang memohon kepada Tuhan agar segera diberi pembukaan.
Dua jam berlalu akhirnya setelah kontraksi semakin terasa menyiksa tepat pukul sebelas pagi Lintang mendapat pembukaannya. Bukaan satu telah terjadi, berlanjut sampai bukaan tiga, rahim sudah mulai bersiap untuk membuka jalan lebih lebar untuk si kembar.
Lintang menahan kram tidak hanya di perut saja, tangan kirinya yang diinfus juga terasa sudah ngilu, punggung terasa mau rontok. Lintang menahan lelah karena sakit teramat sangat.
Willy masuk ke dalam ruangan dengan tergopoh-gopoh, Jas kerjanya sudah ia buka. Ia menghampiri Lintang, sungguh terluka hatinya melihat Lintang sudah pucat, menyebut nama nya dengan terbata-bata.
"Yah, sakit.. " Lintang meringis menahan ngilu. Willy meraih jemari istrinya lembut. Berusaha memberi kekuatan agar istrinya tetap bertahan.
"Sayang, kita operasi saja ya." Katanya membujuk Lintang. Ia sendiri sudah tidak sanggup melihat Lintang seperti itu, apalagi ada dua anak yang akan dikeluarkan istrinya itu.
"Gak papa Yah, aku masih kuat. Aku pengen normal. Aku mau berusaha terus." Terbata-bata Lintang.
Mama yang juga mendampingi Lintang tidak hentinya berdoa, ini memang bukan cucu pertamanya lagi tapi kelahiran kembar sangat mereka nantikan. Ia berharap rasa sakit kontraksi yang semakin menyerang menantunya bisa semakin mempercepat pembukaan rahim.
Tadinya Lintang mengira kontraksi kelahiran kedua ini tak semenyakitkan yang pertama dulu, tapi ternyata yang ia rasakan malah sakit yang teramat sangat. Mungkin karena bayinya kembar. Pergerakan di perut bagi bayi untuk mencari jalan keluar mungkin semakin kuat dan berdesakan.
Entahlah, Lintang hanya berharap semoga saja pembukaannya akan terus bertambah.
Pukul dua belas lewat hampir menyentuh pukul satu siang Lintang semakin mendapatkan pembukaannya. Pembukaan delapan telah ia dapatkan saat ini. Lintang semakin merasa perutnya dicengkram kuat. Rasa sakit semakin sering datang dan bertambah hebat saja.
"Tenang ya Bun, ambil nafas ya, berdoa ya sayang." Willy senantiasa menyemangati. Lintang sudah tidak bisa lagi menjelaskan bagaimana sakitnya. Ia mulai menangis tertahan.
__ADS_1
"Bukaan hampir lengkap, dokter." Perawat menginformasikan. Dokter kembali ke ruang persalinan.
"Dokter aku tidak kuat lagi, bayi nya mau keluar. Aku ingin mengejan." Teriak Lintang sudah diambang batas rasa sakitnya.
Perawat segera meletakkan kaki Lintang di gantungan juga diikat. Sebelumnya kelahiran Al yang pertama tidak seperti ini. Lintang menurut saja. Ia hanya ingin segera melahirkan secepatnya. Dorongan ingin mengejan terus terasa.
"Kita mulai sekarang ya Nona Lintang." Dokter mulai menginstruksikan untuk mengejan dengan teratur. Meski Lintang sudah pernah melakukan ini, tetap saja ia tidak kuat mengejan. Namun, setelah beberapa kali mengejan, bayi pertama lahir. Tangisnya memecah. Lintang belum bisa merasa lega karena masih ada satu bayi lagi.
"Mari Nona, yang kedua, sekarang ya. Mumpung leher rahim masih terbuka lebar." Dokter kembali menginstruksikan.
Lintang kelelahan lagi.
"Sayang, ayo bertahanlah. Lintang satu lagi sayang." Willy mengecup kening Lintang, menggenggam jemarinya kuat.
Lintang kembali mengumpulkan semua kekuatannya. Bayi kedua nyatanya lebih sulit untuk dilahirkan. Lintang mengerang. Bayinya sungsang! Dokter bersiaga, menginstruksikan Lintang untuk tetap mengejan.
"Nona, ayo kita keluarkan!" Dokter memberinya semangat, di tengah rasa sakit yang semakin menjadi Lintang dengan sekuat tenaga kembali mengejan, dokter segera menarik ketika kaki dan pantat bayi sudah semakin keluar. Bayi itu akhirnya keluar dan lahir dengan selamat beriringan dengan rasa sakit teramat pada panggul dan ****** Lintang.
"Sakit Ma, Yah." Lintang menangis sesegukan, menangis bahagia dan sakit disaat bersamaan. Bayinya kembar, sehat, sempurna, keduanya perempuan.
Willy tidak bisa menahan airmatanya lagi. Ia mencium Lintang berulang kali.
"Sayang terima kasih banyak." Ucap Willy dengan suara bergetar. Mama juga tidak kuasa menahan tangisnya. Ia segera memeluk Lintang lalu pergi melihat cucu kembarnya dengan perasaan haru.
Papa datang dan masuk terburu-buru. Ia memeluk mama yang juga sudah menangis haru. Mereka bahagia sekali.
__ADS_1
Lintang sudah tidak bisa berkata apapun selain memeluk Willy juga mengucapkan syukur masih bisa diberi kesempatan untuk hidup setelah bertaruh nyawa di ranjang persalinan. Sungguh Tuhan maha baik.