
Tepat dua minggu setelah berada di rumah sakit, papa akhirnya bisa kembali lagi ke rumah. Kondisinya sudah semakin baik dari hari ke hari. Meski papa belum bisa berjalan dengan cepat seperti biasa.
Para pelayan menyambut hangat kedatangan papa kembali kerumah. Seisi perusahaan juga sudah mendengar kembalinya papa dari rumah sakit, mereka semua menyambut gembira kabar ini.
"Papa mesti banyak istirahat ya. Nanti dokter akan selalu datang untuk melakukan pemeriksaan." Ujar Mama sambil meletakkan bantal agar papa bisa bersantai dengan posisi setengah duduk.
"Iya Ma, terima kasih ya." Papa menggenggam jemari mama.
"Pokoknya, papa tenang aja, masalah perusahaan, putra kita bisa mengatasinya dengan sangat baik." Mama balas menggenggam tangan suaminya lembut.
"Kakek kek." Suara Al terdengar, bocah itu sudah fasih memanggil kakeknya.
"Cucu Kakek, sini." Papa meminta mama meletakkan Al di atas ranjang.
Lintang menyusul, ia melihat anaknya itu sudah berada di atas ranjang bersama Kakek sementara mama duduk di tepi ranjang.
"Eh Al main sama Kakek nanti ya nak, kakek harus banyak istirahat." Lintang hendak mengambil Al lagi. Namun bocah itu tetap ingin berada di ranjang bersama Kakeknya. Saat Lintang ingin mengangkat anak gembul nya itu, Al malah mengeraskan tubuh.
"Sudah Lin, gak apa. Biarkan Al disini. Dia tidak menganggu kok." Kata papa sambil tersenyum. Lintang akhirnya mengangguk dan kembali ke bawah.
Willy baru saja pulang dari perusahaan. Hari ini ia pulang lebih cepat dari jam biasanya karena papa juga sudah kembali ke rumah.
Lintang membantu Willy melepaskan semua atribut kantor dari tubuhnya.
"Aku mandi dulu ya." Ujar Willy setelah mengecup kening Lintang dengan lembut.
"Iya Kak, aku ke bawah ya."
Willy mengangguk lalu lekas masuk ke dalam kamar mandi. Lintang sendiri pergi ke taman belakang, ia duduk di sana sambil membaca majalah.
Saat sedang bersantai itu, terasa perutnya bergerak. Lintang tersenyum seraya mengelus lembut perutnya yang sudah semakin membesar itu.
"Aktif sekali anak bunda." Ujar Lintang sambil terus mengusap perutnya.
"Aku ingin merasakannya." Suara Willy terdengar. Suaminya itu telah rapi dengan kaus santainya, ia telah selesai mandi, tubuhnya tercium wangi sekali.
__ADS_1
"Kemari Kak." Lintang menepuk kursi taman di sampingnya. "Coba rasakan." Ia menuntun telapak tangan Willy mengajaknya untuk merasakan bahagia karena bayi mereka bergerak sangat aktif.
"Kakak merasakannya?" Tanya Lintang.
"Ya, ia aktif sekali." Gumam Willy senang.
Keduanya larut dalam perasaan bahagia.
"Sayang, aku suka kau hamil tapi aku rasanya tidak sanggup menyaksikan mu melahirkan seperti kemarin." Ujar Willy sedih. Ia teringat betapa Lintang telah berusaha keras dan hampir kehilangan nyawanya saat melahirkan Al waktu itu.
"Tidak apa, sayang. Aku juga terkadang takut sekali, nyerinya selalu terasa ketika mengingat perjuangan melahirkan Al kemarin. Tapi, aku pasti akan belajar lagi, belajar mengedan, memperkuat otot rahim dan juga mempersiapkan mental lebih baik lagi dari kemarin. Semua akan baik-baik saja Kak." Lintang meletakkan telapak tangannya di pipi suaminya lembut.
"Kau tidak menyesal kan harus hamil lagi?" Tanya Willy, Lintang menggeleng.
"Melahirkan itu memang sakit Kak. Rasanya tulang serasa remuk semua, tapi sakit karena melahirkan itu rasanya selalu ingin diulangi, karena akan lahir manusia baru dari benih hasil cinta pasangan yang saling mencintai. Dan aku senang bisa memberikan Kak Willy banyak keturunan." Sahut Lintang menyejukkan hati Willy yang mendengarnya.
"Aku bahagia sekali mendengarnya, Lin."
"Aku juga bahagia melihatmu bahagia." Balas Lintang lembut.
Mereka menghabiskan senja itu dengan bercerita mengenang nostalgia masa lalu saat Lintang hamil yang pertama. Hingga tanpa terasa sore yang cerah itu langitnya telah menjingga dengan indah, waktunya mereka untuk masuk ke dalam rumah.
Pukul delapan malam, semuanya berkumpul di ruang keluarga. Papa meminta untuk saling bercerita di ruang keluarga. Di antara mereka, Al terlihat sedang bermain, sesekali ia tertawa saat melempar mainan kemudian menjatuhkannya lagi.
"Papa udah lebih baik kan?" Tanya Willy sambil mengajak Al bermain.
"Udah Will, gak lama lagi juga bisa main kejar-kejaran sama Al." Sahut papa sambil tertawa. Willy ikut senang mendengarnya.
"Apa ada masalah dengan perusahaan selama papa berada di rumah sakit?"
"Ah enggak pa, semuanya oke." Sahut Willy sambil tersenyum.
"Syukurlah, Papa secepatnya akan kembali ke perusahaan kita."
"Yang penting papa sehat aja dulu, masalah yang lain atau masalah perusahaan urusan belakangan pa." Kata Willy lagi, papa tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
Mama datang dari dapur, membawa nampan berisi makanan ringan untuk mereka semua. Willy mengambilnya satu, mencomot lalu menyuapkan juga untuk anaknya.
"Enak Will?"
"Selalu dong ma."
"Lintang loh yang buat." Ujar mama lagi, Willy mengacungkan dua jempolnya pada Lintang.
"Restoran gimana, Lin?" Tanya papa sambil meminum sari lemon hangat yang dibawa oleh mama barusan.
"Berkembang dengan sangat pesat, pa. Apalagi di malam minggu, tamunya penuh sekali. Parkiran pun sampai tidak muat dan harus memakai sedikit badan jalan." Sahut Lintang sumringah mengenang betapa pesatnya usaha itu.
"Syukurlah, lakukan yang terbaik untuk usahamu ya."
Lintang mengangguk cepat, ia kini juga semakin memahami dunia bisnis. Karena selain makan di tempat, restoran mereka juga memiliki metode lain untuk menarik pelanggan yaitu metode siap antar yang semakin membuat restoran mereka diminati banyak orang.
"Kalau ada masalah, jangan sungkan untuk bercerita, agar kita bisa mencari cara penyelesaian terbaiknya bersama-sama." Lanjut papa sambil tersenyum.
Lintang mengangguk paham, ia tahu papa sangat peduli pada setiap usaha keluarganya termasuk bisnis baru mereka di bidang kuliner.
"Lintang sudah bekerja dengan sangat baik, Pa. Restoran berkembang pesat karena kepintarannya mengolah usaha itu." Puji mama, Lintang tersenyum mendengarnya begitu pun Willy.
Mereka berbincang hangat, terlibat obrolan seru. Bercerita apa saja yang dapat mengukuhkan keakraban mereka. Saat ini mereka juga sedang menanti kelahiran anak kedua Lintang dan Willy.
"Tapi, kau juga jangan sampai bekerja terlalu keras ya Lin, harus tetap ingat istirahat dan fokus juga pada kandungan mu." Kata papa dengan bijaksananya. Lintang mengangguk lagi. Sedari dulu Papa dan Mama memang sudah sangat memperhatikannya bahkan sebelum ia resmi menjadi istri Willy dulu.
Saat sedang asyik bercerita itu, Mbok Nah datang dari depan.
"Non Lintang, ada yang mencari Non." Lintang mengerutkan kening, siapa yang mencarinya malam begini.
"Iya Mbok, aku ke sana sekarang." Lintang menuju ruang tamu. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa tamu nya itu karena posisinya yang membelakangi, namun, yang ia tahu itu seorang perempuan dan laki-laki.
Lintang tidak mengenalnya, sampai pada akhirnya perempuan itu berbalik membuat Lintang terperangah. Ia menutup mulutnya seakan tak percaya dengan penglihatannya.
Ia menatap perempuan itu dan juga lelaki itu bergantian. Apalagi melihat perut perempuan itu kini sudah sedikit membuncit. Ia hamilkah? Lintang masih sulit mempercayai penglihatannya.
__ADS_1
"Lin..."
"Sela.." Ujar Lintang lirih, airmatanya merebak seketika.