
Zacky masuk ke dalam rumah megah itu setelah ia mengantar Lintang masuk ke dalam rumah mungilnya di belakang. Ia tidak melihat kehadiran ibu dan juga tante Miranti.
"Mbok, Mama sama Tante mana ya?" Ia bertanya pada mbok Nah yang sedang berada di dapur.
"Nyonya dua-dua nya sedang keluar, Tuan. Sama si Mbok tadi mereka titip pesan, suruh Tuan Muda makan duluan. Tuan mau Mbok siapkan makanannya?"
"Oh gak usah deh Mbok, aku masih kenyang. Aku ke belakang dulu ya." sahut Zacky, Mbok nah menunduk dan mengangguk.
Zacky memutari rumah yang sangat luas dan juga megah ini. Dulu ia sering ke sini, Kakek Franky juga sering mengajaknya bermain. Mereka menyebut rumah ini sebagai rumah induk. Karena pertemuan keluarga selalu diadakan setiap bulan untuk mempererat hubungan adik beradik di antara orangtua mereka.
Namun hubungan Willy dan Zacky sendiri sedari dulu tidak dekat. Entah karena apa, tetapi memang Willy terlalu dingin pada orang lain. Ia juga terlalu dididik untuk menjadi raja di keluarga besar mereka. Apalagi ia juga banyak menghabiskan separuh hidupnya di luar negeri.
Belajar banyak hal, dari tata krama sampai tabel manner. Perusahaan Keluarga besar mereka memang tidak sedikit. Di luar negeri saja ada banyak apalagi di Indonesia. Willy telah belajar banyak hal tentang kepemimpinan.
Berbeda dengan Willy, Zacky menjalani kehidupan yang lebih santai. Ia juga memegang perusahaan kakek yang lain tapi tidak terlalu terbebani seperti Willy. Sifat keduanya juga bertolak belakang.
Zacky pribadi yang hangat, ramah dan mudah mengulurkan tangan untuk membantu orang lain.
Saat ini ia sedang duduk di taman belakang. Matanya menatap ke langit, wajah Lintang yang tersenyum seolah terpampang di sana. Zacky tersenyum juga. Saat ia sedang menikmati bayang-bayang Lintang, seseorang berdiri tak jauh darinya, bersandar pada tiang lampu taman, membuatnya tersentak.
"Lo. Udah lama?" tanya Zacky basa basi. Willy tidak menjawab. Ia menghisap rokoknya dalam kemudian membuang asapnya.
"Ngapain lo sama pembantu itu?" tanya Willy tanpa melihat Zacky.
"Oh, Lintang. Namanya Lintang. Ngajak dia jalan tadi. Perhatian juga lo, sampe liat kita tadi." Zacky menegaskan nama Lintang seolah tidak suka dengan sebutan pembantu dari bibir sepupu sekaligus rivalnya ini. Ia berkata masih dengan gayanya yang santai.
"Gue gak peduli." balas Willy lagi. Masih dengan rokok yang terselip di sela jari.
__ADS_1
"Ngapain nanya kalo gak peduli. Oh iya gue lupa, William memang tidak pernah peduli pada apapun, termasuk perasaan perempuan." sahut Zacky sambil terkekeh. Willy membuang rokoknya. Ia menatap tajam Zacky yang juga sedang menatapnya.
"Kalo lo suka, ambil." ujarnya dingin. Keduanya terdiam bersamaan. Aura dingin begitu terasa diantara mereka.
Lama mereka saling bersitatap, suara Miranti membuyarkan mereka.
"Dicari-cari ternyata di sini."
Zacky mengembalikan keadaan menjadi hangat seketika mendengar sapaan dari ibu dan tantenya. Ia berdiri dari duduk lalu berhenti sesaat sebelum melewati Willy.
"Gue gak peduli sama perusahaan. Gue lebih peduli Lintang, dari semua harta Kakek." bisiknya tepat di depan Willy. Ia kembali meneruskan langkah meninggalkan Willy yang tersenyum sinis mendengarnya.
Zacky merangkul ibunya untuk pulang. Ia berpamitan dengan tante Miranti sebelum mobilnya melaju meninggalkan rumah induk. Willy memperhatikan itu dari teras kamarnya di lantai atas. Ia tersenyum sendiri mengingat bagaimana tadi Zacky mengancamnya. Juga merasa lucu karena mendapati kenyataan, pembantu itu mempunyai tempat istimewa untuk semua keluarga besarnya bahkan bagi Zacky yang jarang sekali berkunjung ke rumah itu.
Ciih, pembantu tidak tahu diri.
...****************...
Di perjalanan pulang Zacky menyetir sambil sesekali bertanya pada ibunya kemana saja mereka seharian tadi bersama tante Miranti. Kadang di sela perbincangan mereka yang hangat, Zacky bergurau membuat ibunya tertawa.
"Ma, kenapa sih Lintang itu dijodohkan sama Willy?" tanya Zacky di sela obrolan mereka yang lain.
"Itu memang keinginan Kakek. Kakek Franky udah janji sama sahabatnya, Kakek Suharja untuk menjaga dan memberi semua yang terbaik bagi cucunya, Lintang itu. Lagipula, dulu Kakek Suharja itu sangat berjasa terhadap Kakek Franky. Kamu tentu sudah tau kan cerita penembakan dulu."
"Iya Ma, tapi kenapa harus Willy?" tanya Zacky lagi. Ibunya mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan anaknya itu.
"Hanya Kakek yang tau alasannya." sahut wanita itu akhirnya.
__ADS_1
Keduanya kemudian terdiam cukup lama sampai mereka tiba di rumah. Di halaman, Zacky melihat Audy sedang berlatih basket. Adiknya itu bercerita bahwa bulan depan akan ada pertandingan.
"Eh, udah latihannya. Masuk yuk, udah malem nih." ujarnya mendekati Audy. Gadis itu menghentikan latihannya, ia meraih handuk kecil untuk menyeka keringat yang sudah membanjiri wajah.
"Kakak sama Mama dari mana?" tanya gadis itu sembari mengatur nafas.
"Dari rumah Tante Miranti. Lo udah makan belum?"
"belum kak. Makan yuk. Laper banget nih." Audy berkata sambil menggandeng lengan kakaknya. Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah menyusul ibu mereka yang sudah lebih dulu masuk.
Zacky dan Audy makan dengan lahap. Keduanya memang tampak lapar. Di meja makan hanya ada mereka berdua, sedangkan kedua orangtuanya sudah bersantai di kamar.
"Kak Zacky kenapa belum punya pacar sih?" tanya Audy sambil memasukkan steak ke dalam mulutnya dengan garpu.
"Ngapain pacaran? Males gue. Lagian belum ada yang cocok." sahut Zacky.
"Iiih, Kakak homo ya?" ujar Audy lagi kali ini ia sengaja ingin menjahili kakaknya itu.
"Enak aja. Gue normal tau. Yang suka sama gue juga banyak. Tapi gue lagi males aja pacaran gak jelas. Lo juga, masih kecil jangan pacaran dulu." sahut Zacky. Audy memberengut membuat bibirnya jadi mengerucut.
"Iya, Kakak bawel banget sih kayak Mama." balas Audy. Ia sedikit kesal karena kakaknya memang masih melarangnya untuk memiliki pacar saat ini. Padahal ia sudah kelas tiga, sudah sepantasnya memiliki kekasih.
"Laki-laki itu banyak yang brengsek, kecuali gue ya." ujarnya membuat pengecualian. "Makanya, lo lebih baik jangan pacaran dulu." sambungnya lagi.
"Tapi kan aku udah gede kak. Masa gak boleh pacaran." Audy protes, karena tiba-tiba saja ia jadi terkenang sosok pemuda yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Kapten basket putra di sekolah mereka juga.
"Yeee dibilangin ngeyel. Denger aja apa kata Kakak lo ini. Lo gak mau kan ntar gue bikin bonyok muka cowok yang gangguin lo. Tar gue masukin ke ring basket kepalanya." Zacky mengatakan itu dengan mimik yang dibuat serius. Audy tambah kesal saja. Bagaimana ada yang berani dekat dengannya kalau tahu gadis itu punya kakak galak kayak serigala.
__ADS_1
Keduanya kemudian kembali melanjutkan makan diiringi dengan beberapa candaan yang membuat mereka tertawa lagi.