
Memasuki bulan kelahiran yang sudah semakin dekat dari hari ke hari, Lintang semakin protectif terhadap kehamilannya. Dari yang ia dengar saat check up bulan lalu, mengandung bayi kembar memiliki resiko yang jauh lebih besar daripada kehamilan tunggal.
Hari ini jadwalnya ia pergi ke rumah sakit lagi. Bertemu dokter yang memang sudah menangani pemeriksaan kehamilan dari kehamilan pertama dulu. Banyak sekali yang ingin Lintang tanyakan.
Selain itu, Willy juga sudah tidak sabar mau melihat anak-anaknya yang masih berada di dalam perut. Seperti biasa dokter akan meletakkan Doppler yang telah di oleskan gel.
"Sehat. Lengkap. Mereka sedang bersemayam dengan nyaman."
Willy dan Lintang tersenyum mendengarnya.
"Dokter, aku jarang sekali merasakan gerakan dari bayi-bayi ku ini, berbeda saat mengandung Al dulu, apakah ini tidak berbahaya?" Tanya Lintang cemas.
Dokter tersenyum lalu menjawab.
"Tidak apa-apa Nona, kehamilan kembar memang akan membuat rongga perut menjadi lebih sempit, pergerakan mereka pun menjadi tidak terlalu sering dan terasa. Nona dan Tuan tenang saja, bayi kalian sangat sehat."
"Syukurlah, aku tadinya sudah sangat khawatir, dokter." Lintang memegang dadanya.
Willy menghampiri istrinya itu, ia meraih jemari Lintang, menggenggamnya lembut.
"Mereka baik-baik saja sayangku, tenanglah."
Lintang mengangguk.
"Bagaimana dengan yang lainnya, apa ada keluhan lain?" Tanya dokter lagi.
"Tidak dokter, aku hanya gugup menjelang persalinan nanti."
"Ya, itu wajar. Hal lumrah yang dirasakan semua ibu hamil. Apalagi kehamilan kali ini istimewa sekali ya Nona, ada dua denyut jantung yang sedang bersemayam di dalam perut anda. Saya turut bahagia."
__ADS_1
Kata-kata itu sungguh menyejukkan hati Lintang. Ia tahu kehamilannya yang kedua ini dinanti banyak orang. Meski kehamilan Al dulu tidak kalah menghebohkannya.
"Baiklah, semua lancar, anda sudah menjaganya dengan sangat baik Nona, semoga lancar sampai hari persalinan." Dokter menyalami keduanya bergantian. " Oh iya, Tuan Willy, karena kehamilan ini istimewa, mengingat begitu besar nya perut istri anda, sesekali berikan ia pijatan ya, agar tubuhnya rileks, dan tidak cepat penat menahan beban." Lanjut dokter
"Pasti dok, saya akan melakukan semua yang terbaik untuk istri saya." Willy menjabat tangan dokter sekali lagi.
Mereke kemudian berpamitan. Willy dan Lintang berjalan menyusuri koridor dengan santai dan hati riang. Keinginan untuk segera bertemu si kembar rasanya sudah membuncah sekali.
"Mama sempat minta kita tanyain jenis kelaminnya loh Yah." Kata Lintang saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Biarin aja Bun, aku lebih suka nanti aja. Pas lahir, biar surprise." Sahut Willy dengan tangan tetap menggandeng tangan Lintang.
"Iya aku juga maunya begitu Yah."
"Bun, kaki bunda kok gak ada?" Willy menggoda istrinya yang sudah mengerucut itu, matanya terlihat celingukan mencari kaki istrinya yang tertutup perut besar itu.
"Ih, ayah, ngeledekin, ntar ya kalo abis lahiran aku seksi lagi." Rajuk Lintang, membuat Willy tertawa.
"Sayang deh sama kamu." Lintang berjinjit, mencium pipi Willy juga.
Bagaimana pun usia Lintang masih cukup muda. Willy jauh lebih tua dari nya. Perbedaan usia mereka terpaut cukup jauh jadi wajar jika ia juga terkadang jadi manja.
Tapi seperti Lintang yang juga senang jika Willy manja padanya, hal itu juga dirasakan Willy. Ia suka ketika mendapati Lintang yang manja hanya kepada dirinya. Istrinya itu jadi tampak menggemaskan sekali.
"Kita mau kemana abis ini? langsung pulang ya?" Tanya Lintang.
"Kamu mau kemana?" Willy balik tanya. Ia ingin membuat Lintang senang hari ini.
"Aku pengen ke pantai, Yah."
__ADS_1
"Ayo, tapi kasih kiss dulu." Willy memajukan bibirnya. Lintang berjinjit lagi, diciumnya bibir suaminya itu.
Willy tertawa kecil, ia mengusap lembut rambut Lintang kemudian membawa istrinya itu menunjuk besment rumah sakit dimana mobilnya sedang terparkir rapi diantara mobil yang lain.
Mereka melajukan diri menuju pantai yang agak jauh dari pusat kota. Jakarta dengan segala hingar - bingar dan kesibukannya terkadang memang akan membuat orang yang telah lama tinggal di sana butuh untuk refreshing. Sekedar melepas lelah, bukan di tempat seperti club malam atau bar, Willy kini lebih menyukai tempat dengan ketenangan dan kedamaian seperti pantai yang sekarang ingin dikunjungi oleh istrinya.
...****************...
Willy mengambil potret Lintang saat Istrinya itu sedang menyusuri pesisir pantai. Menemukan pantai di Jakarta ini cukup langka, tapi bukan berarti tidak ada.
Lintang suka berada di tempat ini. Ia suka bercerita pada alam, membiarkan suara hatinya mengisahkan apa saja pada angin. Ia tidak butuh jawaban, hanya butuh tempat untuk mencurahkan banyak perasaan, seperti di pantai ini.
"Sayang, kenapa kau sangat menyukai pantai?" Tanya Willy sambil menyibak anak-anak rambut yang jatuh menutupi setengah pipi istrinya.
"Sebab disini sejuk, jauh dari keramaian. Kalau sedih, aku suka ke tempat seperti ini. Bercerita pada angin, menumpahkan segala perasaan. Apa saja, bahagia, sedih dan sebagainya." Lintang menerawang.
"Kau pernah menceritakan tentang aku di sini?" Tanya Willy lagi.
"Hampir setiap kali aku ke tempat ini, kau yang selalu menjadi topik lamunanku." Sahut Lintang dengan senyum terkembang.
Willy memeluk Lintang.
"Apa kau pernah memaki-maki ku ditempat ini?" Tanya Willy ingin tahu.
"Tidak, dulu saat kau masih membenciku, aku selalu berdoa agar kau mau membuka hatimu padaku. Aku tidak pernah membencimu, suamiku. Sebab saat Kakek meminta aku untuk menikah denganmu, aku telah menetapkan hati untuk belajar mencintaimu. Menerima apapun yang akan kau lakukan padaku, aku yakin kau pasti akan berubah. Mungkin, sebenarnya, aku memang telah jatuh cinta padamu sejak lama." Lintang bersemu merah, mengenang perasaannya terdahulu. Willy memejamkan matanya, ia bahagia sekali.
"Kalau saja aku sadar lebih awal." Desahnya kemudian.
Lintang menatap Willy, ia meletakkan satu telunjuknya di bibir Willy.
__ADS_1
"Yang lalu, biarlah berlalu. Aku sudah tidak pernah mengingatnya lagi, suamiku. Bagiku, mencintain mu adalah anugerah, meski sempat terjal jalannya. Tapi, sekarang aku sampai di puncak yang paling tinggi di dalam hatimu. Itu sudah cukup." Kata-kata itu mengalir begitu indah. Willy tersenyum mendengarnya. Tentu saja ia tidak akan mengulang semua yang telah terjadi dulu. Ia telah menyiksa Lintang dulunya, dan kini yang ia rasakan hanyalah jatuh yang semakin dalam terhadap cinta Lintang.
Mereka kembali bergandengan tangan. Beranjak meninggalkan pantai dengan gelombangnya yang tenang. Willy menggandeng tangan Lintang erat. Ia akan menjaga keluarga kecilnya dengan baik. Mencintai Lintang hingga rambutnya memutih. Menua bersama hingga Tuhan saja yang memisahkan. Jangan lagi ada orang atau hal yang akan menganggu, Willy tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.