
Minggu pagi yang cerah, saat Lintang tengah sibuk melihat laporan keuangan restoran, ia dikejutkan dengan kedatangan Willy di ruangan kerjanya. Lintang menyambut suaminya itu, menghentikan sementara kegiatan fokusnya menatap layar laptop.
"Lho Yah, kok ke sini? aku tadi sengaja berangkat pagi mau cek laporan keuangan di restoran besok kan udah tutup buku. Aku lihat kamu masih tidur, jadi aku pergi sendiri." Ujar Lintangp sambil mendekati suaminya.
"Iya Bun, tadi ayah udah di kasih tau mama kok. Jadi abis bangun, langsung deh nyamperin bund kesini." Sahut Willy lalu duduk di sofa bersama Lintang.
"Bentar lagi aku udahan kok Yah, kamu tunggu di sini dulu ya, aku selesaikan lagi tinggal dikit nanggung soalnya." Lintang kembali ke meja kerjanya.
Willy memperhatikan istrinya yang tampak sedang serius itu. Ia perlahan tersenyum, istrinya masih cantik saja. Tak banyak yang berubah dari diri Lintang. Mungkin karena ia rajin merawat tubuhnya.
"Sayang, kok ngeliatin nya gitu banget sih." Tegur Lintang yang merasakan sedari tadi diperhatikan.
"Abis kamu cantik, gak bosan aku lihat." Sahut Willy membuat Lintang tersenyum manis. Bukan hanya sekali suaminya itu memuji, setiap hari bahkan Willy akan selalu menghujani nya dengan banyak pujian.
"Makasih ya sayang." Lintang membereskan laporan, lalu kembali duduk di samping suaminya.
"Bun, tebak aku punya kejutan apa buat kamu?"
"Hmmmmm, apa ya? kayaknya ayah hampir tiap hari ngasih kejutan." Lintang berusaha mengenang barang pemberian apa saja yang telah diberikan oleh suaminya itu.
"Nih." Willy mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Perancis?" Tanya Lintang dengan mata membulat.
Willy mengangguk.
"Ini beneran yah?"
"Iya sayang, kita akan ke sana. Besok."
Lintang menghambur memeluk Willy. Ia tidak menyangka suaminya akan mengajaknya ke Perancis.
__ADS_1
"Tiga hari lagi Anniversary pernikahan kita. Aku pengen rayain berdua sama kamu di Perancis." Willy mengecup bibir Lintang sekilas.
"Berdua?"
"Iya sayang, kembar dan Al gak ikut. Mereka gak mau. Kayaknya mereka ngerti banget Ayahnya lagi pengen berduaan aja sama bunda." Willy mengerling nakal.
Lintang memeluk suaminya itu erat. Benar, Besok pernikahan mereka yang ke sepuluh tahun. Anak-anak telah bertambah besar. Lintang dan Willy jadi punya waktu berdua lebih banyak dari sebelumnya.
Dan besok adalah hari mereka akan berangkat ke Perancis. Perancis sedang musim gugur.
Dan kini di sinilah ke dua orang itu. Setelah menempuh perjalanan ke Perancis dan tiba di apartment Willy di sana, mereka menghempaskan tubuh di ranjang.
Willy menatap Lintang penuh arti. Ia menyibak anak rambut istrinya yang menutupi sebagian pipi. Willy mengelusnya perlahan lalu mengecupnya lembut penuh perasaan.
"Sepuluh tahun Lin.." Gumam Willy dengan mata haru. Lintang terpejam, berusaha menghadirkan kembali kenangan pertama saat mereka bertemu dulu. Tatapan pertama Willy yang ia dapatkan saat di pemakaman kakek dulu. Tuhan maha baik, sungguh ternyata itu telah lama berlalu.
"Makasih ya Kak, udah mau membuka hati, menerima kehadiran Lintang dalam kehidupan Kak Willy." Balas Lintang dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Terbayang masa silam betapa sulitnya ia meraih hati suaminya itu dulu. Namun kini semua terbayar lunas. Lintang bukan hanya mampu mengubah perasaan Willy tapi juga seluruh hidupnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Lintang melingkarkan kedua lengannya, menyeruak diantara leher kokoh suaminya yang gagah. Betapa Lintang mencintai pria ini. Di usianya yang sudah semakin matang dan dewasa, ia telah mendapatkan semuanya.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kita ya, Kak. Aku ingin bersama mu hingga hanya maut yang memisahkan kita."
"Iya, Lin. Aku juga demikian. Kau telah memberi kan banyak sekali perubahan dalam hidupku. Terima kasih ya."
Willy mengecup kening Lintang mesra. Besok ia akan mengajak istrinya itu ke sebuah tempat, tepatnya di bagian selatan Perancis, sebuah kota yang dekat dengan pantai untuk merayakan anniversary pernikahan mereka.
Malam ini, biarlah mereka kembali merajut kasih, mengarungi malam hanya berdua, berusaha menghadirkan kembali kenangan indah yang telah banyak mereka berdua lewati.
...****************...
Montpellier, kota indah di belahan selatan Perancis itu menjadi tempat Willy dan Lintang merayakan hari pernikahan mereka yang ke sepuluh tahun.
__ADS_1
Di sini, berbalut gaun merah yang membuatnya nampak anggun, Lintang berdiri. Ia melihat ada banyak sekali lilin berbentuk hati yang dibiarkan menyala mengapung di atas sebuah kolam.
Tak jauh dari mereka, ada sebuah meja dengan dua buah gelas. Alunan musik klasik mengiringi keduanya.
Willy merengkuh tubuh Lintang dari belakang. Betapa istrinya itu sempurna. Willy tidak pernah bosan untuk membawa Lintang dalam kemesraan panjang.
"Selamat sepuluh tahun, istriku." Ia mengecup pipi Lintang dari belakang. Terasa hembusan nafas Willy hangat di telinganya.
"Semoga berbahagia selalu, suamiku." Balas Lintang penuh perasaan. Euforia di dalam hatinya kini berbaur, menyatu melebur. Indah, hanya itulah yang ia rasakan saat ini.
Cukup lama keduanya terdiam, hanyut dan larut dalam suasana menenangkan satu sama lain. Berbaur mesra dalam temaram cahaya lilin.
"Mari nikmati malam ini bersamaku." Willy memutar perlahan tubuh istrinya, membawa Lintang masuk ke dalam pelukan. Ia mengajak Lintang berdansa, mengikuti irama pelan musik yang mengiringi keduanya.
Montpellier semakin indah hari ini. Setidaknya begitu bagi Willy, sebab musim gugur kali ini ia saksikan bersama wanita yang ia cintai. Setelah semalam keduanya menikmati romantisnya suasana bertabur cahaya lilin, kini Willy mengajak Lintang ke sebuah pantai.
Barisan burung yang berterbangan ke sana kemari menambah keindahan siang ini. Daun-daun kecoklatan berguguran. Pemandangan ini bukan hanya memanjakan pandangan mata, tapi juga melengkapi semua perasaan yang memang telah ada sejak lama.
"Aku tidak pernah membayangkan, akan mengunjungi tempat indah ini bersamamu." Gumam Lintang lirih sembari memejamkan matanya. Lintang membenahi sweater rajut yang ia kenakan.
"Kita akan banyak mengunjungi tempat-tempat indah setelah ini. Aku ingin menjelajahi tempat-tempat indah itu selama aku hidup bersamamu. Sebab, kelak ketika salah satu diantara kita nanti tak ada lagi, aku tidak akan bersedih sebab telah banyak tempat yang aku tinggalkan dengan cinta." Sahut Willy dengan pandangan menerawang.
"Aku ingin menua bersama mu, suamiku. Kalau pun nanti Tuhan akan mengambil nyawaku, aku ingin terlelap hanya dalam pelukanmu."
Willy menarik Lintang lagi masuk ke dalam pelukannya.
Indah, hanya itu lah kata yang tepat menggambarkan keduanya. Bertemu, mengenal, sempat membenci, lalu mencintai dengan dalam, telah mereka rasakan. Kini hanya tinggal yang manis-manis saja. Benar apa yang mereka katakan, perpisahan itu pasti terjadi suatu hari nanti, dan mereka berharap hanya kematian lah yang akan memisahkan keduanya.
Selama mereka hidup sekarang, sebelum perpisahan itu terjadi, mereka hanya ingin tetap seperti ini. Saling setia, saling menjaga. Berharap nanti akan bertemu kembali di kehidupan selanjutnya, kehidupan yang kekal yang tak akan lagi memisahkan mereka. Di sini, di Perancis yang sedang mengalami musim gugur, Willy merasa cintanya pada Lintang sempurna, telah semakin dalam dan tak lagi bisa terukur.
Setia lah, sampai hanya pada maut yang memisahkan. Sampai tubuh sudah tak kuat lagi berdiri, sampai pada tahap yang paling abadi, ketika telah sampai waktunya untuk terbenam dalam perut bumi.
__ADS_1
"Je t'aime, Lintang, istri ku." Kecupan hangat di kening Lintang menutup sore yang indah di usia pernikahan ke sepuluh tahun di musim gugur perancis kali ini.