Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
36. Kehadiran Emilie.


__ADS_3

Willy sedang melihat beberapa proposal dari perusahaan lain yang meminta persetujuannya untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka. Di tengah keseriusannya itu melihat satu demi satu proposal tersebut, asistennya masuk.


"Tuan, Nona Emilie ingin bertemu Anda." Ujar Setya pada Willy. Willy mengerutkan dahinya, berusaha mengingat apakah ia memiliki janji dengan gadis itu. Nampaknya tidak ada, tapi ia mengizinkan gadis itu untuk masuk.


"Biarkan dia masuk." Kata Willy akhirnya. Ia menutup proposal-proposal itu.


Emilie melangkah anggun dengan dress berwarna coklat yang pas membentuk tubuh indahnya juga di hiasi blazzer berwarna hitam. Rambut pirangnya yang sebahu ia biarkan tergerai.


"Kau boleh pergi." Willy beralih pada Setya yang kemudian membungkuk lalu meninggalkan ruangan itu.


"Apa aku mengganggumu?" Tanya Emilie dengan senyumnya.


"Tidak, tapi aku tadi sempat berpikir bahwa sepertinya kita tidak memiliki janji hari ini." Jawab Willy tenang.


"Ya, memang tidak ada, tuan. Tapi aku ingin menemui mu. Ah ya, lain kali aku akan menghubungimu terlebih dahulu." Sahut Emilie dengan senyum yang masih melekat.


"Lantas apa maksud kedatanganmu sekarang, Nona Emilie?" Tanya Willy akhirnya, sebenarnya ia bukan tipe pria yang suka berbasa basi begini.


"Aku ingin mengajakmu keluar, mungkin kau bisa membantuku mencari sebuah perhiasan sebagai kado ulangtahun ibuku nanti. Setelah itu, kita bisa mencari tempat yang bagus untuk makan siang." Ujar Emilie. " Oh iya, panggil saja aku Emilie." Lanjut gadis itu, ia sedikit tidak nyaman dengan sebutan Nona dari lelaki yang ia puja itu.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa lama." Sahut Willy akhirnya.


Emilie mengangguk tanda setuju lalu berdua mereka meninggalkan ruangan diikuti bisik-bisik para karyawan. Emilie nampak tidak terganggu dengan pemandangan itu, ia malah jadi sedikit bangga karena orang-orang kini menganggap ia adalah orang yang dekat dengan direktur mereka.


Mereka keluar dari perusahaan dan pergi menggunakan mobil Willy sementara mobil Emilie ditinggalkan di parkir besment milik perusahaannya.


Willy dan Emilie kini telah berada di salah satu mall terbesar di Jakarta yang di dalamnya juga terdapat toko perhiasan. Selama berada di mall, Emilie menggandeng lengan Willy begitu mesra . Mereka nampak cukup dekat, orang-orang yang melihat akan mengira bahwa keduanya adalah pasangan kekasih.


Ketika sedang asyik membantu Emilie memilihkan perhiasan. Di seberang toko tersebut berdiri Sela yang mematung, melihat seseorang yang cukup ia kenal. Sela yakin ia melihat William, suami dari sahabatnya yang kini sedang terlibat pembicaraan seru tentang barang yang menarik perhatiannya dengan penjaga stand. Sela membalikkan tubuh, melihat sahabatnya yang belum sadar dengan apa yang ia lihat barusan.


"Lin, gue kebelet pengen pipis. Pipis yuk cepetan." Ujarnya berpura-pura, Sela tidak ingin melihat sahabatnya terluka hari ini. Apalagi, baru saja beberapa jam yang lalu saat mereka berada di kampus, Lintang dengan binar yang bahagia menceritakan perubahan yang cukup banyak ditunjukkan oleh suaminya.


Saat Lintang hendak berbalik, Sela sontak menutup kedua mata gadis itu membuat Lintang bingung lalu dengan paksa ia membuka telapak tangan Sela.


"Kenapa sih Sel? aku kan jadi gak bisa liat ja.." Kalimat itu terputus saat mata Lintang menatap pemandangan di seberang mereka. Sela berdecak kesal berkali-kali karena merasa tidak mampu melindungi Lintang dari pemandangan tidak menyenangkan hari ini.


Lintang melihat Willy sedang memasangkan perhiasan mahal di leher perempuan cantik di toko perhiasan yang berseberangan dengan toko aksesoris, tempat dimana mereka berada saat ini. Lintang berjalan gontai meninggalkan toko itu diikuti Sela yang setengah berlari mengejarnya. Ada airmata yang tiba-tiba mengalir, keluar dari mata indahnya yang sempat berbinar pagi tadi saat Lintang menceritakan tentang perubahan sikap Willy padanya.


"Lin, kan gue bilang tadi jangan liat." Ujar Sela sambil mensejajarkan langkah dengan Lintang. Lintang berhenti, kemudian menatap Sela.

__ADS_1


"Gak papa kok Sel. Aku gak papa." Sahutnya berusaha menyunggingkan senyum terbaik yang ia miliki.


"Lin, gue anter pulang ya. Lo kirim pesan aja sama suami lo itu gak usah jemput lo di kampus. Lagian tadi Bu lengga kirim pesan kok di grup kalo dia gak bisa masuk hari ini." Kata Sela lagi. Ia tahu meski Lintang membalasnya dengan senyum, Sela tahu hati Lintang hancur berkeping-keping saat ini.


"Iya, yuk kita pulang aja Sel. Aku ngantuk banget sekarang." Sahut Lintang akhirnya. Ia bukannya mengantuk, namun matanya telah terasa panas sedari tadi menahan bulir-bulir bening agar tidak jatuh dari sana.


Di dalam mobil Lintang mengirim pesan pada Willy, bahwa ia telah pulang lebih dulu agar lelaki itu tidak menjemputnya. Lagipula, Lintang tidak ingin mengganggu acara Willy dengan perempuan cantik dan modis yang baru saja ia lihat bersama suaminya itu. Lintang menyenderkan kepalanya di kaca jendela mobil. Tatapannya nampak menerawang, ia serasa baru saja terbang mengingat semua perubahan sikap Willy beberapa hari belakangan ini namun, sekarang ia terasa dihempaskan jauh ke dasar bumi. Sakitnya begitu terasa. Nyeri juga menyiksa.


Mereka sampai di depan pintu lobby apartement. Sela menatap iba pada sahabat baiknya itu.


"Lin, kalo lo perlu apapun, gue siap ya. Lo telepon gue secepatnya." Kata Sela sesaat sebelum Lintang masuk ke lobby apartement. Lintang mengangguk cepat, kemudian ia berbalik dan masuk menuju lobby juga lift. Lintang termenung di dalam lift, memikirkan apa yang ia lihat beberapa saat yang lalu.


Sudah ku bilang lelaki itu jahat. Dia tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu. Kau hanya budak baginya. Sadarlah Lintang. Jangan terlalu tinggi menerbangkan harapanmu itu .


Sisi hatinya kembali menghasut. Lintang segera menghempaskan tubuhnya ke ranjang, tempat yang biasa di gunakan Willy untuk menidurinya setelah ia membuka kode akses apartement. Lintang mulai menangis tersedu-sedu. Lintang merasa aneh, ia begitu terluka melihat Willy dengan perempuan lain. Meskipun ia tahu Willy tidak mencintainya, namun tetap saja ia merasa terluka. Apalagi saat Willy terlihat memasangkan kalung ke leher gadis cantik itu. Gadis itu sangat cantik, wajahnya perpaduan. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya gadis kampung.


Lintang menangis lagi teringat betapa Willy kejam kepadanya. Kejam karena telah mempermainkan perasaannya. Lintang menyesalkan mengapa Willy harus mengubah sikapnya, membuat ia berprasangka bahwa Willy telah menerima kehadirannya dan mulai bisa belajar menghargainya sebagai istri juga perempuan.


Kak, lebih baik kau bersikap seperti dulu saja. Daripada seperti ini, aku bisa lebih memaklumi jika kau memiliki wanita lain diluar sana. Mengapa kau begitu tega padaku?

__ADS_1


Lintang menangis sepuasnya, kemudian jatuh tertidur setelah lelah dengan airmata yang terus mengucur. Bantalnya basah karena airmata, pun begitu dengan hatinya.


__ADS_2