
"Kak, jadi ke Semarang?" Tanya Lintang sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya. Mereka sedang berada di rumah mungil.
"Jadi, gak lama kok sayang."
"Berapa hari?" Tanya Lintang setelah menelan satu suapan nasi goreng.
"Satu minggu." Sahut Willy sambil meminum susu madu.
"Lama."
"Sayang, aku tidak akan pergi kalau kau tidak mau aku pergi ke sana." Willy meraih jemari Lintang.
Lintang memandang suaminya, ia hanya takut jauh dari Willy. Ia takut akan banyak yang menggodanya seperti saat di proyek Bandung Utara waktu itu. Tapi ia tidak boleh egois. Ia tahu Willy memang murni ingin menyelesaikan proyeknya disana, lagipula ia adalah pemimpin, ia harus dilibatkan.
"Tidak, suamiku. Pergilah, para pekerja membutuhkanmu." Lintang menyunggingkan senyumnya membuat Willy akhirnya bisa bernafas lega.
"Sabar menanti kepulangan ku ya."
"Tentu, sayang." Lintang mengangguk dan tersenyum manis pada Willy.
Besok ia akan berangkat ke Semarang. Akan ada pertemuan juga dengan para penanam saham di proyek baru perusahaan besar mereka itu.
Lintang dengan keyakinannya akan melepas kepergian Willy dengan sebaik-baiknya rasa percaya. Ia harus mendukung suaminya dalam bentuk apapun.
...****************...
"Apa hotel sudah di pesan?" Tanya Willy pada Setya yang sedang berdiri dengan patuh di belakangnya.
"Sudah, Tuan. Besok juga akan diadakan pertemuan dengan pada pemegang saham."
"Baiklah, susun semua agenda sebaik mungkin. Kalau bisa keberadaan kita di sana tidak lebih dari lima hari. Paling lama satu minggu."
"Baik, Tuan. Akan diatur sebaik dan sesuai kemauan Tuan." Ujar Setya patuh.
__ADS_1
"Bagus. Kembalilah ke ruangan mu, aku ingin beristirahat dulu sebentar."
Willy menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia memejamkan mata, bayangan Lintang melintas di kepalanya. Ia tersenyum, betapa ia menyayangi Lintang. Kemudian wajah Alvaro yang lucu juga terbayang, Willy tersenyum lagi teringat tingkah lucu putranya.
Ia meraih ponsel, di carinya kontak Lintang dengan nama "My Beautiful Wife" itu kemudian ia menekan tombol panggilan.
"Sayang, kau sudah di restoran?" Tanya Willy setelah istrinya mengangkat telepon.
"Sudah, Kak. Restoran kita semakin ramai saja." Lintang membalas riang.
"Kau jangan lupa istirahat, sayangku. Jangan bekerja terlalu keras, sayang." Ujar Willy penuh perhatian.
"Iya, sayang. Kau juga ya."
"Aku ingin ke sana sekarang, buatkan makanan untukku ya." Ujar Willy tiba-tiba.
"Biar aku saja yang ke sana, sayang." Lintang menawarkan.
" Tidak, tidak. Tunggulah sayang, aku akan segera datang." Sahut Willy cepat. Akhirnya Lintang mengiyakan. Ia segera memasak khusus untuk suaminya yang akan segera datang ke restoran itu.
Willy pergi ke dapur, dilihatnya Lintang sedang menata makanan yang telah ia masak untuk mereka di atas piring. Ia memeluk Lintang dari belakang, tidak peduli pada para koki dan juga pelayan yang melihat mereka dengan salah tingkah.
"Sayang, kau sudah lama?" Tanya Lintang, tangannya masih bergerak menata makanan.
"Baru saja, sayang." Bisik Willy mesra. Para pelayan jadi baper dibuatnya.
"Ayo ke ruangan ku, kita makan di sana saja ya."
Willy mengangguk dan segera mengikuti Lintang menuju ruangan bernuansa klasik tak jauh dari taman restoran. Salah satu pelayan ikut mengantar makanan itu setelah selesai ia keluar lagi dari ruangan Lintang meninggalkan pasangan suami istri itu di dalam.
"Sayang, makanlah. Aku membuatnya special untukmu."
"Masakan mu selalu enak, sayang." Willy memuji Lintang setelah satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Mereka makan bersama sambil bersenda gurau.
__ADS_1
"Sayang, apa kau tidak bisa ikut dengan ku besok?" Tanya Willy pada Lintang yang sedang meminum air dari gelasnya.
"Maafkan aku, Kak, sepertinya tidak bisa. Besok para kru televisi sudah datang dan mulai bekerja. Aku harus berada di sini. " Lintang menggenggam jemari suaminya, berusaha memberi pengertian.
"Ia aku lupa sayang, baiklah. Jangan lupa untuk selalu mengabari ku besok." Kata Willy akhirnya. Ia benar telah lupa pada acara televisi yang akan memakai restoran mereka besok dan selama beberapa hari ke depan.
"Sayang jangan nakal ya di sana nanti."
"Aku hanya akan nakal denganmu, Lin." Willy mengecup punggung tangan istrinya.
Lintang mengangguk percaya pada suaminya. Ia kemudian keluar ruangan karena ada beberapa hal yang harus di sampaikan pada para staff yang akan berganti shift siang ini. Willy menunggu Lintang, ia berbaring di ranjang yang sengaja diletakkan Lintang untuk beristirahat selama berada di restoran mereka.
Matanya terpejam, Willy mulai mengantuk dan tertidur. Saat Lintang kembali, ia melihat suaminya sudah tidur dengan pulas. Tak ingin mengacaukan ketenangan Willy, ia memilih untuk kembali ke restoran tapi, tangannya terasa di pegang.
Willy membuka matanya yang mengantuk. Ia meminta Lintang tinggal bersamanya. Lintang tersenyum lalu ikut berbaring dan memeluk Willy.
"Aku mengantuk sekali, sayang." Ujar Willy lirih.
"Apa suamiku akan tetap mengantuk kalau melihat ini." Lintang menggoda suaminya, ia mulai membuka kancing kemeja ketatnya. Dua benda favorit Willy menyembul dari sana.
Matanya jadi terang seketika. Benda keramat di bawah sana juga sudah terbangun. Ia mengerang melihat tubuh indah istrinya itu.
"Kau menggoda ku sayang. Kau harus bertanggung jawab." Ujar Willy yang semakin tergoda melihat Lintang mulai meliukkan tubuh indahnya.
Willy mendekat, meraih pinggang ramping itu hingga dada Lintang menempel di wajahnya yang sudah terhanyut kilatan nafsu dan hasrat menggebu.
"Aku siap dihukum, Tuan." Ujar Lintang dengan desahannya. Willy membaringkan istrinya, menciumi semua jengkal tubuhnya. Ia ingin memberi kepuasan pada suaminya yang akan pergi satu minggu ke Semarang. Juga sekalian meresmikan ranjang di ruangannya ini dengan peluh keringat hasil percintaan mereka.
Dan dengan penyatuan yang entah sudah keberapa kali itu, keduanya semakin terikat. Semakin membutuhkan satu sama lain. Seindah desahan Lintang, seperti itulah perasaan yang Willy rasakan.
"Ahhh Lintang, kau akan selalu ku rindukan." Ujar Willy ditengah pacuannya pada Lintang yang sudah mengerang penuh kenikmatan.
Ranjang yang berdecit itu menjadi saksi kesekian kali kekuatan cinta keduanya. Hujan turun siang ini, menjadikan panas terik itu kini berganti menjadi suasana yang kian romantis bagi mereka berdua.
__ADS_1
Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Begitulah harapan mereka. Tetap setia dan mesra sampai mereka menua. Tetap bersama hingga anak mereka tumbuh dewasa dan menemukan cinta yang seperti mereka pula. Saling percaya, saling setia dan tidak akan pernah menodainya dengan memikirkan orang lain. Sungguh tidak ada tempat untuk orang ketiga diantara mereka berdua.