
Pak Raihan mematikan sambungan teleponnya dengan Tuan Davindra Alexa. Dia masih terkejut dengan apa yang ia dengar dari Tuan Davindra Alexa.
"Davindra Alexa ingin mengunjungi rumahku? Dia dan putranya yang keras kepala itu yang tidak pernah mengucapkan kata maaf kepada siapapun ingin meminta maaf kepada Keynan dan menantuku? Kenapa aku merasa tingkah Davindra Alexa sangat mencurigakan? Ah... lebih baik aku berusaha berpikiran positif saja." Batin Pak Raihan sambil kembali ke meja Makan.
Pak Raihan dikejutkan dengan tatapan semua orang yang ada dimeja makan yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya dan menginginkan penjelasan dari Pak Raihan.
"Itu tadi telepon dari rekan bisnis Papa. Dia ingin membicarakan soal bisnis dengan Papa. Jadi mau tidak mau Papa harus menjauhi meja makan agar tidak ada yang ganggu." Bohong Pak Raihan yang sudah mengetahui isi didalam pikiran semua orang yang ada dimeja makan.
Bagai mana tidak mengetahuinya? Orang sejak Pak Raihan mengangkat teleponnya sampai Pak Raihan selesai menelepon. Pak Raihan merasakan ada tatapan mengerikan dari arah meja makan. Terutama tatapan dari istrinya yang mencurigai gelagat suaminya.
Pak Raihan juga sengaja berbohong kepada seluruh anggota keluarganya. Karena Pak Raihan sangat mengetahui sifat asli putranya yang tidak bisa memaafkan siapa saja yang telah mengganggu keluarganya. Itu sebabnya Pak Raihan memilih untuk diam dan membiarkan keluarga Alexa datang tanpa ada yang mengetahuinya kcuali dirinya seorang.
"Bener itu dari rekan bisnis Papa?" Tanya Mama Kania penuh selidik.
"Be...benar Ma." Jawab Pak Raihan dengan gugupnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Awas aja kalau Papa bohong! Dan jangan sampai Mama nemu pelakor bertebaran disisi Papa. Kalau sampai Mama nemu pelakor, Papa pasti akan habis ditangan Mama kalau Papa ketahuan main jajan sembarangan diluaran sana!!" Ancam Mama Kania dengan tatapan membunuhnya.
Seketika Pak Raihan menelan salivanya dengan kasar. Dia tidak berani menatap wajah istrinya yang galaknya menyerupai singa betina yang sedang kelaparan dan sedang mengincar mangsanya untuk ia terkam.
"Gak bakalan Ma. Hanya Mama satu-satunya wanita paling cantik yang akan menemani hari tua Papa. Lagian kita juga udah nikah lama dan bentar lagi kita bakalan punya cucu. Jadi gak bakalan lah Papa jajan sembarangan. Cukup Mama satu-satunya pendamping Papa yang paling Papa cintai." Jawab Pak Raihan yang mulai mengeluarkan rayuan mautnya yang bagaikan anak ABG baru jadian.
"Ah Papa bisa aja." Jawab Mama Kania sambil memukul bahu Pak Raihan pelan dan menyunggingkan senyumannya dengan wajah malu-malu dan pipi meronanya.
Keynan dan Biola merinding seketika saat melihat adegan romantis Pak Rihan dan Mama Kania.
Biola menatap suaminya dan suminya menatap Biola. Mereka saling berpandangan dan tersenyum ketika mereka membayangkan adegan Pak Raihan dan Mama Kania diperankan oleh mereka setelah mereka memasuki usia senja.
Setelah sarapan Biola dan Mama Kania mengantar para suami mereka kedepan rumah. Pak Raihan tampak berpamitan terlebih dahulu kepada Mama Kania dan Biola. Setelah itu disusul oleh Keynan yang menyalami Mama tercintanya terlebih dahulu lalu menghampiri istrinya.
Dengan sigap Biola menarik tangan suaminya dan mencium tangan kanan suaminya. Keynan mencium kening istrinya dengan penuh kelembutan.
"Kamu hati-hati dirumah ya sayang. Jangan masak-masakan lagi dan jangan buat dirimu kecapekan. Meski masakanmu sangat enak dan bikin aku ketagihan tapi aku gak mau lihat kamu kenapa-napa lagi. Karena yang terpenting bagiku adalah kesehatanmu dan janin yang ada didalam kandunganmu." Peringat Keynan dengan seriusnya.
"Iya Daddy, nanti aku gak akan nyentuh dapur lagi sampai anak kita lahir." Jawab Biola dengan tersenyum bahagia.
"Bagus! itu baru istri kesayangan Keynan Kristian." Ucap Keynan dengan bangganya sambil mencubit hidung mancung istrinya.
"Awww..... sakit Keynan!" Pekik Biola sambil mengusap-ngusap hidungnya yang memerah.
"Hahaha... abisnya kamu gemesin. Sini! Mana yang sakitnya? Biar aku tiup." Ucap Keynan sambil menangkup kedua pipi istrinya dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya hendak mencium bibir merah muda istrinya.
Biola yang sadar kalau suaminya itu tidak berniat meniup hidungnya dan malah ingin menciumnyapun dengan refleks mendorong dada bidang suaminya sehingga tubuh mereka saling berjauhan.
"Key, malu diliatin Mama!" Bisik Biola sambil mencuri-curi pandang kearah Mama Kania yang ada disampingnya.
"Udah, anggap aja Mama bunga mawar yang menambah ke romantisan kalian." Ucap Mama Kania sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya tapi jari-jarinya sengaja ia buka lebar-lebar untuk melihat Keynan dan Biola yang hendak berciuman.
Keynan dan Biola memutar bola matanya dengan malas saat melihat tingkah Mama Kania.
"Ya udah sayang, aku berangkat dulu ya. Oh iya, aku hampir saja lupa memperingati kamu untuk minum susu ibu hamilmu. Kamu selalu saja tidak mau meminum susu ibu hamilmu. Pokonya aku gak mau tahu. Kamu harus meminum susu ibu hamilmu. Aku akan meneleponmu nanti dan melihatmu meminum susumu secara langsung!" Peringat Keynan yang bagaikan petir disiang bolong bagi Biola.
"Tapi aku gak suka minum susu. Rasanya benar-benar tidak enak Key." Rengek Biola yang memang tidak suka minum susu.
"Pokoknya kamu harus minum susu agar anak kita sehat didalam kandunganmu." Ucap Keynan yang tidak bisa dibantah lagi oleh Biola.
"Udah ya sayang, aku harus berangkat dulu. Anak Daddy baik-baik ya disana jangan rewel dan nyusahin Mommy mu. Inget jaga Mommy mu! Jangan biarkan dia tergoda sama laki-laki lain selain Daddy." Perintah Keynan kepada anaknya yang masih ada didalam kandungan Biola sambil berjongkok dan mencium perut rata istrinya.
Biola memutar bola matanya dengan malas saat mendengar ucapan Keynan.
"Udah sana! Katanya mau berangakat." Ucap Biola ketika Keynan baru berdiri dari jongkoknya.
"Tau ni mau berangkat aja penuh drama dan menebar cinta kemana-mana. Bikin iri aja, gak tahu apa kalau Papa udah berangkat duluan." Kesal Mama Kania sambil melipat kedua tangannya didadanya dan memonyongkan bibirnya beberapa centi.
"Siapa suruh dari tadi nonton. Lagian bukannya Mama sama Papa juga waktu di meja makan mengumbar cinta kalian ya?" Keynan membalikan perkataan Mama Kania yang membuat Mama Kania tambah ngambek.
"Udah, sana pergi kamu!" Usir Mama Kania sambil menarik tangan menantunya masuk kedalam rumah dan menutup pintu dengan kasar dihadapan Keynan.
Brakk....
Keynan menatap pintu rumahnya dengan tatapan terkejutnya.
__ADS_1
"Dasar emak-emak rempong." Gerutu Keynan sambil berjalan kearah mobilnya yang sudah siap dijalankan.
Tak berapa lama setelah Keynan pergi tiba-tiba bel rumah keluarga Kristian berbunyi.
Ting....Tong....
Biola dan Mama Kania yang sedang asik menonton televisi diruang keluarga pun dikagetkan oleh bunyi bel rumah.
"Siapa Ma? Mama pesen sesuatu ya?" Tanya Biola yang memang tahu kalau rumah keluarga Kristian jarang ada tamu yang datang ke kediaman keluarga Kristian selain pengantar paket dan beberapa kerabat.
"Gak kok, Mama gak pesen apa-apa. Mungkin kamu yang pesen sesuatu?" Tanya Mama Kania balik sambil mengangkat bahunya.
"Kalau aku yang pesen lalu kenapa aku tanya Mama?" Ucap Biola sambil membuang nafasnya dengan kasar.
"Oh iya ya, kenapa Mama gak kepikiran ke sana!" Ucap Mama Kania sambil menepuk jidatnya.
"Ya udah Mama panggil Maya dulu." Lanjutnya.
"Maya tolong buka pintunya!" Teriak Mama Kania dengan suara cemprengnya yang dapat memanggil semua orang yang ada dirumah keluarga Kristian yang bagaikan kastil itu.
Padahal diatas meja depan sofa ada sebuah telepon untuk mamanggil pegawai rumah dikeluarga Kristian. Tapi Mama Kania sudah terbiasa berteriak-teriak dengan suara cemprengnya untuk memanggil seseorang dirumah besar itu.
Maya yang sedang menyiram tanaman ditaman belakang pun dikagetkan oleh suara cempreng Nyonya besarnya, sampai-sampai Maya hampir saja menyiram tukang kebun yang sedang memotong rumput dibalik tanaman yang ia siram.
"Kaget aku denger suara Nyonya besar yan cempreng itu. hampir saja aku nyiram Mang ujang." Ucap Maya didalam hati sambil mengelus dadanya.
Maya pun dengan cepat mematikan keran air untuk menyiram tanaman dan berlari kearah pintu utama untuk membuka pintu utama dikediaman keluarga Kristian.
"Iya cari siapa?" Tanya Maya setelah membuka pintu dan melihat seorang gadis muda seusia Biola berdiri dihadapan pintu.
"Kakak iparnya ada?" Tanya gadis itu sambil tersenyum.
"Kakak ipar? Maaf Nona siapa ya?" Tanya Maya kebingungan, Karena dia belum mengetahui kalau Sinta adalah istri dari Devin Wijaya.
"Saya Sinta, temanya Biola sekaligus istri dari titisan lumba-lumba." Jawab gadis itu yang tak lain adalah Sinta.
Ucapan Sinta benar-benar membuat Maya kebingungan.
"Iya si dholpin yang paling menyebalkan itu. Gara-gara dia gue jadi nikah dadakan." Kesal Sinta yang membuat Maya lagi-lagi tambah kebingungan.
"Apa dia orang gila?" Pikir Maya sambil menatap pakaian Sinta dari bawah sampai atas.
"Siapa May?" Tanya Mama Kania sambil mendekati Maya.
Maya pun berbalik kearah Mama Kania dengan wajah beingungannya.
"Itu Nyonya besar, katanya Nona itu istrinya titisan lumba-lumba atau dholpin kalau gak salah." Jawab Maya kebingungan.
"Titisan lumba-lumba? Dholpin? Apa ratu neptunus salah alamat dan malah bertamu kerumahku?" Ucap Mama Kania yang ikut-ikutan bingung.
Mama Kania pun melihat kearah pintu dan menemukan Sinta disana yang sedang menatap kearahnya.
"Hallo Tante!" Sapa Sinta sambil melambaikan tangannya karena jaraknya dan Mama Kania cukup jauh.
"Owalah.... ku pikir siapa ternyata pengantin baru toh." Ucap Mama Kania sambil memeluk Sinta.
"Tante apa kapar? Udah lama gak ketemu Tante masih terlihat muda dan cantik aja." Puji Sinta yang membuat Mama Kania tersipu.
"Ah kamu mah bisa aja." Ucap Mama Kania malu-malu meong.
"Hehehe...... Biolanya ada Tante?" Tanya Sinta sambil celingak-celinguk kedalam rumah keluarga Kristian.
"Ada didalam, ayo masuk!" Ajak Mama Kania sambil menarik tangan Sinta kedalam rumah keluarga Kristian.
Sinta tampak sangat terkagum-kagum saat melihat rumah mewah keluarga Kristian. Tanpa sadar Sinta sudah sampai diruang keluarga.
"Loh.. Sin, lo ngapain kesini?" Tanya Biola kaget saat Mama Kania membawa Sinta keruang keluarga.
Ucapan Biola berhasil membuat Sinta terbangun dari lamunanya.
"Eh, kita sudah sampai ya?" Tanya Sinta sambil cengegesan.
__ADS_1
"Makannya jangan bengong. Ayo duduk dulu." Balas Mama Kania yang dianggunki oleh Sinta.
Sinta pum duduk disebelah Biola yang sedang menatapnya dengan penuh tanya.
"Sinta mau minum apa?" Tanya Mama Kania.
"Apa aja yang bisa diminum Tan. Kalau bisa jus pake es pasti enak tuh Tan." Jawab Sinta dengan tak tahu malunya dan membuat Mama Kania tersenyum.
"Ok, bentar ya Tante buatin dulu." Jawab Mama Kania sambil berlalu kearah dapur.
"Lo belum jawab pertanyaan gue! Lo ngapain disini? Lalu lo tahu alamat rumah gue dari mana?" Tanya Biola dengan tatapan tajamnya.
Sinta memandang Biola, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah dari yang tadinya sangat ceria seperti matahari terik disiang bolong tiba-tiba berubah menjadi mendung seperti badai yang tiba-tiba datang di siang bolong yang mataharinya sedang terik-teriknya. Coba aja ditambah suara tongeret pasti berasa banget deh panasnya.
"Idih muka lo kenapa?" Tanya Biola yang merasa jijik melihat perubahan raut waja Sinta.
"Hiks... Bi, gue gak bisa ke asrama lagi. Nyokap dan Bokap gue juga udah ngusir gue. Mereka bilang gue harus ikut sama misua titisan lumba-lumba gue. Gue gak mau satu atap sama misua titisan lumba-lumba." Rengek Sinta dengan berurai air mata dan memeluk tubuh Biola dengan erat.
Pada awalnya Pak Sinan ingin melatih menantunya itu sampai satu bulan lamanya dirumahnya. Tapi Karena tugas pekerjaan Devin yang menumpuk jadi membuat Pak Sinan melolosan Devin dan hanya akan melatih Devin karate pada hari minggu saja. Sehingga mau tak mau Sinta dan Devin saat ini tinggal satu atap diapartemen Devin.
"Misua? Suami maksud lo?" Tanya Biola dengan dahi yang mengerut.
"Ihh... lo kurang kudet deh!" Kesal Sinta.
"Habis lo make bahasa alien." Jawab Biola.
"Ihh.. gue lagi serius-seriusnya ini mau curhat tapi lo malah potong pake pertanyaan gak guna tahu. Gue jadi rindu sama sabat patung es gue yang gak pernah ngerespon tiap kali gue cerita." Keluh Sinta.
"Oh... lo mau gue kayak dulu lagi. Ok kalau gitu." Jawab Biola dengan santainya.
"Ok apa?" Tanya Sinta yang tidak mendengarkan ucapan Biola.
Belum sempat Biola menjawab ucapan Sinta, tiba-tiba saja Mama Kania datang bersama Maya yang membawa nampan berisikan minuman dan cemilan.
Maya menaruh minuman dan cemilan itu diatas meja. Setelah itu ia pegi kedapur dengan membawa nampannya.
"Ayo silahkan diminum jusnya dan dimakan juga cemilannya Sin. Jangan malu-malu anggap aja rumah sendiri." Ucap Mama Kania sambil tersenyum lebar.
"Siap Tan." Jawab Sinta sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah itu Sinta dan Mama Kania mengobrol dengan asiknya. Sinta juga sepertinya sudah melupakan niatan awalnya yang mau curhat kepada Biola.
Sinta dan Mama Kania bagaikan suatu kawanan yang tidak bisa terpisahkan. Ketika Sinta dan Mama Kania bertemu mereka pasti akan sangat ribut membicarakan sesuatu yang tidak penting seperti saat ini.
Mama Kania dan Sinta sedang membicarakan tentang kejelekan atau aib suami mereka masing-masing.
Sebagai istri yang baik, Biola memilih untuk diam dan tidak nimrung dengan kedua wanita beda generasi tapi satu pemikiran itu.
Setelah berbicara sampai beberapa jam, Sinta dan Mama Kania akhirnya berhenti karena Mama Kania harus mengangkat teleponnya dari sahabat satu arisannya.
"Pasti Mama mau gosib lagi lewat telepon." Ucap Biola sepontan dan membuat Sinta mengalihkan pandangannya kearah Biola.
"Eh...Bi, lo masih ada disini? Gue pikir lo udah pergi karena gue gak denger suara lo?" Tanya Sunta yang tidak direspon oleh Biola.
Biola malah memasang tampang dingun dan cueknya lagi seperti dulu.
"Woi! Jawab ngapa!" Kesal Sinta.
"Mmm..." jawab Biola.
"Wah temen patung es gue ngapa balik lagi si!" Gerutu Sinta yang baru menyadari kalau sikap Biola kembali seperti dulu lagi.
"Gue mau cerita ini tapi lo nya malah sedingin dulu lagi." Keluh Sinta.
"Kan lo yang minta gue kayak gini Sinta." Ucap Biola keceplosan.
Sinta memandang Biola dengan tatapan tak pecayanya. Dia benar-benar tercengang dengan prilaku Biola yang tidak seperti biasanya.
__________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian manteman 😘
__ADS_1