Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Extra Part 3


__ADS_3

Dengan tergesah-gesahnya Devin berlari keapartemennya. Ia mencari istrinya didalam apartemennya. Namun ia tidak menemukan istrinya didalam apartemennya.


"Sinta, kamu dimana? Tolong jangan membuat aku khawatir!" Teriak Devin dengan wajah frustasinya.


Devin terus mencari keberadaan istrinya. Ia juga sudah mencari istrinya kekampusnya tapi istrinya itu tidak ada disana.


Devin telah mencari keberadaan istrinya kesemua tempat yang sering istrinya kunjungi tapi lagi-lagi ia masih belum menemukan istrinya.


"Sin, kamu dimana? Tolong jangan buat aku panik kayak gini. Aku gak mau kita pisah. Aku gak mau kehilangan kamu." Gumam Devin sembil mengendari mobilnya. Terlihat dari wajahnya kalau dia sangat mengkhawatirkan Sinta.


Ia tidak memperdulikan lagi tangan kananya yang terluka sangat parah dan kini sudah banyak mengeluarkan darah karena terlalu lama menyetir mobil sehingga membuat lukanya terbuka lagi.


Devin terus mencari istrinya hingga ia teringat dengan rumah menyeramkan mertuanya. Dimana ia harus disiksa demi mendapatkan restu dari orang tua Sinta.


"Iya, dia pasti disana." Ucap Devin sambil berbalik arah kearah jalan menuju rumah mertuanya.


Sesampainya dikediaman keluarga Pak Sinan, Devin langsung menelan salivanya dengan kasar. Karena tempat itu adalah tempat yang paling sering membuat Devin menderita akibat latihan keras yang dibetikan oleh Pak Sinan kepadanya hanya untuk mendapatkan restu dari orang tua Sinta.


Devin menatap gerbang besar kediaman keluarga Pak Sinan dengan tatapan ragu-ragunya. Namun ia harus menemukan istrinya. Sehingga ia memberanikan diri untuk melajukan mobilnya kedalam kediaman Pak Sinan.


Tapi mobil Devin dihadang oleh anak-anak yang berguru kepada Pak Sinan. Mereka menghalangi mobil Devin dan berjejer dihadapan mobil Devin.


Sontak saja itu membuat Devin menginjak remnya secara mendadak.


"Ada apa dengan anak-anak itu? Apa mereka tidak tahu bahaya?!" Omel Devin sambil membuka pintu mobilnya dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.


"Kenapa kalian menghalangi jalanku? Apa kalian tahu itu sangat berbahaya? Kalian bisa saja tertabrak kalau aku tidak menginjak rem dengan mendadak tadi!" Bentak Devin kepada anak-anak didik Pak Sinan.


Salah satu dari mereka menghampiri Devin dengan wajah seriusnya.


"Maafkan kami Kak, tapi ini adalah perintah langsung dari Pak Sinan. Kakak dilarang masuk kekediaman Pak Sinan." Tutur salah satu anak didik Pak Sinan itu yang menghampiri Devin.


"Apa? Tapi kenapa? Aku kan menatunya?" Tanya Devin dengan kagetnya.


"Saya juga tidak tahu Kak. Tapi beberapa jam yang lalu Kak Sinta pulang sambil menangis. Setelah itu Pak Sinan menyuruh kami untuk melarang Kakak masuk kekediamannya." Tutur anak didik Pak Sinan itu yang membuat Devin mengerti dengan keadaan yang ia hadapi saat ini.


"Baiklah, tapi bisahkah kalian membertitahu Sinta kalau aku menunggunya disini. Ada yang perlu aku jelaskan kepadanya. Aku mohon." Devin memelaskan wajahnya kepada anak-anak didik Pak Sinan itu.


"Maaf Kak, kami tidak bisa membantu Kakak. Karena Pak Sinan juga berkata kalau kami membantu Kakak maka kami akan dikeluarkan dari perguruan ini." Jelas anak didik Pak Sinan itu yang membuat Devin tambah frustasi.


"Baiklah, kalian boleh pergi. Aku akan tetap menunggu didepan gerbang sampai Sinta mau menemuiku dan mau mendengarkan penjelasanku!" Ucap Devin ngotot dan membuat anak-anak didik Pak Sinan itu saling pandang kebingungan.


"Ta...tapi Kak...."


"Kalian tenang aja, Ayah tidak akan marahi kalian karena kalian sudah melakukan apa yang dia perintahkan, yaitu menyuruh kalian untuk tidak membiarkan aku masuk kedalam rumahnya. Tapi dia tidak melarang aku untuk menunggu Sinta diluar gerbang rumahnya kan? Jadi kalian tenang saja. Kalau dia mau marah maka akulah yang akan menjadi orang yang seharusnya ia marahi bukan kalian." Tutur Devin yang membuat anak-anak didik Pak Sinan itu ragu-ragu.


"Baiklah Kak, kami pamit dulu." Pamit salah satu anak didik Pak Sinan yang mengobrol dengan Devin. Mereka pun mulai meninggalkan gerbang menuju tempat latihan mereka.


Sementara Devin menunggu didepan gerbang rumah Pak Sinan sambil menyender didepan mobilnya.


Devin mengambil nafasnya dadalam-dalam untuk mulai berteriak memanggil istrinya yang ada didalam kediaman keluarga Pak Sinan yang memiki halaman yang luas itu.


"TITISAN GURITA...!! LO GAK PANTES CEMBURUAN KAYAK GINI...!!! MANA TITISAN GURITA YANG GUE KENAL....!!!! SINI LO!! GUE JELASIN APA YANG TERJADI JANGAN ASAL AMBIL KEPUTUSAN AJA TANPA TAU APA YANG TERJADI...!!!" Teriak Devin dengan lantangnya dan membuat semua orang yang ada disekitar perumahan Pak Sinan pun menatap kearah kediaman Pak Sinan.


Sinta yang mendengarkan suara teriakan Devin pun langsung menghentikan tangisannya saking terkejutnya.


"Udah dong Sin, mungkin memang ada kesalah pahaman diantara kalian. Bunda juga gak percaya kalau nak Devin itu laki-laki yang seperti itu. Kalau memang dia laki-laki yang seperti kamu katakan itu apakah mungkin dia mau menderita gara-gara latihan keras yang diberikan Ayahmu? Kalau laki-laki lain menurut Bunda sudah pasti akan meninggalkanmu. Mereka pasti tidak akan tahan berlama-lama syarat yang diberikan Ayahmu sampai-sampai tubuh mereka biru-biru setiap harinya. Ditambah lagi kalau memang nak Devin itu laki-laki seperti itu, mana mungkin dia mau mencarimu dan mempermalukan dirinya sendiri dengan berteriak seperti orang gila seperti itu hanya demi menjelaskan apa yang terjadi kepadamu." Nasehat Bunda Ratih kepada putrinya.


Sinta tampak termenung dengan sesenggukannya. Ia masih mendengarkan suara Devin yang memanggil-manggil namanya. Dan bahkan sampai mengata-ngatainya.


"Disaat sedih kayak begini dia masih saja sempat-dempatnya manggil gue titisan gurita." Ucap Sinta didalam hati sambil tersenyum kecil dan itu terlihat oleh Bunda Ratih.

__ADS_1


"Udah ya, samperin nak Devin dan dengarkan semua penjelasannya. Jangan kayak gini. Kasihan nak Devin kalau harus teriak-teriak kayak gitu." Tutur Bunda Ratih sambil mengelus kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


Sinta hanya bisa mengangguk sambil memeluk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya yang merona didalam lututnya karena terharu akan pengorbanan Devin demi membujuknya.


Namun tiba-tiba saja Devin berhenti berteriak dan itu membuat Sinta keheranan.


"Apa dia sudah menyerah dan gak mau bujuk aku lagi?" Pikir Sinta dengan bibir cemberutnya.


"Akh palingan suaranya abis." Ucap Sinta didalam hati sambil tersenyum. Lalu ia pun bangun dari duduknya untuk menghampiri Devin didepan gerbang ruamahnya.


Sementara Devin saat ini sudah babak beluar karena dipukuli oleh Pak Sinan.


Bukkk...


"Berani-beraninya kamu datang kesini hah! Belum cukup kamu sakiti hati putriku dengan perselingkuhanmu itu!" Bentak Pak Sinan sambil memukuli Devin.


"A...Ayah, aku bisa jelaskan apa yang terjadi." Ucap Devin yang tidak didengarkan oleh Pak Sinan.


"Jangan panggil aku Ayah lagi! Kau tidak pantas memanggilku Ayah!" Bentak Pak Sinan dengan lantangnya dan memberikan pukuluan keras diperut Devin.


Pak Sinan menarik kerah baju Devin lalu mendorong Devin kearah depam mobil Devin yang terparkir didepan gerbang rumah Pak Sinan.


"Pergi kamu! Jangan pernah kamu injakan kakimu dirumahku lagi!" Teriak Pak Sinan dengan wajah penuh emosinya.


"Ti...tidak Ay....Ayah, aku harus menjelaskan apa yang terjadi kepada Sinta. A....aku tidak berselingkuh." Jelas Devin dengan suara lemahnya karena menahan rasa sakit akibat pukulan pak Sinan ditambah tangan kanannya yang darahnya tidak berhenti mengalir sejak tadi lukanya terbuka.


Wajah Devin sudah babak beluar dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Ditambah tangan kanannya yang saat ini sudah tidak bisa ia gerakan karena lukanya sudah terbuka sedari tadi.


Pak Sinan membuang wajahnya kearah lain. Karena kalau boleh jujur ia juga tidak tega melihat menantunya dalam keadaan seperti ini.


"Cepat pergi dan panggil seseorang untuk menjemputmu pulang. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Ucap Pak Sinan dengan nada dinginya tapi tidak berani menatap Devin.


"A...Ayah, a...aku tidak akan pergi." Tutur Devin ngotot dengan suara yang hampir menghilang.


Pak Sinan mengambil ponsel Devin secara paksa dan melihat siapa yang menelepon Devin. Setelah itu Pak Sinan mengangkat telepon itu.


"Jemput bos mu dirumah saya. Kalau tidak nyawanya bisa saya lenyapkan kapan saja. Saya akan kirim alamatnya sekarang juga. Dan kamu harus datang dalam waktu 10 menit." Ucap Pak Sinan dengan nada mengancamnya.


Setelah mendapatkan alamatnya, orang yang menelepon Devin pun langsung memutar arah tujuannya kearah rumah Pak Sinan.


Orang yang menelepon Devin itu adalah sekretaris Devin yang ingin menanyaan soal keadaan Sinta. Karena ia juga merasa bersalah kepada Devin karena pertengkaran Sinta dan Devin disebabkan olehnya.


Tapi ia tidak menyangka kalau Devin malah dalam sebuah masalah yang menyangkut nyawanya. Dengan cepat sekretaris Devin yang bernama Linda itu mengemudikan mobilnya kearah rumah Pak Sinan.


"Apa yang terjadi kepada Pak Devin? Aku harus cepat-cepat menjemput Pak Devin. Kalau tidak nyawa Pak Devin akan dalam bahaya. Untungnya aku dekat dengan alamat yang dikirim oleh orang itu." Ucap Sekretaris Linda sambil menambah kecepatan mobilnya.


Kurang dari 10 menit Sekretaris Linda telah sampai dikediaman Pak Sinan karena jaraknya dengan dengan tumah Pak Sinan tadi cukuplah dekat. Ia dengan cepat membuka mobilnya dan terkejut pada saat melihat keadaan Devin yang sangat sekarat.


••••••••


Sementara itu Sinta dihadang oleh anak-anak didik Pak Sinan sehingga ia tidak tahu keadaan Devin saat ini.


"Hei! Kalian cepet minggir! Jangan halangi jalanku lagi!" Bentak Sinta kepada anak-anak didik Ayahnya.


"Maafkan kami Kak. Kami tidak bisa membiarkan Kakak menemui Kak Devin. Ini perintah dari Pak Sinan." Tutur salah satu anak didik Pak Sinan.


"Kalian pikir aku peduli! Dia  Ayahku, jadi cepat kalian minggir!" Teriak Sinta sambil menerobos anak-anak didik Ayahnya itu.


"Kak Sinta tunggu!" Teriak semua anak didik Pak Sinan saat Sinta telah berhasil lolos dari cegatan anak-anak didik Ayahnya itu.


Namun Sinta lagi-lagi dekujutkan dengan apa yang ia lihat dari jarak yang lumayan jauh. Disana ia melihat Sekretaris Linda sedang merangkul Devin, itulah yang dilihat Sinta. Namun keyataannya Sekretaris Linda sedang memapah Devin yang tidak bisa berdiri dengan tegak lagi karena keadaannya yang keritis.

__ADS_1


Sinta mengepalkan tangannya saat melihat keadaan itu. Ia telah dibutakan oleh kecemburuannya sampai-sampai ia tidak melihat keadaan Devin yang sedang sekarat pada saat itu.


"Jadi dia selingkuhanmu itu hah!" Teriak Pak Sinan pada saat melihat Sekretaris Linda memapah Devin.


Devin hanya terdiam karena tak kuasa untuk berbicara lagi. Tubuhnya sudah sangat lemas karena kehabisan cukup banyak darah yang diakibatkan oleh luka ditangan kanannya yang kini sudah terbuka lagi.


Sekretaris Linda ingin menjawab pertanyaan Pak Sinan. Namun ia harus membawa Devin desegera mungkin kerumah sakit. Jadi ia memilih mengabaikan pertanyaan Pak Sinan.


"Bagus! Dasar pasangan murahan! Pergi kalian dari rumahku!" Teriak Pak Sinan kepada Devin dan Sekretaris Linda yang tampak sibuk memapah Devin masuk kedalam mobilnya.


"Dasar pasangan murahan!" Umpat Pak Sinan saat mobil yang ditumpangi Devin itu telah melaju dari hadapannya.


Sinta hanya terdiam dari kejauhan ia tidak bisa melihat jelas keadaan Devin pada saat itu. Ia hanya bisa mendengar teriakan Ayahnya dan bisa melihat Devin dirangkul oleh wanita lain yang lebih tepatnya dipapah oleh Sekretaris Linda. Namun dimata Sinta itu terlihat seperti dirangkul karena ia melihatnya dari jarak yang lumayan jauh ditambah dengan rasa cemburunya yang tinggi.


Sinta memegangi dadanya karena merasakan rasa sakit dihatinya. Ia lagi-lagi meneteskan air matanya. Tadi yang lebih bodoh dari semua itu adalah ia belum sadar arti dari perasaan yang ia rasakan saat ini.


"Kau jahat Devin! Dasar titisan lumba-lumba ngeselin! Tukang selingkuh!" Teriak Sinta sambil berlari kembali kedalam rumahnya.


••••••


Devin dilarikan kerumah sakit dan harus menerima tranfusi darah karena ia sudah terlalu banyak mengluarkan darah.


Devin tak sadarkan diri selama sehari semalam. Sekretaris Linda terus menghubungi Sinta namun Sinta tidak mau mengangkatnya.


Sinta bahkan mematikan handphonenya karena handphonenya terus berdering. Ia bahkan mengabaikan telepon dari mertuanya dan Mama Kania yang ingin memberitahu keadaan Devin saat ini.


Sinta terus terpuruk dalam kesedihannya. Ia sendiri tidak mengerti dengan dirinya yang mersakan sakit hati karena mengira Devin memiliki wanita lain.


"Sayang, tolong pikirkan baik-baik tentang masalah ini dan bicarakan langsung dengan nak Devin. Bunda tidak mau kamu sampai harus bercerai dengan nak Devin tanpa penjelasan yang lebih mendetail." Saran Bunda Ratih yang membawakan sebuah map yang berisikan surat perceraian Sinta dan Devin.


"Tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi Bunda. Keputusanku sudah bulat. Pernikahan ini memang pada awalnya hanya sebuah kesalahan. Jadi cepat atau lambat kami harus mengakhirinya." Jelas Sinta dengan nada dinginnya dan langsung mengambil map itu dari tangan Bunda Ratih.


Tanpa keraguna Sinta mulai menandatangani surat cerai itu.


"Bunda tolong kirimkan surat ini kepada Devin. Agar semuanya cepat berakhir." Sinta menyerahkan surat itu kembali kepada Bundanya lalu ia kembali berbaring diatas tempat tidurnya sambil menutup selutuh tubuhnya dengan selimut.


Bunda Ratih membuang nafasnya dengan kasar dan mulai meninggalkan tempat tidur putrinya.


Diluar ternyata ada Pak Sinan yang sedang menunggu Bunda Ratih.


"Apakah dia sudah tanda tangan?" Tanya Pak Sinan kepada istrinya.


Bunda Ratih menyerahkan map itu tanpa ingin menjawab pertanyaan dari suaminya. Pak Sinan mengambil surat itu dan membacaranya.


"Aku akan mengirimkan surat ini kekeluarga Wijaya." Ucap Pak Sinan dengan nada dinginya.


"Yah, Bunda mohon jangan terlalu terbawa emosi dan selidiki lebih lanjut. Bunda yakin nak Devin bukan laki-laki seperti itu." Ucap Bunda Ratih yang membuat langkah kaki Pak Sinan terhenti.


"Tidak ada yang perlu diselidiki lagi Bun. Semuanya sudah jelas." Ucap Pak Sinan dengan keras kepalanya dan meninggalkan Bunda Ratih yang berdiri didepan pintu kamar putrinya.


Bunda Ratih membuang nafasnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak mengerti sifat keras kepala Ayah dan anak itu.


"Dasar Ayah dan anak sama aja. Sama-sama keras kepala." Gerutu Bunda Ratih dengan kesalnya.


•••••


Devin yang baru sadar dari masa-masa keristisnya pun langsung dikagetkan dengan sebuah map yang berisikan surat percerainya dengan istrinya.


"Gak! Aku gak mau cerai dengan dia!" Devin membanting surat cerai itu kelantai. Ia melepas infus ditangnya dengan kasar sehingga membuat tangannya mengeluarkan darah.


"Devin! Apa yang kamu lakukan! Cepat kembali ketempat tidurmu. Jangan seperti ini. Kondisimu masih belum setabil." Tutur Mamanya Devin yang bernama Devi Wijaya.

__ADS_1


"Gak Ma! Aku harus jelasin ini semua kepada Sinta!" Teriak Devin dengan memberontak saat tubuhnya ditahan oleh Mamanya.


"Devin! Dengarkan Mama. Kamu boleh menemui Sinta tapi kamu harus pulih terlebih dahulu. Mama dan Papa akan mengurus keluarganya Sinta agar menunda perceraian kalian. Tanpa tanda tanganmu Sinta tidak akan pernah bisa bercerai denganmu jadi tenanglah. Mama dan Papa juga akan berusaha menjelaskan semuanya kepada keluarga Sinta." Tutur Mamanya Devin yang membuat Devin terdiam.


__ADS_2