
Hari-hari pun berlalu dengan cepatnya. Kini kondisi Devin sudah pulih seutuhnya dan ia juga sudah kembali bekerja lagi tapi tidak dengan hatinya yang masih terluka parah.
Devin juga tahu kalau kedua orang tuanya gagal menjelaskan apa yang terjadi kepada keluarga Sinta karena kekeras kepalaan Pak Sinan. Ia juga tidak membiarkan Sinta untuk menemui Devin. Sehingga semuanya tambah kacau.
Pekerjaan Devin semakin lama semakin memburuk dan terbengkali karena masalah ini. Ia terus menerus bolos dari kerjaannya.
Devin selalu menghabiskan waktunya di Bar karena masalah Sinta yang terus menuntut cerai kepadanya. Devin setiap hari selalu mabuk-mabukan dan terus menerus menyebutkan nama Sinta dan nama panggilannya untuk Sinta yaitu titisan gurita.
Lagi dan lagi Sekretaris Linda harus mengantar atasannya pulang karena mabuk berat.
Sesampainya diapartemen Devin. Sekretaris Linda langsung membuka pintu apartemen Devin karena sering mengantar Devin yang mabuk pulang jadi ia tahu kata sandi apatemen Devin.
Tapi kali ini ada yang berbeda dari hari-hari biasanya. Didalam apartemen Devin ternyata ada seorang wanita yang tengah menunggu Devin pulang sambil membawa sebuah map.
Wanita itu adalah Sinta. Sinta menajamkan matanya saat melihat Devin yang sedang mabuk dipapah oleh wanita sexy yang ia kira selingkuhan Devin.
"Jadi kalian memang sepasang kekasih. Semuanya memang sudah jelas. Aku kesini mau mengantarkan surat cerai ini. Mau gak mau kamu harus tanda tangan surat cerai ini. Karena seperti yang kamu katakan kalau pernikahan ini hanyalah sebuah kesalahan." Tutur Sinta dengan nada dinginnya dan menatap Devin dengan tatapab rendahnya.
Devin mendonggakan kepalanya dan menatap Sinta yang ada dihadapannya. Dengan cepat Devin melepaskan tanganya dari Sekretaris Linda dan langsung memeluk Sinta.
"Hik... titisan guruta... Kemana aja kamu selama ini. Apa kamu tahu kalau hidupku hampa tampamu. Kau tau? Aku sangat merindukanmu. Tapi disisi lain aku juga takut kalau kamu akan pergi dariku. Jadi tolong jangan ceraikan aku." Tutur Dengan suara paraunya dan memeluk Sinta erat karena sudah mabuk berat.
"Lepasin gue! Kalau mau peluk, peluk aja pacar lo. Jangan gue!" Bentak Sinta sambil berusaha melepaskan pelukan Devin yang sangat erat ditubuhnya.
"Gak mau, kalau aku lepas nanti kamu kabur lagi." Ucap Devin yang sudah sepenuhnya mabuk dan bertingkah seperti anak kecil.
"Gila ya lo! Heh cewek, lo pegangin ni pacar lo!" Bentak Sinta kepada Sekretaris Linda.
Sekretaris Linda hanya tersenyum sambil melambaikan kedua tanganya untuk menolak ucapan Sinta.
"Tidak Nyonya Sinta. Saya bukan pacarnya Pak Devin. Saya adalah sekretarinya Pak Devin. Saya juga ingin menjelaskan bahwa apa yang Nyonya lihat pada waktu itu adalah kesalah pahaman belaka. Saya tidak memiliki hubungan yang lebih dengan atasan saya. Lagi pula saya sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi saya akan menikah." Tutur Sekretaris Linda sambil menunjukan jari manisnya yang telah melingkar cincin cantik.
Sinta menatap cincin itu kilas lalu menatap Sekretaris Linda dengan tatapan kesalnya.
"Oh... jadi setelah aku dan Devin cerai. Kalian akan langsung menikah gitu. Jadi kamu ingin pamer kalau kamu akan menikah dengan Devin?" Tanya Sinta dengan nada sinisnya dan membuat skretaris Linda kebingungan.
"Bukan begitu Nyonya Sinta. Saya dan Pak Devin tidak memiliku hubungan apa-apa. Sa.... ...."
"Berisik sekali." Ucap Devin yang mendonggakan kepalanya lalu menatap wajah Sinta yang tampak cantik dimatanya pada saat itu.
Dengan cepat Devin merapatkan tubuhnya ketubuh Sinta dan menarik tengkuk Sinta kerahanya. Ia mencium Sinta dihadapan Sekretaris Linda denan begitu rakusnya.
Sinta dan Sekretaris Linda membelalakan matanya saking terkejutnya. Devin mulai memperdalam ciumannya dan membuat Sinta memejamkan matanya karena menikmati permainan bibir Devin.
Tanpa pamit Sekretaris Linda pun langsung keluar dari apartemen itu dan menutup pintu apartemen itu rapat-rapat.
"Emang bener kata orang-orang kalau pertengkaran didalam rumah tangga akan selalu berakhir ditempat tidur." Gumam Sekretaris Linda dengan pipinya yang memerah karena menonton adegan langsung yang tidak senonoh.
Devin terus memperdalam ciumannya dan mengangkat tubuh Sinta tanpa melepaskan ciumanya. Sinta juga tampak memberontak namun Devin lebih kuat darinya.
Devin menggendong istrinya dan membawanya kearah sofa yang ada diruang tamu dekatnya.
Devin melempar tubuh Sinta kearah sofa dengan kasar. Ia melepaskan dasinya dan menatap Sinta dengan tatapan berkabutnya.
"Tidak! Apa yang kamu lakukan. Pergi kamu!" Teriak Sinta yang mulai ketakutan.
Devin menarik kedua tangan Sinta dan menguncinya diatas kepalanya dengan satu tangan. Ia juga mengikat kedua tangan Sinta dengan dasi yang ia lepaskan dari kerah kemeja putih yang ia pakai.
"Lepaskan! Tidak... jangan...." Dengan cepat Devin membungkam bibir merah muda istrinya dengan ciuman buasnya.
Devin benar-benar sudah dikendalikan oleh hawa nafsunya ditambah minuman beralkohol yang membuatnya tambah tidak sadarkan diri dengan apa yang ia perbuat.
"Le....lepas...." Teriak Sinta yang tertahan oleh ciuma buas Devin.
Devin melepaskan ciumannya dan mengusap bibir Sinta yang basah karena aksi ciumannya yang buas dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Kau itu benar-benar keras kepala. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan kepadamu tapi baik kamu dan keluargamu tidak ada yang mau mendengar penjelasanku. Aku benar-benar tidak selingkuh dengan Linda. Dia hanya pegawaiku. Aku hanya mencintai kamu seorang. Jadi percayalah dan terima aku. Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Kau titisan gurita yang paling menyebalkan yang pernah aku temui tapi semenyebalkan apapun kamu dan sekeras kepala apapun kamu. Aku tetap mencintaimu." Ungkap Devin yang mmbuat Sinta terdiam dan tidak memberontak lagi.
Ia menatap Devin yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Tapi entah kenapa mendengar pengakuan dari Devin membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Suasana hatinya tiba-tiba dipenuhi oleh bunga yang bermekaran saat mendengarkan pengakuan Devin.
Devin juga semakin menjadi-jadi. Ia mulai melepaskan pakainnya dan pakain Sinta karena sudah terbawa oleh hawa nafsunya. Tanpa Sinta sadari kini ia sudah tidak mengenakan apapun.
Devin menatap tubuh Sinta dengan tatapan laparnya. Ia menyebtuh kedua lengan Sinta yang diikat itu dengan lembut lalu ia melepaskan ikatanya dari kedua tangan Sinta.
"Kau miliku. Aku akan memilikimu. Kau satu-satu titisan gurita dalam hidupku." Racau Devin dengn liarnya memainkan lidahnya ditengkuk leher istrinya.
"De...dev..." Ucap Sinta yang kini sudah terbawa susana.
Sinta memeluk Devin dengan eratnya karena merasakan ras gejolak ditubuhnya yang tidak tertahankan.
"Aku mencintaimu Sinta." Racau Devin lagi.
Merekapun melakukan malam pertama mereka diatas sofa ruang tamu dan dalam keadaan Devin yang mabuk berat. Sinta juga menerima perlakukan Devin karena terbawa suasana hatinya yang berbunga-bunga karena mendengar pengakuan cinta dari Devin untuknya.
Mereka melakukannya sampai mereka puas. Mereka mencurahkan rasa cinta didalam hati terdalam meraka yang terus terhalangi oleh ego mereka masing-masing.
Hingga pada akhirnya Devin dan Sinta mencapai batasnya dan tertidur saling berpelukan.
Devin memeluk Sinta erat seolah-olah ia takut kehilangan Sinta lagi.
•••••
Matahari pun kini telah menunjukan sinarnya dan mengusir gelapnya malam yang menyelimuti bumi.
Sinta mengerjap-ngerjapkan matanya saat sinar matahari mulai menyinari ruang tamu tempat mereka melakukan malam pertama yang selalu terhang karena ego mereka masing-masing.
Sinta mengusap kedua matanya dengan kedua telapak tangannya saat menyadari ada seseorang yang sedang tidur dihadapannya dan sedang memeluknya erat.
"Ahhhh.......!!!!" Teriak Sinta pada saat ia tersadar kalau ia sedang tidur dengan seorang pria dan pria itu adalah Devin suaminya sendiri. Dan yang membuat Sinta tambah terkejut adalah ia dan Devin tidak mengenakan apapun.
Sinta langsung melepaskan pelukannya dari suaminya namun sesuatu yang tak terdugapun terjadi. Sinta tiba-tiba merasakan sakit didaerah intinya sehingga ia terjatuh dan terduduk dilantai.
Terlihat Sinta sedang duduk dilantai tanpa mengenakan sehelai benangpun. Pipi Devin tersipu karena melihat itu.
"Aaahhhh.... jangan lihat!!!" Teriak Sinta sambil menutupi dadanya dengan kemeja Devin yang berserakan dilantai.
Devin mamalingkan wajahnya dari tubuh indah Sinta dan ia juga sangat terkejut pada saat menyadari kalau ia tidak mengenakan sehelai benangpun. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pada saat ia melibat noda darah yang ada diatas sofa juga didaerah terlalarangnya.
"Apa ini? Apa aku dan Sinta sudah melakukan itu? Jadi tadi malam itu bukan mimpi? Aku dan Sinta benar-benar melakukannya." Batin Devin sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
"Berbalik! Aku mau pakai baju." Peringat Sinta kepada Devin tapi tidak didengarkan oleh Devin.
Devin memandang tubuh Sinta dengan tatapan laparnya.
"A....apa yang kamu lihat! Berbalik sana!" Teriak Sinta dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus.
"Gak, lagian aku udah menikmatinya jadi untuk apa malu-malu." Muka Sinta sudah sangat memerah karena mendengarkan ucapn Devin yang tidak senonoh itu.
"Kamu yang memaksa aku! Lagi pula aku tidak mau melakukannya denganmu. Ini semua karena kamu yang memaksa aku!" Teriak Sinta dengan wajah meronanya dan menggenggam erat kemeja putih Devin untuk menghalangi tubuh polosnya tanpa memakai kemeja itu karena masih dilihat Devin.
"Oh ya? Meski aku mabuk pada waktu itu tapi aku masih ingat dengan suaramu. Tadi malam aku mendengar suaramu yang memintaku lagi dan lagi." Goda Devin sambil mendekati tubuh Sinta dan mengangkat dagu Sinta untuk menggodanya.
"Gak! Kamu yang melakukan pemaksaan!" Teriak Sinta dengan malu-malunya.
"Terserah kamu mau mengelak apapun. Tapi dengan kejadian tadi malam. Kau sudah seutuhnya menjadi miliku. Jadi jangan harap minta cerai dariku lagi. Lagi pula aku gak selingkuh. Kalau kau gak percaya lihat aja sendiri." Ucap Devin sambil menunjukan video pertunangan Sekretaris Linda dan tunangannya.
Sinta tertegun pada saat melihat video itu. Ia menatapnya tanpa berkedip sekalupun.
"Kecemburuanmu itu benar-benar sangat menakutkan ya? Kamu dan Ayahmu juga sangat keras kepala. Meski aku memperlihatkan buktinya tapi dia tetap saja tidak percaya sama sepertimu. Kalian telah membuatku menderita selama beberapa hari terakhir ini. Tapi aku sangat bersyukur karena kejadian ini ada. Karena dengan adanya kejadian ini aku bisa tahu kalau kamu mencintaiku bahkan cintamu sepertinya sangat dalam kepadaku. Kau juga bisa melihat apa video itu asli atau palsu." Ucap Devin sambil mengenakan celananya lalu menagmbil surat cerainya dan Sinta yang tergeletak diatas meja dekat sofa tempat mereka melakukan adegan dewasa.
Sinta mentap video itu dengan tatapan tak percayanya. Karena Video itu memang asli. Ia juga melihat tunangan Sekretaris Linda ditelevisi sebelumnya dan bodohnya ia melupakan wajah Sekretaris Linda pada saat itu.
__ADS_1
Tunangan Sekretaris Linda merupakan seorang model ternama. Jadi wajar saja jika pesta pertunangannya sampai menyebar ketelevisi.
Srekkk.....
Devin merobek surat cerai itu dan membuat Sinta mengalihkan pandanganya kearah Devin.
"Mulai sekarang tidak ada yang boleh membahas kata cerai lagi. Kau akan tetap menjadi Nyonya Muda keluarga Wijaya sampai kapanpun. Kau akan dikenal sebagai istri dari Devin Wijaya. Ingat itu!" Ucap Devin dengan penuh penekanan.
"Ta... tapi..."
"Tidak ada kata tapi-tapian. Kau sudah menjadi miliku seutuhnya. Dan aku yakin sebentar lagi kau akan mengandung anakku." Potong Devin yang membuat Sinta terbengong ditempatnya.
Jujur saja ia sangat senang dengan perlakuan Devin tapi ia juga masih ragu dengan hatinya. Ia juga masih belum tahu apa yang akan terjadi nanti. Karena Ayahnya pasti akan menentang pernikahan mereka lagi. Karena kekeras kepalaannya yang tidak ingin mempercayai Devin.
"Aku tidak akan mengandung anakmu." Gumam Sinta yang masih terdengar ketelinga Devin.
Devin tersenyum devil dan mendekatkan wajahnya kewajah Sinta.
"Kita lihat saja nanti. Kau pasti akan mengandung anaku. Karena aku yakin ini masa suburmu." Ucap Devin yang menyadarkan Sinta kalau ini memang masa suburnya dan Devin mngetahui hal itu karena ia pernah menyuruh Devin untuk membelikannya pembalut.
"A...aku..."
"Jangan ragu-ragu akan hatimu Sinta. Aku tahu kamu sudah mencintaiku. Tapi kamu masih ragu akan cintamu itu." Ucap Devin sambil mengelus pipi Sinta.
Devin menatap wajah Sinta dengan begitu dalamnya dan ia pun mencium bibir Sinta dengan penuh kelembutan dan tanpa adanya penolakan dari Sinta. Sinta juga tampak menikmati ciuman yang dilakukan oleh Devin.
Mereka larut dalam ciuman panas mereka yang berlangsung cukup lama.
Setelah itu Sinta kembali kerumah keluarganya karena dipanggil oleh Ayahnya. Sinta juga sudah memilih untuk kembali bersama Devin. Namun Ayahnya terus melarangnya karena kekeras kepalaannya yang menganggap Devin laki-laki yang tidak benar. Ia juga masih tidak percaya dengan bukti yang ada kalau Devin tidak selingkuh karena ia ingin melindungi putrinya agar putrinya tidak tersakiti. Namun apa yang ia lakukan justru membuat putrinya sangat menderita sampai-sampai Pak Sinan memisahkan Devin dan Sinta.
Sinta dikurung dikediaman keluarnya sampai sebulan penuh oleh Ayahnya. Namun selama waktu sebulan itu Sinta sering muntah-muntah dan menginginkan sesuatu yang aneh-aneh. Ia bahkan ingin Ayahnya sendiri dibotak sehingga membuat Pak Sinan tidak keluar kamar selama beberapa hari karena tidak ingin dibotak. Dan ternyata Sinta positif mengandung sesui dugaan Devin pada waktu itu.
Pada akhirnya Pak Sinan membiarkan Sinta kembali bersama Devin. Dan merestui Devin dan Sinta sepenuhnya karena anak yang dikandung Sinta. Devin juga sudah membeli sebuah rumah mewah untuknya dan keluarga kecilnya.
Semakin hari Sinta dan Devin juga semakin memperdalam cinta mereka dengan kehadiran sang janin dirahim Sinta. Sehingga Sinta dapat mengungkapkan perasaan cintanya yang ada didalam lubuk hatinya yang paling dalam untuk Devin tanpa adanya keraguan setikipun.
"Aku mencintaimu titisan lumba-lumba." Ucap Sinta sambil membelakangi Devin karena rasa malunya saat mengungkapkan rasa cintanya kepada Devin.
Devin terseyum dan memeluk tubuh istrinya dari arah belakang sambil menyandarkan dagunya dibahu istrinya.
"Aku tahu istri titisan guritaku pasti mencintaiku. Secarakan aku ganteng." Ucap Devin dengan PD nya.
"Cih! Gantengan juga Oppa Le min ho." Cibir Sinta yang membuat Devin cemberut.
"Bagai mana bisa aku dibandingkan dengan Kakek-Kakek. Terus siapa itu Le min ho?" Tanya Devin dengan kesalnya.
"Is! Bukan Opa tapi Oppa. Yang artinya Kakak dalam bahasa Korea. Dan Le min ho adalah calon Ayah dari anak yang aku kandung saat ini." Jawab Sinta dengan penuh percaya dirinya.
Devin membalikan tubuh Sinta dan mengangkat tubuh istrinya itu yang tidak terlalau berisi karena usia kehamilan Sinta masih beberapa bulan.
Devin menidurkan istrinya diatas tempat tudur dan mulai melepaskan pakaian istrinya.
"Enak aja aku yang susah-susah buat dia yang jadi Ayahnya. Aku akan buktikan padamu kalau aku adalah Ayah dari anak yang kamu kandung." Ucap Devin dengan seringain devilnya.
"Hahaha..... aku cuman bercanda. Udah ah, tadi malam kan udah masa siang juga mau lagi. Kasihan anakmu kalau ditengokin mulu. Nanti dia bosen liat Papanya." Tawa Sinta semakin pecah karena berniat mengerjai suami titisan lumba-lumbanya.
Dengan kesalnya Devin pun mulai menjalankan aksinya untuk menuntaskan hawa nafsunya disiang itu. Hingga pada akhirnya siang yang panas dihari minggu itu menjadi siang yang membara oleh api asmara bagi pasangan yang baru jatuh cinta itu.
_________________
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini.
Saya sebagai Author Sulis17 benar-benar berterima kasih kepada para pembaca sekalian yang telah banyak mendukung Author pemula ini.
Sampai berjumpa lagi dilain kesempatan guys 😊
__ADS_1
TAMAT