Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 113


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 10:30 malam. Sepasang suami istri sedang celangak-celinguk dikediaman keluarga Kristian yang tampak sepi dan hanya dihuni oleh para pelayan dan penjaga saja.


"Maaf Tuan Muda Devin dan Nyonya Muda Sinta.. Semua orang sedang kerumah sakit untuk menemani Tuan Muda Keynan yang sedang sakit." Ucap Maya dengan muka bantalnya karena baru bangun dari tidur singkatnya yang hanya beberapa menit karena harus menyambut tamu ditengah malam.


Devin dan Sinta saling tatap lalu membuang nafasnya dengan kasar.


"Dasar Tante! Dia yang nyuruh kita temenin Kakak ipar tapi Kakak iparnya malah kerumah sakit temenin Keynan." Gerutu Devin sambil menepuk jidatnya kasar.


"Ya udah kita kerumah sakit aja. Makasih atas info nya mbak pelayan." Jawab Sinta sambil tersenyum ramah kearah Maya.


"Gak! Gue mau tidur, udah malam. Besok gue pasti bakal kerja ekstra gara-gara Keynan sakit." Jawab Devin sambil melengos kearah kamar Tamu dikediaman keluarga Kristian.


"Loh! Lo mau kemana?" Tanya Sinta yang kaget melihat Devin melengos kearah kamar tamu dikediaman keluarga Kristian.


"Tidur! Ngantuk gue. Besok gue pasti bakalan lembur!" Jawab Devin sambil berjalan kearah kamar tamu.


"Woi Dolphin! Lo harus anterin gue kerumah sakit. Sepupu lo lagi sakit bukannya dijenguk lo malah mau tidur!" Teriak Sinta dengan lantangnya dan tidak dihiraukan oleh Devin. Devin malah menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.


"Ihh... dasar titisan lumba-lumba! Lo ngeselin tau gak?!" Kesal Sinta sambil menghentak-hentakan kakinya.


"Ah dasar cowok gak punya perasaan! Gue giman dong. Masa gue harus pulang sendirian ke apartemen. Gue kan takut keluar malem-malem." Gerutu Sinta yang tak henti-hentinya mengutuk suaminya sendiri.


Maya yang sudah tidak bisa menahan kantuknya lagipun  akhirnya memberi Sinta saran.


"Nyonya Muda kenapa tidak menginap disini saja?" Saran Maya sambil memaksakan matanya untuk tetap terjaga.


"Emang boleh?" Tanya Sinta dengan mata berbinarnya.


"Tentu saja boleh Nyonya Muda. Karena Nyonya Muda juga termasuk anggota keluarga Kristian. Lagi pula Tuan Muda Devin juga sering menginap di kediaman keluarga Kristian saat beliau masih remaja. Bahkan Nyonya besar sendiri yang selalu menyuruh Tuan Muda Devin untuk menginap dikediaman keluarga Kristian karena Tuan Muda Keynan selalu sibuk." Jawab Maya yang meyakinkan Sinta.


"Tapi aku gak enak kalau gak jenguk cowok gila itu, eh.. maksud gue suaminya Biola." Jawab Sinta sambil cengengesan.


"Kenapa Nonya Muda tidak menelepon Nyonya besar saja? Dan jika Nyonya Muda masih ingin menjenguk Tuan Muda Keynan maka saya akan siapkan supir untuk mengantar Nyonya Muda kerumah sakit." Jawab Maya yang lagi-lagi memberikan saran kepada Sinta.


"Ah iya, kalau begitu aku telepon Tante Kania aja lebih dulu." Ucap Sinta sampil menepuk jidatnya dan mengambil handphonenya untuk menghubungi Mama Kania.


Mama Kania mengangkat teleponnya dengan begitu lemasnya karena telah menyalahkan dirinya sendiri sedari tadi atas kondisi anaknya saat ini.


"Ha... ..."


"Hiks...Sinta....." Ucap Mama Kania sambil menangis dan memotong ucapan Sinta.


"Tante kenapa? Tante nangis?" Tanya Sinta khawatir.


"Hiks... kamu dimana?" Tanya Mama Kania sambil menyeka air matanya karena masih merasa bersalah kepada Keynan.


Keynan yang melihat Mamanya menangispun juga ikut merasa bersalah karena telah berbohong kepada Mamanya. Tapi apa boleh buat, karena Keynan tidak tahu harus mengatakan apa kepada seluruh keluarganya.


"Aku dirumah Tante. Tadi Tante kan suruh aku kerumah tante untuk jagain Biola. Tapi Biolanya katanya malah nyusul kerumah sakit." Ujar Sinta.


"Ah iya Tante lupa. Maafkan Tante ya Sin." Ucap Mama Kania merasa bersalah.


"Tidak apa-apa kok Tan. Oh ya, tadi Tante kenapa nangis?" Tanya Sinta lagi karena Mama Kania tidak menjawab pertanyaannya.


Mama kania tampak menundukan kepalanya dan membuat sambungan telepon itu terjeda sesaat.


"Kamu bisa kerumah sakit sama Devin gak Sin? Tante mau curhat." Jawab Mama Kania yang tidak menjawab langsung pertanyaan Sinta.


"Bisa kok Tan, tapi aku sendiri aja kerumah sakitnya ya. Soalnya Devin udah tidur diruang tamu dirumah Tante. Katanya besok dia pasti akan kerja lembur." Jawab Sinta merasa bersalah karena tingkah suaminya.


"Ah, dasar anak itu. Selalu saja menyebalkan. Lama-lama sikapnya mirip kayak Keynan." Ucap Mama Kania tanpa sadar dan menyebutkan nama putranya sendiri. Seketika Mama Kania merenung lagi karena merasa bersalah kepada putranya.


"Tau si dolphin ngeselin banget Tante. Sinta kesananya sendiri aja ya Tan?" Ucap Sinta.


"Tapi kamu kesininya sama siapa?" Tanya Mama Kania cemas.


"Sama supir rumah Tante gak papakan? Soalnya si dolphin lagi ngorok dikamar tamu." Jawab Sinta sambil cengengesan.

__ADS_1


Mama Kania melihat jam di dinding yang hampir menunjukan pukul 12:00 malam.


"Gak apa-apa si kalau kamu pengen pake supir dirumah Tante. Cuman sebaiknya kamu nginep aja dirumah Tante. Soalnya ini udah hampir tengah malam. Tante takut terjadi sesuatu kepadamu diperjalanan kerumah sakit." Jawab Mama Kania khawatir.


Sinta tampak mendengus dan memonyongkan bibirnya karena tidak bisa menemani Mama Kania dan Biola. Kalau Keynan si, Sinta mah bodo amat. Ia gak terlalu peduli sama keynan.


"Yah.... Tante gak jadi curhatnya dong?" Ucap Sinta sambil memonyongkan bibirnya dan membuat Maya yang masih menemani Sinta pun merinding saat melihat Sinta.


"Nanti-nanti aja Tante curhatnya. Kamu jangan keluar malam-malam bahaya. Apa lagi Kamu anak cewek. Tante takut terjadi sesuatu kepadamu. Kamu nginep aja dirumah Tante sama Devin ya." Peringat Mama Kania kepada istri dari keponakannya.


"Iya Tan," Setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya Sinta dan Mama Kania pun menutup telepon mereka.


"Oh ya, mbak pelayan. Tolong siapin kamar untukku dong." Pinta Sinta kepada Maya yang setengah sadar karena menahan rasa kantuknya.


"Ah iya ada apa Nyonya Muda?" Tanya Maya kaget sambil membulatkan matanya yang hampir terpejam itu.


"Mbak pelayan tolong siapin kamar untukku dong..." Ulang Sinta sambil memutar bola matanya malas.


"Loh! Nyonya muda tidak sekamar sama Tuan Muda Devin?" Tanya Maya heran.


"Dia palingan udah ngorok dan pastinya juga ia kunci tuh kamar kayak anak gadis." Sindir Sinta sambil menatap kamar Devin dengan tatapan malasnya.


Maya menggaruk kepanya karena bingung. Tapi dia juga menuruti permintaan Sinta dan menyiapkan kamar tamu lain untuk Sinta menginap.


••••••••


"Kami pulang dulu ya. Besok Kakek akan jenguk Keynan lagi. Kamu jangan lupa istirahat. Darius udah nyiapin kamar dirumah sakit ini untuk kamu istirahat. Oh iya, ada dokter Hendri juga yang akan mengecek kesehatanmu. Jika terasa apa-apa kamu panggil dokter Hendri aja ya." Pamit Tuan Davindra sambil mengelus pucuk kepala cucunya.


"Iya Kek, terima kasih atas semuanya." Jawab Biola sambil tersenyum.


"Kau cucuku satu-satunya jadi wajar saja jika Kakek memperhatikanmu. Apalagi Kakek baru pertama kali melihatmu secara langsung. Jadi Kakek sangat bahagia melihatmu. Rasanya Kakek ingin membawamu ke Inggris dan memanjakanmu layaknya Tuan putri. Tapi karena sekarang kamu sudah berumah tangga dan memiliki keluargamu sendiri jadi Kakek tidak bisa melakukannya. Kakek hanya berharap suatu saat nanti kamu bisa datang ke kastil keluarga Alexa bersama keluarga kecilmu." Jawab Tuan Davindra yang membuat Biola tersenyum bahagia.


Dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Tuan Davindra dan Darius kepada Biola, sehingga membuat Biola tahu bagaimana rasanya kehangatnya sebuah keluarga kandung yang tidak pernah ia dapatkan dari keluarga Anggara. Yang tak lain adalah keluarga dari Ayahnya Bayu.


"Biola pasti akan main ke kastil Kakek. Karena setelah Biola melahirkan, Biola dan Keynan akan pindah ke Inggis. Benarkan Key?" Tanya Biola kepada Keynan yang sedang menatap istrinya.


Tuan Davindra tampak tersenyum bahagia saat mendengarkan penuturan dari Biola dan Keynan. Ia sudah tak sabar menantikan hari itu.


"Wah... Kakek jadi tidak sabar untuk menantikan hari itu." Jawab Tuan Davindra dengan senangnya.


"Aku juga tak sabar menantikan hari itu. Aku juga punya kejutan untukmu di Inggris." Lanjut Darius yang membuat Keynan mendengus kesal karena mendengar suara Darius.


Entah Kenapa Keynan dan Darius saling bermusuhan. Mungkin karena pertemuan pertama mereka yang tidak menyenangkan.


"Benarkah paman? Kejutan apa?" Tanya Biola penasaran. Entah kenapa Biola langsung akrab dengan Darius dan Tuan Davindra.


Yah... mungkin itu adalah ikatan batin yang tidak bisa dipisahkan. Terbukti dari sikap Biola yang terlihat bermanja-manja dengan Darius dan Taun Davindra. Ditambah Tuan Davindra dan Darius tampak memanjakan Biola dengan sepenuh hati mereka sehingga membuat Biola tak sungkan lagi kepada mereka.


Darius tersenyum saat mendengar ucapan keponakannya. Dengan gemasnya ia mengusap kepala keponakannya dan membuat Keynan menatap Darius dengan tatapan tajamnya karena cemburu. Tapi Keynan tidak bisa berbuat apa-apa. Apa lagi marah dan memukul Darius. Bisa-bisa ia akan dimarahi oleh istrinya karena telah berani memukul keluarganya. Ditambah keadaannya yang saat ini sedang lemah.


"Kejutannya rahasia. Kalau kamu sudah berada di Inggris nanti paman akan memberi kejutannya secara langsung kepadamu." Jawab Darius sambil mencolek hidung Biola karena gemas dengan tingkah Biola yang menggemaskan.


"Dan kamu akan mendapatkan keluarga yang utuh untuk seterusnya." Lanjut Darius didalam hati dengan tatapan penuh kasih sayangnya kearah keponakannya.


"Janji ya paman." Ucap Biola dengan tatapan seriusnya.


"Iya pamana janji. Ya udah paman pulang dulu sama Kakek kamu ya. Oh iya, sebelumnya paman mau minta maaf karena besok paman tidak bisa menemui kamu." Jawab Darius dengan raut wajah sedihnya.


"Tapi kenapa?" Tanya Biola murung.


"Paman ada kerjaan di Inggris. Setelah paman menyelesaikannya paman pasti akan sering-sering menemuimu." Ujar Darius yang masih membuat Biola murung.


"Cih! Pergi sana jauh-jauh. Aku gak mau berbagi kasih sayang Biola denganmu." Gerutu Keynan didalam hati karena cemburu.


Darius menatap raut wajah Keynan yang membuatnya jengkel sendiri melihatnya. Lalu ia melihat raut wajah keponakannya yang terlihat murung karena ucapannya.


"Paman janji gak akan lama. Karena Paman juga sangat ingin berbicara banyak hal dengan keponakan Paman. Jadi jangan murung lagi ya." Bujuk Darius.

__ADS_1


"Iya, lagian kan masih ada Kakek. Kakek juga ingin mendengar semua cerita kehidupanmu." Lanjut Tuan Davindra yang membuat Biola mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku akan menunggu kedatangan Paman." Jawab Biola sambil tersenyum imut. Sungguh Biola bisa merubah ekspresinya sesuai dengan keadaan yang dia hadapi.


Darius menatap Keynan yang masih cemberut sambil menyolangkan bibirnya beberapa centi dengan duduk selonjoran diatas belangkarnya.


Dengan seringainya devilnya Darius ingin membuat Keynan darah tinggi. Karena Darius sering dibuat Keynan darah tinggi jadi sekarang gilirannya membuat Keynan marah.


Cup...


Dengan sengajanya Darius mencium pucuk kepala keponakannya dihadapan Keynan. Keynan yang melihatnya langsung membelalakan matanya dan mematung ditempatnya tanpa sepatah katapun.


"Paman Dan Kakek pulang dulu ya. Jangan lupa untuk istirahat." Ujar Darius sambil mengelus kepala keponakannya dan berpamitan kepada Pak Raihan dan mama Kania yang sedang duduk disofa diruangan Keynan. Setelah itu Darius pergi keluar ruangan Keynan bersama Tuan Davindra.


"Key, kamu kenapa?" Tanya Biola saat melihat Keynan yang menatap pintu dengan bola matanya yang membulat karena menatap Darius yang telah berani mencium istrinya. Meski ciuman itu adalah ciuman tanda sayang paman kepada keponakannya gak lebih. Tapi tetep saja Keynan cemburu.


Keynan memonyongkan bibirnya saat mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Ih Keynan kamu kenapa si?" Tanya Biola dengan dahi yang mengerut karena melihat perubahan sikap Keynan yang mendadak aneh.


"Gak apa-apa aku mau tidur." Jawab Keynan sambil menarik selimutnya dan menutup seluruh badannya dengan selimutnya. Untung infusnya gak lepas dasar Keynan hadeh...


"Ya udah, tidur aja sana! Aku mau ke kamar yang sudah dipesan paman aja. Aku juga ngantuk." Balas Biola ketus sambil berdiri dari duduknya karena marah. Gak tahu apa kalau Biola itu sangat mengkhawatirkannya tapi dengan seenak hatinya Keynan malah mendiaminya.


"Yuk Ma, Pa, tinggalin aja dia. Gak usah ditemani." Ajak Biola kepada Pak Raiahn dan Mama Kania yang sedang duduk disofa.


Pak Raihan dan Mama Kania tampak tersenyum melihat tingkah anak dan menantu mereka yang tampak seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Mama Kania juga sudah tidak terlalu sedih lagi karena Keynan sudah menyakinkan Mamanya kalau dai baik-baik saja. Keynan juga tidak mau membuat Mamanya berlarut-larut bersedih karena merasa bersalah kepada sesuatu yang tidak ia perbuat.


"Ya Udah kalau gitu kita tidur aja. Kebetulan Papa juga udah sewa satu kamar disebelah untuk Papa dan Mama." Jawab Pak Raihan dengan santainya.


Sungguh baik Darius maupun Pak Raihan, mereka berdua sama-sama menganggap rumah sakit itu bagaikan sebuah hotel yang dapat memesan sebuah kamar secara pribadi. Tapi tak apalah lagian mereka orang kaya jadi mereka bisa membeli apa aja yang mereka mau meski kadang apa yang mereka beli itu aneh-aneh. Tapi itu hanya ada didalam novel ya Wkwk.....


Keynan yang mendengar itu pun langsung membuka selimutnya kembali dan menyembulkan kepalnya dari balik selimunya.


"Mama sama Papa boleh pergi tapi Biola tidur sini aja. Lagian kasurnya luas kok." Jawab Keynan dengan malu-malunya.


Berankar Keynan memang sangat luas bahkan terlihat seperti sebuah kasur yang dapat menampung dua sampai tiga orang. Maklumlah ruangan yang saat ini Keynan pakai merupakain ruangan VVIP di rumah sakit itu.


"Gak! Aku gak mau tidur sama kamu." Jawab Biola yang sudah mulai ngambek.


Keynan masih berusaha berpikir keras agar istrinya itu mau tidur bareng dengannya. Dengan penuh dramanya ia memekik kesakitan sambil memegangi dadanya sehingga membuat semua orang panik.


"Akh.... jantungku sakit lagi." Pekik Keynan dengan nada suara yang dibuat-buat.


Biola yang mendengar suara pekikan Keynan pun langsung membalikan tubuhnya kearah Keynan dan berlari kearah Keynan dengan paniknya.


"Kamu kenapa Key? Apa jantung kamu sakit lagi? apa sangat sakit?" Tanya Biola khawatir sambil meraba-raba dada bidang Keynan dengan tangan gemetaran dan wajah paniknya.


"Key kamu kenapa?" Tanya Mama Kania panik. Tapi keynan malah mengedipkan sebelah matanya kearah Mama Kania dan Pak Raihan sambil mengibas-ngibaskan tangannya tanpa sepengetahuan Biola yang tampak fokus meraba-raba dada Keynan tepatnya didaerah jantung Keynan karena khawatir.


"Kamu itu kenapa si Key?" Tanya Mama Kania bingung saat melihat tingkah anaknya yang aneh.


Pak Raihan yang mengerti dengan maksud anaknya yang sedang ingin modus kepada istrinya pun langsung menari tangan istrinya yang kebingungan dengan sikap putranya.


"Papa dan Mama akan panggilkan dokter dulu!" Ucap Tuan Davindra sambil keluar dari ruangan Keynan dan menarik Tangan Mama Kania.


"Papa kenapa narik tangan Mama? Keynan lagi kesakitan Pa." Tanya Mama Kania sambil menaikan satu alisnya bingung dan mengkhawatirkan anaknya.


"Si Keynan itu enggak sakit Ma. Dia itu lagi modus agar istrinya bisa tidur dengannya." Jawab Pak Raihan yang membuat Mama Kania membulatkan bibirnya ber oh ria.


"Dasar Keynan. Udah tau lagi sakit tapi masih aja sempet-sempetnya godain Biola." Ucap Mama Kania dengan senyuman ringannya.


Mama Kania pun pergi bersama Pak Raihan ke kamar yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk Pak Raihan Dan Mama Kania.


____________________


Tralalalala...... Nanti malem author up lagi. Author lagi baek ini 😂

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejek kalian guys 😘


__ADS_2