Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 124


__ADS_3

Bruk....


Keynan menjatuhkan buket bunga anyelir merah putih yang ia beli untuk istrinya saat ia melihat apa yang dikerumuni oleh orang-orang itu.


"Ya ampun kasihan sekali Ibu hamil ini. Padahal tadi aku sempat melihat dia berusaha keluar dari dalam mobilnya saat truk itu agak jauh dari mobilnya. Tapi sayangnya takdir sepertinya tidak berpihak kepadanya. Dia malah terjatuh dan tertimpa batangan kayu yang jatuh dari dalam truk itu." Ucap seorang Ibu-Ibu dikerumunan itu.


"Iya, aku juga sempat melihatnya. Ya ampun, semoga saja ambulans segera datang agar anak dan Ibunya bisa terselamatkan." Balas Ibu-Ibu lainnya yang diangguki oleh semua orang dikerumunan itu.


Keynan tampak mematung ditempatnya dengan tubuh yang bergetar. Pandanganya menatap seorang Ibu hamil yang sedang bersimbahan darah dengan batangan kayu yang menimpa punggungnya.


Tampak Ibu hamil itu sedang berusaha menahan rasa sakitnya dan memegangi perutnya dengan kuat untuk melindungi anak yang ada didalam kandungannya. Semua orang tampak sedang berusaha menyelamatkan Ibu hamil itu dengan memindahkan batangan kayu yang ukurannya sangat besar dari tubuh Ibu hamil itu.


"Tidak... ini tidak mungkin."


Air mata Keynan jatuh begitu saja saat melihat Ibu hamil itu.


Dengan tubuh yang bergetar Keynan menghampiri Ibu hamil itu dan mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya.


"MINGGIR KALIAN...!!!!" Teriak Keynan yang membuat semua orang terkejut dan menghindar dari jalan Keynan.


Keynan berlari kearah Ibu hamil itu dan memeluk Ibu hamil yang sedang bersimbah darah itu dengan eratnya. Kayu yang menimpanya juga sudah dipindahkan oleh oarng-orang yang ada disana.


"Hiks.... Ka...kamu harus bertahan. Jangan tinggalkan aku...." Keynan terus meneteskan air matanya sambil memeluk Ibu hamil itu dengan kuat.


"Ke....Key... se...la...mat...kan anak-anak.... kita...." Ucap Ibu hamil itu yang tak lain adalah Biola.


Biola berucap dengan begitu lirihnya dan mengusap pipi Keynan dengan tangannya yang berlumuran darah.


Keynan menggenggam tangan istrinya yang berlumuran darah itu dengan berlinang air mata.


"Aku pasti akan menyelamatkan kamu dan anak kita. Jadi kamu harus kuat ya sayang. Kamu harus bertahan." Ucap Keynan dengan air mata yang tak bisa berhenti mengalir dari matanya.


Tak ada jawaban dari Biola. Ia sudah pingsan dipelukan suaminya.


"Tidak.... tidak.... kamu harus bertahan. KALIAN SEMUA MINGGIR...!!!" Teriak Keynan kepada kerumunan orang-orang itu sambil menggendong tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri ala bridal style.


"Kamu harus bertahan. Kamu harus bertahan." Gumam Keynan dengan berlinang air mata dan menggendong istrinya sambil berjalan dengan gontainya.


Tiba-tiba datang mobil ambulans dan Keynan pun langsung meminta bantuan kepada tim medis disana.


"Tolong istri saya! Kalian harus cepat menyelamatkan istri dan anak saya!!" Teriak Keynan kepada tim medis disana


Biola pun segera mendapatkan pertolongan pertama dari tim medis dan segera dimasukan kedalam mobil ambulan. Sementara Keynan duduk disebelah istrinya sambil menggenggam erat tangan istrinya yang masih bersimbah darah.


"Kamu harus bertahan. Kamu harus bertahan." Gumam Keynan dengan air mata yang berlinang.


Setibanya dirumah sakit, Biola langsung dibawa keruang unit gawat darurat.


"Maaf Pak, Bapak harus menunggu diluar." Ucap seorang suster tanpa membiarkan Keynan menjawab ucapan nya karena suster itu langsung menutup pintu ruangan tempat Biola dirawat.


"Sial! Kamu harus baik-baik saja sayang." Gumam Keynan sambil menjambak rambutnya sendiri dengan tubuh yang masih bergetar karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepad istri dan anaknya.

__ADS_1


Keynan menatap kedua tangannya yang berlumuran darah dari darah sang istri. Keynan kembali menangis sambil menatap darah yang ada dikedua telapak tangannya.


"Hiks.... sayang kalian harus selamat. Aku gak bisa hidup tanpa kalian." Ucap Keynan sambil menangis dan menundukan kepalanya dengan frustasi.


Tiba-tiba saja Keynan mendapatkan sebuah panggilan telepon dari ponselnya. Dengan lemasnya Keynan mengangkat panggilan telepon itu tanpa melihat nama kontaknya terlebih dahulu.


"Hiks....hiks..." Keynan menangis sambil mengangkat telepon itu. Ia bahkan sampai memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya didalam lututnya saking takutnya terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya dan anaknya.


Sang penelepon tertegun saat mendengar tangisan Keynan. Orang yang menelepon Keynan adalah Mama Kania. Entah kenapa Mama Kania merasa cemas sejak pagi ini. Ia juga sudah berusaha menghubungi Biola namun Biola tidak menjawab teleponnya hingga ia menelepon putranya.


Namun Mama Kania malah dikejutkan dengan suara tangisan putranya yang begitu lirihnya seperti tangisan Keynan ketika 16 tahun yang lalu.


"Ke....Key... kamu kenapa?" Tanya Mama Kania dengan tangan yang bergetar memenggeng ponselnya.


Entah kenapa Mama Kania merasakan akan ada berita buruk yang akan menimpa keluarganya.


"Hiks..... Ma, hiks.... Biola Ma... dia kecelakaan." Jawab Keynan dengan tubuh yang bergetar dan tangis yang tidak bisa ia hentikan.


Prang....


Mama Kania menjatuhkan ponselnya kelantai dengan tatapan kosongnya sehingga membuat Pak Raihan terkejut dan menghampiri Mama Kania.


Mama Kania memeluk tubuh suaminya dan mulai menangis dipelukan suaminya.


"Ada apa Ma? Kenapa Mama menangis?" Tanya Pak Raihan bingung.


"Hiks.... Biola Pa, Biola kecelakaan." Jawab Mama Kania dengan berlinang air mata.


"Mama gak lagi bercanda Pa! Keynan nangis. Anak kita tidak pernah menangis jika tidak ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya Pa! Tangisnya bahkan lebih memilukan ketimbang kejadian 16 tahun yang lalu!" Teriak Mama Kania yang membuat Pak Raihan terdiam.


"Kita ke Bandung. Mama telepon Darius dan Tuan Davindra." Ucap Pak Raihan tegas.


Sementara Keynan masih menangis dengan memeluk kedua kakinya. Ia terlihat sangat rapuh kali ini. Ia sunghuh tak ingin kehilangan anak dan istrinya.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan Biola. Dengan cepat Keynan menghampiri dokter itu.


"Bagai mana keadaan istri saya dokter? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Keynan dengan paniknya.


"Begini Pak, kondisi istri Bapak sangatlah kritis. Tapi untungnya ketiga bayi yang ada didalam rahim istri Bapak baik-baik saja. Sepertinya Istri Bapak berusaha untuk melindungi perutnya saat kecelakaan itu terjadi. Maka dari itu kita harus melakukan operasi cesar secepatnya agar ketiga nyawa anak Bapak dapat terselamatkan. Meski ini sangat beresiko mengingat kandungan istri Bapak yang masih berusia 8 bulan tapi kami harus mengambil resiko itu untuk menyelamatkan ketiga bayi yang ada dirahim istri Bapak. Karena Istri Bapak mungkin tidak akan bisa bertahan lama." Tutur dokter itu yang membuat Keynan terbelalak saat mendengar penuturan dokter itu.


"Ti...tiga. anak saya kembar tiga?" Tanya Keynan terkejut.


"Benar Pak, Bapak sebaiknya segera menandatangani surat persetujuan agar kami bisa segera melakukan operasi cesar dan menyelamatkan ketiga nyawa anak Bapak." Jawab Dokter itu yang membuat Keynan sangat terkejut.


"Ja...jadi anak saya kembar tiga. Lalu bagai mana keadaan istri saya dok. Dia selamatkan?" Tanya Keynan dengan raut wajah paniknya.


Dokter itu tampak terdiam sesaat lalu mengambil nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


"Seperti yang saya bilang tadi kalau kondisi istri Bapak sangatlah Kritis. Kami tidak jamin kalau istri Bapak akan selamat setelah melakukan operasi cesar. Karena banyak resiko yang harus kita ambil untuk menyelamatkan keempatnya. Dan kita hanya bisa berusaha untuk menyelematkan ketiga bayi yang ada didalam rahim istri Bapak." Tutur Dokter itu yang membuat Keynan bagaikan disambar petir disiang bolong.


"Gak dokter! Kamu harus menyelamatkan mereka bagai manapun caranya. Istriku dan anakku harus selamat. Uang gak ada apa-apanya buatku yang penting mereka selamat. Aku bahkan bisa membeli rumah sakit ini dengan uang yang aku punya. Jadi selamatkan istri saya dokter." Ucap Keynan sambil menarik kerah baju dokter itu.

__ADS_1


"Tolong tenangkan diri Bapak terlebih dahulu. Kami akan berusaha untuk menyelamatkan keempatnya. Tapi kami tidak jamin dengan apa yang akan terjadi nantinya. Berdoalah agar oprasinya berjalan dengan lancar. Agar istri dan anak-anak Bapak bisa terselamatkan." Tutur dokter itu yang membuat Keynan lemas dan menundukan dirinya dikursi ruang tunggu.


Setelah menandatangani surat persetujuan, Keynan kembali ketempat istrinya. Operasi pun telah dimulai. Keynan tampak sangat panik dan mulai mundar-mandir didepan ruangan istrinya.


"Kalian harus baik-baik saja. Anak-anak Daddy harus kuat. Mommy nya juga harus kuat. Aku tidak mau kehilangan salah satu dari kalian." Ucap Keynan didalam hati sambil mundar-mandir didepan ruang operasi istrinya.


Operasi berlangsung sampai berjam-jam lamanya dan membuat Keynan tambah panik dan khawatir.


Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan seorang bayi dari dalam ruangan oprasi Biola. Keynan yang mendengarnya pun langsung menghampiri pintu ruang oprasi istrinya.


Jantung Keynan berdetak dengan cepatnya saat mendengar suara tangisan dari bayi-bayi mungilnya.


"Apa itu suara anak-anak Daddy? Apa kalian selamat?" Ucap Keynan dengan hati yang menghangat saat mendengar suara tangisan dari anak-anaknya tapi Keynan juga mengkhawatirkan istrinya. Ia sangat takut kehilangan istrinya untuk yang kesekian kalinya.


Setelah itu beberapa suster menggendong ketiga bayi yang baru lahir itu keluar ruangan operasi. Keynan tertegun saat melihat ketiga bayi kembarnya yang terlihat sangat kecil dan mungil.


"A...apa mereka bayiku?" Tanya Keynan dengan jantung yang berdegup kencang saat melihat ketiga bayi mungilnya.


"Benar Pak. Tapi sebelumnya saya mohon maaf karena ketiga bayi Bapak harus segera dimasukan kedalam ruang inkubator. Karena mereka terlahir secara prematur. Jika tidak cepat-cepat takutnya bayi Bapak akan terkena penyakit." Tutur Suster itu sambil membawa ketiga Bayi itu bersama suster lainnya.


Keynan ingin mengikuti ketiga Bayinya namun ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya saat ini.


"Sayang, kamu tidak apa-apakan? Kamu harus cepat pulih agar kamu bisa melihat ketiga bayi kembar kita." Ucap Keynan didalam hati sambil menyentuh pintu ruang operasi istrinya.


Tiba-tiba saja dokter keluar dari ruangan itu dan membuat Keynan terkejut. Keynan langsung menanyakan keadaan istrinya kepada dokter itu.


"Bagai mana keadaan istri saya dokter. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Keynan dengan raut wajah yang panik.


Dokter itu tampak memasang raut wajah sedihnya dan membuat jantung Keynan berdegup kencang karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya.


"Maafkan kami Pak, kami sudah berusaha semampu kami tapi istri Bapak...." Dokter itu menggantungkan ucapannya dan membuat Keynan rasanya ingin mati pada saat itu juga jika sampai terjadi sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya.


"Apa yang terjadi kepada istri saya dokter!" Bentak Keynan kepada dokter itu.


"Maaf Pak, istri Bapak mengalami koma. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi karena kondisi istri Bapak yang sangat kritis sehingga kami tidak bisa berbuat banyak. Kita hanya bisa berdo'a agar istri Bapak bisa cepat sadar dari komanya." Tutur dokter itu yang membuat kaki Keynan rasanya seperti tidak Bisa berpijak lagi.


Keynan menjatuhkan tubuhnya kelantai karena kakinya sudah sangat lemas untuk tetap berdiri. Air matanya berjatuhan bergitu saja saat mendengarkan penuturan dari sang dokter.


Dari kejauhan tampak Mama Kania dan Pak Raihan yang sedang berlari kearah Keyanan dengan terburu-buru. Mereka begitu terkejut saat melihat putra sematawayang mereka terduduk dilantai dengan berlinang air mata dan tampak sangat rapuh.


"Ada apa dengan Biola Key? Kenapa semuanya bisa terjadi?" Tanya Mama Kania sambil berjongkon dihadapan putranya yang terduduk lemas dilantai.


Tak ada jawaban dari Keynan. Pandangannya kosong dengan air mata yang mengalir begitu saja dari matanya.


Mama Kania sungguh tidak tahan melihat putra sematawayangnya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Sungguh Ibu mana yang tak tega saat melihat anaknya dalam keadaan seperti ini.


Mama Kania meneteskan air matanya dan memeluk putranya dengan begitu erat. Keynan terus menangis dipekukan Mamanya.


Sungguh Keynan tak pernah menyangka kalau kejadian seburuk ini akan menimpa keluarga kecilnya. Ia sangat senang saat mengetahui anaknya kembar tiga dan ketiganya selamat. Namun disisi lain Keynan juga tidak terima dengan keadaan istrinya yang koma saat ini.


Sungguh Keynan sangat marah kepada dirinya sendiri dengan apa yang terjadi kepada istrinya saat ini. Keynan merasa apa yang terjadi kepada istrinya itu semua karena ulahnya. Ia tidak becus menjaga istrinya sehingga kejadian ini pun terjadi.

__ADS_1


Sementara Pak Raihan menanyakan keadaan menantunya kepada dokter yang ada didepan Keynan.


__ADS_2