
"Din, lo ngapain ngajak gue kesini! Gue gak nyangka lo orang yang seperti ini. Muka lo aja yang keliatan cupu tapi hati lo bener-bener liar banget. Maaf ya gue kagak suka tempat kayak gini." Ucap Sinta kepada teman baru satu asramanya yang bernama Adinda sambil berjalan meninggalkan Adinda didepan salah satu Bar yang ada dikotanya.
Pletak.....
Adinda menjitak dahi Sinta yang telah berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
"Sakit Dinda!!" Pekik Sinta sambil mengusap-ngusap dahinya yang memerah.
"Habisnya lo mikirin gue yang enggak-enggak." Kesal Adinda sambil melipat tangannya didadanya.
"Lagian lo ngajakin gue ke Bar jadi gak salah dong kalau gue mikirin hal-hal yang negatif. Secara kan tempat ini gak bener." Balas Sinta tidak mau kalah.
"Ya elah Sin, lo mikirnya kejauhan. Gue hanya minta dianter ketemu sama pacar gue. Kebetulan dia yang punya Bar ini." Jelas Adinda sambil menatap Sinta malas.
"Hah! Lo gila ya?! Lo mau gue jadi obat nyamuk?" Kesal Sinta dengan dahi yang mengerut.
"Sebentar aja Sin, ini juga pertama kalinya gue ke Bar. Itu sebabnya gue ngajakin lo. Gue juga agak takut makannya lo harus anter gue. Siapa tahu aja gue nanti dalam bahaya jadi gue nyewa lo sebagai Bodyguard gue. Lo kan ceweknya barbar banget tuh ditambahkan lo kan jago karate jadi gue pasti aman sama lo." Ucap Adinda dengan cengengesan yang membuat Sinta ingin menendang sahabat baru satu asramanya.
"Lo muji atau ngehina gue?" Ucap Sinta dengan nada kesalnya.
"Hehehe...... mau ya?" Mohon Adinda sambil cengengesan dan menunjukan wajahnya yang memelas kepada Sinta.
"Ok! tapi tadi kan lo bilang nyewa gue sebagai bodyguard nih jadi lo harus bayar gue. Gue gak minta muluk-muluk kok. Gue hanya mau diteraktir makan dikantin selama satu bulan." Jawab Sinta dengan santainya.
Adinda memutar bola matanya dengan malas dan terpaksa mengiyakan ucapan Sinta yang dapat mengosongkan isi dompetnya.
"Iya deh." Balas Adinda dengan malasnya.
"Gitu dong! Itu baru sahabat baik gue." Puji Sinta sambil merangkul pundak Adinda dan berjalan masuk kedalam Bar.
Didalam Bar tampak ramai dengan musik yang sangat keras yang dapat mengusik indra pendengaran kaum rebahan.
"Buset dah Din telinga gue rasanya mau pecah ini! Apa lagi ini lampunya bikin orang puyeng kepala lihatnya." Teriak Sinta dengan katronya.
"Sabar aja ngapa Sin, bentar lagi pacar gue dateng." Saut Adinda dengan pandangan menatap layar ponselnya.
Tak lama kemudian pemilik Bar sekaligus pacarnya Adinda pun datang menghampiri Sinta dan Adinda. Adinda nampak asik mengobrol-ngobrol sebentar dengan pacarnya.
"Ya udah sayang, kita keruangan VIP di Bar aku aja ya. Kayaknya kalian gak terbiasa dengan suasana Bar." Saut pacarnya Adinda dan mengajak Sinta dan Adinda kedalam ruangan VIP tempat untuk berkumpul-kumpul.
Mereka pun keruangan VIP di Bar itu. Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan yang berpakaian sangat sexy membawakan beberapa botol Wine kedalam ruangan itu.
Pelayan itu meletakan wine yang ia bawa keatas meja lalu menuangkan wine itu kedalam gelas dengan lemah lembut. Setelah itu pelayan itu langsung pergi dengan gerakan yang membuat Sinta muak.
"Cih! Pelayan-pelayan disini apa semuanya begitu? Jijik banget gue lihat nya." Kesal Sinta didalam hati sambil menatap pelayan itu yang berjalan melunggak-lenggok.
Sinta mengalihkan pandangannya kearah sahabatnya dan pacarnya yang sedang duduk dua meter jauhnya dari Sinra.
Sinta mengerutkan dahinya saat melihat Adinda dan pacarnya yang sedang asik menebar cinta mereka.
"Cih! Apa gue bilang! Gue pasti bakalan jadi obat nyamuk." Gerutu Sinta didalam hati sambil memalingkan pandangannya dari arah Adinda dan pacarnya.
Dengan kesalnya Sinta menegak habis minuman yang ada diatas meja tanpa memberi jeda sedikitpun.
"Eh! Ini minuman apa? Kok rasanya aneh?" Ucap Sinta didalam hati dengan linglungnya sambil menatap gelas yang habis ia gunakan untuk minum.
Dengan pandangan buramnya Sinta mengalihkan pandangannya kearah meja dan mendapati beberapa gelas yang berisikan wine dan juga ada beberapa botol wine yang membuat Sinta terperanjat kaget.
"Ahhhh....!!! Bunda apa yang aku minum? Bunda maafkan anakmu ini Bunda. Anakmu ini telah meminum minuman haram." Ucap Sinta didalam hati dengan wajah yang lemas.
"Gak! Gue gak boleh mabuk! Gue harus cuci muka. Ya gue harus cuci muka. Hehehe...." Ucap Sinta yang memang sudah mabuk hanya dengan minum satu gelas wine.
Dengan lunglainya Sinta berjalan keluar ruangan VIP di Bar itu untuk ke kamar mandi.
"Sin! Lo mau kemana?" Tanya Adinda Kepada sahabatnya.
"Gue mau mandi...!!" Jawab Sinta ngelantur yang membuat Adinda dan pacarnya kebingungan.
__ADS_1
"Eh salah! maksud gue, gue mau kekamar mandi! Gue mau cuci muka." Lanjut Sinta yang membenarkan ucapannya sendiri dengan tingkah konyolnya dan berjalan keluar ruangan dengan sempoyongan.
"Teman kamu aneh banget sayang." Ucap Pacarnya Adinda sambil menatap Sinta yang keluar ruangan.
"Udahlah biarin aja dia. Dia tuh emang aneh bin ajaib." Saut Adinda.
Merekapun mulai menebar keromantisan mereka lagi dengan saling goda menggoda.
Sementara Sinta sedang kebingungan mencari kamar mandi. Pandangannya mulai buram. Ia sudah sampai didiepan kamar mandi namun dia tidak bisa membedakan mana toilet cewek dan mana toilet cowok. Sinta hanya bisa melihat satu toilet karena sedang mabuk padahal disana ada dua toilet untuk cewek dan cowok.
"Loh... ini kok toilet nya cuman ada satu? Biasanya kan suka ada toilet cowok dan cewek. Apa di Bar ini gak bisa membedakan gender ya? Jadi mereka satu in aja toiletnya gitu? Ah! Bodo amat lah. Yang penting gue harus cuci muka biar gak mabuk." Pikir Sinta sambil menerobos toilet pria yang ada disampaing toilet wanita.
Didalam toilet pria hanya ada seorang laki-laki yang sedang buang air kecil dengan bersiul-siul ria.
Tiba-tiba pintu toilet dibuka dengan kasar oleh Sinta dan mengejutkan laki-laki yang sedang buang air kecil itu. Laki-laki itu membelalakan matanya dan mematung ditempat saat melihat Sinta masuk kedalam toilet pria.
"Eh! Ada orang ternyata." Ucap Sinta sambil mendekati laki-laki itu yang masih mematung ditempatnya.
Sinta pikir laki-laki itu adalah seorang wanita jadi dia mendekati laki-laki itu yang sedang buang air kecil.
Laki-laki itu nampak menegang didekati Sinta. Dengan gerakan cepat laki-laki itu ingin memasukan burungnya kembali namun tangan Sinta menghentikan aksinya.
"Wahhh..... kamu wanita tercantik yang pernah aku lihat. Lihat wajahmu ini! Kau membuatku iri saja. Kau memakai apa supaya wajahmu tampak mulus dan cantik seperti ini?" Tanya Sinta sambil memegangi wajah laki-laki itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya ia pergunakan untuk memegang tangan laki-laki itu.
Dengan cepat laki-laki itu menepis tangan Sinta yang memegangi wajahnya. Dan membuat Sinta menunduk kebawah.
"L....l...lo ngapain ada disini...!!" Bentak laki-laki itu gugup dengan wajah yang bersemu merah.
Tapi tidak direspon oleh Sinta. Sinta hanya terdiam dengan masih menundukan kepalanya kebawah.
"Eh! Itu apa? Kok tegang?" Tanya Sinta sambil mendonggakkan kepalanya kewajah laki-laki itu dan menunjuk kearah burung laki-laki itu yang masih belum disembunyikan kedalam sangkarnya
Laki-laki itu hanya terdiam memandangi miliknya yang terekspos. Suasana tiba-tiba menjadi canggung sampai Sinta ingin memegang burung laki-laki itu.
Dengan gerakan cepat laki-laki itu memegang tangan Sinta dan langsung menyembunyikan burungnya.
"Ngapain lo disini?!" Tanya laki-laki itu dengan nada tinggi.
Sementara laki-laki itu sudah mulai terbakar api amarah.
"Lo mabuk?" Tanya laki-laki itu menahan amarahnya.
"Gue gak mabuk kok! Tadi gue gak sengaja minum satu gelas. Itu sebabnya gue ke kamar mandi untuk cuci muka biar gak mabuk." Jawab Sinta dengan muka polosnya.
Laki-laki itu nampak menghembuskan nafasnya dengan berat dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Lo bener-bener pembawa sial tau gak! Lo ngapain datang ke Bar kalau lo gak bisa minum?!!" Bentak laki-laki itu dengan dipenuhi amarah.
"Lo kok marahin gue... hiks..... lo jahat hiks..... Gue bilangin lo sama sahabat patung es gue biar lo membeku." Tangis Sinta yang membuat laki-laki itu kelabakan.
"Hei! udah jangan nangis! Nanti ada orang yang denger." Bentak laki-laki itu panik.
"Hiks... Lo jahat! Masa sama-sama cewek aja lo jahat sama gue. Lo wanita yang gak punya hati yang pernah gue temuin tau gak?!" Ucap Sinta yang masih menganggap laki-laki yang ada dihadapannya itu adalah seorang wanita.
"Gue cowok bukan cewek! Ahh....!!!! Sial banget gue ketemu Nenek lampir kayak lo." Kesal laki-laki itu sambil menjambak rambutnya frustasi.
"Lo bohong! Wajah lo mulus kayak gini pasti lo cewek. Lo pasti cewek bukan cowok. Ngaku aja deh lo!" Ucap Sinta ngeyel.
"Lo.... ....." Belum sempat laki-laki itu menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut gerombolan laki-laki yang hendak masuk kedalam toilet.
Dengan paniknya laki-laki itu membekap mulut Sinta agar tidak mengoceh dan menyeret Sinta kebelakang pintu dengan terburu-buru sehingga membuat Sinta meronta-ronta namun dengan kekuatan tubuh laki-laki itu yang jauh lebih kuat dari Sinta jadi Sinta hanya bisa diam didekap oleh laki-laki itu.
Setelah semua gerombolan laki-laki itu masuk ke dalam toilet, Sinta dan laki-laki itu keluar dari dalam toilet.
Laki-laki itu memojokan Sinta ketembok dengan bola mata yang menyala-nyala karena amarah.
"Lo ngapain disini!!" Bentak laki-laki itu kepada Sinta.
__ADS_1
"Lo kok bentak-bentak gue... hiks......" Rengek Sinta yang membuat laki-laki itu jengkel.
Laki-laki itu menarik nafasnya dan membuangnya dengan perlahan berusaha untuk menahan emosinya.
"Sinta, lo ngapain ada ditempat ini? Lalu kenapa lo minum-minum sampai mabuk seperti ini?" Tanya laki-laki dengan nada lemah lembut tapi dipaksakan.
"Gue bilang gue gak mabuk! Dan kenapa suara lo mirip kayak suara si Dolphin? Padahal lo tuh cewek yang sangat cantik dan dia tuh cowok titisan lumba-lumba." Ucap Sinta menjelek-jelekan Devin.
Laki-laki itu nampak menahan amarahnya dia bahkan mengepalkan tangannya saking marahnya. Bagai mana tidak marah orang yang dijelek-jelekan Sinta ada dihadapannya.
Laki-laki itu adalah Devin. Devin datang ke Bar itu hanya untuk menemani rekan bisnisnya tapi alangkah terkejutnya dia malah menemukan Nenek lampir yang selalu membuatnya kesal saat melihatnya.
"Lo belum jawab gue! Lo ngapain kesini?" Ulang Devin dengan nada tinggi.
"Hiks.... lo jahat...!!" Tangis Sinta sambil menggosok-gosok matanya yang meneteskan air mata seperti anak kecil.
"Ahh....!!!! Sial banget gue!" Kesal Devin sambil mengusap wajahnya dengan kasar untuk yang kedua kalinya.
Dengan cepat Devin merogoh handphonenya untuk menghubungi Biola.
Tak lama kemudian Biola mengangkat teleponnya namun bukan suara Biola yang yang menjawab panggilannya melainkan suara Keynan yang mengkat panggilan dari Devin.
Devin sudah siap-siap mengangkat mulutnya untuk berbicara namun suara Keynan menghentikan gerakan mulut Devin.
"Ngapain lo nelepon istri gue? Ganggu aja lo! Gak tahu apa ini tu udah malem. Waktunya jatah gue. Lo mendingan jangan ganggu pasangan suami istri deh! Kalau mau, cari istri sana!" Ledek Keynan sambil menutup panggilan dari Devin dan memati dayakan handphone istrinya.
Devin hanya bisa mematung ditempatnya dengan hati yang terus-menerus mengupat kepada Keynan.
"Sialan si Keynan! Istri lagi hamil masih aja dimintain jatah. Tapi itu bukan pokok permasalahannya saat ini. Permasahannya sekarang adalah gue harus bawa dia kemana?" Gumam Devin sambil menatap Sinta yang sedang meracaukan sesuatu seorang diri dipojokan.
"Lo ngebebanin banget si Sin! Masa gue harus bawa lo keasrama lo, yang ada nanti reputasi gue hancur karena pikiran yang enggak-enggak dari orang-orang. Lebih gak mungkin lagi gue bawa lo balik kerumah orang tua lo. Bisa-bisa gue yang disalahin jadi laki-laki kurang ajar. Dan dihajar sama bapak lo." Gerutu Devin sambil berjalan kearah Sinta yang sedang duduk dipojokan.
"Bodo amatlah dari pada gue biarin lo disini dan diapa-apain sama laki-laki hidung belang lebih baik gue bawa lo ke apartemen gue. Dan kalau gue biarin lo maka Nyonya Boss bakalan ngamuk ke gue." Pasrah Devin sambil menggendong Sinta ala bridal style.
Ditempat lain Adinda merasa panik sendiri saat Sinta tidak kembali-kembali dari toilet.
"Sayang sepertinya temanmu abis minum wine deh. Soalnya gelasnya udah habis." Saut pacar Adinda yang membuat Adinda kaget.
"Apa? Dia minum?!!!" Teriak Adinda Kaget.
"Iya, nih! gelasnya udah kosong." Jawab pacarnya dengan santai sambil membolak-balikan gelas kosong yang ada ditangannya.
"Kenapa kamu sediain minuman disini. Lo tahu sendiri kita gak biasa minum!" Kesal Adinda Kepada pacarnya.
"Ya maaf sayang, tadi sebelum kamu datang kesini aku telah berpesan kepada pelayan untuk mengantarkan wine karena ku pikir temanmu itu bisa minum." Ucap pacarnya Adinda dengan wajah tanpa dosa.
"Ya udah kamu bantu aku cari temen aku. Bisa gawat kalau dia diapa-apain. Nanti aku bisa dibunuh oleh sahabat patung es nya." Saut Adinda yang diangguki oleh pacarnya.
••••••••
Ditempat lain Devin sudah membawa Sinta keapartemennya dan membaringkan Sinta diatas kasur miliknya. Karena diapartemen itu hanya ada satu kamar dan kamar itu hanya milik Devin seorang.
"Ah, nyusahin banget lo!" Gerutu Devin sambil menjauh dari Sinta yang sudah menutup matanya.
Namun baru beberapa langkah baju kemeja Devin ditari oleh tangan seseorang. Devin membalikan tubuhnya dan melihat Sinta sedang memegangi baju kemejanya.
Dengan penuh kesabaran Devin melepaskan tangan Sinta dari baju kemejanya. Namun tangan Sinta seperti di lem dengan baju kemejanya. Sinta tidak mau melepaskan kemeja milik Devin.
"Lo ngeselin banget si! Mau lo sadar atau enggak bahkan saat lo tidur saja udah bikin gue emosi." Kesal Devin sambil membuka kemejanya karena tidak ada pilihan lain selain membuka kemeja yang Devin kenakan.
"Tidur ya, jangan ganggu gue lagi please. Jadi anak baik ok, Gue mau tidur diruang kerja gue. Gue juga capek ngedepin lo." Ucap Devin sambil mengelus kepala Sinta.
Saat Devin hendak melepaskan tangannya dari kepala Sinta, tiba-tiba Sinta menarik tangan Devin. Sehingga membuat Devin terjatuh keatas tubuh Sinta.
Devin memandangi waja Sinta yang terlihat cantik dan tenang saat tertidur. Tiba-tiba jantung Devin berdebar sangat cepat dengan wajah yang merona.
Devin mendekatkan bibirnya kearah bibir Sinta namun belum sempat Devin menyentuh bibir Sinta, Sinta sudah lebih dulu menarik tengkuk leher Devin sehingga Devin dan Sinta pun saling berciuman.
__ADS_1
Devin pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mulai memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya. Mereka saling berciuman dengan sangat panasnya sampai-sampai Devin telah melepaskan pakain Sinta dan hanya menyisakan pakain Dalam Sinta saja.
Author numpang lewat..........