Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 140


__ADS_3

"Bi...Biola dia...." Gumam Mama Kania dengan memasang ekspresi sedihnya.


Sementara Keynan sudah memasang wajah kacaunya karena sudah memikirkan hal-hak buruk yang terjadi kepada istrinya.


"Maafkan Mama Key. Mama benar-bebar minta maaf." Ucap Mama Kania yang membuat Keynan semakin panik.


"Biola kenapa Ma?!" Teriak Keynan dengan begitu frustasinya.


Tiba-tiba seseorang datang kekamar Keynan dan mengagetkan Keynan.


Mama Kania berdecak dengan tidak sukanya karena rencananya mengerjai putranya digagalkan oleh seseorang yang baru masuk kekamar Keynan itu.


"Yah... gagal sudah rencanaku untuk mengerjai Keynan. Kali-kali buat dia panik kan gak papa. Lagian aku udah terlalu lama baikin dia." Gumam Mama Kania dengan memasang wajah cemberutnya.


"Kau sudah bangun sayang?" Tanya seorang wanita cantik yang masuk kedalam kamar Keynan dengan duduk dikursi roda dan didorong oleh Tuan Davindra.


Wanita cantik itu juga menggendong Kenan dipangkuannya. Kenan juga tampak sangat nyaman berada dipangkuan wanita cantik itu. Ia bahkan terlihat sangat bahagia dan terus tersenyum dipangkuan wanita cantik itu.


Keynan tertegun saat melihat wanita cantik itu. Ia bahkan sampai meneteskan air matanya saat melihat wanita cantik itu yang tak lain adalah Biola istrinya.


"Sa....sayang." Ucap Keynan sambil menatap Biola dengan tatapan harunya.


Keynan berlari kearah Biola dan memeluk Biola dengan begitu eratnya.


"Hiks... sayang, aku sangat merindukanmu." Keynan meneteskan air matanya sambil memeluk Biola dengan begitu eratnya.


Tanpa Keynan sadari, Keynan telah menghimpit Kenan yang ada dipangkuan Biola. Kenan menangis karena terhimpit oleh Daddynya yang memeluk Mommynya.


"Key! Kamu jauhan sana! Kenan kehimpit kamu ini." Bentak Biola sambil memukul kepala suaminya dengan satu tangannya karena tangan lainnya ia pergunakan untuk menggendong Kenan.


Keynan pun melonggarkan pelukannya tapi ia tidak mau melepaskan istrinya. Sehingga Kenan menjadi pembatas antara kedua orang tuanya.


"Ihhh.... Keynan lepas! Kenan sesak kalau kamu terlalu deket kayak gini." Omel Biola kepada suaminya.


Keynan menatap istrinya dengan air mata yang menggenangnya lalu Keynan pun menggeleng menandakan kalau dia tidak mau melepaskan istrinya.


"Keynan, kamu itu udah jadi Daddy jadi jangan kekanakan kayak gini. Kasihan Kenan kalau kamu kayak gini. Dia dari tadi nangis karena kamu." Omel Biola yang bagaikan nyanyian merdu ditelinga Keynan karena ia sudah lama tidak mendengar Biola memarahinya.


"Keynan kamu itu benar-benar ya. Masa sama anak sendiri gak mau ngalah. Kamu gak lihat itu Kenan nangis kenceng kayak gitu." Omel Mama Kania yang tidak tahan melihat cucu kesayangannya menangis karena Bapaknya yang tidak mau mengalah.


"Aku merindukanmu sayang. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak mau melepaskan kamu lagi." Ucap Keynan yang mengabaikan ucapan Mama Kania dan malah mencium kening istrinya dengan begitu lamanya.


Mama Kania menepuk keningnya dengan kasar saat melihat tingkah putranya yang kekanakan. Sementara Tuan Davindra hanya bisa tersenyum melihat tingkah suami dari cucunya.


"Udah, udah, udah...! siniin cucu Mama. Kamu itu sebagai Daddy nya kok malah buat anak sendiri nangis." Omel Mama Kania sambil mengambil Keynan dari Biola.


"Keynan kamu si! Aku kan masih mau main sama Kenan. Karena Viola dan Violin lagi bobok siang. Dan hanya Kenan yang masih belum bobok." Ucap Biola dengan wajah kesalnya tapi Keynan malah memeluk Biola dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu sayang. Kali ini biarkan aku berduaan denganmu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang." Ucap Keynan yang mengulangi perkataannya lagi dan membuat Biola memutar bola matanya malas.


Namun Biola juga membalas pelukan suaminya dan menepuk-nepuk punggung suaminya yang lebar itu dengan begitu lembutnya. Keynan membenamkan wajahnya didada istrinya dan meneteskan air matanya yang sudah ia bendung sedari tadi sambil memeluk istrinya dengan begitu erat.


"Aku kangen kamu hiks...hiks.. aku sangat merindukan kamu hiks...." Ucap Keynan sambil menangis dipelukan Biola.


"Aku juga merindukan kamu Key." Ucap Biola dengan air mata menggenangnya.


Tuan Davindra dan Mama Kania pun mulai meninggalkan kedua pasangan suami istri itu untuk melepas rindu mereka.


Keynan dan Biola pun menangis sambil berpelukan hingga beberapa menit. Setelah itu Keynan menggendong istrinya dari kursi rodanya dan meletakan Biola diatas tempat tidur.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat. Aku lihat kondisi kamu masih kurang setabil." Ucap Keynan sambil membaringkan istrinya diatas tempat tidur.


"Tapi kamu harus temenin aku." Jawab Biola dengan nada manjanya.

__ADS_1


Keynan mengangguk dan mulai berbaring disebelah istrinya. Ia memeluk istrinya dan membenamkan kepala istrinya didada bidang miliknya.


"Sayang, ini bukan mimpikan?" Tanya Keynan dengan suara lembutnya.


"Ini bukan mimpi Key. Setelah kita menyelesaikan ritual itu, aku terbangun dari komaku. Tapi sebelumnya aku juga bermimpi panjang tentang kehidupan kita dimasa lalu. Dimana itu sangat menyakitkan Key." Jawab Biola dengan air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.


Keynan mencium pucuk kepala istrinya lalu mengusap kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Aku juga sayang. Aku juga mengingat kepingan-kepingan memori kita yang terlupakan dimasalalu dan kehidupan sebelumnya. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa sayang. Kamu jangan khawatir. Semuanya sudah baik-baik saja." Balas Keynan dengan nada lembutnya.


"Aku juga berharap seperti itu. Aku harap masalalu kita tidak akan berdampak buruk lagi untuk masa depan kita." Ucap Biola dengan nada lirihnya.


"Iya sayang. Aku sangat mencintai kamu. Jadi kamu jangan pernah meninggalkan aku lagi. Dan aku harap kita bisa terus bersama untuk selama-lamanya." Ujar Keynan dengan begitu lirihnya.


Biola mendonggakan kepalanya dan menatap Keynan dengan tatapan kesalnya.


"Bukannya kamu yang meninggalkan aku dikehidupan sebelumnya?" Tanya Biola dengan nada kesalnya.


Keynan tersenyum sambil mencubit hidung istrinya yang mancung.


"Biar aku ceritakan sebuah kisa yang tidak akan pernah kamu ingat. Kisah ini tentang masa kecil kita." Ucap Keynan yang membuat Biola penasaran.


"Kisah apa?" Tanya Biola penasaran.


"Kisah tentang roh gadis berusia 5 tahun dan kotak kecil berwarna hitam yang aku jadiin sebagai tempat untuk menyimpan semua kenangan kita saat kita masih kecil." Ucap Keynan yang membuat Biola terkejut.


"Apa kamu mengingatnya? Jadi kamu bisa mengingatnya? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" Tanya Biola dengan cepatnya.


"Pelan-pelan bertanyanya sayang. Kamu ini memang masih mirip seperti dulu ya. Kamu memang suka bertanya." Ucap Keynan sambil terkekeh dan mulai menceritakan kisah masa kecil mereka.


Siang itu juga mereka habiskan untuk saling bercerita tentang masalalu mereka didalam kamar sambil melepas rindu yang saling memggebu-gebu didalam hati mereka.


••••••


"Hari ini adalah hari kematianmu wanita ular. Kau telah berani membuat keponakanku celaka maka kamu harus tanggung sendiri akibatnya." Tutur Darius dengan wajah dinginnya.


"Ti....tidak Darius. Bu....bukannya kamu sangat mencintaiku. Jadi tolong maafkan aku. Aku hanya tidak terima karena kamu meninggalkan aku hanya karena kesalah pahaman dimasalalu." Ucap wanita itu dengan wajah ketakutannya dikala ia melihat pisau belati yang sedang dimainkan oleh Darius.


Darius tersenyum kecut kearah wanita itu dan mulai memainkan rambut panjang wanita yang dulu pernah bersinggah dihatinya.


"Kau tau? Dulu aku sangat buta karena mencintai kamu hingga aku menutup hatiku untuk wanita lain diluaran sana yang lebih baik dari pada kamu. Tapi semua itu sangat disayangkan saat aku melihat perbuatan hinamu bersama seorang pria yang merupakan musuh bebuyutan keluargaku. Kamu juga menjebaku sehingga nyawaku hampir melayang dan dijadikan tumbal oleh musuh bebuyutan keluargaku yang mengusai kekuatan kegelapan yang juga selingkuhan atau suamimu." Tutur Darius sambil menatap benci kearah wanita itu.


"Tidak, itu aku tidak..." Ucap wanita itu gugup seolah-olah ia sedang tertangkap basah.


"Elena, apa kamu ingat pada saat kejadian itu?" Tanya Darius yang membuat wanita bernama Elena itu semakin gugup.


Darius tersenyum devil dan semakin membuat wanita bernama Elena itu ketakutan.


"Jika kamu lupa maka aku akan mengatakannya lagi untuk mengingatkanmu akan kisah masa lalu kita. Dulu kamu tertawa dan mempermainkan aku layaknya sampah dengan selingkuhanmu disaat aku sedang dijadikan boneka dan hampir mempelajari ilmu sihir yang akan membuatku dijadikan tumbal oleh keluarga selingkuhanmu itu."


"Itu Darius, dengarkan aku. Aku... ...." Ucap Elena yang motong ucapn Darius namun langsung dibentah oleh Darius.


"Diam!!" Bentak Darius sambil menjambak rambut Elena yang panjang.


"Jangan pernah kamu memotong setiap kata yang aku ucapkan. Atau kamu akan merasakan penderitaan yang sangat luar biasa nantinya." Ancam Darius dengan bola mata tajamnya menatap Elena yang ketakutan.


Elena meneguk salivanya karena ketakutan dengan aura membunuh Darius. Selama ini ia pikir Kalau Darius masih mencintainya karena sampai detik ini Darius belum membunuhnya padahal dia seorang ketua kelompok mafia Angel' heart yang paling ditakuti. Tapi sekarang entah apa yang akan terjadi kepada Elena setelah beberapa menit kedepan.


Dan karena pemikirannya itu pula yang membuatnya ingin membalas dendam kepada Darius. Karena Darius telah membunuh anak dan suaminya yang merupakan selingkuhannya yang telah membuat Darius menderita karena dijadikan boneka tumbal.


"Kau ingat? Jika pada saat itu Papa telat beberapa detik saja mungkin aku akan mengaktifkan kekuatan turun-temurun keluargaku. Sehingga selingkuhan atau suamimu itu bisa menjadikanku sebagai tumbal!" Bentak Darius dengan nada dinginnya.


"Ma....maafkan aku Darius. Tolong lepaskan aku. Aku pasti akan menebus semua dosaku." Ucapnya berbohong.

__ADS_1


"Kau pikir aku bodoh hah! Kau telah membuatku membenci wanita karena penghianatanmu yang menjijikan. Kau juga ingin membalas dendam untuk suami dan anakmu yang telah aku bunuh dengan cara membunuh keponakanku yang hamil besar! Kau pikir aku masih Darius yang dulu! Darius yang selalu memenuhi semua permintaan tak masuk akal mu itu hah!" Bentak Darius dengan begitu kerasnya. Ia bahkan menarik rambut Elena sampai-sampai membuat Elena menjerit-jerit kesakitan.


"Maafkan aku Darius... maafkan aku...." Teriak Elena yang berusaha untuk meredam amarah Darius tapi itu semua sia-sia karena Darius sudah dipenuhi oleh kebencian.


"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengarkan omong kosongmu itu yang terus mengatakan kata maaf. Karena aku tahu maafmu hanyalah sebuah ucapan. Jadi berhentilah berpura-pura wanita ular."


Srettt....


Darius memotong rambut panjang dan indah Elena yang ia tarik dengan pisau belatinya sehingga membuat Elena membulatkan matanya tak percaya karena rambut indah yang ia sukai itu dipotong begitu saja oleh mantan pacarnya.


"TIDAK! apa yang kamu lakukan Darius! Dasar kau iblis!" Bentak Elena dengan mata menajamnya kearah Darius karena rambut indahnya telah dipotong oleh Darius.


Darius tersenyum devil dan memainkan pisau belatinya dengan santai.


"Akhirnya kamu menunjukan wajah aslimu wanita ular. Dan satu hal yang harus kamu tau wanita ular. ini hanya rambut dan aku belum menggoreskan beberapa gambar diwajahmu. Aku juga akan membuat tubuhmu yang selalu kamu banggakan ini menjadi potongan-potongan daging yang akan aku berikan kepada peliharaanku yang sangat kelaparan karena aku belum memberi mereka makan untuk menunggu hari ini." Tutur Darius dengan seringaian devilnya yang membuat tubuh Elena bergetar karena ketakutan.


"Tidak, jangan lakukan itu kepadaku! Lepaskan aku iblis! Kau bukan manusia. Kau pembunuh! Kau membunuh seluruh keluargaku. Kau juga membunuh anak dan suamiku. Dasar kau iblis!" Bentak Elena kepada Darius.


Darius lagi-lagi menyeringai dan memainkan pisau belatinya dipipi Elena tanpa melukai wajah Elena.


"Jika aku iblis, lalu apa bedanya kamu dengan aku. Kau bahkan lebih sadis dari pada aku. Kau menyiksaku dan mempermainkanku dengan begitu sadisnya. Kau menghancurkan perasaanku dan kau mempermainkan fisiku. Jadi apa bedanya kita?" Ucap Darius dengan santainya sambil memainkan pisau belatinya di wajah Elena sehingga membuat Elena menahan nafasnya sambil menatap pisau belati yang terus menempel dipipinya.


"Singkirkan pisau itu dasar psikopat!" Teriak Elena kepada Darius.


"No no no! Permainannya masih belum dimulai. Jadi untuk apa aku menyingkirkan pisau belati yang aku sayangi ini. Oh iya? Aku hampir lupa memberi tahu kamu kalau selama ini aku diam bukan karena aku masih mencintai kamu. Tapi karena aku tidak ingin berurusan denganmu lagi. Aku membunuh seluruh keluargamu termasuk suami dan seluruh keluarga suamimu termasuk anakmu itu karena aku ingin membuat hidup mu menderita. Bukan karena aku masih mencintaimu. Aku bahkan jijik melihat wajahmu yang kotor ini." Ucap Darius dengan ketusnya dan membuat Elena tambah marah.


"Dasar kau ib...... akhhh...." Teriak Elena saat Darius mulai menggoreskan pisau belatinya diwajah cantik Elena.


Darius mulai menggores-gores wajah Elena dengan pisau belatinya. Elana terus berteriak karena rasa sakit akibat siksaan sadis Darius.


Sementara ditempat lain Pak Bayu juga sedang melakukan hal yang sama kepada Miko. Pak Bayu kini tidak takut akan darah lagi. Bahkan ia sudah sangat sadis saat mengetahui putrinya koma karena orang yang ada dihadapannya saat ini.


Pak Bayu menatap Miko dengan tatapan dinginnya sambil memaku seluruh tubuh Miko. Kedaan Miko kini sudah sangat mengenaskan. Ia baru selamat hampir satu tahun yang lalu dari lautan ganas dengan satu kakinya karena kakinya yang lain telah dipotong oleh Darius. Dan kini ia harus dihadapkan dengan siksaan yang lebih mengenaskan dari siksaan sebelumnya.


Tubuhnya terasa mati rasa karena dipaku oleh pak Bayu. Pak Bayu tanpa berbelas kasihnya terus memaku tubuh Miko karena mengingat akan penderitaan putrinya selama ini.


"Akhhh.... tolong ampuni aku Bayu. Tolong kau bunuh saja aku dari pada kau harus menyiksa aku seperti ini." Jerit Miko yang memohon-mohon kepada Pak Bayu untuk membunuhnya. Karena ia sudah sangat putus asa dengan hidupnya yang terus-menerus disiksa oleh Pak Bayu dengan rasa sakit yang luar biasa karena Pak Bayu memberi Miko racun yang sama seperti racun yang ia berikan kepada Mama Mirna sejak Miko tertangkap.


"Aku akan membuatmu mati dengan perlahan agar kamu bisa menikmati rasa sakit yang telah kau berikan kepada putriku. Seharusnya kau tenggelam dan mati saja pada waktu dimana kapal itu tenggelam sehingga kamu tidak perlu merasakan rasa sakit ini. Tapi karena kamu memilih untuk hidup dan melukai putriku lagi maka jangan harap bisa mati dengan mudah saat tertangkap olehku. Seharusnya kau sadar akan hal itu." Tutur Pak Bayu dengan begitu dinginnya kepada Miko.


Malampun tiba, tepatnya pukul 01:30 malam. Pak Bayu dan Darius baru keluar dari ruangan mereka masing-masing dengan tubuh yang berlumuran darah.


Darius menatap Pak Bayu dengan seringaiannya saat melihat tubuh Pak Bayu yang berlumuran darah dengan sebuah koper yang didalamnya juga meneteskan darah. Koper itu adalah peralatan untuk menyiksa Miko.


"Apa kau telah menyelesaikannya?" Tanya Darius kepada Pak Bayu.


"Semuanya telah aku selesaikan. Potonganya aku tinggalkan didalam. Nanti akan aku suruh anak buahku untuk membawa potongan itu kekandang singa, serigala dan harimau peliharaan kelompok mafia Angel's heart." Tutur Pak Bayu dengan wajah dinginnya.


Darius telihat sangat puas dengan ucapan Pak Bayu. Ia bahkan sempat tersenyum karena melihat perubahan sikap Pak Bayu yang derastis.


"Itu sangat bagus. Dan jangan lupa juga kamu suruh anak buahmu untuk membawa yang ada diruanganku." Balas Darius yang diangguki oleh Pak Bayu.


Pak Bayu mulai melanjutkan langkah kakinya. Namun ucapan Darius membuat Pak Bayu menghentikan langkah kakinya.


"Biola sudah pulih dan sadar dari komanya. Kapan kau akan menemuinya? Aku harap dia juga mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya. Tapi aku tak akan melepaskanmu jika kamu menyakiti keponakanku lagi." Ucap Darius sambil berjalan berlainan arah dari Pak Bayu.


Pak Bayu terdiam ditempatnya dengan tatapan kosongnya mengarah kearah depan.


Pak Bayu meneteskan air mata kebahagiaannya ditempat itu juga. Namun dengan cepat ia menghapus air matanya yang menetes dengan telapak tangannya yang berlumuran darah.


Pak Bayu menatap kedua telapak tangannya yang berdarah lalu ia merasakan sesak dihatinya saat mengingat siapa dirinya saat ini.


"Apakah aku masih pantas bertemu dengamu putriku. Ayah sangat merindukanmu tapi Ayah tidak ingin kamu melihat Ayah yang seperti ini." Gumamnya sambil menatap kedua tangannya yang berlumuran darah. Dan tak terasa juga air matanya lagi-lagi telah jatuh dan menetes ketelapak tangannya yang berlumuran darah.

__ADS_1


____________________


__ADS_2