Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Extra Part 1


__ADS_3

Biola dan ketiga anaknya saat ini sedang bermain ditaman yang berada dihalaman kastilnya yang luas dan indah.


Si kecil Violin dan Viola sedang bermain kejar-kejaran ditaman itu. Sementara si kecil Kenan saat ini sedang membaca buku bersama Mommynya sambil duduk dan mengawasi kedua adik-adinya.


Biola hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah putranya yang tampak sangat fokus membaca buku yang seharusnya tidak akan dimengerti oleh anak seusianya tapi malah sangat dipahami oleh Kenan. Ia juga sudah sangat pandai membaca layaknya orang dewasa. Padahal Kenan saat ini masih TK.


"Hai Bi, kamu apa kabar?" Tanya seseorang dibelakang Biola.


Biola menengok kearah belakangnya dan mendapati Sinta, Devin dan seorang gadis mungil yang sedang dipangku oleh Devin.


Sementara Kenan hanya menengok sesaat lalu melanjutkan kegiatan membacanya seolah-olah tidak ada yang terjadi.


Biola tersnyum kearah mereka dan menyambut kedatangan Sinta, Devin dan gadis mungil itu.


"Kabarku baik. Ayo sini duduk kalian pasti capek habis dari perjalanan jauh." Ujar Biola sambil menepuk kursi kosong ditempat ia duduk saat ini. Ia juga menyuruh pelayannya untuk mengambilkan cemilan dan minuman untuk Sinta, Devin dan gadis kecil itu.


Sinta, Devin dan gadis kecil itu pun duduk di bangku yang ada mejanya ditaman itu bersama Biola dan Kenan yang sedang asik membaca tanpa memperdulikan orang-orang yang ada disekelilingnya.


Devin ada pekerjaan di Inggris sehingga ia harus pergi ke Inggris. Sinta yang mendengar kalau suaminya ada pekerjaan di Inggris pun meminta untuk ikut karena ingin bertemu sikembar dan sahabat baiknya. Sehingga mereka pun ke Inggris bersama-sama dengan gadis kecil yang bersama mereka saat ini.


"Enggak kok, kita enggak capek. Dipesawat kami tidur jadi gak kerasa capek." Jawab Sinta dengan santainya.


Devin memutar bola matanya dengan malas saat mendengarkan perkataan istrinya.


"Dia aja kali yang tidur kayak orang mati. Aku dan putriku enggak. Iya kan sayang?" Tanya Devin kepada gadis kecil itu yang tak lain adalah anak Devin dan Sinta yang bernama Salsa Wijaya.


Salsa hanya mengangguk mengiyakan ucapan Papanya.


Biola tersenyum saat melihat betapa polosnya Salsa yang sangat berbeda dengan kedua orang tuanya yang sangat berisik.


"Oh iya, Salsa sekarang usianya berapa tahun?" Tanya Biola kepada Salsa dengan nada lembutnya.


Salsa tampak menatap Biola dengan malu-malu. Lalu ia mulai menghitung jari mungilnya yang tampak sangat menggemaskan dimata Biola.


"Ohh... dia mirip Kenan, Violin dan Viola. Betapa manisnya mereka saat mereka bermain bersama." Ucap Biola didalam hati yang mulai gemas saat melihat tingkah polos Salsa.


"4 tahun Tante. 3 hayi yang lalu Sasa bayu uyang tahun." Jawab Salsa dengan cadelnya dan membuat Biola gemas sendiri saat mendengar ucapan Salsa karena si kembar tiganya sekarang sudah tidak berbicara dengan cadel lagi. Karena mereka sekarang sudah mau memasuk usia 6 tahun dalam jangka waktu beberapa bulan lagi jadi bicaranya pun sudah tentu sangat lancar.


"Oh ya? Kok Tante gak dikasih tahu kalau Salsa ulang tahun? Padahal Tante mau kasih kado yang istimewah untuk Salsa." Ucap Biola dengan wajah pura-pura sedihnya.


"Yumah Tantenya jauh, Jadi Sasa gak bica beyitahu." Jawab Salsa yang membuat semua orang disana tersenyum karena gemas dengan Salsa. Tapi tidak dengan Kenan yang masih sibuk dengan bukunya.


"Baiklah, kalau begitu Salsa mau hadiah apa dari Tante?" Tanya Biola kepada Salsa.


Gadis kecil itu tampak berpikir dan membuat semua orang gemas sendiri melihatnya.


"Sasa mau kado aja. Bial sepecial." Ucap Salsa dengan imutnya.


"Baiklah nanti Tante siapin kado yang paling besar buat Salsa ya." Jawab Biola yang diangguki oleh Salsa yang saat ini sedang duduk dipangkuan Devin.

__ADS_1


"Kami juga udah siapin kado buat Salsa." Ucap Violin dan Viola tiba-tiba.


Devin, Sinta dan Salsa langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Violin dan Viola yang tiba-tiba berdiri disamping Mommynya.


"Hei Sayang, kalian buat Tante kaget saja. Kalian abis dari mana aja. Kok tadi Tante gak lihat kalian?" Tanya Sinta yang memang terkejut saat melihat kedatangan Violin dan Viola yang tiba-tiba ada disebelah Biola.


"Hallo Tante cantik sama Om ganteng. Hallo juga Salsa yang imut. Kita tadi main ditaman ini kok Tan." Jawab Viola dan Violin yang bagaikan madu bagi Sinta.


"Ah kalian ini bisa aja. Bi, kamu kok bisa ngajarin anak-anak kamu berbicara manis kayak gini. Jangan-jangan kamu beri mulut mereka madu ya. Makanya mereka bisa berbicara manis kaya gini?" Tanya Sinta yang senang dipuji oleh Violin dan Viola.


Biola meminum teh nya yang baru disuguhkan oleh pelayannya dengan santainya lalu menjawab pertanyaan Sinta.


"Mereka itu udah biasa berbicara manis kayak gitu karena diajarin sama Daddynya." Saut Biola dengan santainya.


"Ih enggak kok, kita kan emang manis seperti madu." Jawab Viola yang mulai menunjuka senyuman lebarnya.


Sinta dan Devin hanya bisa terkekeh melihat kedua putri Biola yang sangat imut dan menggemaskan itu.


"Iya deh, kalian itu memang manis-manis kayak madu." Ujar Sinta sambil terkekeh.


"Oh iya, Salsa mau ikut gak sama kami? Soalnya kamu punya kado yang sangat spesial buat Salsa. Kami udah nyiapin kado ulang tahun untuk Salsa karena kemarin kita gak bisa ke Indonesia. Jadi Salsa mau ikut gak sama kami. Soalnya kadonya ada dikamar kami. Kita juga bisa sekalian main disana." Ujar Violin kepada Salsa.


Salsa tampak menatap Papa dan Mamanya dengan wajah polonya untuk meminta izin bermain dengan Violin dan Viola.


"Udah, sana pergi. Tapi kalau perlu sesuatu nanti cari Mama, Papa atau Tante Biola ya sayang." Ujar Sinta kepada putrinya.


"Iya, kalau mau main, main aja. Tapi mainnya jangan sampai bertengkar ya." Lanjut Devin yang diangguki oleh ketiga gadis kecil yang polos itu.


"Ahhh... mereka sangat memggemaskan." Gumam Sinta sambil menatap ketiga gadis perempuan itu pergi.


Devin mengalihkan pandangannya kearah pria kecil yang sedang asik membaca disebelahnya.


"Woy boy! Sampai kapan kamu mau baca mulu. Emangnya kamu gak mau kasih kado buat Salsa? Kembaran kamu pada baik-baik loh mau kasih Salsa kado. Cuman kamu aja yang gak ngasih Salsa kado ulang tahunnya." Tanya Devin kepada Kenan yang sedang anteng membaca disebelahnya.


Kenan menatap Devin sebentar lalu mulai melanjutkan membacanya seperti tidak ada yang mengajaknya berbicara.


Devin mngerutkan keningnya karena kesal dengan sikap Kenan yang super acuh. Sementara Sinta dan Biola hanya terkekeh melihat Devin yang diacuhkan oleh anak kecil berusia 5 tahun itu.


"Hey denger gak si kamu?" Ucap Devin dengan kesalnya.


"Berisik! aku gak punya kado. Nanti aku suruh Daddy beliin boneka untuk Salsa. Udah kan." Jawab Kenan yang mulai terganggu oleh Devin.


Wajah Devin mulai memerah karena menahan emosinya. Dia benar-benar terbawa emosi oleh sikap menyebalkan Kenan.


"Emangnya kamu baca apa sampai seserius itu?" Tanya Devin dengan kesalnya dan mengambil buku yang sedang dibaca oleh Kenan.


Devin sekilas melihat judul dari sampul buku yang dibaca oleh Kenan. Ia langsung terbelalak saat membaca judul dari sampul buku yang dicara bocah berusia 5 tahun itu.


"Ku...kumpulan rumus matematika untuk kelas menengah atas." Ucap Devi dengan kagetnya saat membaca buku yang sedang dibaca Kenan.

__ADS_1


Sinta yang sedang meminum teh nya pun hampir menyemburkan teh yang ia minum saat mendengarkan ucapan Devin yang membaca judul dari sampul buku yang dibaca oleh Kenan.


Devin menatap Biola dengan sangat terkejutnya begitu juga dengan Sinta. Mereka seperti meminta penjelasan yang jelas tentang buku yang dibaca oleh bocah berusia 5 tahun itu.


Biola hanya tersenyum sambil membuang nafasnya dengan kasar.


"Mau gimana lagi? Dia suka baca dan lagi pelajaran anak-anak TK sepertinya tidak lagi berguna untuknya. Jadi aku biarkan saja dia belajar apa yang dia mau." Ucap Biola dengan santainya.


"Ja...jadi di...dia sudah mengerti semua rumus yang ada didalam buku ini?" Tanya Devin tak percaya sambil menunjukan buku yang tadi dibaca Kenan.


"Entahlah, kurasa dia hanya bosan saja dan mengulang membaca buku itu. Karena kemarin-kemarin dia juga mulai membaca buku tentang bisnis diperpustakaan Daddynya." Ujar Biola dengan santainya dan membuat Sinta dan Devin terbelalak.


"Om ganggu aja. Siniin bukunya! Aku kan jadi males baca kalau gini." Ucap Kenan dengan ketusnya sambil merebut bukunya kembali dari tangan Devin dan mulai meninggalkan Mommynya, Sinta dan Devin yang sedang duduk ditaman itu.


Devin dan Sinta menatap Kenan yang mulai meninggalkan taman itu dengan tatapan tak percayanya.


"Bener-bener anak kamu, aku bener-bener salut banget liat sikap dan kepinterannya yang mirip banget sama kamu Bi." Ucap Sinta yang sangat takjub dengan sikap Kenan yang mirip Biola.


"Hais... dia memang mirip Kakak ipar sama Keynan. Gak heran." Balas Devin sambil menggaruk punggung lehernya yang tidak gatal.


"Entahlah, dia sudah sedari bayi memiliki sikap yang aneh. Dia lebih pengertian dan lebih tenang dari Violin dan Viola." Ujar Biola dengan santainya.


"Iya si, gue juga pernah denger dari Keynan soal tuh bocah. Oh ya, Keynan diaman ya? Dia ada dirumah kan? Karena hari ini akhir pekan. Jadi seharusnya dia gak kekantorkan Kakak Ipar?" Tanya Devin yang baru mengingat Keynan.


"Keynan tadi pagi masih sibuk mengerjakan beberapa berkas yang belum ia selesaikan karena sering menghabiskan waktu diperusahaannya untuk bermain dengan anak-anak." Ujar Biola.


"Oh... ya udah aku kesana dulu ya. Soalnya ada yang mau aku diskusikan soal pekerjaan." Ucap Devin.


"Ya udah sana pergi. Aku juga mau berdiskusi berdua sama sahabatku." Ujar Sinta yang membuat Devin memutar bola matanya malas.


"Untung cinta kalau enggak, udah aku buang kehabitatnya dilaut." Gumam Devun sambil berdiri dari duduknya.


"Apa kamu bilang?" Tanya Sinta yang mendengar gumaman suaminya.


"Gak tadi ada kucing berdaster." Kilah Devin sambil mempercepat langkah kakinya menjauhi istrinya yang sebentar lagi akan mengamuk.


"Apa? Sini kamu dasar suami titisan lumba-lumab!" Teriak Sinta yang tidak didengarkan oleh Devin.


"Udah ngapa Sin. Kalian ini selalu aja bertengkar. Padahal kalian udah punya Salsa tapi sikap kenak-kanakan kalian gak pernah ilang." Ucap Biola sambil membuang nafasnya dengan kasar.


"Cih! Kalau dia gak mabuk pada waktu itu aku juga gak akan hamil." Ucap Sinta dengan kesalnya.


Biola menatap Sinta dengan dahi yang mengeut. Terlihat kalau Biola tidak suka dengan apa yang diucapkan Sinta.


"Jadi itu salah Devin? Lalu apakah kamu tidak menginginkan Salsa?" Tanya Biola dengan kesalnya.


Sinta menyadari ucapannya dan menatap Biola dengan perasaan bersalahnya.


"Tidak juga si. Kalau saat itu dia gak mabuk mungkin Salsa gak akan pernah ada. Lagi pula aku juga sangat bersyukur atas kehadiran Salsa pada saat itu. Kalau Salsa gak hadir mungkin juga kita gak akan pernah bisa bersama kayak gini. Aku juga mungkin tidak akan pernah tahu arti dari perasaanku ini kepadanya." Ucap Sinta dengan suara kecilnya.

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu mengerti. Aku hanya takut kalau kamu akan keberatan dengan kehadiran Salsa." Ujar Biola sambil membuang nafasnya dengan kasar.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Karena dia adalah lambang dari cinta kami." Balas Sinta sambil tersenyum saat mengingat masa lalunya.


__ADS_2