
"Pa, Papa yakin mau ke kediaman keluarga Kristian malam ini juga?" Tanya Darius yang menatap Papanya dengan pandangan seriusnya.
Sekarang mereka sudah berada di Indonesia. Tuan Davindra dan Darius tiba di Indonesia sore tadi. Tepatnya pukul 17: 00 sore dan malam ini mereka akan langsung kerumah kediaman keluarga Kristian.
"Ya, sudah saatnya kita bertemu dengan cucuku. Aku sudah tak sabar ingin melihat rupa dari cucuku dan juga ingin melihat liontin hati malaikat yang bagaikan legenda dikeluarga Alexa." Jawab Tuan Davindra dengan wajah semangatnya.
"Baiklah Pa, aku juga ingin melihat keponakanku lagi. Kalau bukan gara-gara suaminya yang terlalu posesif itu mungkin aku dan keponakanku saat ini sudah saling mengenal." Gerutu Darius yang sangat membenci Keynan.
Entah apa yang akan terjadi jika sampai Keynan tahu kalau Darius adalah pamannya Biola. Kalau semuanya sudah terbongkar mungkin Darius akan membuat hidup Keynan menjadi menderita karena telah berani melawannya dan menjauhkannya dari keponakannya.
Itulah rencana Darius setelah semuanya terbongkar.
"Habis kau bocah bau kencur!" Ucap Darius didalam hati sambil tersenyum Devil membayangkan penderitaan yang ingin ia berikan kepada Keynan.
Mereka pun berangkat menuju kediaman keluarga Kristian dengan menggunakan mobil mewah mereka.
Sesampainya dikediam keluarga Kristian, mobil mewah milik Tuan Davindra itu diberhentikan dulu didepan gerbang besar keluarga Kristian.
Salah satu penjaga gerbang menghampiri mobil mewah itu dan bertanya kepada pemilik mobil mewah itu terlebih dahulu.
"Maaf Pak, apakah Bapak sudah ada janji terlebih dahulu dengan pemilik rumah?" Tanya penjaga gerbang itu sopan. Karena mereka melihat mobil yang ditumpangi oleh tamu itu bukanlah mobil yang bisa dibeli oleh orang biasa. Jadi mereka tidak boleh membuat kesalahan secuil apapun atau jabatan mereka yang akan menjadi taruhannya.
"Iya kami sudah membuat janji dengan Pak Raihan Kristian 3 hari yang lalu." Jawab Tuan Davindra dingin tanpa melihat kearah penjaga gerbang dikediaman keluarga Kristian.
Sontak saja sikap dingin Tuan Davindra membuat penjaga gerbang itu gugup.
"Kalau begitu dengan bapak siapa? Agar saya bisa memberi tahu kerumah tentang kedatangan Bapak." Tanya penjaga gerbang itu dengan suara yang sedikit bergetar karena merasakan suasana yang sangat mencekam dari dalam mobil.
"Davindra Alexa dan Darius Alexa." Kali ini bukan Tuan Davindra lagi yang menjawab melainkan Darius, karena Darius sudah tidak sabaran dan ingin secepatnya bertemu lagi dengan keponakannya. Darius maupun Tuan Davindra sama-sama berbicara tanpa melihat kearah penjaga gerbang yang bertanya kepada mereka.
Pandangan Tuan Davindra dan Darius menatap lurus kearah depan. Mereka menatap kearah rumah keluarga Kristian yang sangat luas dan sangat megah seperti sebuah kastil yang memiliki halaman yang sangat luas dan indah. Bahkan jarak dari gerbang kerumah keluarga Kristian itu agak jauh. Karena harus melewati taman yang sangat luas terlebih dahulu.
Tapi bagi Tuan Davindra dan Darius, kediaman keluarga Kristian itu sangatlah kecil dan tidaklah sebesar kediaman keluarga Alexa yang memang sebuah kastil yang sangat luas dengan dikelilingi oleh taman yang indah dan hutan pinus yang sangat luas. Dihutan itu juga dipelihara berbagai jenis hewan buas yang pelihara oleh Darius dan Tuan Davindra. Sehingga tidak ada satu orang maling atau mata-mata pun yang berani memasuki wilayah kekuasaan keluarga Alexa.
"Baiklah kalau begitu tunggu sebentar ya Pak, saya akan telepon rumah terlebih dahulu. Karena ini sudah menjadi tugas kami saat menyambut tamu." Jawab penjaga gerbang itu sopan sambil tersenyum terpaksa. Sungguh penjaga gerbang itu sangat gugup saat berhadapan dengan pemilik mobil mewah yang sedang bertamu kekediam keluarga Kristian.
"Baiklah cepat!" Jawab Darius dingin dan masih tidak melihat kearah penjaga gerbang itu.
Penjaga gerbang itu langsung menelepon dengan telepon yang ada di dalam pos dekat gerbang dikediaman keluarga Kristian, yang merupakan pos tempat ia berjaga digerbang keluarga Kristian. Karena keamanan keluarga Kristian sangatlah ketat sehingga membuat semua para tamu yang ingin mengunjungi kediaman keluarga Kristian pasti akan ditanya terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kediaman keluarga Kristian.
Setelah menelepon rumah dan mendapat jawaban dari orang rumah, penjaga gerbang itu kembali menghadap kearah mobil mewah itu dengan terburu-buru dan keringat yang bercucuran. Penjaga itu tidak tahu kalau tamu yang mengunjungi keluarga Kristian itu merupakan tamu penting.
Penjaga itu menyuruh temannya untuk membuka gerbang dan dia menghampiri mobil mewah itu untuk mempersilahkannya masuk.
"Maaf telah membuat kalian menunggu lama. Kalian sudah diperbolehkan ma.... ...."
"Jalan!" Perintah Tuan Davindra kepada supirnya saat gerbang kediaman keluarga Kristian sudah terbuka sepenuhnya.
Penjaga gerbang itu tercengang saat melihat mobil mewah itu sudah melesat masuk kedalam halaman dikediaman keluarga Kristian. Padahal dia belum sempat menyelesaikan ucapannya. Penjaga gerbang itu hanya terdiam ditempatnya sambil menatap mobil mewah milik Tuan Davindra yang sudah memasuki halaman kediam keluarga Kristian.
"Sungguh tamu-tamu orang kaya gak ada akhlak. Kemarin ada wanita muda yang tidak ingin ditahan dan mengamuk didepan gerbang karena gak mau saya beritahu kedalam rumah terlebih dahulu. Dia bilang mau memberi kejutan kepada Nyonya Muda. Dia juga bilang kalau dia adalah sahabat satu-satunya Nyonya Muda, sekaligus istri dari titisan lumba-lumba yang membuatnya nikah dadakan. Lah, saya kan gak tahu siapa itu titisan lumba-lumba? Hingga pada akhirnya dia tunjukin tuh foto yang ia sebut titisan lumba-lumba yang ternyata adalah Tuan muda Devin dan dirinya yang sedang menikah dan menghadap penghulu dan adiknya Nyonya besar. Saya kan tidak tahu kalau Tuan muda Devin sudah menikah dan ganti nama jadi titisan lumba-lumba. Sungguh wanita aneh." Gerutu penjaga gerbang itu saat mengingat ketika Sinta mengunjungi Biola beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Penjaga gerbang itu masih mengingat tingkah Sinta yang luar biasa aneh itu. Ia kira Sinta itu orang kaya gila yang baru keluar dari rumah sakit jiwa. Tapi nyatanya ternyata Sinta adalah istri yang dinikahkan dengan Devin karena digerebek.
••••••••
Ting....Tong....
Bodyguard Tuan Davindra membunyikan bel pintu rumah kediaman keluarga Kristian. Ya, saat ini Tuan Davindra memang membawa seorang supir dan dua orang bodyguard untuk mengawal mereka sepanjang perjalanan.
Tuan Davindra dan Darius tampak santai menunggu pintu rumah kediaman keluarga Kristian dibuka. Dan tak lama kemudian pintu besar yang tingginya sampai 4 meter lebih itu dibuka dari dalam.
Dari dalam nampak Maya dan beberapa pelayan lainnya membukakan pintu untuk Tuan Davindra dan Darius. Maya dan para pelayan lainnya tampak menyambut Tuan Davindra dan Darius dengan sangat baik.
"Silahkan masuk Tuan. Tuan besar dan Nyonya besar sudah menunggu Tuan didalam." Jawab Maya Sopan. Ia dan para pelayan lainnya menundukan tubuhnya menghadap Tuan Davindra dan Darius.
"Kalian jaga diluar!" Perintah Darius kepada kedua bodyguard itu.
"Baik Tuan!" Jawab mereka serempak.
Tanpa menjawab sapaan Maya dan para pelayan itu, Tuan Davindra dan Darius langsung masuk kedalam rumah kediaman keluarga Kristian.
Maya dan para pelayan lainnyapun mengantar Tuan Davindra dan Darius menuju ruang tamu tempat Pak Raihan dan Mama Kania menunggu.
"Selamat datang dikediaman sederhana kami Tuan Davindra dan Tuan Darius." Sambut Pak Raihan ramah dan bangun dari duduknya begitu juga dengan Mama Kania saat melihat Tuan Davindra dan Darius masuk kedalam ruang tamu.
Mama Kania tampak sangat mengagumi wajah tampan Darius. Darius memang lebih muda beberapa tahun dari Pak Raihan dan Mama Kania. Dia juga masih sangat tampan diusianya yang sudah tidak terbilang muda lagi.
Pak Raihan yang melihat mata jelalatan istrinya pun langsung mencubit pinggang istrinya.
"Ih Papa sakit!" Pekik Mama Kania sambil berbisik kepada Pak Raihan.
"Is Papa ganggu aja." Gerutu Mama Kania sambil berbisik kepada suaminya dan memonyongkan bibirnya.
"Oh ya, mari silahkan duduk Tuan Davindra dan Tuan Darius." Jawab Pak Raihan ramah.
"Terima kasih atas sambutan hangat Pak Raihan." Jawab Tuan Davindra sambil tersenyum ramah kearah Pak Raihan.
Tuan Davindra dan Darius pun duduk dan saling berhadapan dengan Pak Raihan dan Mama Kania.
"Ini tak seberapa Tuan Davinra." Jawab Pak Raihan sambil terkekeh dan disambut senyuman oleh Tuan Davindra.
Tiba-tiba Maya datang dengan para pelayan lainnya. Mereka membawa minuman dan juga beberapa cemilan sehat yang harganya sangat mahal.
Sungguh minuman dan cemilan yang disuguhkan kepeda Tuan Davindra dan Darius itu bukanlah cemilan dan minuman yang bisa kita beli disupermarket biasa. Minuman dan cemilan itu di impor dari negara tetangga dengan harga yang tak bisa kita hitung dengan jari tangan dan kaki kita.
"Silahkan diminum minumannya Tuan Davindra dan Tuan Darius." Ujar Pak Raihan ramah.
"Iya terima kasih Pak Raihan, nanti kita akan minum." Saut Tuan Davindra.
"Oh ya disebelah Bapak itu apa kah beliau istri Bapak?" Tanya Tuan Davindra yang menatap Mama Kania.
"Oh maaf saya lupa memperkenakan istri saya. Dia adalah istri saya. Namanya Kania Kristian. Dan Ma, mereka itu adalah Tuan Davindra Alexa dan Tuan Darius Alexa." Pak Raihan memperkenalkan istrinya kepada keluarga Alexa dan ia juga memperkenalakan keluarga Alexa kepada istrnya.
__ADS_1
Mama Kania berdiri dari duduknya dan berjabat tangan kepada Tuan Davindra dan Darius. Tapi pada saat Mama Kania berjabat tangan dengan Darius, ia sengaja menahan tangan Darius lebih lama dengan mata genitnya.
Pak Raihan menepuk jidatnya saat melihat kelakukan istrinya. Pak Raihan menarik paksa istrinya agar duduk disofa kembali.
"Jaga sikap Mama! Inget kalau Mama itu udah tua, udah punya mantu dan anak. Mama juga bentar lagi akan punya cucu!" Peringat Pak Raihan kepada istrinya yang ganjen itu sambil berbisik.
"Papa ganggu aja. Mama kan lagi cuci mata. Mama bosen liat wajah tua Papa mulu." Saut Mama Kania dengan tak punya hatinya kepada suaminya sambil berbisik kepada suaminya sendiri.
Pak Raihan mendengus karena marah kepada sikap istrinya yang ganjen itu. Hingga pada akhirnya mereka berdebat-debat sambil berbisik-bisik dan mengabaikan para tamu.
Tampak Darius menatap tangannya yang tadinya digenggam lama oleh Mama Kania. Darius mengusap-ngusapkan telapak tangannya yang tadi ia pakai untuk berjabat tangan dengan Mama Kania kepada jasnya tanpa sepengetahuan Mama Kania dan Pak Raihan yang tampak berdebat sambil berbisik-bisik.
Sungguh Darius saat ini sangat ingin mencuci tangannya dengan sabun sampai tujuh kali. Karena Darius memiliki OCD tinggi terhadap wanita. Ia memiliki trauma yang menimbulkan OCD terhadap sentuhan wanita.
Tuan Davindra hanya terkekeh melihat putranya yang tampak jijik dengan tangannya sendiri.
Tuan Davindra tampak celangak-celinguk menatap setiap juru didalam rumah dikediaman keluarga Kristian. Ia sedang mencari keberadaan cucunya yang saat ini masih tak terlihat.
"Ehem... Maaf Pak Raihan. Bisakah saya bertemu dengan Putra dan menantu Bapak. Saya ingin secepatnya menyelesaikan masalah ini dan melanjutkan kerja sama kita." Ujar Tuan Davindra berbasa-basi. Padahal dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah cucunya.
Pak Raihan dan Mama Kania yang sibuk denagn ribut-ributnya sambil berbisik-bisik itupun menatap Tuan Davindra dengan ekspresi konyolnya. Mereka lupa kalau saat ini mereka sedang ada tamu tapi mereka malah ribut-ribut sambil berbisik-bisik karena sikap ganjen Mama Kania.
Pak Raihan tampak menormalkan ekspresi wajahnya yang memerah karena malu dan menatap Tuan Davindra lagi dengan tatapan berwibawanya.
"Oh iya maafkan kami Tuan Davindra dan Tuan Darius. Tapi putra Kami Keynan sedang lembur dan tidak bisa dihubungi sementara menantu kami sedang bersiap-siap dikamarnya." Jawab Pak Raihan tak enak hati.
Tuan Davindra tampak tersenyum dan tidak mempermasalahkan akan hal itu karena ia hanya ingin bertemu cucunya.
"Tidak Masalah Pak Raihan. Asalkan kami bisa bertemu dengan menantu Bapak untuk meminta maaf atas tingkah Darius." Jawab Tuan Davindra sopan.
Tampak Darius tidak terima dengan ucapan Papanya. Ia mendengus kesal dan mengerutuki Keynan.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan panggilkan menantu saya dulu." Jawab Pak Raihan.
Pak Raihan memanggil Maya dan menyuruh Maya untuk memanggil Biola yang sedang bersiap-siap dikamarnya.
Tuan Davindra mengembangkan senyumannya karena tak sabar ingin bertemu dengan cucunya yang selalu ia rindukan.
Tok...tok...tok..
"Nyonya Muda! Tuan besar, Nyonta besar dan para tamu sudah menunggu Nyonya muda diruang tamu." Ucap Maya setelah mengetuk pintu kamar Biola sebanya tiga kali. Karena itu sopan santun sebagai pelayan dikediaman keluarga Kristian.
"Iya tunggu sebentar. Saya sebentar lagi akan turun." Jawab Biola dari dalam kamar. Ia sedang menyanggul rambut panjangnya dan memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan mulus tanpa noda sedikitpun.
Biola juga mengenakan dres berwarna putih dengan liontin hati malaikat yang menghiasi leher jenjang dan putih miliknya. Biola keluar kamarnya dengan terburu-buru dan membuat Maya yang melihatnya pun terpukau akan kecantikan Nyonya mudanya.
Tanpa Biola sadari kalau aksi dandannya yang memperlihatkan lekuk lehernya yang mulus itu akan membuat sang suami posesif ngambek. Entah apa yang akan Keynan lakukan saat ia melihat istrinya berpakain cantik dan memperlihatkan daerah kesukaannya saat bersama istrinya. Yang pasti Keynan akan mengamuk dan akan sangat marah jika sampai tahu.
Maya dan Biola pun turun kebawah menuju ruang tamu.
"Pa Ma." Sapa Biola saat sampai diruang tamu.
__ADS_1
Tampak Tuan Davindra dan Darius mengalihkan pandangan mereka keasal suara itu begitu juga dengan Mama Kania dan Pak Raihan. Tuan Davindra dan Darius menatap cucu dan keponakan mereka dengan mata yang membelalak. Karena Biola begitu mirip dengan almarhumah Viola Alexa, Ibu dari Biola yang telah tiada.
"Eh sayang, kamu sudah datang. Ayo sini duduk." Ujar Mama Kania sambil tersenyum menatap menantunya yang sangat cantik. Biola hanya mengangguk sambil tersenyum.