Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 141 END


__ADS_3

5 tahun pun berlalu dengan begitu cepatnya.


Kekuatan turun-temurun keluarga Alexa dan kekuatan dari liontin hati malaikatpun kini telah musnah. Keluarga Alexa, Keynan dan Biola kini telah hidup normal sejak ritual itu dilakukan.


Si kembar tiga pun kini telah berusia 5 tahun. Mereka telah banyak belajar banyak hal. Mulai dari merangkak, beceloteh dan mulai belajar melangkah.


Keynan dan Biola selalu ada disisi ketiga malaikat kecilnya dan menemani mereka tumbuh dan berkembang sampai saat ini.


Sifat ketiganya pun berbeda-beda. Kenan memiliki sifat yang dingin dan acuh seperti ibunya dulu. Tapi ia juga memiliki kehangatan dan jago berakting manja didepan Ibunya. Sehingga membuat sang Daddy sering kali cemburu karena Biola lebih menyayangi anak-anaknya. Terutama Kenan yang tampan dan selalu bersikap imut kepada Biola dan Omanya tapi tidak kepada orang lain.


Berbeda halnya dengan sifat Viola dan Violin yang sering terlihat sangat imut dan menggemaskan. Mereka cenderung mengusai sifat Daddy dan Mommynya dulu yang selalu bersikap polos dan imut. Namun Violin sering kali memiliki sifat keras kepala. Berbeda halnya dengan Viola yang selalu mengalah dan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Biola juga sudah melanjutkan kuliahnya di Inggris dan sudah meraih gelarnya beberapa tahun yang lalu. Sehingga ia bisa mencurahkan seluruh perhatiannya kepada sikembar tiga kesayangannya dan kesayangan semua orang keluarga Kristian dan keluarga Alexa.


Kini keluarga kecil itu sudah menempati kastil mereka yang telah Keynan bangun sejak ia masih remaja untuk keluarga kecilnya itu.


••••••••


"Mommy, Kenan petikin ini untuk Mommy. Mommy suka?" Tanya Kenan yang mulai mengaktifkan mode aktingnya yang pura-pura imut dan polos dihadapan Mommynya karena ia ingin membuat Daddynya cemburu.


Bagi Kenan membuat Daddy cemburu itu sangatlah mengasikan. Dan telah menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi pria kecil itu.


Biola tersnyum dengan harunya kepada putra kecilnya yang memberinya setangkai bunga mawar putih yang ia petik ditaman. Karena saat ini Keynan, Biola dan ketiga anaknya sedang piknik ditaman.


"Ohh... makasih sayang. Sini Mommy peluk." Ucap Biola dengan senangnya dan mengambil mawar itu dari tangan mungil putranya lalu menggendong putranya dipangkuannya.


"Sama-sama Mommy. Kenan kan sayang Mommy." Ucap Kenan sambil mencium pipi Mommynya dihadapan Keynan yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam sambil bermain dengan kedua putrinya.


"Mommy juga sayang Kenan."


Cup cup cup.


Biola mencium pipi Kenan bertubi-tubi dengan gemasnya dan Kenan hanya tertawa saat dicium Mommynya sehingga membuat Biola tambah gemas sendiri kepada putra kecilnya itu. Setelah itu Biola memeluk putra manjanya dengan erat karena gemas.


Kenan menatap Daddynya yang menatapnya dengan api kecemburuan yang membara. Kenan tersenyum devil kearah Daddynya dan menjulurkan lidahnya kearah Daddynya.


"Pria yang dicintai Mommy hanya Kenan seorang. Daddy gak dicintai Mommy." Ejek Kenan yang memainkan gerak bibirnya kearah Keynan.


Keynan mengepalkan telapak tangannya dengan erat karena kesal dengan putranya sendiri.


"Dasar anak tukang akting. Liat aja nanti kamu. Aku pukul bokongmu itu sampai memerah."  Balas Keynan yang juga menggerakan bibirnya kearah putra kecilnya yang baru berusia 5 tahun.


Kenan tersenyum devil dan mencium pipi Mommynya dengan sengaja dihadapan Keynan.


"Mommy miliku." Itulah kata yang tergambar dimata bulat Kenan yang sedang mengejek Daddynya sambil mencium pipi Mommynya dan bermanja-manja dipangkuan Mommynya.


"Dasar bocah tengik!" Gerutu Keynan dengan kesalnya.


"Bocah tengik itu apa Daddy?" Tanya Viola dan Violin bebarengan dengan wajah polosnya sambil menatap sang Daddy yang sedang marah-marah kepada putra kecilnya yang licik dan pintar.


Keynan menatap kedua putri kecilnya yang masih polos dengan cengegesan lalu ia mengusap kepala kedua putrinya dengan kedua telapak tangannya.


"Itu, tadi Daddy lihat ada anak kecil yang pakaiannya dekil dijalan. Jadi Daddy kepikiran karena kasihan." Ucap Keynan gugup sambil mencari-cari alasan.


Kedua putrinya yang masih polos itu tiba-tiba menitikan air matanya dan membuat Keynan kalang kabut. Karena Violin dan Viola tiba-tiba menangis dengan kencangnya.


"Loh... kalian kok malah nangis si? Jangan nangis dong sayangnya Daddy." Ucap Keynan yang berusaha menghibur kedua putrinya yang tiba-tiba menangis.


"Hiks... Daddy, anak kecil itu kasian banget. Daddy kenapa gak beliin dia pakaian yang bersih. Hua..... hiks...hiks... Daddy Jahat!" Violin menangis dengan kencangnya dan membuat Keynan tambah pusing.


"Hiks.... Iya Daddy, Daddy kok tega ninggalin anak itu sendirian. Hua.... Daddy jahat...hiks...hiks.." Balas Viola sambil menangis dan membuat Keynan jadi kalang kabut.


"Aduh kenapa jadi gini si. Yang satu kayak iblis dan yang duanya kayak malaikat yang terlalu baik tapi juga polosnya kelewatan. Aduh gimana ini. Kalian jangan nangis dong, nanti Mommy marah sama Daddy." Ucap Keynan kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat kedua putrinya menangis karena cerita bohong yang ia ceritakan.


"Keynan! Kamu apain anak-anak!" Bentak Biola sambil berlari kearah kedua putrinya yang menangis.


"Ah, itu sayang. Aku gak sengaja ceri...."


"Hiks... Mommy, masa Daddy tega lihat anak kecil yang pakaiannya kotor tapi Daddy gak bantuin dia. Hiks... Olin kan jadi sedih..." Adu Violin kepada Mommynya sambil menangis dan memotong ucapan Daddynya.


"Mommy, hiks... Ola mau sama Mommy aja. Hiks... Daddy jahat!" Lanjut Viola sambil memeluk Mommy.


"Loh... kok gitu si kalian." Keynan memasang wajah frustasinya saat kedua malaikat kecilnya malah membencinya dan memihak Mommynya.


"Daddy jahat!" Jawab kedua gadis kecil itu bersama-sama sambil memeluk Mommynya.


Kenan tersenyum penuh kemenangan dan menatap Daddynya dengan tatapan mengejek. Seolah-olah tatapan itu mengatakan bawa Mommynya dan kedua adik-adinya adalah miliknya dan dia adalah satu-satunya pria dihati Mommynya dan adik-adiknya.


"Ah, ini gara-gara bocah itu. Sebenarnya sifatnya itu turunan dari siapa si?" Pikir Keynan dengan wajah frustasinya.


"Keynan, kamu itu jadi Daddy kok gak memberi contoh yang baik sama anak-anak. Apa yang anak-anak katakan itu benar loh. Seharusnya kamu bantuin anak itu." Omel Biola kepada suaminya.


Keynan hanya bisa menunduk karena tidak bisa melawan istrinya tercinta. Ia juga tidak bisa menjelaskan kepada istrinya kalau dia sedang mengerutuki putra kesayangannya itu. Jika Keynan memberitahu istrinya, otomatis dialah yang akan dihabisi oleh istrinya. Sungguh Keynan merasa serba salah.


Disaat keluarga kecil itu sedang asik bertengkar-tengkar kecil yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi keluarga itu, tiba-tiba datanglah seorang pria paruh baya yang mendekati keluarga kecil itu.


Pria paruh baya itu menghentikan langkah kakinya dan menatap keluarga kecil itu dengan tatapan penuh harunya dan tasa bersalahnya dari jarak 3 meter.

__ADS_1


"Apakah aku pantas untuk menemui mereka?" Pikir pria paruh baya itu yang nampak sangat ragu-ragu untuk mendekati keluarga kecil itu.


Pria paruh baya itu tak lain adalah Pak Bayu. Pak Bayu dipaksa oleh Darius untuk menemui Biola karena ini saatnya Darius memberikan kejutannya kepada keponakannya.


Lagi pula Ayah dan anak itu sudah sangat merindukan satu sama lain. Tapi karena sikap penakut Pak Bayu menjadikannya terus menunda-nunda untuk menemui putrinya dan sering kali menyibukan diri bekerja dimarkas besar kelompok mafia Angel's heart untuk meredakan rasa rindunya kepada putrinya.


Pak Bayu sungguh sangat takut kalau putrinya itu tidak mau menerimanya saat ia menemuinya. Maka dari itu ia selalu ragu-ragu untuk menemui putrinya dan hanya bisa melindungi dan mengintai putrinya dan keluarganya dari kejauhan.


Pak Bayu dan Darius juga sudah baikan seiring berjalannya waktu. Darius juga mengangkat Pak Bayu kembali menjadi wakilnya bukan tangan kanannya lagi.


Darius maupun Tuan Davindra juga sudah melupakan kejadian dimasa lalu demi keponakannya dan cucunya yang sangat mereka sayangi melebihi diri mereka sendiri.


Darius yang melihat Pak Bayu yang hanya mematung ditempatnya dari kejauhan pun sudah mulai kesal. Ia mulai berjalan kearah Pak Bayu dan menarik tangan Pak Bayu secara paksa.


"Darius tunggu, aku belum siap!" Ucap Pak Bayu dengan nada tingginya namun tidak didengarkan oleh Darius.


Darius terus menarik tangan Pak Bayu lalu ia melemparkan tubuh Pak Bayu kearah keluarga kecil itu sehingga membuat Pak Bayu terjatuh dihadapan Biola, Keynan dan ketiga anaknya.


Keynan, Biola dan anak-anaknya nampak terkejut pada saat mereka melihat seorang pria paruh baya yang tampak terhuyung dan jatuh terduduk dihadapan mereka karena didorong oleh Darius.


Sementara Darius sudah lebih dulu pergi dari taman itu sebelun ketahuan oleh keponakan dan cucu-cucu manisnya. Ia lebih memilih memgawasi dan menonton dari kejauhan.


"Ini kesempatanmu, jadi pergunakanlah dengan baik." Ucap Darius didalam hati sambil pergi dari taman itu menuju mobilnya.


Violin dan Viola pun langsung terhenti dari tangisannya dan melepaskan pelukannya dari Mommynya. Kedua gadis mungil itu mendekati Pak Bayu yang terduduk dihadapan mereka.


"Kakek, Kakek tidak apa-apa?" Tanya Viola sambil menatap pria paruh baya yang terduduk ditanah sambil menundukan kepalanya karena ia sangat malu untuk menemui putri dan cucu-cucunya.


"Ola, ayo kita bantuin Kakek ini." Ujar Violin kepala Viola.


"Oh iya, Sini Kek, pegang tangan Olin sama Ola." Ucap Viola dengan polosnya.


Kedua gadis kecil itu pun mengulurkan kedua tangan mungilnya kearah Pak Bayu untuk membantu Pak Bayu berdiri.


"Cucu-cucuku yang baik hati. Mereka sama persis seperti Biola pada saat Biola masih kecil." Ucap Pak Bayu didalam hati dengan begitu harunya.


Pak Bayu menitikan air matanya ketika mendengar ucapan kedua cucu perempuannya yang sangat polos.


Keynan dan Biola terharu saat melihat sikap baik hati kedua putrinya. Sementara Kenan malah menatap penuh waspada kearah orang asing yang ada dihadapannya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada kedua adiknya yang manis dan polos itu. Ia takut orang asing itu adalah penculik jadi dia hanya bisa mengawasi dari kejauhan. Dan akan menyelamatkan kedua adiknya saat dalam bahaya.


"Sini Kek, pegang tangan Olin sama Ola." Ucap Viola lagi yang masih mengulurkan tangan mungilnya kearah Pak Bayu begitu juga Violin.


Pak Bayu benar-benar sangat terharu dengan ucapan kedua cucu perempuannya yang masih polos.


Pak Bayu menerima uluran tangan dari kedua tangan mungil cucu perempuannya.


"Ma...makasih. hiks...hiks..." Pak Bayu pun tak bisa menahan isak tangisnya karena sangat terharu dengan tindakan kedua cucunya.


Pak Bayu juga masih menundukan wajahnya sehingga baik Keynan maupun Biola masih tidak bisa mengenalinya. Mereka juga sangat heran saat melihat pria paruh baya itu menangis.


"Ayo Olin lebih kuat lagi!" Teriak Viola kepada kembarannya sambil menarik tubuh Pak Bayu dengan susah payahnya.


"Iya Ola, lebih kuat lagi! Kenan bantu kami!" Balas Violin yang sudah mengeluarkan semua tenaga kecilnya itu sambil meminta bantuan kepada Kenan yang anteng mengawasi kedua adik manisnya.


Kenan bedecak tak suka saat kembarannya memanggilnya Kenan bukan Kakak.


"Sudah ku bilang panggil aku Kakak." Balas Keynan dengan tampang acuhnya sambil melipat kedua tangannya didada.


"Kita kan lahirnya barengan. Jadi gak ada Kakak adik disini." Ujar Violin sambil berusaha menari tangan Pak Bayu.


"Tapi tetep aja kita beda beberapa detik." Gerutu Kenan yang mulai kesal karena tidak dipanggil Kakak.


"Baiklah Kakak ganteng, Kakak bantuin Ola sama Olin dong." Jawab Viola yang selalu menjadi penengah pertengkaran antar Violin dan Kenan yang kadang-kadang sering tidak akur.


"Itu baru adik Kakak yang baik." Ujar Kenan sambil membantu kedua adik kecilnya dengan senang hati.


Setelah beberapa saat baik Kenan, Viola dan Violin pun tidak bisa mengangkat Pak Bayu.


Keynan dan Biola terkekeh saat melihat usaha ketiga buah hatinya yang ingin membantu pria paruh baya yang terjatuh itu.


Pak Bayu sungguh tidak bisa berdiri saking bahagianya melihat usaha cucunya untuk membantunya sehingga membuat kakinya tiba-tiba menjadi lemas dan tidak bertenaga saking terharu dan bahagianya.


"Sini, Mommy dan Daddy bantuin." Ujar Biola sambil membantu pria paruh baya itu berdiri bersama Keynan.


Pak Bayu sungguh merasa bahagia saat putrinya dan cucuknya juga menantunya yang membantu dia untuk berdiri.


Kaki Pak Bayu bergetar karena saking bahagianya ia saat ini. Ia juga masih menyembunyikan wajahnya dengan menunduk karena takut melihat reaksi putrinya saat ini.


"Bapak tidak apa-apa? Apa Bapak bisa berjalan? Apa perlu kita antar kerumah sakit?" Tanya Biola dengan khawatirnya saat melihat pria paruh baya itu berdiri dengan kaki bergetar.


Pak Bayu menggeleng sambil meneteskan air matanya yang menetes karena kebahagiaan dan rasa haru yang bercampur.


"Kakek, Kakek kenapa nangis? Sini Ola peluk. Mommy juga sering meluk Ola dan Olin saat Ola dan Olin nangis." Ucap Viola sambil merentangkan kedua tangan mungilnya kearah Pak Bayu.


"Iya, Olin juga akan meluk Kakek. Jadi Kakek jangan nangis lagi." Balas Violin yang juga merentangkan kedua tanganya seperti Viola.


Pak Bayus benar-benar terharu akan sikap kedua cucu perempuannya. Pak Bayu berjongkok dan memeluk Viola dan Violin bersamaan.

__ADS_1


"Maafkan Kakek, maafkan Kakek. Kakek terlalu pengecut untuk menemui kalian. Terima kasih karena kalian telah mau membantu Kakek yang pengecut ini. Hiks...hiks..." ucap Pak Bayu sambil menangis dipelukan kedua cucu perempuannya.


Biola dan Keynan sangat terkejut pada saat melihat pria paruh baya itu mendonggakan kepalanya disaat ia memeluk Viola dan Violin.


"A....Ayah..." Biola menutup mulutnya saking terkejutnya. Air matanya mengalir begitu saja saat melihat sang Ayah yang selalu ia rindukan ada dihadapannya.


Dulu dia pernah membenci sikap Ayahnya, tapi lambat laun ia memang tidak pernah bisa membenci Ayahnya. Ia sudah lama memaafkan Ayahnya karena sejak dulu ia tidak pernah bisa membenci super heronya yang dulu selalu melindunginya. Ia sangat merindukan super heronya sejak lama.


Meski pada saat itu ia pernah berkata tidak ingin menemui Ayahnya lagi tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri yang sangat merindukan Ayahnya seiring berjalannya waktu.


Pak Bayu menatap putrinya saat ia mendengar kata Ayah yang keluar dari mulut putrinya. Ia menatap Biola dengan tatapan penuh harunya. Air matanya tidak bisa berhenti menetes saat melihat keluarga kecil putrinya terutama pada saat ia melihat Biola.


Keynan menatap Ayah mertuanya dengan tatapan tak percayanya. Tapi setelah itu ia tersenyum karena inilah yang sangat istrinya nantikan sedari dulu.


Pak Bayu melepaskan pelukannya dari kedua cucu perempuannya. Ia berdiri dihadapan Biola sambil menundukan kepanya karena meras malu bertemu putrinya.


"Ma...maafkan Ayah. Ayah udah banyak salah kepada kamu. Ayah benar-benar berdosa kepadamu Biola. Maaflan Ayah." Ucap Pak Bayu dengan air mata yang menetes dari matanya yang sudah basah sedari tadi.


Grepp....


Tanpa menjawab apapun, Biola langsung memeluk sesosok seorang Ayah yang selalu ia rindukan selama ini. Pak Bayu pun mematung karena kaget dengan tindakan putrinya.


"Hiks... Ayah kemana aja selama ini. Ayah tau gak kalau Biola mengkhawatirkan Ayah. Biola selalu kepikiran Ayah. Biola takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Ayah. Biola juga sangat merindukan Ayah. Hiks... Biola kangen Ayah." Biola mengeluarkan semua beban yang ada didalam hatinya selama ini kepada Ayahnya sambil menangis.


Pak Bayu tertegun saat mendengar perkataan putrinya. Pak Bayu membalas pelukan putrinya sambil menangis.


"Hiks... maafkan Ayah, Ayah yang salah." Ucap Pak Bayu sambil terisak dipelukan putrinya.


Viola dan Violin yang melihatnya pun langsung ikut menangis. Mereka tidak tega melihat Mommynya menangis. Mereka selama ini tidak pernah melihat Mommynya menangis jadi pada saat mereka melihat Mommynya menangis, merekapun pun ikut-ikutan menangis.


Kalau Kenan hanya terdiam sambil menatap Kakeknya dan Mommynya. Sepertinya hanya Kenan lah yang mengerti kalau yang dipeluk Mommynya itu adalah Kakek dari Mommynya, karena IQ kenan memang sangat tinggi. Berbeda dari kedua kembaran yang lainnya.


"Huaaa..... Mommy kenapa nangis. Olin kan jadi sedih... hiks... hiks..."


"Huaaaa.... Ola juga sedih. Mommy jangan nangis. Hiks.... hiks..."


Viola dan Violin pun ikut-ikutan menangis. Keynan tersenyum saat menatap kedua putrinya yang sangat baik hati itu.


Biola dan Pak Bayu pun melepaskan pelukannya saat mendengar Viola dan Violin menangis.


"Mommy gak nangis kok sayang. Lihat, Mommy gak nangis kan." Ucap Biola sambil menghapus air matanya.


"Mommy bohong! Mommy tadi nangis. Hiks...." Ujar Violin yang diangguki oleh Viola.


Biola memeluk kedua putrinya dan menangis dipelukan putrinya.


"Huaaa... tuhkan Mommy nangis." Tangis Viola sambil memeluk Mommynya erat.


"Mommy bohong! Mommy nangis." Lanjut Violin.


Biola tersenyum dan melepaskan pelukannya dari kedua putrinya yang sangat polos itu.


"Sini, Mommy kenalin kalian sama Kakek dari Mommy." Ucap Biola yang membuat kedua putrinya terdiam sambil sesenggukan.


Pak Bayu tersenyum karena merasa gemas kepada kedua cucunya.


"Jadi apakah aku sudah dimaafkan?" Pikir Pak Bayu yang merasa heran dengan sikap putrinya.


"Kakek?" Tanya Violin dan Viola kebingungan.


"Iya, sini Mommy kenalin." Lanjut Biola sambil tersenyum.


Tapi tiba-tiba Biola dikagetkan oleh putra mungilnya yang tiba-tiba mendekati Ayahnya dan mengulurkan tangan mungilnya kearah Pak Bayu seperti pria dewasa.


"Hallo Kakek, perkenalkan namaku Kenan Alexa Kristian, aku adalah Kakak dari Violin dan Viola. Senang bisa bertemu Kakek." Ujar Kenan yang tampak ucapannya itu seperti orang dewasa sambil mengulurkan tangan mungilnya kearah Pak Bayu yang membuat siapa saja gemas melihatnya.


Pak Bayu menatap tangan mungil cucunya yang minta dijabat oleh Pak Bayu.


Pak Bayu terkekeh saat melihat tingkah cucu laki-lakinya yang tampak dewasa diusianya saat ini. Ia memeluk cucu laki-lakinya sehingga membuat Kenan terkejut.


"Aku Kakekmu, maafkan Kakek karena Kakek baru bisa menemui kalian sekarang." Ucap Pak bayu sambil terisak.


Kenan membalas pelukan Kakeknya denaan air mata yang menggeng.


"Kakek jangan nangis mulu. Nanti Ken ikut-ikutan nangis kayak Kakek. Kan gak lucu kalau laki-laki nangis." Ucap Kenan yang dibalas kekehan oleh semua orang.


"Ih... Kenan kamu curang. Olin juga mau peluk Kakek." Ujar Violin ngambek sambil berlari dan memeluk Kakeknya.


"Ola juga mau peluk Kakek." Lanjut Viola yang juga berlari memeluk Pak Bayu.


"Panggil aku Kakak!" Tegas Kenan kepada Violin.


"Gak! Kita lahirnya barengan." Tolak Violin.


Sementara Viola malah memeluk Kakeknya dan malah mengajak ngobrol Kakeknya. ia bahkan bertanya banyak hal kepada Kakeknya dan mengabaikan pertengkaran kembarannya.


Keynan dan Biola tertawa saat melihat tingkah ketiga putra putrinya yang selalu menjadi penghibur didalam keluarga kecilnya.

__ADS_1


___________________


END


__ADS_2