Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 66


__ADS_3

"BIOLAAAA......." Teriak Sinta kegirangan saat melihat Biola masuk kampus.


Sinta berlari kearah Biola dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Biola.


Tapi sebelum Sinta memeluk Biola, tangan kanan Biola sudah lebih dulu menahan wajahnya Sinta agar Sinta tidak memeluknya.


"Lebay." Ucap Biola sambil melepaskan tangan kanannya dari wajah Sinta.


"Is gue kan seneng lihat sahabat baik gue masuk kampus lagi setelah izin beberapa hari. Emang lo kemana aja beberapa hari ini? Apa lo bulan madu sama laki lo?" Tanya Sinta dengan penuh semangat.


Sinta sebenarnya masih belum mengetahui keadaan keluarga Anggara dan kejadian yang menimpa Biola dan Keynan dikediaman keluarga Anggara.


Dan karena kejadian itu pula Keynan mengurung istrinya didalam rumah karena takut terjadi sesuatu kepada istrinya. Mengingat Mama Mirna, Mona dan Ayah kandung Mona yang seorang pesikopat itu masih belum tertangkap.


Tapi karena ini adalah hari terakhir Biola dan Keynan berada di Indonesia maka Biola merengek-rengek kepada suaminya untuk mengizinkan dia berpamitan kepada sahabat baiknya. Walau ketika mereka bertemu Biola selalu saja memasang tampang dingin dan cueknya tapi jauh didalam hati Biola, Biola sangat memperdulikan sahabat baiknya.


Dengan berat hati Keynan mengizinkan istrinya itu pergi ke kampus. Tapi dengan satu syarat kalau Biola harus di temani oleh Devin dan anak Buahnya karena Keynan masih mengkhawatirkan istrinya. Ditambah dia tidak bisa menemani istrinya mengingat ada banyaknya urusan perusahaan yang harus dia urus.


"Abis beresihin hama." Jawab Biola singkat.


Sinta sedikit mengerutkan dahinya untuk mencerna ucapan Biola.


"Abis beresihin hama? Bolehkah aku menganggap Biola sedang bercanda. Tapi pada saat gue nganggep dia lagi bercanda justru dia ngomong serius. Lagian patung es kayak Biola gak mungkin bisa bercanda. Jadi Biola bener-bener abis beresihin hama? Tapi hama apa?" Pikir Sinta yang mengagap serius ucapan Biola karena tidak ingin mengulangi kejadian tempo hari dimana Sinta menganggap Biola bercanda tapi malah ngomong serus.


Dan sejak kejadian itu Sinta jadi sadar kalau teman patung es nya itu tidak akan pernah bisa bercanda dengannya dan tidak akan pernah mungkin. Walau sekarang Biola terlihat berubah tapi Sinta sangat yakin kalau sahabat patung es nya itu tak mungkin bisa bercanda.


"Beresihin hama? Emang lo sama laki lo ganti profesi jadi petani? Atau lo sama laki lo abis liburan dari perkebunan." Tanya Sinta dengan seriusnya.


"Mungkin, soalnya kita abis beresihin ulat keket dari rumah Ayah gue." Jawab Biola acuh sambil menatap Sinta dengan malas.


Sinta memiringkan kepalanya untuk berusaha mencerna ucapan sahabat patung es nya.


"Lah kok gue ngerasa di bodohin ya? Tapi kalau nganggep Biola bercanda lagi itu gak mungkin. Ya kali patung es bercanda." Fikir Sinta sambil terkekeh.


"Maksud lo, lo habis berkebun dirumah Ayah lo sama laki lo. Terus lo beresihin ulat keket dikebun yang ada di rumah Ayah lo gitu?" Tebak Sinta yang membenarkan ucapan Biola.


Biola menepuk bahu Sinta dengan pelan sambil menatap Sinta lalu memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sin, IQ lo turun ya setelah gue pindah dari asrama?" Tanya Biola dengan tampang tanpa ekspresi sehingga membuat Sinta panik karena menganggap ucapan Biola serius.


"Uwahhhhh.... jangan bilang lo dapet ramalan kalau IQ gue bakalan turun dan gue bakalan jadi bodoh???!!!" Tebak Sinta dengan paniknya karena terus-menerus mengagap ucapan Biola serius.


Biola mengerutkan keningnya sambil menepuk jidadnya saat melihat tingkah bodoh sahabatnya.


"Bodoh..!" Ucap seorang laki-laki yang ada dibelakang tubuh Biola sambil menyenderkan tubuhnya ketembok dan menyilangkan tangannya.


Sinta yang mendengar suara seorang laki-laki di belakang tubuh sahabatnya pun langsung melihat kearah suara itu.


"Heh... siapa yang lo sebut bodoh? Lo tuh yang bodoh seluruh keluarga lo bodoh." Teriak Sinta kepada laki-laki yang ada dibelakang Biola.


Laki-laki yang ada dibelakang Biola itu tidak menghiraukan ucapan Sinta. Dia malah fokus kepada layar ponselnya sambil mengawasi Biola. Laki-laki itu adalah Devin yang disuruh Keynan untuk menjaga dan mengawasi Biola.


"Sini lo! Gue tampol lo baru tahu rasa. Lo harus tahu aja kalau Ayah gue tuh seorang guru karate dan gue sekarang telah memegang sabuk hitam. Kalau berani sini lo, kita duel." Tantang Sinta yang mulai tersulut emosi.


"Oh sabuk hitam." Jawab Devin acuh dan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Gue hajar juga lo!" Kesal Sinta sambil mendekati Devin tapi dengan sigapnya Biola menarik dan menahan tubuh Sinta dengan menarik kerah leher baju belakang sinta seperti mengangkat kucing.


"Is Bi, lo apa-apaan si. Gue mau hajar tu cowok resek." Gerutu Sinta kepada Biola.


"Udah lo ikut gue aja." Ajak Biola sambil menarik tangan Sinta.


"Ikut kemana si Bi, bukannya lo ada kelas pagi ya? Dan lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi." Tanya Sinta heran.


"Gue bercanda Sinta, gue gak dapet ramalan apa-apa kok. Lagian gue udah lama gak dapet ramalan gue. Kalau pun dapet ramalan pasti itu dadakan. Gue juga heran sama kemampuan gue saat ini. Udahlah lo ikut aja sama gue. Kalau bisa lo gak usah masuk kampus untuk hari ini." Jawab Biola sambil menarik tangan Sinta.

__ADS_1


Sementara Sinta hanya bisa mematung mendengar penuturan sahabat baiknya yang tak pernah dan tidak berani lagi ia pikirkan.


"Bercanda dia bilang, gue gak salah dengar kan? Jadi dia benar-benar becanda." Pikir Sinta didalam hati dengan kagetnya mendengar penuturan dari sahabat baiknya.


Sementara Devin hanya bisa menatap kedua wanita yang ada dihadapannya dengan heran. Bagai mana tidak heran? ia baru saja mendengar tentang kemampuan meramal masa depan yang dimiliki oleh Kakak Iparnya yang menurut dia mustahil dan tidak mungkin.


Devin pun tak ambil pusing. Dia tidak mempercayai hal-hal itu meski dia tahu kalau Keynan dulu pernah memiliki kemampuan melihat mahluk astral tapi menurut Devin apa yang di bicarakan Sinta dan Biola itu hanyalah omong kosong.


Devin percaya dengan kemampuan Keynan karena dia pernah melihatnya dengan langsung dari Keynan dulu tapi untuk kemampuan melihat masa depan, Devin kurang percaya. Dan dia pikir itu mustahil karena hanya Tuhanlah yang bisa melihat masa depan. Itulah yang saat ini Devin pikirkan sambil membuntuti kedua perempuan yang ada dihadapannya.


Sinta dan Biola memasuki sebuah mobil mewah berwarna putih yang didalamnya sangat luas dan terlihat sangat mewah.


Sinta sangat mengagumi kemewahan mobil itu yang terasa sangat nyaman. Sinta tak habis-habisnya menatap sekeliling mobil itu hingga dia sadar kalau Devin juga ikut masuk kedalam mobil mewah itu dan duduk di samping supir.


"Heh!! Lo ngapain masuk kedalam mobil ini? Keluar lo!" Usir Sinta kepada Devin yang lagi-lagi diacuhkan oleh Devin.


Devin malah memberi intruksi kepada Supir untuk menjalankan mobil itu dan Supir pun menjalankan mobil itu sesuai intruksi dari Devin.


"Untung lo sahabat Kakak Ipar gue. Kalau gak, lo udah gue habisin." Kesal Devin sambil berucap didalam hati.


"Bi, lo usir dia dong. Dia seenaknya masuk mobil lo. Dan nyuruh Supir lo untuk jalanin mobil lo. Emang dia itu siapa? Dari tadi ngintilin lo mulu." Tanya Sinta kepada Biola.


"Dia Adik Ipar gue yang disuruh Keynan untuk ngintilin gue." Jawab Biola santai.


"Hah Adik Ipar lo? Bukannya laki lo itu anak tunggal?" Tanya Sinta heran.


"Dia anak dari adiknya Mama." Jawab Biola


"Ohhh..... pantes aja nyebelin. Laki lo juga dulu semenyebalkan dia. Bahkan gue pikir laki lo gila." Balas Sinta yang masih mengingat awal pertemuannya dengan Keynan sambil menyindir Devin.


"Ehemm...." Deheman Devin yang merasakan kalau telinganya panas dibicarakan oleh Sinta.


"Siallan ni cewek! Jadi pengen nabok tuh mulutnya." Kesal Devin didalam hati sambil berusaha mengendalikan amarahnya.


"Sin, laki gue masih waras, dia gak gila." Ucap Biola kesal karena suaminya selalu disebut gila oleh sahabatnya.


"Rasain lo." Ucap Devin didalam hati sambil tersenyum merasakan kemenangan karena Kakak Ipar nya memarahi Sinta.


"Yah... walau gue ngerasa Keynan itu agak aneh dan sering melakukan hal-hal diluar nalar yang selalu membuat gue kesel." Lanjut Biola yang membuat Sinta senang dan membuat Devin cemberut.


"Emang bener kata orang kalau sesuatu yang manis itu hanya sebentar." Gerutu Devin didalam hati sambil menatap kearah jalan yang ada dihadapannya.


"Tapi Bi, kita mau kemana? Kenapa gue ngerasa familiar dengan jalanan ini?" Tanya Sinta sambil menatap keluar jendela mobil.


"Sin, lo udah berapa tahun gak balik ke rumah?" Tanya Biola sambil menatap Sinta sinta malas.


"Lah kenapa lo nanya gue balik? Lagian pertanyaan lo aneh banget. Bukannya lo tahu setiap akhir pekan gue balik ke rumah. Emangnya gue elo yang gak balik-balik. Ups... maaf." Balas Sinta samil menutup mulutnya karena telah menyinggung masalalu Biola.


"Kalau lo balik setiap akhir pekan lalu kenapa lo sampai lupa dengan jalan ini." Ucap Biola sambil memandang jalanan.


Sinta tampak mencerna ucapan Biola lalu dia baru menyadari ucapan Biola yang mengajaknya kerumanya sendiri.


"Lo mau kerumah gue?" Tanya Sinta yang diangguki oleh Biola.


"Ngapain?" Tanya Sinta lagi.


"Nanti lo juga tau." Jawab Biola.


Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam akhirnya mereka sampai didepan sebuah gerbang yang sangat tinggi dengan tembok tinggi yang mengelilingi tempat itu.


Devin sedikit memicingkan alisnya karena merasa aneh dengan tujuan Biola.


"Tadi katanya mau kerumah cewek cerewet itu tapi kenapa gue ngerasa kayak mau masuk penjara ya?" Fikir Devin sambil melihat gerbang dan tembok yang tinggi dihadapannya.


Tak berapa lama dua orang anak muda yang memakai seragam karate membukakan gerbang untuk Biola dan Sinta.

__ADS_1


Mobil mewah itu memasuki pekarangan yang sangat luas dengan dipenuhi oleh peralatan latihan untuk karate.


Disana juga terdapat banyak anak muda yang sedang berlatih karate. Meski pekarangan rumah itu sangat luas tapi disana hanya terdapat dua rumah sederhana dan selebihnya pekarangan rumah itu dipakai untuk latihan karate. Lalu satu rumah sederhana itu diyakini sebagai tempat untuk mengajar karate. Dan rumah satunya lagi adalah rumah Sinta.


"Ini sebenarnya kita mau kerumah cewek cerewet ini apa mau kepadepokan si." Gerutu Devin didalam hati sambil melirik sekitar anak-anak muda yang sedang fokus berlatih.


Mobil mewah itu pun terparkir dibawah pohon rindang didepan sebuah rumah yang terbuat dari kayu tapi lumayan besar dengan arsitektur bernuansakan klasik.


"Sudah lama ya gak kesini." Ucap Biola sambil menghirup udara segar disekitar pekarangan rumah Sinta yang luas.


"Yuk kita kedalam! Bunda pasti seneng lihat lo." Ajak Sinta sambil menarik tangan Biola.


Tapi tiba-tiba Sinta memberhentikan langkahnya saat merasakan ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang.


"Heh! Lo mau kemana?! Lo tunggu aja diluar." Ucap Sinta dengan sinisnya saat melihat Devin mengikuti mereka.


"Eh, Sinta! kamu jangan begitu sama tamu. Ayo semuanya masuk." Omel seorang Ibu-Ibu yang tak lain adalah Ibu nya Sinta.


"Iya Bun." Jawab Sinta sambil mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam kearah Devin yang sedang tersenyum merasakan kemenangan.


"Awas lo!" Gumam Sinta sambil menatap tajam kearah Devin.


Devin pun membalas tatapan tajam Sinta dengan senyuman sinisnya yang membuat Sinta tambah emosi.


Merekapun masuk kedalam rumah sederhana itu tak lupa Biola mengeluarkan sebuah bingkisan dari bagasi mobilnya.


"Ini Tante," Biola menyodorkan sekeranjang buah-buahan kepada Ibunya Sinta yang disambut oleh Ibunya Sinta dengan senyuman.


"Owalah pake bawa buah-buahan segala jadi ngerepotin. Tapi makasih loh buahnya." Ucap Ibunya Sinta sambil tersenyum.


"Tidak kok Tan, Bio gak direpotin." Jawab Biola ramah sambil tersenyum.


Ibunya Biola sedikit terkejut pada saat melihat senyuman Biola. Pasalnya Biola yang dia kenal dulu merupakan seorang gadis dingin dan cuek yang tidak pernah tersenyum.


Tapi tak lama kemudian Ibunya Sinta malah tersenyum membalas senyuman manis Biola yang mampu menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya.


"Sepertinya waktu telah banyak merubah keadaan. Aku senang melihat senyuman manis dari gadis itu yang jarang sekali atau tidak pernah terlihat dari bibir manis gadis itu." Gumam Ibunya Sinta yang bernama Bunda Ratih sambil tersenyum membalas senyuman Biola.


Bunda Ratih pun berlalu kedapur menyiapkan minuman dan cemilan untuk para tamunya.


"Eh Bi, lo belum jawab pertanyaan gue. Lo mau ngapain ngajak gue pulang?" Tanya Sinta mengulangi pertanyaannya yang tadi didalam mobil.


"Nanti gue ngomong." Balas Biola sambil menikmati suasana rumah Sinta yang tampak nyaman.


"Nan... ..... ...." Ucapan Sinta terpotong oleh omelan seorang peria paruh baya yang tiba-tiba datang.


"Ngapain kamu ke sini Sinta! Bukannya sekarang kamu seharusnya masih ada jam kuliah." Omel Pak Sinan kepada Putrinya.


"Ayah anaknya datang tuh bukannya disambut atau dipeluk ini mah malah di olein." Gerutu Sinta kepada Ayahnya.


"Ya pasti kalau kamu pulangnya hari libur. Nah ini kamu pulang bukan dihari libur. Kamu boloskan dari kuliahmu." Selidik Pak Sinan kepad Putrinya yang membuat Sinta salah tingkah karena ketahuan.


Biola menatap Devin untuk membantu Sinta menjelaskan. Dengan berat hati Devin bangun dari duduknya dan membantu Sinta menjelaskan kepada Ayahnya Sinta atas permintaan Kakak Iparnya.


"Huh... heran deh gue sama pasangan Suami beruang kutub sama istrinya yang patung es ini, sering banget nyuruh-nyuruh gue." Gurut Devin sambil berdiri dari duduknya.


"Maaf Pak, perkenalkan nama saya Devin. Saya adalah Adik Iparnya Biola." Ucap Devin memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


"Siapa laki-laki ini? Kenapa Sinta Bisa bawa laki-laki kerumah. Terus tadi dia bilang Adik Iparnya Biola? Emang nak Bio udah nikah?" Fikir Pak Sinan.


Pak Sinan menerima uluran tangan Devin sambil menilai penampilan Devin dari atas kebawah seperti seorang Ayah yang menilai penampilam seorang pria yang ingin melamar putrinya.


"Set dah, kenapa gue ngerasa sedang berhadaapan dengan calon mertua yang anaknya mau gue lamar. Padahal gak bakalan gue mau sama anakmu yang cerewet plus ngeselin itu Pak." Ucap Devin didalam hati sambil tersenyum kearah Pak Sinan.


____________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guys 😘


__ADS_2