
Setelah beberapa jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung, Biola dan Keynan akhirnya telah sampai saat malam hari ke Vila tempat masa kecil Keynan di Bandung.
Karena mereka perlu melewati drama Mama Kania yang masih tidak ingin berpisah dari menantu kesayangannya. Hingga mau tak mau Keynan dan Biola pun harus kesiangan untuk pergi ke Bandung.
Setibanya di Vila, Keynan dan Biola disambut dengan ramahnya oleh para pelayan di Vila.
"Selamat datang Tuan Muda dan Nyonya Muda." Sambut semua pelayan kepada Keynan dan Biola yang baru masuk kedalam vila.
Biola menyambut sapaan ramah dari para pelayan itu dengan senyuman manis. Karena ada beberapa pelayan yang dulunya adalah pengasuh dari suaminya, yaitu Bi Aidah.
Tampak semua pelayan sangat terkejut pada saat mereka mendengar Biola menyambut sapaan ramannya dengan senyuman manisnya. Karena kesan pertama Biola saat berkunjung ke vila terakhir kali itu sangat berbeda dengan Biola yang saat ini. Biola yang dulu tampak dingin dan tidak seramah saat ini kepada mereka.
Biola dan Keynan mulai memasuki kamarnya diikuti oleh Kang Salim dan Mang Aslan. Kang Salim dan Mang Aslan membawakan koper milik Biola dan Keynan kedalam kamar Keynan dan Biola.
"Kopernya taruh saja disana! Setelah itu kalian boleh pergi. Biar nanti saya panggil Teh Sarah untuk membereskan pakaian saya dan istri saya." Ucap Keynan kepada Mang Aslan dan Kang Salim sambil menunjuk kedekat lemari pakain yang ada dikamarnya.
"Baik Tuan Muda!" Jawab Kang Salim dan Mang Aslan berbarengan.
Setelah selesai meletakan koper milik Keynan dan Biola, Kang Salim dan Mang Aslan pun berpamitan kepada Keynan dan Biola. Lalu mereka pun keluar kamar Biola dan Keynan.
Biola tampak tersenyum kepada Mang Aslan dan Kang Salim saat Kang Salim dan Mang Aslan berpamitan kepadanya dan Keynan.
Sontak saja sikap Biola membuat Kang Salim dan Mang Aslan terkejut. Karena sejak terakhir kali mereka bertemu dengan Nyonya Mudanya, Biola tampak sangat dingin dan jarang berkomunikasi kepada para pelayan di vila itu.
"Para pelayan di Vila ini baik-baik ya Key? Mereka pada sopan-sopan dan sangat ramah. Mereka juga gak canggung-canggung saat mengobrol dengan kita. Gak seperti pelayan yang ada dikediaman keluarga Kristian. Mereka hanya menuruti perintah dan jarang berkominikasi dengan kita kalau kita gak ngajak mereka berkomunikasi. Yah... kecuali Maya doang si." Ucap Biola saat Mang Aslan dan Kang Salim keluar dari kamarnya.
Keynan tampak tersenyum dan mengelus kepada Biola dengan gemas. Keynan duduk disamping istrinya yang sedang duduk dikasur empuk mereka.
"Karena hampir semua pelayan disini memiliki sifat kekeluargaan yang hangat. Ditambah di Vila ini gak ada peraturan yang diharuskan seperti dikediaman keluarga Kristian. Aku juga udah kenal sama mereka sejak aku kecil. Sehingga membuat semua pelayan yang ada disini tidak canggung lagi dengan keberadaanku. Mereka itu seperti sebuah keluarga yang hangat bagiku. Karena mereka selalu menemani aku saat aku masih kecil." Tutur Keynan sambil tersenyum kepada istrinya.
"Oh pantesan aku merasa nyaman saat bersama dengan mereka. Yah walau sikapku dulu kepada mereka kurang sopan si." Jawab Biola yang mengingat sikap dinginnya kepada para pelayan yang ada di Vila itu saat berkunjung terakhir kali bersama Keynan.
"Udah jangan dipikirkan. Mereka gak akan masukin kedalam hati kok. Lambat laun mereka juga akan mengerti dengan sifat aslimu." Balas Keynan.
"Yah... semoga aja begitu." Jawab Biola sambil bersandar dibahu suaminya dan disambut elusan kepala oleh Keynan.
"Oh iya, aku belum mandi. Aku mandi duluan ya Key. Badanku udah lengket-lengket." Ucap Biola tiba-tiba sambil betdiri dari duduknya karena merasaka lengket-lengket diseluruh badannya karena keringat.
Keynan yang mendengarnya pun hanya menyeringai dan mendekati istrinya sambil berbisik ditelinga istrinya.
"Aku temenin kamu mandinya sayang. Sekalian kasih kamu service pijatan agar tubuhmu bisa relax." Bisik Keynan yang mulai mau menggoda istrinya.
"Gak ah, nanti mandinya kelamaan. Kasian anak kamu kelaperan kalau mandinya kelamaan." Jawab Biola yang mampu membuat Keynan bungkam kalau bersangkutan dengan anak yang ada didalam kandungan istrnya.
"Is kamu ganggu aja nak." Gumam Keynan sambil menatap nanar kearah perut buncit istrinya.
Biola yang mendengarkan gumaman Keynan pun hanya bisa terkekeh sambil berjalan kearah kamar mandi. Sungguh dengan kehamilannya, Biola jadi tahu kelemahan dari suami tercintanya. Sehingga dengan mudahnya Biola bisa menolak rayuan maut dari suaminya.
Keynan yang kesal karena tidak bisa mengambil kesempatan didalam kesempitan dari istrinya pun pada akhirnya hanya bisa mengambil laptopnya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya yang menumpuk. Keynan duduk diatas kasur sambil memangku bantal setelah itu ia letakan laptopnya diatas bantal yang ia pangku.
Keynan tampak fokus mengerjakan pekerjaan kantornya didalam laptonya sambil menunggu istrinya selesai mandi. Tapi tiba-tiba saja ponsel istrinya berbunyi.
Keynan tampak mengedarkan pandangnya untuk mencari asal suara dari ponsel itu yang ternyata berasal dari dalam tas istrinya.
__ADS_1
"Sayang ponselmu bunyi!" Teriak Keynan sambil menghentikan kegiatan mengetiknya dilaptopnya.
"Kamu angkat aja Key. Siapa tau penting!" Jawab Biola dari dalam kamar mandi sambil berteriak.
Keynan pun meletakan laptopnya diatas kasur bersamaan dengan bantal yang ia pangku. Ia berjalan kearah meja rias tempat istrinya meletakan tas nya.
Keynan membuka tas istrinya lalu mengambil ponsel istrinya dari dalam tas itu. Ia melihat nama kontak dari sang penelepon yang tertera nama Paman.
"Ngapain tu rubah tua nelepon bini gue malem-malem? Apa dia udah nyadar kalau gue dan Biola ke Bandung tanpa sepengetahuannya? Bisa gawat kalau Biola sampai tahu kalau gue gak memberi tahu Darius tentang kepergian kita ke Bandung." Gumam Keynan sambil menatap layar ponsel istrinya yang masih berbunyi.
Dengan cepat Keynan mematikan panggilan telepon dari Darius lalu menghapus riwayat panghilan tak terjawab dari Darius, setelah itu ia mematikan ponsel istrinya agar Darius tidak bisa menelepon keponakannya lagi.
"Rasain tu! Jangan harap bisa ganggu masa-masa indah gue sama bini dan anak gue." Maki Keynan kepada Darius sambil berucap kepada layar ponsel istrinya yang sudah ia mati dayakan.
Tampak diserbang sana Darius terbengong menatap layar ponselnya. Ia tidak menyangka kalau keponakannya yang tidak pernah menolak telepon darinya justru sekarang malah mematikan telepon darinya.
"Kenapa kamu enggak angkat telepon dari Paman, Biola. Ini pasti gara-gara anak bau kencur itu. Dia bahkan bawa keponakanku ke Bandung tanpa berpamitan kepadaku terlebih dahulu. Kalau pekerjaanku sudah selesai, aku pasti akan susul kalian ke Bandung." Gerutu Darius dengan kesalnya. Karena dia sedang disibukan dengan pekerjaannya sebagai seorang ketua kelompok mafia Angel's heart. Dan mungkin pekerjaannya akan selesai dalam waktu satu minggu kedepan.
••••••
Keynan masih tersenyum puas dengan apa yang ia lakukan kepada Darius. Setelah itu ia meletakan ponsel istrinya kembali kedalam tas istrinya. Namun Keynan tak sengaja melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam dari dalam tas istrinya.
Kota kecil berwarna hitam itu terlihat sudah usang seperti sebuah kotak yang sudah lama tak terurus.
Dengan rasa penasaran yang tinggi Keynan mengambil kotak kecil berwarna hitam itu dan melihatnya dari jarak dekat.
"Kotak apa ini? Kenapa Biola bawa-bawa kotak jelek seperti ini?" Ucap Keynan sambil membulak-balikan kota kecil berwarna hitam yang telah usang dimakan waktu.
Saat Keynan sudah membuka sedikit dari tutup kotak kecil berwarnah hitam itu dan ingin melihat apa isi didalannya, tiba-tiba saja sebuah tangan menggapai kotak kecil berwarna hitam itu dari arah belakang Keynan dan mengambil kotak itu dari tangan Keynan.
Sontak saja Keynan kaget dan langsung berbalik kearah belakangnya. Dan ternyara tangan itu adalah tangan nakal dari istrinya sendiri yang baru saja selesai mandi. Terlihat Biola sedang memegang kotak yang ia rebut dari tangan suaminya.
"Sayang, kamu ngagetin aja. Ku pikir tadi itu tangan siapa ternyata tangan nakal kamu." Gerutu Keynan yang dibalas cengengesan oleh istrinya yang baru selesai mandi itu.
"Hehehe.... maaf. Soalnya kamu mau buka kotak ini jadi aku refleks dan ngambil kotak ini dari tangan kamu." Jawab Biola dengan cengengesannya karena telah membuat suaminya hampir jantungan karena kaget.
Keynan yang mendengarkan perkataan dari istrinya pun jadi mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan istrinya.
"Emangnya isi didalam kotak itu apa? Kok aku gak boleh buka kota itu?" Tanya Keynan sambil menatap kota kecil berwarna hitam yang sedang dipegang oleh istrinya.
"Kamu inget gak kalau aku pernah berkata mau mengembalikan barang yang telah aku ambil dari rumah pohon yang ada ditaman di Vila ini?" Tanya Biola yang membuat Keynan berpikir lalu mengingat kembali perkataan istrinya beberapa hari yang lalu.
"Iya aku masih ingat." Jawab Keynan.
"Benda yang aku ingin kembalikan itu adalah kotak ini. Kalau kamu mau tahu isi didalam kota ini maka kamu harus membukanya dirumah pohon itu." Jawab Biola yang membuat Keynan bingung.
"Kenapa harus dibuka dirumah pohon itu? Kenapa gak disini aja?" Tanya Keynan dengan dahi yang mengerut.
"Biar kamu rasain apa yang aku rasain saat aku membuka kota ini dan melihat isi yang ada didalam kotak ini." Jawab Biola yang lagi-lagi membuat Keynan bingung.
"Emang apa yang kamu rasakan saat kamu membuka kotak usang itu didalam rumah pohon yang ada ditaman di Vila ini?" Tanya Keynan penasaran.
"Bukannya kamu juga pernah melihatnya? Jika kamu merasakan apa yang aku rasakan, maka kita memang memiliki sebuah memori saat kita masih kecil. Jika tidak, maka itu semua mungkin hanyalah sebuah hayalan ku saja. Tapi setelah melihat isi didalam kota ini, kamu mungkin akan berpikiran sama sepertiku yang menganggap semuanyanya nyata. Tapi kenyataan itu akan membuat aku bingung karena aku tidak memiliki memori apapun tentang semuanya." Jawab Biola yang membuat Keynan mengingat saat kejadian terakhir kali saat ia menemukan istrinya sedang menangis didalam rumah pohon pada waktu itu.
__ADS_1
"Jadi waktu kamu nangis didalam rumah pohon itu karena isi yang ada didalam kotak itu?" Tanya Keynan sambil menunjuk kotak berwarna hitam yang sedang dipegang oleh istrinya.
Biola hanya mengngguk membenarkan pertanyaan suaminya. Anggukan kepala Biola membuat rasa penasaaran Keynan muncul. Keynan ingin mengetahui segalanya. Ia ingin mengetahui apa yang dirasakan oleh istrinya pada waktu itu. Karena Keynan sempat melihat Biola yang menahan perasaan sakit hati yang sangat luar biasa pada waktu itu. Apakah sesakit itu? Keynan juga ingin merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya.
"Ya udah kotaknya sini in kotaknya. Aku mau kerumah pohon dan membuka kotak itu dirumah pohon." Ucap Keynan yang membuat Biola terkejut.
"Gak! Ini udah malem. Kamu harus mandi dan makan malam dulu. Aku sama anak kamu juga udah laper. Masa kamu tega membiarkan kita kelaperan. Lagian kan kita disininya masih lama. Yah walau pun kamu mungkin akan pergi kekantor beberapa hari tapi kan kamu tetep bakalan pulang kesini lagi ya kan?" Tanya Biola sambil menyembunyikan kotak kecil berwarna hitam itu kebelakang tubuhnya yang berisi.
"Iya si. Maaf ya udah buat kalian kelaperan. Ya udah aku mandi dulu ya biar kalian cepet bisa makan malem. Maafin Daddy ya nak, Daddy lupa kalau sejak Ibumu hamil besar makannya jadi nambah 10 kali lipat." Jawab Keynan sambil terkekeh dab mengelus perut buncit istrinya.
Biola mengerucutkan bibirnya saat mendengarkan jawaban dari suaminya yanh membuatnya kesal.
"Ya wajar lah orang aku makannya untuk berdua." Jawab Biola ketus.
"Iya, iya, iya..... maaf ya sayang. Kalau gitu aku buka kotaknya besok aja gimana?" Tanya Keynan sambil mengelus kepala iatrinya yang ngambek.
Biola tampa memikirkan ucapan Keynan dan menghilangkan raut wajah ngambeknya yang sontak saja membuat Keynan gemas sendiri melihatnya.
"Dasar bumil. Sikap dan sifatnya jadi berbanding terbalik dengan sifat dan sikapnya yang dulu." Ucap Keynan didalam hati sambil tersenyum karena menahan tawanya.
"Jangan besok." Jawab Biola cepat.
"Kenapa gak boleh besok?" Tanya Keynan bingung.
"Bukan gak boleh. Cuman besok aku mau ke makam Mama sambil ngenalin kamu sama calon anak kita. Soalnya sejak kita nikah aku belum pernah kenalin kamu ke Mama aku. Aku juga udah lama banget gak ke makam Mama. Karena dulu aku masih kecil jadi pikiranku masih belum sedewasa sekarang. Aku juga enggak terlalu mengeti ketika Ayah mengatakan kalau yang ada didalam makam itu adalah Mama kandungku." Jawab Biola dengan raut wajah sedihnya.
Keynan yang mendengarnya pun langsung memeluk istrinya dari samping dan menyandarkan kepala istrinya kebahunya.
"Ya udah kalau begitu besok kita akan ke makam Mama mertua. Aku juga udah gak sabar pengen ketemu sama Mama mertua. Aku jadi gugup loh sayang. Aku takut Mama mertuaku marahin aku karena telah menculik cinta dari anaknya." Ucap Keynan bercanda yang membuat Biola memuatar bola matanya malas.
"Gugup apa orang disana cuman ada makam. Mama ku juga gak mungkin kan marahin kamu. Kamu itu kalau ngomong ngada-ngada." Gerutu Biola sambil mendorong dada bidang suaminya.
"Hehe....canda kok sayang. Ya udah aku mandi dulu ya. Biar lain kali aja aku buka kotak itu dirumah pohon." Jawab Keynan sambil berjalan kekamar mandi dan meninggalkan Biola yang sedang menggerutu karena candaan garing dari suaminya.
"Oh iya sayang, kamu mau temenin aku mandi gak? Aku kesepian loh mandi sendirian!" Teriak Keynan sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.
"Kalau mandi, mandi aja sana!" Teriak Biola sambil mengangkat sandal rumahannya kearah kepala Keynan yang menyembul dari balik pintu kamar mandi, karena Biola ingin menimpuk kepala Keynan yang menyembul dibalik pintu kamar mandi itu.
Melihat sendal cantik istrinya yang sudah melayang kearahnya pun, dengan cepat Keynan menutup dan mengunci pintu kamar mandinya dengan rapat-rapat. Sehingga sandal itu hanya membentur pintu kamar mandi.
"Dasar suami ngeselin." Gerutu Biola sambil melipat tangannya diatas perut buncitnya dengan bibir yang ia monyongkan beberapa centi.
Tiba-tiba Biola teringat dengan handphonenya. Karena tadi kata suaminya ada yang meneleponnya dan ia suruh Keynan untuk mengngkatnya karena dia sedang mandi.
Dengan cepat Biola mengambil handphonenya dari dalam tasnya. Biola memelototkan matanya saat melihat handphonenya mati.
"Lah kok bisa mati? padahal batrainya masih penuh kan tadi?" pikir Biola dengan bingungnya sambil menghidupkan kembali ponselnya yang mati.
Benar saja kalau batainya masih penuh saat layar ponsel itu menyala. Lalu kenapa mati? Itulah yang dipikirkan oleh Biola saat ini.
Tanpa pikir panjang Biola melihat riwayat panggilan diponselnya. Namun tidak ada riwayat panggilan baru diponselnya. Biola menggaruk kepalanya karena bingung.
"Masa Keynan kurang kerjaan dan bohongin aku kalau ada yang menelepon aku saat dikamar mandi padahal bohong?" Pikir Biola sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1