Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 93


__ADS_3

Keynan dan Biola saat ini sedang berada diperjalanan menuju rumah sakit.


Keynan sedari tadi tak henti-hentinya memanggil-manggil nama istrinya yang pingsan agar istrinya itu tersadar dari pingsannya. Namun Biola tak kunjung-kunjung bangun dari pingsannya.


"Andre yang cepet bawa mobilnya! Kamu itu bisa bawa mobil atau enggak si!" Bentak Keynan kepada sekertarisnya yang sedang mengemudikan mobil.


"Baik Pak!" Jawab Andre sambil menambah kecepatannya dan menyelip beberapa mobil karena kesal dengan Keynan yang sedari tadi membentaknya menyuruh menambah kecepatan.


Tindakan Andre yang menyelip dan menambah kecepatan membuat mobil terguncang-guncang sehingga membuat Keynan dan Biola hampir tersungkur.


"Andre kalau bawa mobil itu yang bener. Jangan kebut-kebutan! Istri saya bisa terjatuh! Kalau istri dan anak saya jatuh dan kenapa-napa kamu akan saya bunuh!" Ancam Keynan dengan nada membentaknya dan menendang kursi yamg diduduki Andre.


"Maaf Pak." Jawab Andre dengan lemasnya. Karena sudah capek diomeli oleh atasannya.


"Tau ah, gini salah gitu salah. Kapan benernya gue. Dia yang nyuruh nambah kecepatan dari tadi dan disaat gue nambah kecepatan dia nya malah tambah marah. Berasa jadi samsak dah gue." Batin Andre sambil memperlambat kecepatan mobilnya dan tidak menyelip mobil-mobil yang ada dihadapannya lagi.


Meski begitu Keynan tak henti-hentinya memarahi Andre karena sangat mengkhawatirkan istri dan anak yang ada didalam kandungan Biola.


Sementara Andre hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang sial karena harus mengantarkan suami posesif yang sedang mengantarkan istrinya kerumah sakit.


"Sayang, kamu dan anak kita harus kuat. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap kalian berdua." Ucap Keynan dengan berlinang air mata sambil mengusap wajah Biola yang sedang pingsan dengan dipenuhi kasih sayang.


Saking fokusnya Keynan berbicara kepada istrinya yang pingsan, tiba-tiba mobil sudah berhenti.


Keynan yang menyadari kalau mobilnya tiba-tiba berhenti tanpa ia melihat kearah luar jendela mobil pun langsung memelototi Andre. Karena dia pikir Andre berhenti ditengah jalan.


"Salah apa lagi gue? Perasaan kita udah nyampe rumah sakit?" Batin Andre yang menyadari tatapan mematikan Pak Bos nya.


"Kenapa kamu memberhentikan mobilnya?! Kita harus segera kerumah sakit! Kamu itu kalau kerja gak ada becus-becusnya. Mau aku pecat kamu hah..!!" Teriak Keynan yang membuat teling Andre berdengung dengan hebatnya.


"Ma....maaf Pak, tapi kita.... ...."


"Apa? Kamu mau ngeles!" Bentak Keynan dengan mata yang menyala-nyala dan menyela ucapan Andre.


"Saya hanya mau bilang kalau kita sudah sampai dirumah sakit!" Jawab Andre dengan cepatnya karena capek dimarah-marahi oleh bosnya.


Setelah mendengar ucapan Andre, Keynan langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dan benar saja kalau mereka sudah tiba dirumah sakit.


Tanpa merasa bersalah kepada Andre yang ia bentak-bentak sedari tadi, Keynan langsung menggendong istrinya kedalam rumah sakit. Didalam rumah sakit Keynan berteriak-teriak memanggil dokter seperti orang gila.


Tak lama dari itu munculah beberapa dokter dan perawat yang membawa brankar untuk Biola dan mereka pun membawa Biola untuk dirawat.


"Maaf Pak! Bapak sialahkan menunggu diluar." Ucap seorang Suster yang melihat Keynan akan masuk kedalam ruangan.


"Tapi didalam ada istri saya!" Bentak Keynan dengan penuh khawatir.


"Iya Pak, kami juga mengetahuinya. Tapi untuk kelancaran perawatan diharapkan Bapak untuk bersabar dan menunggu diluar." Jawab Suster itu dengan sopan dan langsung menutup pintu ruangan tempat Biola akan dirawat.


"Ah sial! Sayang, kamu dan anak kita harus baik-baik saja." Ucap Keynan sambil mondar-mandir didepan ruangan Biola dirawat.


Tiba-tiba Andre muncul setelah memarkirkan mobil. Andre menatap atasannya dengan tatapan herannya sambil mematung ditempatnya.


"Perasaan Nyonya Muda hamilnya baru satu bulan tapi kenapa Pak Keynan mundar-mandir kayak Nyonya Muda mau lahiran? Ada-ada aja deh punya Bos yang posesif tingkat tinggi sama istrinya." Batin Andre sambil geleng-geleng kepala.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya dokter pun membuka pintu ruangan tempat Biola dirawat dan langsung ditanyai seberondong pertanyaan oleh Keynan dengan dipenuhi kekhawatiran.


"Bagai mana istri saya dokter? Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu yang buruk kepadanya? Lalu bagai mana dengan anak kami? Apa dia baik-baik saja? Mereka baik-baik saja kan dokter? Pokoknya mereka harus baik-baik saja. Kamu harus bisa menyelamatkan mereka!" Tanya Keynan dengan nada yang terburu-buru.


"Pak, mohon tenangkan dulu diri Bapak. Bapak harus tenang terlebih dahulu." Jawab dokter itu sambil menjauhkan telinganya dari Keynan.


"Tenang kau bilang!!! Bagai mana bisa saya tenang kalau istri dan anak saya sedang berbaring didalam sana!" Bentak Keynan sambil menunjuk ruangan Biola.


"Iya, saya mengerti dengan kekhawatiran Bapak. Tapi Bapak harus tenang terlebih dahulu." Jawab dokter itu.


"Baiklah cepat katakan kondisi istri saya!" Ucap Keynan pasrah sambil mengatur emosinya.

__ADS_1


Dokter itu tampak sedang membuang nafasnya dengan lega dan mengusap dadanya saat mendengar ucapan Keynan. Karena dokter itu adalah seorang dokter paruh baya yang sebentar lagi pensiun.


"Anak muda jaman sekarang bisanya hanya bentak-bentak orang tua saja. Untungnya saya tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Kalau tidak, saya mungkin sudah pergi kealam sana saat ini juga." Batin sang dokter paruh baya itu.


"Cepettan dokter! Saya ingin tahu kondisi istri dan anak saya!" Bentak Keynan yang sudah tidak sabaran.


"Iya Pak, jadi begini. Kondisi pasien sangatlah lemah.... ...."


"Apa? Lalu bagai mana istri dan anak saya sekarang. Apa mereka baik-baik saja!" Tanya Keynan dengan nada membentak dan memotong diagnosis dokter paruh baya itu.


Dokter paruh baya itu menghirup nafasnya dan membuangnya dengan kasar karena menahan emosinya.


"Huuhh... Bapak mohon tenang terlebih dahulu dan jangan memotong diagnosis saya." Ucap Dokter itu sambil membuang nafasnya dengan kasar.


"Baiklah saya akan mendengarkan anda. Tapi cepatlah dan jangan bertele-tele." Ucap Keynan dengan kesalnya dan membuat dokter itu mematung ditempatnya dengan dahi yang mengerut karena menahan emosi.


Andre yang sedang duduk diruang tunggu sambil menonton majikannya ngomel-ngomel kepada seorang dokter paruh baya pun hampir saja batuk darah saat mendengar ucapan Keynan.


"Ya ampun Pak Bos! Bisakah anda koreksi diri anda sendiri. Andalah yang sedari tadi mencegah dokter itu menjelaskan penyakit Nyonya Muda." Gerutu Andre didam hati sambil menepuk jidatnya dengan kasar.


"Ehem... baiklah, kondisi Ibu dan janin yang ada dididalam kandungannya baik-baik saja. Pasien hanya terlalu kelelahan sehingga membuat pasien pingsan. Meski begitu Bapak harus menjaga kesehatan Ibu dan janin yang ada didalam kandungan istri Bapak. Karena kalau ini sering terjadi maka akan sangat berbahaya bagi janin yang ada didalam kandungan istri Bapak." Tutur dokter itu yang didengarkan dengan tenangnya oleh Keynan.


"Syukurlah mereka baik-baik saja." Gumam Keynan sambil membuang nafasnya dengan lega.


"Oh ya dokter, apa sekarang saya boleh masuk kedalam?" Tanya Keynan dengan mata yang berbinar.


Dokter paruh baya itu menatap Keynan dengan tatapan jengkelnya namun ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan amarahnya.


"Ya, Bapak sudah boleh masuk." Jawab dokter paruh baya itu sambil tersenyum palsu.


Wusss.....


Hanya dengan hitungan 0,1 detik, Keynan sudah menghilang dari hadapan sang dokter paruh baya itu dengan sangat cepat.


"Apa ini yang dinamakan kekuatan kekhawatiran seorang suami? Apa kalau aku menikah suatu saat nanti sikapku akan sama konyolnya seperti Pak Bos. Gak, gak, gak... gue gak mau jadi suami takut istri kayak Pak Bos. Gue harus jadi suami yang dapat disegani dan sangat berwibawa bagi istri gue. Gue gak boleh manja-manja kayak Pak Bos." Ucap Andre penuh keyakinan


Saat dokter paruh baya itu ingin meninggalkan ruangan tempat Biola dirawat. Tiba-tiba Keynan menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan berteriak kearah sang dokter. Sehingga sang dokter paruh baya itu menghentikan langkah kakinya.


"Dokter...!!! Kenapa istri saya masih pingsan!! Apa yang kalian lakukan didalam saat memeriksa istri saya. Kalian itu bisa kerja atau enggak si!!!" Teriak Keynan dengan nada mengomelnya dan membuat Andre dan sang dokter kaget.


Sang dokter pun mulai mengatur nafasnya yang naik turun karena menahan emosi. Dengan penuh kesabaran dokter paruh baya itu membalikan tubuhnya kearah Keynan yang hanya memperlihatkan kepalanya saja dibalik pintu.


"Kondisi pasien masih sangat lemah jadi pasien hanya tertidur untuk beberapa saat." Jawab sang dokter sambil tersenyum palsu.


"Oh.... jadi Biola hanya tidur." Balas Keynan sambil mengangguk dengan perasaan leganya.


"Iya beg.... ...."


"Ya udah sana pegi!" Usir Keynan kepada sang dokter dan memotong ucapan sang dokter paruh baya itu.


Dengan wajah tanpa dosanya Keynan masuk kedalam ruangan Biola dan membuat Andre menganga saking terkejutnya ia mendengar ucapan Bosnya yang super duper tidak punya hati.


"Ya Allah panjangkanlah umur hamba. Hamba masih ingin melihat cucu-cucu hamba yang masih bayi tumbuh menjadi anak-anak yang ceria. Dan jangan engkau pertemukan hamba dengan keluarga pasien yang seperti itu lagi. Karena jika saya bertemu dengan keluarga pasien yang seperti itu lagi maka saya takut usia saya tidak akan panjang karena tiba-tiba mendapatkan penyakit jantung, walaupun saya tidak punya riwayat penyakit jantung." Do'a dokter paruh baya itu didalam hati sambil mengelus dadanya dan berjalan dengan lemasnya keruangannya.


"Sepertinya aku harus cepat-cepat pensiun deh sebelum aku bertemu keluarga pasien seperti itu lagi." Batin sang dokter itu lagi.


Sementara didalam ruangan Biola, Keynan sedang duduk disamping kasur yang ditempati oleh Biola. Keynan menatap istrinya dengan penuh kasih sayang dan rasa bersalah.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa merawatmu dan anak kita dengan baik. Aku tidak menyangka kalau rekan bisnis baruku akan bersikap tidak sopan seperti itu dan membentak-bentakmu. Aku benar-benar merasa seperti seorang suami yang tidak berguna." Gumam Keynan sambil mengelus kepala istrinya yang tertidur.


"Ini semua gara-gara Mama. Udah tahu menantunya lagi hamil seharusnya Mama menjaga menantunya dengan baik dan tidak membiarkan dia pergi jauh-jauh." Gerutu Keynan sambil merogoh ponselnya untuk menelepon Mama Kania.


Keynan menyalakan handphonenya yang ia sengaja mati dayakan karena rapat. Keynan membelalakan matanya saat melihat layar handphonenya yang dipenuhi oleh panggilan tak terjawab dari Mama Kania dan ada juga beberapa pesan dari Mama Kania.


Dengan cepat Keynan menelepon balik Mama Kania. Dan tak lama Mama Kania mengangkat telepon dari Keynan.

__ADS_1


"Hallo Keynan!! Akirnya kamu menelepon Mama juga. Kalau punya handphone itu dipake jangan dimatiin!! Oh ya, gimana mantu Mama? Apa dia udah samapai diperusahaan? Dia tadi maksa mau masak makanan kesukaan kamu dan maksa ingin mengantarkan makanan yang ia buat kekantormu langsung. Katanya ingin buat kejutan untukmu. Dia bener-bener gak bisa dilarang dan entah kenapa hari ini mantu Mama itu jadi keras kepala dan tidak ingin diberitahu. Mungkin itu karena keinginan janin yang ada didalam kandungannya. Jadi dia malah sibuk memasak banyak untukmu. Mama juga khawatir sama kondisinya tapi Mama juga tidak bisa berbuat apa-apa. karena jika Mama larang maka Biola akan merengek-rengek." Cerocos Mama Kania tanpa membiarkan satu orang pun menyela ucapannya.


Keynan bahkan menjauhkan teleponnya dari telinganya saking kerasnya Mama Kania berbicara kepada Keynan.


"Biola yang masak Ma?" Tanya Keynan sambil mendekatkan kembali ponselnya ketelinganya.


"Ya iya lah Biola yang masak bekal makan siang untukmu. Mantu pilihan Mama kan yang palin perfect. Kamu harus jaga istri kamu dengan baik! Jangan biarkan dia kelelahan diperusahaan karena dia sudah sangat kelelahan masak banyak dirumah. Inget jaga mantu dan cucu Mama!" Peringat Mama Kania dengan nada tingginya.


"Iya Ma, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi Bi.... ..." Belum sempat Keynan menyelesaikan ucapannya Mama Kania sudah menyela ucapannya.


"Ya udah kalau mantu Mama sudah ada diperusahaan. Mama sekarang jadi merasa lega dan tenang. Kalau gitu dah...!!!" Ucap Mama Kania sambil menutup teleponnya secara sepihak.


Tut...tut...tut...


Keynan menatap layar ponselnya yang telah terputus dari sambungannya dengan Mama Kania. Padahal Keynan ingin memberitahu kalau mantu kesayangannya sedang berada dirumah sakit karena kecapekan. Tapi kalau begini jadinya Keynan hanya bisa memberitahu Mama Kania nanti.


Tapi tak lama kemudian Keynan mengingat dengan bekal yang dimaksud oleh Mama Kania.


"Biola masak? Biola bisa masak? Kalau iya itu artinya ini adalah pasakan dan kejutan pertamanya yang ia siapkan untukku. Tapi bekalnya ketinggalan dikantor. Ah iya! Aku suruh Andre untuk ambil aja, dia kan ada diluar." Batin Keynan sambil tersenyum lebar.


Dengan terburu-buru Keynan keluar ruangna Biola dan melihat Andre yang masih setia menunggu diluar ruangan Bola dengan santainya dan menyandarkan punggungnya kekursi ruang tunggu.


"Andre!" Panggil Keynan yang membuat Andre yang sedang santai-santainya pun langsung berdiri dari duduknya karena kaget.


"Ada apa Pak?" Tanya Andre sambil mendekati Keynan.


"Kamu kembali keperusahaan dan tolong ambilkan bekal makan siang yang tadi dibawa oleh istri saya. Saya mau kamu membawa bekal itu secepatnya." Perintah Keynan yang membuat Andre terbengong mencerna ucapan Keynan.


"Be...bekal?" Ulang Andre tak percaya.


"Iya Bekal. Sana pergi dan ambilkan untuk saya!" Usir Keynan sambil menutup pintu ruangan Biola dihadapan Andre yang sedang terbemgong.


"Be..kal..??? gue disuruh bulak-balik dari perusahaan kerumah sakit yang lumayan jauh hanya untuk mengambil bekal makan siang? Bukam disuruh ngambil berkas penting senilai miliaran rupiah yang belum ia tanda-tangan? Apakah bekal makan siang itu lebih berharga ketimbang beberapa berkas yang Pak Keynan tinggalkan demi mengantar istrinya kerumah sakit? Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran seorang konglomerat saat ini." Ucap Andre didalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk yang kesekian kalinya karena harus melayani sikap aneh bin ajaib Bos nya.


"Heran deh gue, dari mana si sikap posesif plus aneh bin ajaib yang dimiliki Pak Keynan?" Pikir Andre sambil berjalan kearah parkiran dirumah sakit tempat Biola dirawat.


•••••••••


Dengan ngos-ngosannya Andre berlari dikoridor rumah sakit sambil menjinjing sebuah bingkisan yang isinya bekal makan siang milik Bosnya. Karena sedari tadi Bos nya itu terus meneleponinya dan menyuruh Andre untuk cepat-cepat mengantarkan bekal miliknya.


Dan benar saja, Keynan sudah berdiri didepan pintu ruangan Biola sambil melipat kedua tangannya didadanya dan menatap tajam kearah Andre yang baru datang dengan ngos-ngosannya.


"Telat! Kamu itu benar-bener gak bisa cepet ya. Selalu saja telat!" Omel Keynan sambil mengambil bekal makan siangnya dari tangan Andre.


"Host.....host.....host..... ma...maaf Pak. Host... tadi dijalan sedang macet." Jawab Andre dengan ngos-ngosannya.


"Ya udah, kamu kembali keperusahan saja sana! Dan tolong hendel semua pekerjaan dan pertemuan saya dengan beberapa rekan bisnis lama kita. Karena Devin lagi ambil cuti nikah maka hanya kamu yang bisa gantiin saya untuk menghendel semua pekerjaan saya. Oh iya satu lagi, kunci mobil siniin! Kamu naik taksi aja ke perusahaannya." Ucap Keynan dengan entengnya tapi membuat Andre lagi-lagi mematung ditempatnya karena saking kagetnya.


"Mana?" Ucap Keynan sambil menyodorkan tangannya kearah Andre.


Dengan lemasnya Andre merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci Mobil Keynan. Dan dengan tak punya hatinya lagi Keynan langsung menutup pintu ruangan tempat Biola dirawat dan lagi-lagi meninggalkan Andre yang sedang terbengong didepan pintu ruangan Biola.


"Segitu sialnya gue memiliki bos semenyebalkan dia. Oh Pak Devin cepatlah anda kembali keperusahaan. Saya sudah tidak sanggup melayani keanehan Pak Bos yang super duper menyebalkan itu. Hanya Pak Devin saja yang bisa tahan dengan sikap dingin dan menyebalkan Pak Bos." Batin Andre sambil berjalan keluar rumah sakit.


Sementara ditempat lain ada seseorang yang sedang bersin-bersin dengan keringat yang memenuhi seluruh wajahnya dan tubuhnya.


Hacis.....


"Yang bener latihannya! Masih ada beberapa batu yang belum kamu angkat dan pindahkan!" Bentak Pak Sinan kepada menantunya.


"Iya Yah!" Jawab Devin dengan lemasnya dan kembali mengangkat batu-batu yang ditunjukan Pak Sinan.


"Sial banget gue nikah sama titisan gurita dan disiksa sama titisan gorila. Tiap hari kerjaannya ngelatih gue biar jadi titisan gorila kayak dia dan bisa jagain titisan gurita anaknya. Lagian gue heran kenapa juga titisan gorila bisa punya anak titisan gurita?" Gerutu Devin didalam hati.


________________________

__ADS_1


__ADS_2