
Mama Kania mengangguk dan membenarkan kalau Biola merupakan orang yang ditakdirkan, karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau kalung liontin hati malaikat itu bercahaya keemasan saat Mama Kania dekat dengan Biola 15 tahun yang lalu.
"Ya, Biola adalah orang yang dikatakan oleh gadis yang diceritakan leluhur Mama dulu." Ucap Mama Kania. Key menggenggam tangan Biola yang saat ini masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan Mama Kania kepadanya.
Dan yang membuat dia bingung adalah kenapa suaminya sangat percaya dengan perkataan Mama Kania yang menurutnya tidak logis. Biola selalu berfikir kalau suaminya itu tak akan pernah percaya dengan apa yang diucapkan Mamanya, tapi Biola sendiri setengah percaya dan tidak percaya karena dirinya sendiri pun memiliki kelebihan untuk melihat masa depan.
Setelah itu mereka melakukan pencobaan untuk mengetes apa Biola pemilik kalung liontin itu apa tidak.
"Tunggu.... tunggu... !!" Cegah Key tiba-tiba pada saat Mama Kania ingin menusuk jari Biola lagi untuk membuktikan kebenaran tentang cerita leluhurnya.
"Ada apa lagi Key..?!" Ucap Mama Kania kesal karena setiap Mama Kania ingin menusuk jari Biola untuk mengambil setetes darahnya, Key selalu mengganggunya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Sayang, kamu lihat aku ya, supaya tidak sakit." Ucap Key lebay sambil menangkup kedua pipi chabi Biola dengan kedua tangannya.
Biola yang mulai kesel dengan tingkah Key hanya bisa menatap Key dengan memelototkan matanya karena dia tak bisa marah-marah dihadapan mertuanya.
"Cowok ini apa-apaan si, sikapnya bikin gue kesel aja tiap hari. Bisa-bisa gue mati berdiri gara-gara nahan amarah." Gumam Biola sambil menatap Key sinis. Sementara yang ditatap hanya menampilkan senyum selebar-lebarnya.
Entah kenapa dengan sikap Key akhir-akhir ini, padahal waktu Key pacaran dengan mantan-mantannya dulu dia tidak pernah bersikap seposesif ini.
Key terus tersenyum lebar sambil menangkup kedua pipi Biola dengan kedua telapak tangannya.
Mama Kania yang melihat putranya bersikap dramatis hanya karena istrinya akan ditusuk oleh peniti pun jadi kesal. Dan tanpa aba-aba Mama Kania mengambil tangan Biola dan menusuk jari telunjuk Biola dengan peniti. Sehingga muncullah darah dari jari Biola.
Biola yang ditusuk oleh peniti hanya bisa memalingkan wajahnya kearah jarinya yang sudah berdarah tanpa memekik kesakitan. Karena Biola rasa itu tidak menyakitkan, jadi dia tidak kesakitan. Berbeda halnya dengan Key yang saat ini menahan kekesalannya karena Mama Kania tidak memberi aba-aba terlebih dahulu.
"Mama kenapa gak pake aba-aba?" Gerutu Key sambil memegang jari Biola yang berdarah. Itupun tak banyak hanya setetes.
"Kalau make aba-aba yang ada kamu terus nunda-nunda waktu dan mengganggu." Jawab Mama Kania dengan kesalnya.
Key hanya bisa menggerutu dan menatap jari Biola yang berdarah dengan rasa khawatirnya.
Mama Kania menarik jari Biola yang berdarah dan meneteskan darahnya kebandul liontin tanpa menghiraukan ocehan anaknya yang posesif terhadap istrinya.
"Mama..." kesel Key lalu mengambil jari telunjuk Biola yang darahnya sudah diteteskan ke kalung liontin hati malaikat dan menghisapnya sehingga membuat jantung Biola jadi berdebar sangat cepat.
Setelah liontin itu terkena darah Biola, tiba-tiba saja muncul cahaya keemasan yang sangat terang dari liontin itu dan munculah nama Biola anggara ditengah tengah bandul kalungnya disertai dengan sayap yang terbuka lebar disetiap sisi banduk kalung yang berbentuk hati itu.
Biola yang melihat kalung liontinnya bercahaya keemasan jadi mengingat masalalunya ketika dia tenggelam 15 tahun yang lalu.
Dimana waktu itu pergelangan tangan Biola terluka sangat parah bahkan urat nadinya hampir terputus gara-gara menyelamatkan Mona yang hampir terjatuh kelaut tapi karena tubuh mungil Biola membuat Biola juga hampir terjatuh kelaut dan berpegangan disisi kapal pesiar.
__ADS_1
Dan ketika Ayahnya datang, dia terlebih dahulu menyelamatkan Mona dari pada Biola yang hampir sekarat. Biola pun langsung terjatuh kelaut. Air laut itu tiba-tiba berupa menjadi warna merah darah saat Biola terjatuh.
Kalung liontin yang ia pakaipun terkena darahnya dan memunculkan sinar keemasan yang sangat terang. Dalam keadaan yang hampir tak sadarkan diri, Biola samar-samar melihat namanya muncul dikalung liontin yang ia kenakan, disertai dengan sayap yang terbuka lebar disetiap sisi bandul kalung yang berbentuk hati. Tapi tak lama kemudian sayapnya perlahan kembali menutup dan nama itu hilang bersamaan dengan cahaya keemasan yang keluar dari kalung liontin yang Biola kenakan dan cahanya itu masuk kedalam tubuh Biola.
Tak lama kemudian Ayah Biola berhasil menyelamatkan Biola dan membawanya ke atas kapal.
••••••••
"Lihatkan sayang, kamu memang orang yang ditakdirkan. Akhirnya keluarga Mama bisa menyerahkan kalung liontin hati malaikat ini kepada orang yang ditakdirkan. Dan menepati janji keluarga Wijaya kepada pemilik kalung liontin itu dulu." Ucap Mama Kania dengan senangnya dan membuat Biola terbangun dari lamunanya yang mengingat masalalunya.
Key hanya menatap tak percaya karena ini kali pertamanya melihat kalung itu mengeluarkan cahanya seterang itu dan mengeluarkan nama istrinya. Sangat berbeda dengan nama keluarga Mamanya yang keluar dari liontin itu yang tidak mengeluarkan cahaya seperti nama Biola yang keluar.
"Sebenarnya kekuatan apa yang dimiliki kalung itu? Dan apa rahasia dibalik kalung itu?" Gumam Key sambil menatap Biola dan menggenggam erat tangan istrinya.
••••••••
Malampun tiba, kini Biola sedang melihat bintang dan bulan yang bersinar terang dilangit malam dibalkon kamarnya sambil memikirkan kejadian tadi siang.
Key yang baru selesai mandi dan memakai jubah mandinya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, melihat ke sekeliling kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya. Tapi dia tidak menemukan istrinya didalam kamarnya. Dia melihat kearah pintu kaca balkon yang sedikit terbuka.
"Pasti dia disana." Gumam Key sambil berjalan kearah balkon tanpa mengganti jubah mandinya dengan pakaian tidur dan menaruh handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah disofa.
Key membuka pintu kaca yang mengarah kebalkon dikamarnya dengan lebar dan melihat istrinya sedang berdiri memunggunginya sambil menatap kosong kearah bintang dan bulan yang bersinar dimalam itu.
"Apa yang dia fikirkan?" Gumam Key sambil memandang punggung istrinya.
Key sangat terpukau saat melihat Biola yang tampak bersinar dengan rambut terurai bebas sampai pinggangnya dimalam yang gelap. Karena pantulan dari cahaya bintang dan bulan yang bersinar terang dimalam yang gelap sehingga membuat Biola terlihat bersinar.
Perlahan Key mulai mendekati Biola yang sedang terbengong menatap bintang dan bulan dengan tatapan kosongnya. Key melingkarkan kedua tangannya dipinggang ramping Biola, sehingga membuat Biola terkejut dan membalikan tubuhnya kearah Key.
Jantung Biola berdegup sangat cepat saat mata Biola dan mata Key beradu pandang dengan jarak yang sangat dekat. Deru nafas Key menyapu dipermukaan wajah Biola. Hidung mancung keduanya saling bersentuhan karena Key yang menundukkan wajahnya kearah wajah Biola. Bibir Biola juga hambir bersentuhan dengan bibir Key.
Mata Key tak henti-hentinya menatap wajah Biola yang sangat cantik dengan sinar rembulan dimalam hari, sehingga menambah kecantikan Biola.
Key mempererat pelukannya dan menatap Biola dalam-dalam begitu juga dengan Biola.
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Key dengan posisi yang masih memeluk tubuh Biola dan menatap wajah cantik istrinya.
Biola yang menatap Key dalam-dalam pun jadi tersadar dengan pipi yang merona karena jarak wajah mereka dan tubuh mereka yang sangat dekat.
"Lepas...!!" Ucap Biola sepontan sambil mendorong tubuh Key supaya menjauh dari tubuhnya. Tapi Key malah mempererat pelukannya dipinggang ramping istrinya.
__ADS_1
"Lepas Key!!" Ucap Biola lagi dengan nada tinggi sambil berusaha mendorong tubuh Key yang menempel ditubuhnya seperti di lem.
Key yang mendengar Biola memanggilnya Key jadi kesal. Padahal suasana sedang pas dan romantis tapi dia malah memanggilnya dengan namanya.
"Gak! Sebelum kamu panggil aku sayang baru aku lepasin." Ucap Key santai sambil mempererat dekapannya agar Biola tidak bisa melepaskan dekapannya.
"Mimpi aja lo..!" Bentak Biola yang sudah tidak bisa membendung amarahnya.
"Kalau kamu gak mau, aku bakalan lakuin sesuatu yang lebih dari sekedar memeluk kamu." Ancam Key sambil tersenyum Devil dan mendekatkan wajahnya ke wajah Biola untuk mencium bibir merah muda Biola.
Biola yang sadar akan perlakukan Key jadi panik dan akhirnya menyerah.
"Ba... ba.... baiklah. Tapi lepasin gue dulu." Ucap Biola gugup.
"Gak! Ucapin dulu baru aku lepasin dan mulai sekarang jangan sebut lo-gue lagi tapi aku-kamu. Mengerti!" Ucap Key memerintah.
"Ba.... baiklah." Ucap Biola masih gugup karena Key tak henti-hentinya menatap wajah Biola.
"Kalau gitu ayo sebut!" Perintah Key sambil tersenyum menatap Biola. Mau tak mau Biola akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan Suaminya.
"Sa... sa...sayang." ucap Biola pelan karena gugup, canggung, malu semuanya bercampur jadi satu.
"Apa? Aku tidak mendengarnya." Ucap Key pura-pura tak mendengar ucapan Biola.
Sungguh bagi Key mengerjai patung es nya sangatlah menyenangkan. Apa lagi ketika melihat Biola tersipu malu yang membuat Key tambah gemes melihat wajah Biola.
"Ih... ni cowok rese banget si!" Gerutu Biola dalam hati sambil menatap Key kesal.
"Sa... sayang." Ucap Biola lagi masih gugup.
"Kamu itu ngomong apa? aku gak denger. coba ngomong lebih keras lagi." Kata Key sambil tersenyum Devil.
Biola benar-benar marah dengan sikap suaminya yang membuatnya kesal.
"SAYANG..... sudah puas!" Bentak Biola dengan nada tinggi karena mulai kesal dengan sikap Key.
"Gitu dong, itu baru istriku." Ucap Key puas sambil mencubit hidung mancung Biola yang membuat Key selalu gemes.
__________________
**Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
사랑해 😘**