
Keynan sudah dibawa kedalam mobil dan akan dibawa kerumah sakit.
Tampak wajah Keynan yang sangat pucat dan tidak sadarkan diri karena obat Bius yang diberikan dokter.
"Ayo Ma masuk kedalam mobil. Kita harus segera mengantar Keynan kerumah sakit." Ucap Pak Raihan sambil menarik tangan istrinya.
"Ta....tapi Pa, Biola masih belum sadar. Nanti bagai mana jika terjadi sesuatu lagi kepada Biola, Pa?" Ucap Mama Kania bimbang dan khawatir. Pak Raihan juga tampak memikirkan ucapan Mama Kania.
"Ya udah Mama tunggu dirumah aja jagain Biola. Biar Papa yang kerumah sakit." Jawab Pak Raihan yang mengambil keputusan secepatnya karena harus mengantarkan putranya kerumah sakit.
"Tapi Mama juga ingin lihat keadaan Keynan, Pa." Ucap Mama Kania yang membuat Pak Raihan frustasi.
Tiba-tiba saja Darius dan Tuan Davindra datang menghampiri Mama Kania Dan Pak Raihan yang tampak bimbang.
"Kalian pergilah! Biar cucuku saya yang jaga. Saya juga paling mengerti dengan keadaan yang dialami oleh cucuku. Lagian saya masih ingin berlama-lama bersama cucuku." Ucap Tuan Davindra tiba-tiba dan membuat Mama Kania dan Pak Raihan menatap kearah Tuan Davindra dan Darius.
"Benarkah?" Tanya Mama Kania tak percaya.
Tuan Davindra tersenyum sambil mengangguk mengiyakan pertanyaan Mama Kania.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih Tuan Davindra dan Tuan Darius. Oh iya saya juga akan menelepon keponakan saya dan istrinya untuk menemani kalian. Maaf telah merepotkan kalian." Ucap Mama Kania sungkan.
"Tak perlu sungkan karena menantumu juga cucuku." Jawab Tuan Davindra yang diangguki oleh Mama Kania.
Mama Kania dan Pak Raihan pun segera bergegas menuju rumah sakit bersama Keynan yang keadaannya tampak sangat kritis. Tak lupa Mama Kania juga menelepon Sinta dan menyuruh Devin dan Sinta untuk menjaga Biola dan menemani besannya dirumah kediaman keluarga Kristian.
Sinta yang mendapat telepon dari Mama Kania dan mendengar tentang keadaan keluarga sahabatnya pun sangat terkejut. Ia bahkan sampai-sampai menarik-narik tangan Devin yang sedang berganti baju untuk segera pergi kekediaman keluarga Kristian.
"Cepetan dolphin! Lo lambat kayak siput tau gak...." Teriak Sinta sambil menarik-narik tangan Kanan Devin.
"Bentar octopus, gue lagi pake baju ini. Lo gak sabaran banget dah! Dan nama gue tuh Devin bukan dolphin. Lagian mana ada lumba-lumba yang kaya siput. Lo ngomong suka ngelantur tau gak..." Kesal Devin sambil memasukan tangan kirinya kelengan kaos putihnya. Dan tangan satunya masih Sinta pegang dengan eratnya sambil menarik-narik tangan kanan Devin.
Pada saat Devin sudah memakai celananya tiba-tiba saja Sinta masuk kedalam kamar dan memberitahu Devin tentang keadaan Keynan dan Biola dari Mama Kania. Dengan paniknya dan karena diburu-buru oleh Sinta, akhirnya Devinpun asal comot baju. Ia mengambil kaos santainya yang berwarna putih karena cerocosan Sinta yang membuat kepalanya pusing.
"Bodo amat! Lo juga sering panggil gue gurita." Balas Sinta yang masih memegangi lengan Davin.
Devin hanya mendengus kesal dengan ucapan Sinta tanpa melanjutkan aksinya memakai bajunya yang hanya baru masuk leher dan tangan kirinya saja.
"Buruan lo lemot banget dah jadi cowok. Nanti-nanti jangan jadi cowok deh kalau lemot kayak gini. Gue aja yang cewek gak lemot. Gak tahu apa kalau gue tuh lagi khawatir sama keadaan sahabat gue. Nanti kalau terjadi apa-apa sama Biola gimana? Gue pasti gak akan biarin lo hidup dengan tenang!" Cerocos Sinta yang membuat Devin menjauhkan telinganya dari Sinta.
"Iya gue tahu! Tapi lo lepasin tangan gue dulu. Kalau lo nemplok dan narik-narik tangan gue kayak gini! Terus gimana caranya gue pake baju?" Kesal Devin yang sudah mulai pusing dengan cerocosan Sinta.
Sinta tampak menatap lengannya yang benar-benar nemplok ditangan Devin sambil menarik-narik tangan Devin. Sinta menatap Devin yang tampak memakai kaosnya sampai leher dengan lengan kiri yang telah ia masukan kedalam lengan kiri kaosnya. Sementara lengan Kanannya masih belum dimasukan kedalam lengan kaosnya karena Sinta memegangi lengannya dengan erat layaknya gurita menangkap mangsanya.
"Makannya cepetan!" Ucap Sinta sewot sambil menghempaskan tangan kanan Devin dengan kasar dan memunggungi Devin dengan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Dasar titisan gurita! Udah nempok dan tarik-tari tangan orang begitu aja! Ehh... sekarang tangan gue malah dilepas. Mending kalau dilepasnya biasa aja, nah ini dilepasnya kasar banget. Tangan gue kan sakit." Gerutu Devin sambil mengusap tangan kanannya yang sakit dengan tangan kirinya lalu memakai pakaiannya dengan benar.
Sinta tidak mendengarkan cerocosan Devin karena saat ini Sinta sedang memegangi kedua pipi chabinya yang merona karena malu. Bukan karena malu melihat Devin setengah telanjang. Tapi malu karena tingkahnya sendiri kepada Devin.
Bagi Sinta melihat Devin telanjang dada itu sudah biasa. Karena Devin sering mandi dikamarnya.
Sebenarnya diapartemen milik Devin itu ada dua kamar mandi. Cuman Devin lebih nyaman mandi dikamarnya yang sekarang ditempati oleh Sinta karena dikamar itu ada bajunya.
Diapartemen Devin itu hanya ada satu kamar jadi Devin masih menyimpan baju-bajunya dikamar Sinta. Devin sengaja membeli apartemen kecil tapi memiliki dekorasi yang sangat mewah karena dia pikir akan menempati apartemen itu seorang diri. Tapi dia tidak tahu takdir malah berkata lain. Tiba-tiba aja Devin harus dipaksa menikah karena kepergok tidur satu kamar dengan Sinta. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa.
Karena tidak adanya persiapan dalam berumah tangga makannya Devin masih menempati apartemen kecilnya. Dia masih belum membeli rumah karena tidak tahu kalau dia akan dinikahkan secara dadakan.
Sementara Tuan Davindra dan Darius sedang duduk disofa dikamar Biola. Tuan Davindra tampak memperhatikan liontin hati malaikat itu dengan tatapan herannya. Karena liontin itu seperti ada perubahan. Tapi Tuan Davindra tidak tahu dimana perubahannya. Jadi ia terus menatapnya. Toh ini kali pertamanya melihat lionton hati malaikat secara langsung. Jadi liontin itu sedikit asing baginya.
"Pa, apa kejadian yang dialami oleh bocah bau kencur itu ada kaitannya dengan liontin itu?" Tanya Darius yang melihat Papanya sangat serius menatap liontin hati malaikat.
Tuan Davindra mengangkat satu alisan sambil menatap kearah putranya saat mendengar pertanyaan putranya.
"Bocah bau kencur?" Ucap Tuan Davindra bingung.
"Iya, suaminya cucu Papa." Jawab Darius santai.
Tuan Davindra mendengus saat mendengar ucapan putranya yang ada-ada aja.
__ADS_1
"Kamu ini ada-ada saja Darius. Papa kira siapa." Ujar Tuan Davindra sambil kembali menatap liontin hati malaikat itu untuk meneliti perbedaannya.
"Dia kan emang bocah bau kencur." Darius masih ngotot memanggil Keynan dengan sebutan bocah bau kencur karena sikap Keynan yang membuatnya selalu kesal.
"Sudah jangan ngomong gitu lagi. Bagaimana pun dia tetap suami dari cucuku. Kalau bukan karena keluarganya mungkin saat ini cucuku masih menderita karena keluarga Anggara yang bagaikan neraka bagi cucuku." Ujar Tuan Davindra dengan mata sendunya karena mengingat laporan yang ia baca tentang perlakukan keluarga Anggara kepada cucunya.
Darius mendengus dengan kesalnya saat Papanya lebih membela Keynan yang sangat ia benci karena sikap Keynan sejak awal bertemu dengan Darius.
"Tapi soal pertanyaanmu tadi tentang liontin hati malaikat ini sebenarnya Papa juga curiga kalau apa yang terjadi dengan suami dari cucuku itu memang ada kaitannya dengan liontin hati malaikat ini. Cuman Papa tidak tahu penyebabnya sampai suami dari cucuku itu sampai merasakan sakit didaerah jantungnya. Papa curiga ini semua gara-gara dia menginjak-nginjak liontin ini. Tapi Papa juga ragu karena tidak ada bukti yang akurat. Andai saja isi dari buku itu lengkap. Pasti Papa sudah tahu penyebabnya." Tutur Tuan Davindra sambil menatap liontin hati malaikat yang tampak berbeda.
"Kalau begitu kenapa kita tidak bawa liontin itu ke Inggris saja dan menggunakan kekuatan dari liontin itu untuk memunculkan kembali tulisan yang hilang dari buku itu." Balas Darius dengan santainya.
Tuan Davindra tampak membuang nafasnya dengan kasar dan mengelus bentuk hati dari liontin itu.
"Andai saja bisa pasti Papa akan melakukannya. Tapi kekuatan liontin ini hanya bisa dikeluarkan oleh orang terpilih yang tidak lain adalah cucuku." Jawab Tuan Davindra.
"Kita kan bisa membawa Biola ke Inggris?" Ucap Darius yang tampak bingung dengan pemikiran Papanya.
"Kita tidak bisa membawa cucuku ke Inggris. Dia sedang mengandung. Dan usia kandungannya masih sangat muda. Papa tidak mau terjadi apa-apa terhadap cucuku dan anak yang ada didalam kandungannya." Ujar Tuan Davindra dengan penuh khawatir.
"Kenapa Papa tidak bawa saja buku itu kesini? Jadi bereskan permasalahannya." Ucap Darius tanpa pikir panjang.
Tuan Davindra menatap putranya dengan tatapan malasnya. Tanpa menjawab ucapan Darius, Tuan Davindra mulai berdiri dari sofa dan berjalan kearah cucunya yang masih terbaring tak sadarkan diri diatas kasur.
Tuan Davindra duduk disamping kasur cucunya dan mengelus kepala cucunya yang masih tak sadarkan diri.
"Mudah bagimu untuk berbicara Darius. Tapi semuanya tidak semudah seperti yang kamu ucapkan. Ada sebuah teradisi khusus untuk membuat tulisan-tulisan dibuku itu muncul kembali dan itu hanya bisa dilakukan dikastil keluarga Kristian dan dengan bantuan liontin hati malaikat ditambah dengan orang terpilih. Rahasia tentang sejarah dari liontin itu sangat dirahasiakan dan ditutup rapat oleh penyihir angung El. Ditambah Papa tidak tahu apa yang akan terjadi kepada cucuku nantinya. Papa takut terjadi hal-hal yang buruk jika ritual itu dilakukan saat cucuku sedang mengandung." Jawab Tuan Davindra sambil menatap cucunya.
Darius mengacak rambutnya frustasi. Dia pikir akan sangat mudah mengetahui rahasia tentang liontin hati malaikat itu hanya dengan kekuatan dari liontin hati malaikat. Tapi nyatanya perkiraannya salah besar. Ternyata rahasia dibalik liontin hati malaikat itu sangat sulit untuk dipecahkan.
Tuan Davindra masih menatap cucunya dengan tatapan yang dipenuhi kerinduan. Wajah Biola juga sangat mirip dengan almarhumah Ibunya sehingga membuat Tuan Davindra juga teriangat akan putrinya yang sudah tiada.
Tuan Davindra mengenakan liontin itu kembali keleher cucunya. Ia masih menatap heran kearah liontin hati malaikat yang saat ini dikenakan oleh Biola.
Tuan Davindra seperti melihat perubahan diliontin hati malaikat itu, tapi apa? Tuan Davindra sendiri masih belum menemukan apa yang berubah dari liontin itu.
"Aneh sekali, kenapa aku merasa kalau liontin ini ada perubahan ya? Tapi aku tidak tahu apa perubahannya?" Ucap Tuan Davindra didalam hati sambil menatap heran ke arah liontin hati malaikat yang saat ini dikenakan oleh Biola.
Tuan Davindra tidak bisa membedakannya karena dia baru pertama kali melihat liontin itu secara langaung. Ia masih mengingat-ngingat bentuk asli dari liontin hati malaikat yang dikenakan oleh penyihir anggung El yang ada didalam lukisan diruang bawah tanah keluarga Alexa.
"Aihhh..... Aku yakin bentuknya berubah. Tapi apa ya? Sepertinya ingatanku memang sudah berkurang seiring berjalannya waktu. Aku juga sudah menjadi Kakek-kakek. Ubanku udah banyak, pasti aku juga akan menjadi pelupa seperti kakek-kakek pada umumnya." Ucap Tuan davindra didalam hati sambil memijat keningnya karena pusing.
Tiba-tiba saja Biola mengerjap-ngerjapkan matanya dan mulai mendudukan tubuhnya diatas kasur.
Tuan Davindra pun langsung terbangun dari lamunannya karena terkejut pada saat ia melihat cucunya sudah bangun dari pingsan.
"Kamu sudah sadar cucuku? Apa ada yang sakit? Apa kepalamu pusing? Oh iya minum! Sebentar Kakek akan ambilkan minum untukmu." Ucap Tuan Davindra sambil menuangkan segelas air putih yang ada dinakas dekat tempat tidur Biola.
Darius yang menyadari kalau keponakannya sudah sadarpun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Biola. Ia berdiri disamping Tuan Davindra yang sedang mengambil air minum untuk cucunya.
"Kakek?" Ucap Biola didalam hati sambil menatap Tuan Davindra yang sedang mengambilkan segelas air putih untuknya. Lalu tatapannya beralih kearah Darius yang sedang berdiri disamping Tuan Davindra sambil tersenyum lembut kearahnya.
"Ayo minum dulu. Kamu pasti haus." Ucap Tuan Davindra perhatian sambil membantu cucunya untuk minum.
Tanpa pikir panjang Biola pun langsung meminum segelas air putih yang disodorkan oleh Tuan Davindra. Karena tenggorokannya juga sangat kering dan butuh segelas air untuk membasahi tenggorokannya. Wajarlah Biola kan baru teriak-teriak dan langsung pingsan karena sebuah memori yang tiba-tiba masuk kedalam pikirannya.
"Kalian siap?" Tanya Biola setelah menegak habis minumannya lalu menatap Tuan Davindra dan Darius.
"Kami adalah keluargamu dari Ibumu. Apakah kamu lupa dengan pertemuan kita malam ini?" Tanya Darius lembut. Darius sungguh memperlakukan Biola dengan sangat lembut berbeda dengan semua wanta yang pernah ia temui karena Biola adalah orang yang sangat penting bagi Darius selain Papanya.
Biola tampak berpikir dan mengingat apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Tak lama kemudian Biola mengingat kejadian yang terjadi kepadanya.
Biola masih bingung dengan apa yang masuk kedalam pikirannya secara tiba-tiba. Ia merasa semua itu seperti mimpi dan keyataan. Entahlah Biola benar-benar tidak tahu dan tidak ingin memikirkannya untuk saat ini.
Biola mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya untuk mencari seseorang.
Tuan Davindra dan Darius yang menyadarinya pun tampak menatap Biola bingung.
"Apa yang kamu cari cucuku?" Tanya Tuan Davindra.
__ADS_1
"Em...itu Tu....."
"Panggil aku Kakek." Potong Tuan Davindra yang membuat Biola canggung.
"Iya Ka...kakek, aku sedang mencari Keynan." Jawab Biola canggung.
"Keynan? Siapa itu?" Tanya Tuan Davindra yang belum mengetahui nama dari suami cucunya sendiri.
"Dia bocah bau kencur yang tadi tiba-tiba saja sakit jantung." Jawab Darius yang membuat Biola bingung.
"Bocah bau kencur? sakit jantung?" Pikir Biola sambil berucap didalam hati.
"Oh jadi namanya Keynan. Suami dari cucuku yang tadi jantungnya kesakitan itu dan dilarikan kerumah sakit." Jawab Tuan Davindra tanpa sadar dan langsung membuat Biola terdiam.
Deg....
Rasanya detak jantung Biola ingin sekali berhenti detik itu juga saat mendengar suaminya sakit jantung dan dilarikan kerumah sakit.
"Siapa yang sakit Jantung?" Tanya Biola dengan nada tingginya dan membuat Tuan Davindra dan Darius terkejut.
Mereka menatap Biola dengan tatapan bingungnya. Karena mereka telah salah berbicara.
"Jawab!" Bentak Biola panik.
"Bocah bau kencur, eh maksud aku Keynan." Jawab Darius yang membuat Biola membulatkan matanya.
Dengan cepat Biola menyingkap selimutnya dan berdiri dari kasurnya. Tapi dengan cepat Tuan Davindra menahan lengan Cucunya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Tuan Davindra khawatir.
"Aku mau menemui Keynan." Jawab Biola tergesah-gesah.
"Tunggu! Kamu masih lemah." Taun Davindra terus berusaha menghentikan langkah kaki cucunya.
"Tapi aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin lihat Keynan....." Ucap Biola panik dengan suara lirihnya. Matanya sudah berkaca-kaca karena menahan air matanya yang ingin jatuh.
Darius yang melihat mata keponakannya yang berkaca-kaca pun jadi tak tega dan menepuk pundak Papanya yang sedang mencegah Biola pergi.
"Ok, tapi Biola kerumah sakitnya sama Kakek dan Paman ya." Ucap Darius lembut. Sungguh Darius bagaikan sosok seorang Ayah yang baik untuk Biola.
Biola hanya mengangguk mengiyakan ucapan Darius.
"Tapi kondisi cucuku..... ....."
"Nanti Darius akan telepon Dakter Hendri untuk mengawasi keadaan Biola dirumah sakit. Jadi Papa tenang saja. Darius juga akan memesan kamar VVIP dirumah sakit itu untuk Biola istirahat." Ucap Darius yang menenagkan ke khawatiran Papanya.
"Baiklah." Jawab Tuan Davindra pasrah.
Mereka pun pergi menuju rumah sakit tempat Keynan dirawat.
•••••••••
"Bagai mana keadaan putra saya Dok?" Tanya Mama Kania khawatir saat Dokter yang menangani Keynan keluar dari ruangan Keynan.
"Tuan Muda sudah melewati masa-masa kritisnya. Dan sekarang hanya menunggu Tuan Muda siuman." Jawab Dokter itu sambil tersenyum ramah.
"Syukurlah..." Jawab Mama Kania dan Pak Raihan berbarengan.
"Tapi kenapa putra saya bisa sakit jantung Dokter?" Tanya Pak Raihan.
"Untuk soal itu mari ikut saya keruangan saya Tuan Besar." Jawab Dokter itu yang diangguki oleh Pak Raihan sementara Mama Kania memilih untuk menunggu diruangan Keynan.
"Jadi apa penyebabnya Dokter? Kenapa putra saya sampai kesakitan didaerah jantungnya sampai-sampai ia muntah darah." Tanya Pak Raihan saat sudah berada didalam ruangan Diokter pribadinya.
"Seperti yang telah saya jelaskan dikediaman keluarga Kristian. Bahwa Tuan Muda mengalami luka dalam karena benturan atau pukulan didaerah jantungnya. Yang jelas luka itu disekitar jantung Tuan Muda. Dan ini adalah hasil USG dari jantung Tuan Muda." Ujar Dokter itu sambil menyodorkan sebuah map besar kearah Pak Raihan.
Pak Raihan meliaht isi map itu yang isinya hasil USG jantung Keynan. Pak Raihan tidak mengerti dengan gambar-gambar itu sehingaga Dokter pribadinya pun menjelaskannya.
Tuan Davindra sangat terkejut saat mendengarkan penuturan dari Dokter itu.
__ADS_1
"Apakah Keynan pernah berkelahi dengan seseorang? Tapi kenapa tidak ada luka memar ditubuhnya? Atau ini karena Mama mendorong Keynan? Tapi kayaknya itu tidak mungkin karena Keynan jatuhnya tidak terlalu kearas." Pikir Pak Raihan yang kebingungan dengan kondisia putranya.
_____________________