
"Kamu sekarang tinggal disini. Kamu dilarang masuk kedalam rumahku lagi. Ingat itu!" Ucap Keynan dengan penuh penekanan kedapa hantu gadis kecil yang sangat polos dan super cerewet menurut Keynan.
Keynan pada akhirnya membiarkan Biola tinggal karena ia tidak bisa menggusir hantu gadis polos itu. Tapi Keynan mengizinkan Biola tinggal di rumah pohon yang ada dihalaman belakang rumahnya dan tidak mengizinkan Biola untuk masuk kedalam rumahnya.
Biola tampak menatap rumah pohon itu yang tampak sempit dan kecil. Disana tidak ada apapun selain beberapa laci kecil dan lampu kecil yang digantung diatas rumah pohon itu.
"Kakak, disini gak ada tempat tidurnya. Lampunya juga kecil. Biola takut gelap. Lampunya pasti gak akan terang." Rengek Biola dengan wajah memelasnya.
Keynan membuang nafasnya dengan kasar lalu menatap Biola dengan malasnya.
"Nanti aku suruh Mang Aslan untuk ganti lampunya. Dan untuk kasur, kamu kan hantu jadi gak perlu lah kamu tidur diatas kasur. Lagian emangnya ada hantu tidur?" Tanya Keynan dengan dahi yang mengerut.
"Biola juga gak tahu. Tapi Biola selalu tidur pas malam hari." Jawab Biola yang tampak berbicara jujur.
"Kamu itu sebenarnya jenis hantu apa si? Disiang hari dan malam hari kelihatan. Pas malam hari juga ikut-ikutan tidur kayak manusia. Sebenarnya kamu itu hantu apa si Beo?" Tanya Keynan dengan kesalnya sambil menyebut Biola dengan sebutan Beo.
"Beo? Namaku Biola. Kakak jangan panggil Biola dengan sebutan Beo. Nanti Biola disamain sama burung Beo." Biola tampak tak suka dengan nama yang dipanggil Keynan.
"Bodo amat mau nama kamu Biola atau pun Beo. Lagian kamu itu gak ada bedanya sama burung Beo. Tiap hari kerjaannya ngoceh mulu. Sama kan?" Tanya Keynan dengan senyuman mengejeknya.
"Ihh... Kakak! Biola bukan burung Beo. Biola gak mau disamain sama burung Beo!" Rengek Biola dengan nada tingginya dan bibirnya yang sengaja ia monyongkan karena kesal dengan ucapan Keynan.
"Iya...iya... tadi kamu mau apa Beo?" Tanya Keynan dengan cekikikannya.
"Kakak...!!" Teriak Biola dengan pipi kembungnya dan wajah merahnya karena kesal dengan ucapan Keynan.
"Haha.... iya tadi kamu mau apa?" Tanya Keynan sambil tertawa.
Keynan ingin mengulurkan tangannya karena ingin mengusap kepala Biola namun tiba-tiba saja Keynan teringat kalau Biola adalah hantu jadi ia menarik tangannya kembali sebelum disadari oleh Biola.
"Kamu begitu menggemaskan. Andai saja kamu bukan hantu. Aku sangat ingin mengelus kelapamu dan mencubit pipi chabimu itu." Ucap Keynan didalam hati sambil tersenyum kecut.
"Biola mau kasur! Biola gak mau tidur dilantai." Jawab Biola dengan tegasnya.
"Baiklah, asalkan kamu gak masuk rumahku lagi kamu bisa dapet kasur." Ucap Keynan dengan pasrahnya.
Biola tampak tersenyum dengan bahagianya saat mendengarkan ucapan Keynan.
"Biola pasti gak akan masuk rumah Kakak. Biola janji!" Jawab Biola dengan antusiasnya dan mengacungkan jari kelingkingnya kearah Keynan.
Keynan menatap jari kelingking Biola dengan tatapan sendunya karena ia tidak bisa menyentuh jari kelingking mungil Biola.
"Ya udah, nanti aku juga akan suruh Mang Aslan untuk bawain kasur kecil buat kamu. Aku akan bilang ke dia kalau aku mau main rumah-rumahan disini. Meski nanti Mang Aslan dan yang lainnya akan tercengang saat mendengarnya. Karena aku gak suka main rumah-rumahan." Ucap Keynan sambil terkekeh dan mengabaikan jari kelingking mungil Biola.
"Terima kasih Kakak." Jawab Biola sambil tersenyum lebar.
Sepertinya Biola tidak mengambil pusing tentang jari kelingkingnya yang diabaikan oleh Keynan karena ia masih bocah berusia 5 tahun yang sangat polos dan tidak mengerti apa-apa.
"Ya udah aku pergi dulu ya. Kamu tinggal aja disini sampai kamu tahu bagai mana cara kamu untuk pergi kealam sesudah kematian." Ucap Keynan sambil turun dari rumah pohon dan diangguki oleh Biola.
Setelah itu rumah pohon yang ada dihalaman belakang rumah Keynan pun direnovasi dengan cantiknya. Mang Aslan dan yang lainnya sangat terkejut pada saat ia mendengar Tuan Mudanya ingin main rumah-rumahan dirumah pohon itu. Karena setahu mereka, Keynan tidak pernah main rumah-rumahan.
Sikap Keynan pun tergolong dingin dan cuek sehingga ia hanya mendapatkan sedikit teman pada saat ia disekolah dasar. Ia juga jarang memainkan permainan anak-anak seperti anak-anak seusianya. Keynan lebih sering membaca buku bahasa Inggris dan bahasa-bahasa asing lainnya yang sangat susah dimengerti bagi anak-anak seusia Keynan yang ada disekitarnya.
•••••••
Beberapa bulanpun berlalu, Keynan dan Biola mulai bersahabatan dengan sangat baiknya. Keynan juga menganggap Biola layaknyak seorang adik yang sangat cerewat karena Biola sering bertanya-tanya banyak hal kepada Keynan.
Keynan juga merasa kalau Biola itu berbeda dengan hantu-hantu yang pernah ia temui. Biola adalah hantu gadis kecil yang sangat polos dimata Keynan. Keynan juga melihat kejujuran dimata bulat hantu kecil itu.
Keynan selalu merasa kalau hantu kecil yang bersamanya itu seperti bukanlah hantu pada umumnya. Karena Biola selalu terlihat disiang hari dan tertidur dimalam hari layaknya manusia.
"Sebenarnya kamu itu hantu apa si Beo." Gumam Keynan sambil menatap Biola yang sedang main rumput dihalaman belakang rumah Keynan.
Sebnarnya bukan main rumput si. Tapi lebih tepatnya seperti sedang meneliti rumput yang Biola lihat.
Sementara Keynan sedang duduk dikursi yang ada ditaman halaman belakang rumahnya sambil membaca buku cerita yang tulisannya semua berbahasa inggris.
__ADS_1
Biola tiba-tiba berdiri dari jongkoknya dengan senyuman lebarnya. Ia menghampiri Keynan dengan berlari.
"Kakak.....!!!" Teriak Biola sambil berlari kearah Keynan dengan senyuman lebarnya yang tampak sangat polos.
Keynan meletakan buku yang ia baca diatas pangkuannya dan menatap Biola dengan tatapan tanyanya.
"Kakak ikut Biola. Biola mau tunjukin sesuatu." Ucap Biola dengan antusiasnya.
"Nunjukin apa si Beo? Jangan-jangan kamu mau tanya lagi sama aku tentang benda yang baru kamu temuin?" Tebak Keynan dengan wajah curiganya karena Biola sering kali bertanya sesuatu yang ia temui.
"Hehe... Kakak lihat aja nanti." Jawab Biola sambil cengengesan.
"Pasti dia mau tanya lagi." Ucap Keynan didalam hati sambil menatap Biola dengan tatapan curiganya.
Keynan pun bangkit dari duduknya dan membawa buku yang ia baca mengikuti langkah kaki mungil hantu gadis kecil itu.
"Ta...da...!!" Ucap Biola dengan antusiasnya sambil menunjukan beberapa tanan herbal yang ada ditanah.
"Apa?" Tanya Keynan dengan tatapan tanyanya sambil menatap rumput-rumput hijau ditanah yang ditunjukan oleh Biola.
"Ih Kakak itu!" Tunjuk Biola kearah rumput-rumput herbal yang ada ditanah.
"Terus kamu mau tanya apa?" Tanya Keynan to the point tanpa melihat tanaman apa yang ditunjuk oleh Biola.
"Hehe... kemarin Biola denger obrolan Bi Aidah dan Tante baik hati. Bi Aidah bilang rumput itu bisa dijadiin obat. Makannya Biola cari-cari dan ternyata ketemu disini. Disini ternyata ada banyak rumput herbal yang dibicarakan Bi Aidah dan Tante baik hati." Ucap Biola sambil cengengesan.
"Terus apa?" Tanya Keynan acuh.
"Jadi gini loh Kak, Biola mau tanya sebenarnya kegunaan rumput ini untuk apa?" Tanya Biola kepada Keynan dengan mata berbinarnya karena menunggu jawaban dari Keynan.
Keynan tampak menatap rerumputan yang ada dibawah kakinya dengan dahi yang mengerut.
"Rumput mana? Disini ada banyak rerumputan." Tanya Keynan yang membuat Biola kesal.
Biola memajukan bibirnya beberapa centi karena kesal dengan sikap Keynan yang super acuh.
"Ohhh... daun semanggi. Bilang dong dari tadi." Jawab Keynan sambil membulatkan bibirnya membentuh huruf O.
"Ih... Biola kan tadi udah Bilang tapi Kakak gak denger." Ucap Biola ngambek.
"Benarkah? Tapi tadi kan kamu gak bilang daun semanggi? Tadi kamu hanya tunjuk-tunjuk rumput." Ucap Keynan yang benar-benar membuat Biola marah.
"Akh Kakak mau beri tahu Biola atau enggak si? Biola penasaran loh... Lagian kan tadi Biola gak tahu namanya jadi wajar kalau Biola gak sebut namanya." Rajuk Biola sambil menghentak-hentakan kaki mungilnya ditanah.
"Iya, bentar ya Kakak inget-inget dulu. Soalnya Kakak agak lupa." Jawab Keynan sambil berpikir.
Setelah beberapa saat Keynan pun menggelengkan kepalanya karena ia tidak inget kegunaan daun semanggi dan itu membuat Biola kecewa.
"Aku gak inget kegunaannya untuk apa. Nanti aku cari tahu lagi ya. Tapi aku tadi abis baca tentang legenda dari daun semanggi ini." Jawab Keynan sambil berjongkok dan menatap daun semanggi berkelopak empat itu.
"Hah? Emangnya ada legendanya Kak? Terus legendanya apa Kak?" Tanya Biola dengan mata bulatnya yang sedang ingin mencari tahu.
Keynan tampak gemas melihat tingkah Biola. Ia sangat ingin menyentuh Biola dan mencubit pipi chabi Biola namun ia tidak bisa melakukan hal-hal itu.
"Andai saja kamu memiliki raga burung Beoku yang cerewet." Ucap Keynan didalam hari sambil menatap Biola dengan tatapan sendunya tapi itu hanya sesaat karena Keynan tidak ingin Biola menyadarinya.
"Iya, Bentar ya." Ucap Keynan sambil tersenyum dan membuka buku ceritanya yang berbahasa Inggris itu.
"Itu kan buku cerita." Ucap Biola bingung saat membaca judul dari disampul buku cerita yang Keynan pegang.
"Buku ini mungkin hanya buku cerita tapi legenda tentang daun semanggi berkelopak empat itu memang ada." Jawab Keynan dengan santainya sambil membaca buku ceritanya lagi untuk mencari tahu tentang legenda daun semanggi itu.
Tapi tiba-tiba Keynan menghentikan bacaannya saat tersadar akan sesuatu.
Keynan mengarahkan pandangannya kearah hantu gadis kecil itu dengan cepat. Ia menatap Biola dengan tatapan tak percayanya.
"Dari mana kamu tahu kalau buku ini buku cerita?" Tanya Keynan kaget. Karena ia pikir Biola tidak bisa membaca karena Biola adalah anak kecil berusia 5 tahun meski Biola saat ini adalah hantu.
__ADS_1
"Biola baca dari sampulnya. Disana judulnya Legenda cinta abadi." Jawab Biola dengan tampang polosnya.
Keynan kembali membaca judul buku itu lagi yang tertera Legend of eternal love.
"Kamu bisa membaca dan tau bahasa Inggris?" Tanya Keynan terkejut.
"Biola bisa baca kok. Biola juga Bisa bahasa Inggris, Jerman, Korea, dan masih ada lagi yang lain. Biola kan pinter." Jawab Biola dengan sombongnya.
"Benarkah? Kalau kamu pinter terus kenapa kamu banyak tanya?" Tanya Keynan dengan kekehannya saat melihat wajah sombong hatu kecil itu.
"Biola kan tanya karena Biola tidak tahu. Kata Ayah kalau Biola gak tahu Biola harus tanya. Makanya Biola tanya sama Kakak. Karena hanya Kakak yang bisa lihat Biola." Jawab Biola sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal. Pipinya juga mengembung seperti ikan buntal.
Keynan yang melihatnya hanya bisa terkekeh karena merasa lucu dengan tingkah Biola.
"Ok, Kakak bacain legenda dari daun ini ya." Ucap Keynan yang disambut antusias oleh Biola.
"Daun semanggi berkelopak empat ini menjadi lambang khas irlandia yang disebut dengan shamrock dan dipercaya akan membawa keberuntungan serta kebahagiaan. Setiap helai daun dari Four Leaf Clover ini melambangkan Faith yang artinya (kepercayaan), Hope (harapan), Love (cinta) dan Luck (keruntungan)." Ucap Keynan yang membacakan tentang legenda dari daun semanggi itu.
"Wah... benarkah? Apakah legenda itu benar-benar ada Kak?" Tanya Biola dengan mata bulatnya yang penuh dengan harapan.
"Ini hanya sebuah legenda. Kakak tidak tahu ini asli atau tidak." Tutur Keynan sambil menutup bukunya.
"Tapi kalau legenda itu benar gimana?" Tanya Biola dengan penuh harap.
Keynan tampak berpikir lalu mengangkat bahunya karena tidak tahu.
"Mana ku tahu." Jawab Keynan acuh lalu berbalik ingin duduk dikursinya kembali.
"Kakak tunggu! Kakak tolong petikin sehelai daun semanggi itu dong." Pinta Biola yang membuat Keynan menghentikan langkah Kakinya.
"Untuk apa?" Tanya Keynan bingung.
"Petik aja nanti aku beri tahu. Karena aku gak bisa petik daun itu." Jawab Biola yang membuat Keynan bingung namun ia tetep memetik daun semanggi itu.
"Nih! Untuk apa tapi?" Tanya Keynan sambil menyodorkan daun semanggi itu kearah Biola.
"Kakak simpen daun itu ditelapak tangan Kakak." Perintah Biola sambil tersenyum.
"Udah terus apa?" Tanya Keynan yang sudah meletakan daun semanggi itu ditelapak tangan kanannya.
"Kakak genggam daun semanggi itu kuat tapi jangan sampai merusak daunnya." Ucap Biola dengan tampang seriusnya.
Keynan menuruti semua perintah Biola dan menggenggam daun semanggi itu ditelapak tangannya dengan kuat tapi tidak sampai merusak daun itu.
"Setelah ini apa lagi?" Tanya Keynan dengan dengan santainya.
Biola menatap wajah Keynan dengan senyuman manisnya dan berdiri dihapan Keynan sambil memegang kedua tangannya dibelakang tubuhnya.
"Semoga dengan ini Kakak bisa dipercaya oleh orang lain seperti aku mempercayai Kakak dan selalu bertanya kepada Kakak karena aku selalu percaya Kakak. Semoga juga harapan dan cinta Kakak akan menemukan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai kelak. Biola percaya kalau keberuntungan itu ada dan Biola harap Kakak selalu beruntung disisa usia Kakak." Ucap Biola sambil tersenyum manis kearah Keynan.
Sungguh Kata-kata Biola begitu polos namun kata-kata itu mampu membuat hati Keynan bergetar.
Keynan menatap Biola tanpa berkedip. Ia merasakan jantungnya yang berdebar kencang saat mendengarkan kata-kata manis dari mulut mungil hantu kecil yang sangat polos itu.
Biola tampak sangat bersinar dan tampak sangat cantik dimata Keynan pada saat itu.
"Perasaan apa ini?" Ucap Keynan didalam hati sambil menatap hantu gadis kecil yang ada dihadapannya dan merasakan debaran jantungnya yang berdebar Kencang. Ia juga merasakan hangat dihatinya. Kehangatan yang belum pernah Keynan rasakan sebelumnya.
Setelah beberapa saat Keynan pun tersenyum dan menatap Biola dengan tatapan penuh cintanya yang masih belum ia sadari pada waktu itu.
"Terima kasih." Ucap Keynan sambil tersenyum lembut.
"Sama-sama Kakak. Kakak adalah orang paling baik yang pernah Biola temuin selama ini. Semoga saja hadiah kecil ini akan sangat bermanfaat buat Kakak." Jawab Biola dengan wajah polosnya.
Keynan hanya bisa tersenyum menatap Biola. Sebenarnya Keynan sangat ingin memeluk Biola tapi ia tidak bisa menyentuh Biola. Karena Biola tidak memiliki raga.
"Aku ingin memelukmu. Aku ingin bermain bebas denganmu. Aku ingin bersamamu selamanya walau ku tahu kamu bukanlah manusia. Tapi aku ingin kau tetap ada disisiku dan menemaniku selama-lamanya disisa usiaku saat ini." Ucap Keynan didalam hati sambil menatap Biola lalu menyimpan daun semanggi itu kedalam buku ceritanya.
__ADS_1