Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 69


__ADS_3

Biola sampai dikediaman keluarga Anggara pukul 06:30 malam dengan menggunakan jaket dan memakai hoodie untuk menutupi seluruh tubuhnya yang terluka.


Biola sengaja membeli jaket itu agar tidak ada yang melihat lukanya. Dia melakukan itu bukan karena ingin menutupi kejahatan Ibu tirinya tetapi dia sangat lelah dengan semua sandiwara yang dilakukan oleh Ibu tirinya dan adiknya.


Biola tidak ingin memperpanjang masalah ini karena dia tahu kalau ujung-ujungnya tak ada yang percaya dengan ucapannya. Biarlah waktu yang akan menyadarkan mereka. Itulah yang selau Biola ucapkan dengan acuhnya.


Dan untuk Pak Bayu, dia seperti biasa selalu menyibukan diri dengan urusan perusahaannya sehingga dia selalu mengabaikan Putri sulungnya.


Karena dengan mengabaikan Putri sulungnya Pak Bayu pikir akan membuat Biola tak lagi membencinya dan juga bisa menyelamatkan Ibunya yang keras kepala itu.


Padahal selama ini Biola tidak pernah membenci Pak Bayu. Biola hanya tidak mau menganggapnya karena masih teringat akan masalalu nya.


Tindakan Pak Bayu itu selalu salah dan membuat hubungan Ayah dan anak itu semakin lama semakin terpisah bukan merenggang lagi.


"Nona sudah pulang? Kenapa Nona pulang selarut ini? Apa terjadi sesuatu kepada Nona?" Tanya Bi Sumi khawatir saat melihat Biola pulang pukul 06:30 malam.


"Mereka di mana?" Tanya Biola dingin dan mengabaikan pertanyaan Bi Sumi.


Bi Sumi yang mengerti pertanyaan Biola pun langsung menundukan kepalanya karena bingung harus menjawab apa.


"Tuan Besar, Nyonya Mirna dan Nona Mona pergi untuk makan malam dikediaman Nyonya Laras sejak tadi sore." Jawab Bi Sumi dengan gugup.


Biola yang mendengar ucapan Bi Sumi hanya bisa tersenyum sinis sambil memegangi lengannya yang terluka parah akibat ulah preman bayaran Mama Mirna dan Putrinya.


"Jangan beri tahu dia kalau aku pulang terlambat." Perintah Biola dengan nada dingin nya.


Bi Sumi yang mendengarkan ucapan Biola pun merasa sangat bersalah kepada Biola.


"Baik Nona!" Jawab Bi Sumi dengan nada yang merendah.


Setelah itu Biola menaiki anak tangga menuju kamarnya dan meninggalkan Bi Sumi yang merasa sangat bersalah.


"Sampai kapan perasaan bersalah ini akan berakhir. Aku sudah tidak sanggup lagi melihat sikap dingin Nona Biola. Maafkan Bibi Nona, Bibi salah. Semoga Nona bisa menemukan kebahagiaan Nona dan bisa meninggalkan keluarga ini." Gumam Bi Sumi sambil menatap punggung Biola.


•••••


Keesokan paginya Biola seperti biasa pergi ke sekolah dan setelah pulang sekolah Biola kerumah Pak Sinan untuk berlatih karate.


Biola belajar dengan sangat sungguh-sungguh walaupun dengan tubuh yang masih terluka.


Pak Sinan secara khusus mengajari Biola karena melihat kesungguhan Biola dalam belajar karate.


Perkembangan pelatihan Biola sangatlah cepat hanya dalam beberapa minggu Biola belajar karate dan diajari secara khusus oleh Pak Sinan, Biola sudah menguasai beberapa jurus dengan sangat cepat.


Pak Sinan yang merasa senang dengan pelatihan Biola yang sangat cepat pun secara khusus memberi perhatian yang berlebih kepada Biola.


Perhatian Pak Sinan yang berlebihan membuat Sinta sangat kesal. Ditambah Pak Sinan sering kali membanggakan Biola kepada murid-murid lainnya karena Biola dapat mengusai semua  jurus karate yang Pak Sinan ajarkan kepada Biola dengan sangat cepat yaitu hanya dalam waktu beberapa minggu.


Sinta sangat benci kepada Biola yang sangat disayang oleh Ayahnya. Karena selama ini Pak Sinan hanya memberikan perhatian khusu kepada Sinta seorang.


Pak Sinan selalu melatih Sinta karate sejak kecil karena Pak Sinan sangat mengkhawatirkan Sinta yang merupakan seorang perempuan.


Pak Sinan selalu memberikan perhatian secara khusu untuk Sinta agar Sinta dapat mempelajari karate secepatnya.


Dan terbukti dari perhatian khusus dari Pak Sinan terhadap pelatihan Putrinya selama ini. Kini Sinta telah ahli dalam karate dan menjadi panutan bagi para murid-murud diperguruan karate milik Ayahnya.


Tapi itu semua tidaklah lama. Karena hanya dalam beberapa minggu posisinya sebagai panutan bagi para murid-murid diperguruan karate milik Pak Sinan telah direnggut oleh seorang murid baru yang mendapatkan perhatian khusus dari Pak Sinan.


Sinta menghampiri Biola dengan dipenuhi emosi dan menantang Biola untuk berduel.


"Hei! Ayo kita berduel." Tantang Sinta tiba-tiba saat Biola sedang berlatih sendirian.


Biola mengabaikan tantangan Sinta dan tetap fokus berlatih. Karena baginya berlatih karate adalah untuk melindungi nyawanya dari musuh bukan untuk berduel.


"Lo denger gue gak!! Gue bilang kita berduel!!" Bentak Sinta sambil menarik kerah baju Biola.


Biola menepis tangan Sinta yang menarik kerah bajunya dan mengabaikan ucapan Sinta.


"Lo!!!" Kesal Sinta sambil ingin menghajar Biola.


PLAAKK....


Biola menangkis pulukan Sinta dengan entengnya. Sinta yang mulai tersulut emosi pun mulai menghajar Biola lagi dan lagi dengan membabi buta.


Sementara Biola hanya diam dan menghindari setiap serangan Sinta.


"Serang gue! Tunjukin kemampuan lo!!" Teriak Sinta sambil terus menerus memberikan serangan kepada Biola.


Biola mengabaikan ucapan Sinta. Hingga Sinta menghentikan aksinya dan mengumpat dengan kesalnya karena Biola tidak membalas satupun serangannya.

__ADS_1


Dan yang membuat Sinta tambah kesal yaitu ketika Biola menghindari serangan Sinta dengan entengnya dan dia menghindari serangan Sinta cukup lama. Sehingga membuat Sinta capek sendiri berkelahi dengan Biola.


Sementara Biola terlihat baik-baik saja seolah-olah dia tidak mengeluarkan tenaga sedikitpun saat menghindari serangan Sinta.


"Gue masih ingin berduel dengan lo! Gue harus bisa membuat lo mengeluarkan kemampuan lo dan gue akan mengalahkan lo." Ucap Sinta kasar sambil menunjuk wajah Biola.


Biola hanya menarik nafasnya dengan kasar dan berlatih kembali tanpa menghiraukan Sinta.


"Sial! Gue harus merebut kembali perhatian semua murid-murid diperguruan Ayah terutama perhatian Ayah dalam mengajari Biola secara khusus." Ucap Sinta didalam hati sambil berlalu meninggalkan Biola yang tampak acuh itu.


Sejak hari itu Sinta terus-menerus menantang Biola berduel tapi Biola selalu mengabaikan tantangan Sinta.


Sinta sudah melakukan berbagai macam cara agar membuat Biola marah sehingga dia dan Biola bisa berduel.


Namun usaha Sinta sia-sia. Yang ditantang Sinta pada saat itu adalah patung es yang tidak memiliki satu emosipun didalam dirinya selain hawa dingin yang membuat siapa saja yang mendekatinya menggigil kedinginan.


Biola pada saat itu sangatlah cuek dan dingin kepada siapapun sehingga tidak ada satu muridpun yang mau berteman dengan Biola.


Hanya Sinta lah yang selama ini selalu mengajak Biola berduel. Sementara murid-murid lainnya sudah sangat ketakutan saat melihat pandangan dingin Biola.


Sinta yang terus menantang Biola berduel tanpa sadar telah membuat sebuah ikatan persahabtan. Namun karena ego Sinta yang sangat tinggi sehingga membuat Sinta tidak mau menyadari perasaannya.


"Hei! Ayo kita berduel." Teriak Sinta kepada Biola yang lagi-lagi diabaikan oleh Biola.


Entah sudah berapa ribu kali Sinta mengucapkan kata itu tapi Biola selalu mengabaikan tantangan Sinta.


"Sepertinya dia diabaikan lagi." Bisik salah satu murid diperguruan karate itu.


"Sudah biasa, gue bosen liatnya. Lagian tu si Sinta gak ada takut-takutnya sama si Biola. Gue aja sampe merinding saat dekat dengan Biola karena aura dinginnya." Balas murid lainnya sambil berbisik juga.


Sinta terus membuntuti Biola kemanapun Biola pergi dan terus-menerus meminta duel kepada Biola. Tapi Biola tampak acuh dan tidak memperdulikan keberadaan Sinta yang terus mengocek dan membuntutinya kemanapun dia pergi.


Hingga sebuah tragedipun terjadi. Sinta diculik oleh salah satu saingan Pak Sinan saat Sinta pulang sekolah.


Sinta disekap disebuah gudang yang terlihat sangat kumuh dan dipenuhi oleh barang-barang yang tak terpakai.


Pak Sinan yang mengetahui anaknya diculikpun segera mengambil tindakan dan mengajak sebagian murid-muridnya yang telah ahli karate untuk mencari Sinta.


Tapi tiba-tiba nomor tak dikenal menelepon Pak Sinan. Dengan cepat Pak Sinan menjawab telepon itu.


"Hallo siapa ini?!" Tanya Pak Sinan dengan kesalnya.


"Ahhh... Sial!!!" Teriak Pak Sinan sambil membanting handphonenya.


Pak Sinan memiliki seorang rival yang selalu bersaing dengannya dalam karate sejak dulu. Tapi karena Pak Sinan sangat kuat sehingga rivalnya itu selalu dengan mudahnya Pak Sinan kalahkan.


Pak Sinan tidak menyangka kalau rivalnya itu ternyata memiliki dendam kepadanya sehingga memusuhinya dan merencanakan rencana licik ini untuk membalas dendam kepada Pak Sinan.


••••••


Ditempat lain Biola sedang berdiri sambil bersandar disebuah pohon besar didekat sebuah rumah sederhana yang tak jauh dari perguruan karate milik Pak Sinan.


Biola mentap rumah itu dalam diam. Biola mengenakan celana panjang berwarna hitan dengan jaket yang juga berwarna hitam dan menutupi kepalanya dengan hoodie sambil mengawasi beberapa orang-orang bertubuh besar yang sedang menjaga dirumah itu.


Saat orang-orang bertubuh besar itu lengah, Biola dengan cepat menyusup kedalam rumah sederhana itu.


Setelah berhasil masuk kedalam rumah itu tanpa disadari oleh orang-orang bertubuh besar itu, Biola langsung menuju kesalah satu pintu dekat dapur.


Biola membuka pintu itu dengan mudahnya karena kuncinya masih tergantung dipintu itu.


Terlihat orang yang ada didalam ruangan itu terkejut dan tampak senang saat melihat keberadaan Biola.


Tapi orang yang ada didalam itu tidak bisa berbuat apa-apa karena mulutnya dilakban dengan kaki dan tangan yang di ikat.


Tanpa sepatah kata pun Biola langsung membuka lakban dan ikatan dari orang itu yang tak lain adalah Sinta.


"Biola makasih." Ucap Sinta dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan sambil memeluk Biola.


"Ayo!" Ucap Biola singkat sambil melepaskan pelukan Sinta lalu menarik tangan Sinta keluar dari ruangan itu yang merupakan gudang dirumah itu.


Sinta tertegun saat mendengar Biola berbicara kepadanya. Karena ini adalah kali pertamanya Biola berbicara kepadanya.


Biola menarik tangan Sinta dan mengendap-endap keluar dari rumah itu seperti maling.


Sinta merasa heran dengan tingkah Biola yang menurutnya seperti terbiasa dengan situasi seperti ini. Seolah-olah situasi seperti ini sering Biola alami.


Sinta menatap tangannya yang ditarik oleh Biola. Sinta merasakannya dari tangan Biola. Sinta merasakan kalau tak ada ketakutan sedikitpun dari Biola.


Sinta yang hanya fokus menatap tangan Biola tak sengaja menyenggol meja dan menjatuhkan vas bunga dari meja itu. Sehingga membuat semua orang yang menjaga dirumah itu berlari kearah Sinta dan Biola.

__ADS_1


"Ck..!!" Decak Biola saat melihat orang-orang bertubuh besar itu mengelilinginya dan Sinta.


Akhirnya Sinta dan Biola pun berkelahi melawan orang-orang bertubuh kekar dan besar itu.


Sinta sangat kewalahan karena tidak bisa mengimbangi serangan dari lawannya sehingga membuat Sinta terkena satu pukulan dari orang-orang bertubuh besar itu.


Biola yang melihatnya pun segera berdiri membelakangi Sinta yang terduduk dilantai untuk melindungi Sinta dari para musuh-musuhnya.


Sinta yang melihat Biola melindunginyapun merasa bersalah kepada Biola karena selama ini dia selalu jahat kepada Biola dan selalu berpikiran negatif tentang Biola.


Tapi tak lama kemudian Sinta dibuat tercengang saat melihat Biola dengan brutalnya mengalahkan orang-orang bertubuh besar itu.


Biola bahkan tidak memberi ampun kepada orang-orang bertubuh besar itu.


Wajah dan tangan Biola sudah dipenuhi oleh darah dari orang-orang bertubuh besar itu.


Sinta yang melihatnya hanya bisa terduduk lemas dilantai dengan tubuh yang gemetar.


"Apakah nasibku akan sama seperti mereka jika aku berhasil mengajak Biola duel." Gumam Sinta sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Tak lama kemudain Pak Sinan datang dan tercengang melihat kesadisan muridnya yang mengalahkan musuh Pak Sinan dan anak buah dari musuh Pak Sinan. Dengan cepat Pak Sinan menahan Biola tapi Biola seolah-olah bukan dirinya.


"Biola sadarlah Biola!!!" Teriak Pak Sinan yang terus menghalau serangan Biola.


Biola menghiraukan ucapan Pak Sinan. Dia seperti orang kesurupan yang haus akan darah.


Pak Sinan yang berusaha menghentikan Biola pun hampir dikalahkan oleh Biola tapi untungnya murid-murid Pak Sinan membantunya untuk menghentikan Biola. Dengan membuat Biola pingsan.


Dan sejak saat itu pula Bunda Ratih dan Pak Sinan jadi tambah menyayangi Biola seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Bunda Ratih memaksa Biola Untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda sama seperti Sinta.


Mau tak mau pada akhirnya Biola pun memanggil Bunda Ratih dengan sebutan Bunda bukan Tante lagi.


Dan soal Biola belajar karate, keluarga Anggara sendiri tidak mengetahuinya. Yang mereka tahu Biola sudah mendapatkan teman dan sering pergi kerumah temannya untuk belajar bersama.


Dan Sinta masih suka membuntuti Biola dan mengoceh sambil membuntuti Biola seperti dulu. Tapi kali ini bukan duel yang dipinta Sinta melainkan ingin menjadi sahabat Biola.


Yah walau pun masih diacuhkan oleh Biola.


"Bi, lo mau kan jadi temen gue. Gue baik loh mau jadi temen patung es." Bujuk Sinta dengan tidak tahu malunya sambil mengintili kegiatan Biola yang sedang latihan karate.


Biola tidak memperdulikan ucapan Sinta dan masih sibuk dengan latihannya.


Tak habis akal, Sinta memohon-mohon kepada orang tua nya agar dia bisa dipindahkan kesekolah Biola.


Mau tak mau Pak Sinan dan Bunda Ratih mengizinkan Sinta pindah ke sekolah Biola yang terbilang sedikit mahal dari sekolah lama Sinta.


Dan sejak saat itu Sinta selalu bersama Biola dan lambat laun Biola pun mulai menerima Sinta sebagai sahabat pertama dan satu-satunya Biola.


Dan lambat laun juga Sinta mulai merasakan keanehan dari sahabatnya dan mengetahui kemampuan sahabatnya yang bisa melihat masa depan dan masalalu Biola tentang keluarganya yang selalu Biola rahasiakan.


Flashback Off


Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki pekarangan rumah Pak Sinan.


Mobil itu diparkirkan didekat mobil putih yang membawa Biola dan Sinta juga Devin ke rumah Sinta.


Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah yang sangat tampan keluar dari mobil mewah itu.


Pria itu mengetuk rumah Pak Sinan lalu Bunda Ratih muncul dari dalam rumah dan membukakan pintu untuk pria itu.


Bunda Ratih sangat terpukau saat melihat wajah tampan yang dimiliki oleh Pria itu dan mempersilahkan Pria itu untuk masuk kedalam rumahnya.


•••••


"Huhh.... kau selalu saja membuat aku khawatir." Ucap seorang Pria sambil duduk disebelah Biola yang tertidur sambil bersandar di pohon.


Pria itu menarik pelan kepala Biola dan memindahkannya kepangkuannya.


Pria itu tersenyum melihat wajah cantik Biola yang ada dipangkuannya. Sambil mengelus pipi Biola dengan lembut.


"Kamu itu sangat cantik. Aku sangat takut ada pria lain yang akan mengambil kamu dari aku. Apa lagi saat kamu tertidur seperti ini. Apa kamu tahu saat kamu tertidur kamu akan terlihat seperti seorang bidadari sehingga membuat hasratku selalu bangkit saat melihat kamu tertidur. Jadi jangan salahkan aku jika aku kelepasan seperti dulu lagi saat malam pertama kita." Ucap Pria itu sambil terkekeh dan mengelus pipi Biola dengan lembut.


Pria itu tak lain adalah suaminya Biola, yaitu Keynan Kristian. Yang datang karena ulah Devin yang membuatnya cemburu dan meninggalkan rapat.


____________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guys 😘


Dan kalau boleh koreksinya supaya aku tahu letak kesalahan dalam penulisan Novel ini. Karena aku masih seorang amatiran.😂

__ADS_1


Terima kasih yang udah mendukung Novel ini 💝


__ADS_2