
Saat ini Keynan dan Biola sedang menuju kesebuah pemakaman umum yang berada di kota Bandung.
Tampak Biola sudah membeli seikat bunga mawar putih untuk Ibu nya nanti. Keynan juga tampak tersenyum saat sedang mengemudikan mobilnya karena ia gemas sendiri melihat tingkah istrinya yang tampak sedang asik sendiri menciumi bunga mawar putih sejak ia meninggalkan toko bunga tempat Biola membeli bunga mawar putih itu.
Tiba-tiba senyuman di kedua sudut bibir Keynan memudar saat ia baru ingat kalau selama ia menikah dengan Biola, ia tidak pernah sekalipun memberikan istrinya seikat bunga. Sungguh Keynan merasa gagal menjadi seorang suami yang baik untuk istrinya.
Biola yang sudah puas menciumi bunga mawar putih yang ia bawa untuk Ibu nya pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Keynan. Biola mengerutkan dahinya saat melihat raut wajah suaminya yang tampak sedih.
"Kamu kenapa Key? Kenapa wajahmu tampak sedih?" Tanya Biola yang mengejutkan Keynan dari lamunannya.
Keynan yang terkejut dengan ucapan istrinya pun langsung tersenyum canggung kearah istrinya lalu menggelengkan kepalanya.
"Enggak apa-apa kok sayang. Tadi aku hanya sedikit berpikir saja." Jawa Keynan setelah menggelengkan kepalanya lalu tersenyum kearah Biola.
"Emangnya kamu berpikir apa?" Tanya Biola ingin tahu.
Keynan tampak tersenyum kikuk dan menggaruk wajahnya sendiri yang tidak gatal dengan jari telunjuknya.
Sungguh Keynan saat ini sedang bingung untuk mencari alasan apa yang cocok untuk membohongi istrinya, karena ia tidak mungkin kan memberitahu Biola tentang apa yang ia pikirkan.
Sebenarnya Keynan ingin memberikan kejutan untuk istrinya dan membelikan seikat bunga kepada istrinya nanti. Masa Keynan ingin memberitahu istrinya kalau dia sedih karena dia belum pernah membelikan istrinya seikat bungga.
Sungguh suami macam apa dirinya ini. sampai-sampai membelikan istrinya bungapun tidak pernah.
Biola tampak mengerutkan keningnya karena Keynan tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Keynan tampak memberhentikan mobilnya dan membuat Biola tambah mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa malah berhenti ditengah jalan? Kamu belum menjawab pertanyaanku." Ucap Biola dengan kening yang mengerut tanpa melihat kesekeliling tempat mobilnya berhenti.
"Nanti aja ya jawabnya sayang. Kita udah sampai dipemakamannya. Ayo kita turun." Ujar Keynan yang membuat Biola tersadar kalau mereka telah sampai dipemakaman umum tempat Ibunya Biola dimakamkan.
Sungguh Biola pikir suaminya itu berhenti ditengah jalan karena perjalanannya yang terasa sangat singkat bagi Biola.
"Loh! Kenapa kita cepat sampainya? Perasaanku makam Mama dari Vila kan cukup jauh?" Tanya Biola dengan kagetnya saat menyadari kalau ia telah sampai dipemakaman tempat Ibunya dimakamkan.
Keynan tampak tersenyum menatap istrinya lalu mengelus kepala istrinya dengan gemas.
"Kamu tidak akan menyadarinya kalau kamu sedari toko bunga sampai kepemakaman terus menciumi bunga mawar putih yang kamu beli. Kamu hanya memfokuskan dirimu pada bunga mawar putih itu. Aku aja yang ada disebelah kamu dianggurin loh." Jawab Keynan dengan bibir mengerucutnya.
Biola pun tampak mengangguk karena ia juga menyadari apa yang ia lakukan sedari tadi.
"Oh pamtesan perjalanannya jadi singkat. Ternyata aku yang gak nyadar." Jawab Biola sambil memgangguk-nganggukan kepalanya.
"Ya udah ayo kita turun. Aku udah gak sabar pengen liat makam Mama lagi setelah sekian lama." Lanjut Biola sambil tersenyum dan membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
"Ya udah yuk kita turun lalu cari makam Mama kamu dulu ya." Balas Keynan sambil membuka pintu mobilnya.
Merekapun menanyakan makam Mamanya Biola kepada pemberesih atau lebih tepatnya penjaga makam yang ada dipemakaman umum itu, karena Biola sudah tidak terlalu ingat dengan lokasi makam Mamanya. Wajar saja karena Biola terakhir kali mengunjungi makam Mamanya pada saat ia masih sangat kecil. Jadi Biola tidak terlalu mengingat letak makam ibunya.
Setelah menyebutkan nama Ibunya dan ciri-ciri lainnya kepada pemberesih makam itu, pemberesih makam itu menunjukan salah satu makam dengan nama Viola dengan ciri-ciri yang Biola sebutkan kepada tukang pemberesih makam itu.
"Yang ini bukan Neng?" Tanya pemberesih makam itu kepada Biola.
Biola pun tampak membaca nisan yang ada dimakam itu lalu mengangguk kepada pemberesih makam yang ada disebelahnya dan Keynan.
"Iya Kang, makasih ya udah bantu nyari makam Ibu saya. Ini ada sedikit buat Akang karena udah bantu saya nyari makam Ibu saya." Ujar Biola sopan sambil menyodorkan uang seratus ribu kepada tukang pemberesih makam itu.
"Ah... tidak usah Neng. Saya ikhlas bantu Eneng sama Akang." Tolak tukang pemberesih makam itu.
"Udah ambil aja Kang. Anggap aja sebagai rezeki buat Akang." Balas Keynan sambil tersenyum ramah.
"Aduh hatur nuhun atuhnya Neng Akang. Moga-moga lahirana si Eneng engke sing dilancarken ku gusti Allah. Jeng semoga si Eneng sareng bayina sing selamet dunia akherat." Do'a tukang pemberesih makam itu menggunakan bahasa Sunda.
"Amin......" Jawab Keynan dan Biola berbarengan.
"Ya udah atuh Akang sareng Eneng, Abdi bade ka dinya heula. Bade ngaberesihan makam deui. Hayu Kang, Neng." Pamit pemberesih makam itu kepada Biola dan Keynan.
"Iya sekali lagi makasih ya Kang." Ucap Biola sambil tersenyum dan dibalas anggukan oleh tukang pemberesih makam itu karena jaraknya sudah menjauh dari Keynan dan Biola.
Biola menatap makam Mamanya yang tampak tak terurus. Dan sedikit kotor dengan rumput dan dedaunan kering yang menghiasi makam Mamanya.
Sungguh didalam hati kecil Biola, Biola sangat ingin merasakan kasih sayang dari sang Ibu yang sudah meninggalkannya sejak ia baru lahir kedunia ini. Ia sungguh sangat rindu akan kasih sayang dari seorang Ibu kandung yang tidak pernah ia dapatkan sejak ia lahir kedunia ini.
Keynan merangkul pundak istrinya saat melihat mata berkaca-kaca istrinya. Lalu ia menatap makam Ibunya Biola dengan mata sayunya
"Asalamualaikum Mama. Perkenalkan nama aku Keynan kristian. Aku adalah suminya Biola sekaligus menantunya Mama. Maaf ya Ma, karena sebagai menantu aku baru bisa memperkenalkan diri aku sekarang kepada Mama. Dan terima kasih karena Mama sudah banyak berkorban untuk Biola sehingga Biola bisa lahir didunia ini dengan selamat. Kalau bukan karena perjuangan dan pengorbanan Mama, aku pasti tidak akan bisa mendapatkan istri sebaik Biola. Oh iya Ma, aku juga mau memperkenalkan calon cucu Mama. Do'a kan kami ya Ma dialam sana. Agar kami bisa menjadi orang tua yang bisa bertanggung jawab dan dapat mendidik anak-anak kita dengan baik nantinya." Ujar Keynan sambil mengelus perut buncit istrinya dan nenatap makam Ibunya Biola.
Setelah itu Biola dan Keynan memberesikan Makam Ibunya Biola yang tampak rumputnya sudah pada tinggi-tinggi dan banyak terdapat dedaunan kering dimakam Viola Alexa, yaitu Ibunya Biola.
Biola meletakan bungga mawar putih yang ia bawa dimakam Mamanya setelah terlebih dahulu ia dan suaminya memberesikan Makam Viola. Lalu setelah itu Keynan dan Biola membaca suarat yasin dan mendo'akan Viola.
"Ma, Mama baik-baik ya dialam sana. Mama jangan khawatirin kami-kami yang ada disini. Mama harus bahagia dialam sana. Biar Biola sama Ayah dan juga keluarga Alexa bisa hidup bahagia juga disini." Ucap Biola dengan air mata yang menggenang sambil mengusap nisan Mamanya.
"Dan maafin Biola ya Ma, karena Biola sempat membenci Ayah karena sifat Ayah yang berubah derastis dan mulai mengabaikan Biola selama bertahun-tahun. Tapi Biola sudah memaafkan Ayah kok Ma. Biola juga udah enggak benci Ayah lagi kok Ma. Bahkan Biola sedang berusaha untuk menjadi anak yang baik agar Ayah bisa bersama Biola lagi nantinya. Semoga saja dengan perubahan Biola kali ini, Ayah bisa pulang dan menemui Biola. Karena kata Kakek, Ayah masih tidak ingin menemui Biola. Ia masih ragu untuk menemui Biola. Ia juga tidak ingin Biola tahu keberadaannya saat ini. Padahal Biola sudah sangat merindukan Ayah yang dulu. Ayah yang sering membawa Biola kemanapun ia pergi dan melindungi Biola dengan seluruh nyawanya. Ayah yang selalu memberikan kasih sayangnya sepenuhnya hanya untuk Biola. Biola merindukan Ayah. Bahkan sangat merindukannya Ma." Lanjut Biola dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya. Ia masih mengusap nisan Mamanya dengan perasaan rindu yang sangat besar.
Sementara Keynan masih setia mendampingi istrinya disamping istrinya. Ia juga sangat terharu dengan ucapan istrinya.
"Oh iya Ma, Kakek sama Paman juga sangat merindukan Mama. Mereka bahkan selalu berkaca-kaca saat melihat Biola yang sangat mirip dengan Mama. Mereka juga sangat menyayangi Biola bahkan sebelum mereka menemukan Biola. Terima kasih ya Ma, karena Mama telah memberikan Biola kehidupan sampai mengorbankan nyawa Mama agar Biola bisa tetap hidup didunia ini. Bahkan Mama juga telah memberikan sebuah keluarga yang sangat baik dan sangat menyayangi Biola seperti Kakek dan juga Paman. Meskipun Biola belum pernah bertemu dengan Mama tapi Biola yakin kalau Mama adalah seorang Ibu yang sangat baik. Biola sangat menyayangi Mama. Terima kasih atas segala pengorbanan Mama yang sangat berharga bagi Biola. Biola tidak akan pernah menyia-nyiakan nyawa yang telah Mama pertahankan untuk Biola. Biola sayang Mama." Ucap Biola dengan air mata yang tak berhenti menetes dan membasahi pipinya yang mulus.
Biola mencium nisa Mamanya dan mengusap nisan Mamanya dengan penuh kasih sayang. Seolah-olah nisan itu adalah Mamanya dimata Biola.
__ADS_1
Keynan merangkul bahu istrinya dan mengusap bahu istrinya lembut. Ia berusaha menguatkan istrinya yang sedang merindukan sosok seorang Ibu kandung.
"Ma, Mama tenang saja dialam sana. Biar Biola, Keynan yang jaga. Key pasti akan jaga Biola dengan sepenuh jiwa dan raga Key. Karena Biola sudah seperti separuh jiwa raga Key. Key juga akan melindungi anak-anak kita kelak. Dan Key sungguh-sungguh menyayangi dan mencintai Biola putri Mama." Ucap Keynan sambil mengusap air mata istrinya yang membasahi pipi istrinya.
Keynan menatap istrinya dengan dipenuhi kasih saya. Biola hanya menatap Keynan dengan mata berkaca-kacanya karena menangis.
Keynan dan Biola pun berdiri dari jongkoknya karena Biola tidak boleh terlalu lama berjongkok. Mereka juga akan berpamitan kepada Viola. Karena hari yang sudah mau siang. Karena Biola dan Keynan datang ke makam Viola pagi-pagi.
"Ma, Biola sama Key pamit dulu ya. Kami pasti akan sering-sering jengukin Mama." Ujar Keynan dengan mata sendunya.
"Mama, Biola pamit ya Ma. Biola sayang Mama." Pamit Biola sambil mengelus nisan Mamanya lagi kilas.
Setelah itu Keynan dan Biola meninggalkan pemakaman umum tempat Viola Alexa dimakamkan.
Satu hal yang harus diketahui bahwa Viola adalah seorang mualaf. Dia mengikuti Agama suaminya yaitu Agama islam. Sehingga Biola juga mengikuti Agama kedua orang tuanya yaitu Agama islam. Sementara Kakek dan Pamannya Biola bukanlah beragama islam.
••••••
"Udah nangisnya. Itu ingusnya banyak loh." Goda Keynan karena istrinya sejak dari pemakaman Ibunya sampai diperjalanan pulang masih tetap menangis sesenggukan.
"Hiks.... kamu jahat. Aku gak ingusan." Jawab Biola dengan sesenggukan sambil mengusap air matanya dengan tisu. Lalu membuangnya kesembarang tempat yang ada didalam mobil itu. Sehingga mobil mewah yang Keynan kendarai itu dipenuhi oleh tisu yang digunakan Biola untuk mengelap air matanya.
Keynan tampak tak peduli dengan tingkah istrinya yang nyampah dimobil mewah miliknya. Baginya kebahagian Biola tidak sebanding dengan mobil mewah yang ia kendarai.
"Iya deh kamu gak ingusan. Tapi udah ya nangisnya. Gak baik buat kesehatan anak kita." Ujar Keynan yang membuat Biola langsung menghentikan tangisnya.
"Anak pinter. Itu baru baru Mommy yang baik." Keynan mengelus kepala istrinya dengan gemasnya saat melihat istrinya berhenti menangis karena ucapan Keynan.
"Mmmm....." Jawab Biola sambil menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba wajah Biola pucat. Ia bahkan memegangi perutnya yang membuat Keynan memberhentikan mobilnya ditengah jalan karena khawatir dengan kondisi istrinya
"Kamu kenapa?" Tanya Keynan khawatir saat melihat wajah pucat istrinya. Ditambah Biola memegangi perutnya. Sungguh selutuh tubuh Keynan rasanya sudah sangat lemas karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya.
"Emmm.... aku laper." Jawab Biola dengan mata bulatnya yang berbinar dan memegangi perutnya yang buncit.
Keynan yang mendengar penuturan istrinya pun langsung melongo saat mendengar penuturan istrinya.
Sungguh ia sudah sangat ketakutan setengah mati saat melihat ekspresi Biola yang bisa membuat semua orang salah paham saat melihatnya.
Keynan membuang nafasnya dengar kasar. Lalu ia melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 11:30 siang.
"Ah ia sudah masuk jam makan siang. Maaf ya sayang, kalian pasti udah kelaperan. Kalau begitu kita makan siang dilestoran aja ya. Soalnya Vila dari sini agak jauh." Ucap Keynan sambil melirik jam tangannya lalu mengusap perut buncit istrinya.
"Thank you Daddy." Jawab Biola sambil menirukan suara anak kecil dan tersenyum ceria kearah Keynan.
__ADS_1
"Sama-sama Mommy and Baby." Balas Keynan sambil mengusap kepala istrinya gemas.
Keynan pun menjalankan kembali mobilnya kesebuah restoran bintang lima yang ada di kota Bandung.