
Mama Kania tampak heran pada saat ia melihat tingkah suaminya yang mundar-mandir seperti setrikaan didalam kamar mereka.
"Pa, stop! Mama pusing liat Papa yang mundar mandir kayak setrikaan. Emang ada masalah apa si Pa?" Tanya Mama Kania yang sudah pusing melihat Pak Raihan mundar-mandir dihadapannya.
Pak Raihan pun menghentikan langkahnya. Ia menatap istrinya sekilas lalu membuang nafasnya dengan berat. Pak Raihan pun duduk diatas kasurnya.
"Mama Sini!" Ucap Pak Raihan kepada Mama Kania yang sedang duduk disofa sambil menepuk-nepuk kasur yang saat ini dia duduki.
"Apa si Pa, kayak penganten baru aja. Kalau mau kan Papa tinggal bilang aja." Ucap Mama Kania dengan malu-malu.
"Mama itu ngomong apa si? Papa cuman mau ngomong sesuatu yang penting sama Mama." Jawab Pak Raihan sambil mengerutkan dahinya.
Mama Kania yang telah salah sangka dengan ucapan suaminyapun jadi tambah malu dengan pipi yang merona karena menahan malu.
"Bilang dong dari tadi." Kesal Mama Kania sambil mengerucutkan bibirnya karena terlanjur malu.
"Huhhh.... Ini kan juga udah ngomong." Ingin sekali Pak Raihan berkata seperti itu kepada Mama Kania. Namun apalah daya, dia sangat tahu sifat istrinya yang gampang ngambekan kayak anak kecil.
Mama Kania duduk disebelah suaminya dengan melipat kedua tangannya didadanya.
"Ngomong apa?" Tanya Mama Kania ketus.
"Anu itu...." Jawab Pak Raihan yang tampak ragu-ragu.
"Anu apa? Jangan bilang kalau Papa punya selingkuhan ya?" Tebak Mama Kania dengan penuh selidik yang langsung dibantah oleh Pak Raihan.
"Enggak Ma! Papa kan udah bilang gak akan jajan diluar. Kalau jajan diluar nanti Papa bisa sakit. Papa sukanya makan dirumah. Mama lebih enak dari pada jajanan murahan diluar." Bantah Pak Raihan sambil menggoda istrinya.
"Terus apa?" Tanya Mama Kania ketus tapi dihatinya sudah berbunga-bunga.
"Itu...itu... sebenarnya besok...." Jawab Pak Raihan yang lagi-lagi menggantung karena takut dimarahi oleh istrinya.
"Besok apa?" Tanya Mama Kania kesal dengan ucapan Pak Raihan yang sering menggantung.
"Be...besok...."
"Besok apa Papa?!" Teriak Mama Kania yang mulai tak sabaran dan mengguncang-guncang pundak suaminya.
"Besok keluarga Alexa akan datang ke rumah kita." Jawab Pak Raihan sepontan sambil menutup matanya karena takut disemprot oleh istrinya.
"Apa? Ngapain pria menyebalkan itu mau datang ke rumah kita! Sepertinya keluarga kita terlalu baik kepadanya sehingga dia mulai ngelunjak dengan seenaknya. Enak aja dia mau ke rumah kita setelah membuat menantu kesayanganku pingsan. Aku pasti akan mematahkan tulangnya saat aku bertemu dengannya." Bentak Mama Kania tepat ditelinga Pak Raihan sehingga membuat Pak Raihan memejamkan matanya saking kerasnya Mama Kania berbicara.
"Mama tenang dulu ya. Papa kan belum selesai bicara." Ucap Pak Raihan dengan telinganya yang berdengung karena teriakan Mama Kania yang terlalu keras ditelinga Pak Raihan.
"Papa ini gimana si?! Laki-laki itu telah membuat menantu kita pingsan. Bagai mana bisa Papa izinin dia datang!" Bentak Mama Kania sambil berkacak pinggang dihadapan Pak Raihan.
__ADS_1
"Ya ampun Ma, bukannya Biola pingsan karena kelelahan? Lalu apa hubungannya dengan Darius? Dia hanya membentak dan menarik-narik tangan Biola. Kenapa Keynan dan Mama malah menyalahkan pingsannya Biola karena Darius?" Ingin sekali Pak Raihan mengatakan kalimat itu kepada istrinya tapi dia tak akan pernah mengatakan hal itu kepada istrinya. Jadi dia hanya bisa berucap didalam hati.
"Itu Ma, sebenarnya yang telepon Papa bukan Darius Alexa tapi Davindra Alexa. Itu sebabnya Papa tidak bisa menolaknya. Ditambah Davindra mengatakan kalau dia dan anaknya datang untuk minta maaf kepada Keynan dan Biola." Saut Pak Raihan.
"Minta maaf? Apa semudah itu ia meminta maaf setelah apa yang telah dia lakukan kepada menantuku!" Bantak Mama Kania dengan suara cemprengnya.
"I...itu, lebih baik kita beri mereka kesempatan aja Ma." Jawab Pak Raihan gugup.
"Gak! Poloknya mereka gak boleh menemui mantu dan anakku. Enak aja dia berbuat seenaknya." Ucap Mama Kania ngotot.
Inilah penyebab Pak Raihan tidak ingin memberitahu Mama Kania dan Keynan. Karena jika Mama Kania sudah tidak setuju itu artinya anaknyapun tidak akan setuju. Sepasang Ibu dan anak itu memang memiliki sifat yang sangat mirip dan sama. Yang mirip dari Keynan dengan Papanya hanyalah wajah Keynan yang tampan dan kecerdasan Keynan yang memang turunan biologis dari Pak Raihan.
Pak Raihan tak habis akal untuk membujuk istrinya tapi istrinya itu tetap keras kepala. Hingga pada akhirnya Pak Raihan mengeluarkan jurus terakhirnya.
"Baiklah Ma, kalau begitu bagai mana kalau kita tanya Biola saja? Kalau dia mau menemui mereka maka Mama juga harus setuju begitu juga dengan Keynan." Ujar Pak Raihan pasrah.
"Ah.. terserah Papa lah. Yang jelas Mama hanya gak mau melihat orang yang udah membuat mantu Mama pingsan." Ucap Mama Kania yang masih menganggap kepingsanan Biola gara-gara Darius.
Pak Raihan menarik nafasnya lega saat mendengar usaha terakhirnya membujuk istrinya itu ada perkembangan.
••••••
"Key, kamu didalam?" Tanya Biola sambil menyembulkan kepalanya dibalik pintu ruang kerja Keynan yang ada dirumah keluarga Kristian.
Keynan mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia sangat kaget pada saat ia melihat istrinya yang belum tidur padahal jam sudah menunjukan pukul 23:00 malam.
Biola tidak menjawab ucapn Keynan. Ia hanya berdiri diambang pintu sambil menatap suaminya.
"Kenapa belum tidur? Aku kan udah bilang jangan nunggu aku. Karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku malam ini juga." Ucap Keynan sambil mendekati Biola.
"Emm... aku gak bisa tidur bukannya mau nungguin kamu." Jawab Biola dengan tampang gelagapannya.
"Benarkah?" Tanya Keynan sambil menaikan sebelah alis matanya.
"I...iya, aku gak bisa tidur jadi nyamperin kamu." Jawab Biola dengan suara pelannya dan memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
Keynan terkekeh kecil saat melihat tingkah Biola yang jelas-jelas sedang berbohong kepadanya. Karena Keynan sangat hapal dengan sifat istrinya yang tukang tidur.
Biola akan tertidur lebih awal dan akan susah dibangunkan saat dia sudah terlelap dalam tidurnya.
"Oh ya? Kalau begitu sini!" Ajak Keynan sambil menarik tangan istrinya.
"Kemana?" Tanya Biola namun Keynan malah membawa Biola ketempat duduknya.
Keynan duduk ditempat duduknya lalu memangku Biola dipangkuannya.
__ADS_1
"Ih Key turunin aku!" Teriak Biola sambil berusaha turun dari pangkuan suaminya.
"Loh... katanya kamu belum ngantuk. Jadi kamu harus temenin aku kerja lembur malam ini." Jawab Keynan sambil membenamkan kepala istrinya didada bidang miliknya setelah itu ia fokus menghadap layar latopnya kembali.
"Tapi aku bisa duduk disofa, gak perlu dipangkuan kamu." Keluh Biola sambil mengerak-gerakan tubuhnya untuk keluar dari pangkuan suaminya.
Keynan menghentikan jari-jemarinya untuk mengetik dilaptonya. Ia mengerang frustasi saat istrinya itu bergeliat-geliat diatas pangkuannya.
"Sa...sayang ja...jangan gerak-gerak nanti adiku bangun. Aku gak tahu apa yang akan tetjadi jika adik kecilku sampai bangun." Erang Keynan yang langsung membuat Biola terdiam seketika.
"Anak pintar, jangan gerak-gerak lagi ya? Kalau enggak nanti aku akan makan malam dua kali." Saut Keynan sambil terkekeh dan menepuk-nepuk pucuk kepala Biola dengan lembut.
Biola tersenyum tipis saat mendengar ucapan ngaco suaminya.
"Dasar mesum." Ucap Biola pelan sambil memukul dada bidang suaminya pelan.
Keynan hanya tertawa mendengarkan ucapan istrinya. Tapi tak lama kemudian ia fokus kembali kepada pekerjaannya.
Biola menatap layar laptop suaminya. Ia cukup paham dengan apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya. Karena Biola merupakan seorang mahasiswi yang sangat berprestasi dan memiliki IQ yang lumayan tinggi.
"Kamu untuk apa ngerjain itu Key?" Tanya Biola sambil menatap layar laptop Keynan.
"Aku harus selesaikan ini. Aku ingin secepatnya membatalkan kerja sama antara perusahaan Kristian dengan prusahaan Alexa. " Jawab Keynan yang masih fokus kepada layar laptopnya.
Mendengar kata Alexa disebutkan membuat Biola terdiam seketika. Ia hampir melupakan tentang hari itu dan tentang Darius yang entah kenapa sangat tidak asing bagi Biola.
"Key, boleh aku tahu tentang orang yang bermarga Alexa itu?" Tanya Biola yang membuat Keynan mengentikam aktifitasnya.
"Untuk apa?" Tanya Keynan balik dengan dahi yang mengerut.
"Aku hanya seperti pernah bertemu dengannya. Tapi aku lupa dimana dan kapan." Jawab Biola yang membuat Keynan menyengitkan alisnya.
"Boleh ya....." Mohon Biola sambil menatap mata Keynan dengan tatapan penuh binarnya.
Keynan membuang nafasnya dengar kasar. Ia sungguh tidak bisa berkata tidak kepada istrinya.
"Huft.... baiklah. Apa yang ingin kamu tanyakan sayang?" Tanya Keynan sambil memeluk istrinya dan menyandarkan dagunya dipucuk kepala istrinya sementara Biola menyembunyikan wajahnya didada bidang suaminya.
"Aku ingin tahu semua tentang keluarga Alexa." Jawab Biola dengan nada bergetarnya.
"Maksudnya?" Tanya Keynan menyengitkan alisnya.
"Aku ingin tahu tentang Seluruh Anggota keluarga Alexa." Jawab Biola pelan.
Keynan membuang nafasnya dengan kasar untuk yang kedua kalinya. Dan mulai menceritakan apa yang dia dengar tentang keluarga Alexa dari orang lain.
__ADS_1