
Keynan yang awalnya ternganga mendengar ucapan istrinya tiba-tiba menyunggingkan senyumannya saat mencerna kata hukuman yang istrinya itu lontarkan.
"Baiklah sayang, kamu mau hukum aku seperti apa aku pasti terima. Asalkan hukumannya diatas tempat tidur." Ucap Keynan sambil menyunggingkan senyuamanya kearah istrinya.
Biola menganga tak percaya saat mendengar ucapan suaminya yang tidak pernah dia bayangkan.
Akhirnya dengan sedikit paksaan dari Keynan, Biola pun terbawa suasana dan terjadilah pergulatan kedua antara suami istri itu.
(Sutt... adegannya disekip nanti gak lulus review 😂)
________________
Biola masih marah dengan suaminya yang memaksanya tadi malam padahal dia sedang marah kepada suaminya waktu itu dan sekarang amarahnya kepada suaminya telah bertambah 2× lipat.
Saat ini Biola sedang menuju kampusnya diantar oleh suaminya yang membuatnya marah. Ia masih marah kepada suaminya jadi dia mengacuhkan Keynan yang sedari tadi mengoceh minta tidak didiamkan.
"Salah sendiri jadi tanggung akibatnya." Ucap Biola didalam hati sambil melihat keluar jendela mobil.
"Sayang maafin aku ya, aku tau aku salah. Tapi kan kamu tadi malam juga menikmatinya." Goda Keynan kepada istrinya. Sungguh menggoda istrinya itu adalah salah satu hiburan tersendiri baginya.
"Akh... kamu itu benar-benar menggemaskan sayang. Aku selalu jatuh cinta lagi dan lagi kepada kamu." Ucap Keynan dalam hati sambil melirik istrinya yang menahan emosinya karena mendengarkan ucapan Keynan.
"Gak ada ya, orang kamu yang maksa." Ucap Biola tak terima.
"Oh ya? Terus semalem yang minta lebih siapa ya?" Goda Keynan sambil berekspresi seperti sedang berfikir.
"Au ah!" Ucap Biola kesal. Wajahnya sudah merah merona seperti kepiting rebus. Keynan hanya bisa terkekeh melihat raut wajah istrinya yang merah merona karena digodanya.
Mobil yang mereka tumpangipun telah tiba dikampus. Seperti biasa Biola mencium punggung tangan suaminya. Kini kebiasaan itu telah melekat sejak Biola menikah dengan Keynan.
Biola membuka pintu mobil dengan terburu-buru. Ia sudah tidak tahan dengan ucapan suaminya yang selalu menggodanya.
"Tunggu sayang! Kamu melupakan sesuatu." Ucap Keynan dengan cemberut.
"Lupa apa?" Tanya Biola sambil mengerutkan dahinya.
"Akukan sudah sering bilang.. tuk, tuk, tuk, tuk..." Ucap Keynan sambil mengetuk kedua pipinya, dahinya dan bibirnya.
Biola memutar bola matanya malas. Ia sangat kesal dengan tingkah suaminya yang sangat mesum itu. Gak tau apa kalau dia saat ini sedang marah kepadanya.
Biola pun mengabaikan keinginan suaminya dan turun dari mobil dengan secepat kilat lalu membanting pintu mobil dengan keras agar suaminya itu tidak bisa menarik tangannya lagi seperti tempo hari.
"Sayang! Kamu tega banget sama aku. Gak tau apa kalau aku itu butuh vitamin." Gerutu Keynan didalam mobil.
Biola tidak menghiraukan gerutuan suaminya dan hanya fokus berjalan memasuki gerbang.
"Ahhh... gak dapet vitamin pagi deh." Keluh Keynan didalam mobil sambil melajukan mobilnya keperusahan.
__ADS_1
_________________
Biola merasa risih dengan tatapan dari para mahasiswi dan mahasiswa yang menatap dia sambil berbisik-bisik. Meski pada saat Biola menatap mereka dengan tatapan mautnya mereka pun ketakutan tapi masih ada saja orang yang berbisik-bisik dibelakangnya saat Biola tidak menatap mereka.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka tidak seperti biasanya yang selalu ketakutan ketika melihatku?" Fikir Biola sambil berbicara didalam hati.
Tapi ia tidak ambil pusing dan lebih memilih kekelasnya. Dikelas semua mahasiswi dan mahasiswa juga tampak berisik membicarakan Biola. Tapi pas Biola masuk kedalam kelasnya, semua mahasiswi dan mahasiswa yang membicarakannya pun langsung terdiam.
Seperti biasa saat Biola masuk kedalam kelasnya maka teman-teman sekelas Biola akan langsung mengalikan pandangannya kesembarang arah asalkan jangan kearah Biola atau pura-pura sedang sibuk apa saja asalkan jangan melirik Biola yang selalu mengeluarkan aura dinginnya yang hanya akan membuat mereka merinding ketakutan.
Biola melihat kearah Sinta yang ada dikelas itu karena mereka ada kelas yang sama pagi ini.
Biola mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi Sinta yang tampak marah kepadanya. Dan menantap Biola seolah-olah ingin memakan Biola.
Sungguh aneh emang, disaat semua orang ketakutan melihat Biola, Sinta justru sebaliknya. Karena diantara mereka berdua memiliki ikatan tali persahabatan yang sangat kuat bahkan tak ada rahasia yang mereka sembunyikan.
"Ada apa dengan tuh anak?" Fikir Biola lalu duduk disebelah Sinta.
Sinta menatap Biola dengan tatapan seriusnya seolah-olah ingin memakan Biola.
"Ada apa dengan mata mu? Apa mau dicolok." Ucap Biola yang risih dengan tatapan Sinta yang seakan-akan ingin menelannya.
"Lo hutang penjelasan sama gue." Ucap Sinta yang sama persis dengan pesan yang ia tulis untuk Biola.
"Hutang apa?" Tanya Biola sambil menyengitkan dahinya.
"Yang mana?" Tanya Biola bingung dengan ucapan Sinta yang tidak to the point.
"Kalau lo telah menikah dengan pewaris tunggal keluarga Kristian. Gue tau kalau yang ada ditelevisi pada kemarin malam itu lo. Gue sangat mengenal lo dan gue gak mungkin salah mengenali lo. Meski sifat dan sikap lo yang ada di televisi berbeda dengan lo yang sehari-hari. Tapi gue yakin 100% kalau itu lo. Dan laki-laki gila yang waktu itu lempar lo batu krikil sampai pala lo benjol itu adalah laki lo. Kenapa lo main rahasia-rahasiaan sama gue." Ucap Sunta panjang lebar dengan mata yang menggenang seperti ingin nangis.
"Apa si lo! Jauhan dikit, lebay tau." Ucap Biola sambil mendorong tubuh Sinta yang condong kearahnya dengan matanya yang menggenang air mata seolah-olah ingin menangis.
"Gue butuh penjelasan dari lo. Kita itu udah sahabatan lama. Dan gue juga udah tau tentang rahasia lo tapi kenapa lo main rahasia-rahasian sama gue si. kita kan udah janji gak akan main rahasia-rahasiaan." Ucap Sinta sambil menunduk. Ia benar-benar menyayangi sahabatnya itu lebih dari pada dirinya.
"Gue udah bilang tapi lo nya aja gak percaya." Jelas Biola santai.
Sinta membelalakan matanya tak percaya.
"Kapan lo bilang ke gue kalau lo udah menikah?" Tanya Sinta tak percaya.
"Waktu gue libur 3 hari dan lo tanya gue kemana gue selama 3 hari itu. Terus gue jawab kalau gue abis nikah. Tapi lo fikir gue lagi becanda jadi gue gak mau buang-buang tenaga untuk menjelasin dan membiarkan lo tau dengan sendirinya."
Sinta menganga tak percaya. Ia sedang berfikir kalau yang diucapakan Biola itu memang benar.
"Jadi selama ini dia gak pernah sembunyiin apa-apa dari gue." Ucap Sinta dalam hati.
"Tapi waktu itu lo gak keliatan lagi ngomong serius malah terlihat seperti sedang bercanda." Ucap Sinta yang tak ingin disalahkan.
__ADS_1
"Kapan gue pernah bercanda sama lo?" Sinta seketika bungkam. Ia memang tidak pernah melihat Biola bercanda kepada siapapun termasuk kepadanya.
Sinta hanya bisa nyengir kuda kepada Biola dan Biola membalas cengiran Sinta itu dengan tatapan malasnya. Sungguh Sinta telah salah faham kepada sahabatnya itu dan itu membuatnya malu sendiri.
"Ok, ok. Maafin gue. Gue ngaku gue yang salah. Seharusnya gue gak mikir kalau patung es sepeti lo bisa bercanda." Ucap Sinta dengan entengnya. Seketika itu pula Sinta mendapat tatapan maut dari Biola.
"Anak-anak kenapa pada ngomongin gue?" Tanya Biola kepada Sinta
"Tumben lo pengen tau? Biasanya juga lo gak peduli jika anak-anak ngomongin lo." Ucap Sinta heran. Karena sahabat patung es nya itu gak pernah peduli jika mahasiswi dan mahasiswa menggunjingnya.
"Jawab aja apa susahnya." Perotes Biola.
"Yah.. apa lagi kalau bukan ngomongin lo sama cowok gila itu yang ternyata adalah pewaris keluarga Kristian." Jawab Sinta yang mendapat anggukan dari Biola.
"Apa seterkenal itukah keluarga Kristian sampai-sampai semua orang tahu tentang keluarga Kristian." Fikir Biola.
"Tapi Bi, gue heran deh kenapa lo putusin mau nikah dan itu nikahnya sama laki-laki gila yang lempar lo batu krikil." Tanya Sinta dengan herannya.
"Kita menikah atas dasar keinginan gue." Ucap Biola jujur.
Yah emang pada dasarnya Biola lah yang memutuskan untuk menggantikan Mona dengan sendirinya tanpa paksaan dari siapapun.
"Kok bisa? maksud gue kok bisa lo mau nikah sama cowok itu? bukannya pada waktu dia lempar lo batu krikil dia malah kegirangan. Gak mungkinkan kalian saling jatuh cinta?" Tanya Sinta yang masih tak percaya dengan ucapan Biola.
Biola pun menjelaskan tentang penolakan Mona dengan perjodohannya dan Biola yang tiba-tiba mendapatkan ramalannya untuk menerima perjodohan yang Mona tolak. Sampai cerita rumit tentang masa kecil Biola dan Keynan yang tidak ia dan Keynan ingat.
"Gila tuh si Mona ngeselin banget. Udah sikapnya yang kecentilan dan ngeselin pula. Pengen gue bebek tuh anak." Ucap Sinta dengan penuh emosi.
"Tapi apa yang lo ceritain tentang lo sama suami lo itu bener-bener romantis banget tau. Meski kalian tidak mengingatnya tapi gue yakin kalau ini memang takdir lo sama suami lo." Ucap Sinta lagi sambil membayangkan betapa romantisnya masa kecil Biola dan Keynan.
Yah.. Sinta memang mempercayai semua yang Biola ucapkan karena sahabatnya itu memang sudah aneh jadi wajar saja jika dia percaya akan hal-hal aneh yang Biola ucapkan. Toh dia sendiri sudah pernah menyaksikan keanehan sahabatnya itu.
"Oh iya, lo udah itu gak sama cowok gila itu?" Tanya Sinta penasaran.
Biola menyengitkan dahinya saat mendengar pertanyaan Sinta yang terdengar ambigu bagi Biola.
"Itu apa?" Tanya Biola bingung.
"Itu loh yang biasa dilakukan pasangan suami istri saat ada dikasur." Jelas Sinta yang membuat wajah Biola memerah seperti kepiting rebus.
"Udah ah dosennya udah datang." Ucap Biola mengalihkan topik padahal dosen yang mengajar pun masih belum ada.
"Hahahaha.....
Gue gak nyangka kalau sahabat patung es gue bakalan jatuh cinta juga. Takdir hidup lo memang unik Bi. Semoga aja lo bisa bahagia dengan laki-laki yang sudah menjadi takdir lo." Ucap Sinta dalam hati saat melihat raut wajah Biola yang tiba-tiba merona.
_____________________
__ADS_1