
Pak Sinan terus-menerus menilai penampilan Devin. Devin yang ditatap seperti itu oleh Pak Sinan pun merasa canggung.
"Nama saya Sinan, saya pendiri perguruan ini sekaligus Ayahnya Sinta." Jawab Pak Sinan memperkenalkan dirinya sambil menekan kan kata 'Ayahnya Sinta' dan melepaskan jabatan tangannya dari Devin.
"Begini Pak, sebenarnya kami datang kemari ingin mengunjungi kediaman Bapak atas permintaan Kakak Ipar saya Biola. Dan untuk masalah kampusnya Nona Sinta, saya telah mengirimkan surat izin ke pada pihak kampus Nona Sinta jadi Nona Sinta tidak bolos kuliah." Jelas Devin yang membuat Pak Sinan memangut-mangut.
Tapi tak lama kemudian Pak Sinan seperti menyadari sesuatu dan langsung menatap kearah Biola dengan antusias.
"Owalah Biola! Akhirnya kamu kesini juga. Sejak kamu masuk kuliah kamu udah lama tidak kesini. Semua anak-anak pada kangen sama ajaran kamu yang keras itu." Ucap Pak Sinan saat baru menyadari keberadaan Biola sambil memeluk Biola seperti anaknya sendiri. Dan mengacuhkan Devin.
"Maaf Pak, sejak masuk kuliah saya jadi menyibukan diri dengan tugas-tugas kuliah." Jawab Biola.
"Tak apa-apa, Bapak ngerti. Yang penting kamu tidak melupakan tentang tempat ini." Ujar Pak Sinan sambil duduk dikursi.
"Aku gak akan pernah lupain tenpat ini kok Pak." Jawab Biola sambil tersenyum ramah.
Seketika Pak Sinan menyadari adanya perubahan yang terjadi kepada anak didiknya dulu yang membuat Pak Sinan terkejut.
"Apakah ini murid didiku yang dulu? Tapi kenapa dia sekarang jadi ramah dan murah senyum. Ini tidak seperti Biola yang aku kenal dulu. Biola dulu selalu dingin dan cuek bahkan suka irit bicara tapi sekarang dia jadi sangat berbeda." Pikir Pak Sinan sambil menatap Biola bingung.
Tak berapa lama kemudian Bunda Ratih datang sambil membawakan minuman dan cemilan untuk para tamunya.
"Ayo silahkan diminum dan dimakan cemilannya." Ucap Bunda Ratih sambil tersenyum.
"Makasih Bunda." Jawab Biola yang membuat Pak Sinan dan Bunda Ratih lagi-lagi terkejut.
Pasalnya Biola yang dulu tidak pernah mau mengucapkan ucapan terimakasih kepada siapapun secara langsung seperti ini.
Merekapun mengobrol dengan sangat asiknya. Pak Sinan dan Bunda Ratih sangat terkejut pada saat mengetahui kalau Biola sudah menikah dengan seorang anak konglomerat terkaya dikotanya.
Ditambah Biola menjelaskan kalau dia datang keperguruan Pak Sinan ini untuk berpamitan karena mulai besok dia dan suaminya akan pindah Ke Inggris.
Sinta yang mendengarkan penjelasan Biola pun tak henti-hentinya menitikan air mata. Sinta merengek-rengek karena tidak mau ditinggalkan oleh sahabatnya.
"Huahhh..... lo kok pindah sih Bi. Lo udah gak mau temenan sama gue lagi ya? Hiks.... lo kok tega ninggalin gue. Terus gimana tugas gue, kalau lo pindah nanti gak ada yang ngajarin gue. Lo tahu sendiri kalau gue suka gak dengerin Dosen ngoceh didepan. Nanti nilai gue anjlok gimana?" Rengek Sinta sambil memeluk Biola erat.
Rengekan Sinta membuat Pak Sinan dan Bunda Ratih menatap anaknya dengan tajam. Bisa-bisanya anaknya itu merengekkan hal-hal tak penting seperti ini.
"Gue harus pindah Sin. Gue sebenarnya berat untuk ninggalin kota ini. Tapi entah kenapa gue ngerasa tempat gue bukanlah disini melainkan di Inggris." Jawab Biola sambil membalas pelukan Sinta.
"Bapak masih tidak menyangka kalau nak Biola sudah menikah dan akan pindah kenegara orang besok. Bapak masih inget saat pertemuan Bapak dan nak Biola dulu. Rasanya waktu telah berlalu dengan cepat." Ucap Pak Sinan dengan raut wajah sedihnya.
"Iya, Bunda juga merasa kalau waktu cepat berlalu. Tapi Bunda berharap nak Biola bisa hidup bahagia disana. Bunda hanya ingin melihat senyuman manis nak Biola bukan sikap dingin dan cuek nak Biola. Bunda yakin kalau suami nak Biola pasti akan membahagiakan nak Biola." Ucap Bunda Ratna sambil memeluk Biola.
"Makasih Bunda." Jawab Biola sambil membalas pelukan Bunda Ratih.
"Sepertinya aku memang telah banyak berubah. Semua ini berkat keluarga Kristian. Dulu aku menganggap perguruan ini adalah tempat untuk berlatih agar aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku terus berlatih sekuat tenagaku untuk tetap bertahan hidup dikeluarga Anggara yang setiap detiknya selalu mengincar nyawaku. Dan menghiraukan kehangatan yang diberikan Pak Sinan dan Bunda Ratih." Gumam Biola sambil menerawang ke masalalu.
__ADS_1
"Bunda, Pak Sinan! Bolehkah saya berkeliling? Saya sangat merindukan tempat ini." Pinta Biola.
"Kamu ini adalah alumni terbaik di perguruan ini. Kamu boleh menganggap tempat ini seperti rumahmu sendiri. Ditambah dulu kamu sudah banyak membantu Sinta dan Bapak diperguruan kecil ini. Jadi sudah sewajarnya bagimu untuk menganggap perguruan ini seperti rumahmu sendiri." Jawab Pak Sinan dengan sungguh-sungguh.
"Terimah kasih Pak." Balas Biola.
"Eh.. Sin, kamu temani Biola ya?" Perintah Bunda Ratih kepada Putrinya.
"Tentu Bun!" Jawab Sinta antusias.
Mereka berdua pun mulai berkeliling dipekarangan luas rumah Pak Sinan yang telah dirubah menjadi sebuah perguruan karate.
"Kakak Senior!!" Ucap seluruh anak-anak perguruan yang sedang berlatih dengan terkejut saat melihat Biola datang.
Tapi tak lama kemudian semua murid-murid yang berlatih itu langsung menundukan kepalanya dan tak ada yang berani menatap Biola.
"Waduh gawat! Kenapa Kakak Senior bisa kembali lagi. Kalau sampai Kakak Senior mengajari kita lagi, kita bisa habis." Bisik seorang pemuda berusia belasan tahun.
"Benar! Kita pasti bakalan habis jika diajari oleh Kakak Senior lagi. Mampuslah kita, Kakak Senior kalau ngajar gak tanggung-tanggung. Dia pasti akan membuat tulang-tulang kita remuk." Balas pemuda lainnya sambil berbisik dan menundukan wajahnya karena takut kalau harus bertatapan dengan Biola.
"Kalian kembalilah berlatih! Saya hanya ingin berkeliling ditempat ini untuk yang terakhir kalinya. Dan maafkan sikap saya selama ini. Karena selama ini saya selalu bersikap dingin dan sedikit kejam saat melatih kalin." Ucap Biola sambil tersenyum tulus yang membuat semua murid-murid diperguruan karate itu terpukau oleh senyuman tulus Biola.
Semua pemuda terpesona saat mereka melihat senyuman tulus Biola yang dapat menggetarkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Malaikat..." Gumam salah satu pemuda yang terpesona oleh senyuman Biola.
"Dewiku..." Dan masih banyak lagi pujian dari para pemuda yang dulunya merupakan murid yang pernah di didik oleh Biola.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Lanjut Biola sambil meninggalkan para pemuda yang masih mengagumi wajah cantik Biola pada saat Biola tersenyum tulus.
"Gue rela patah tulang atau tulang gue remuk asalkan gue diajarin lagi sama Kakak Senior." Ucap salah satu pemuda yang disetujui oleh para pmuda lainnya.
Devin yang melihat Kakak Iparnya dipandangi oleh banyak pemudapun langsung mengabadikan momen itu sambil tersenyum Devil.
"Jarang-jarang gue ngerjain beruang kutub. Kali ini gue mau lihat drama apa yang akan dilakukan oleh Keynan jika gue kirim ini kepadanya." Ucap Devin didalam hati sambil tersenyum dan mengirim foto itu kepada Keynan. Tak lupa pesan untuk memanas-manasi Keynan.
"Kakak Ipar bilang bosen sama lo yang lembek. Makannya dia datang ke perguruan Karate dan cari cowok berotot buat jadi suami barunya." Devin mengirim foto itu dengan disertai pesan yang membuat Devin cekikikan sendiri menulisnya.
"Hehehe..... sori bro, ini terakhir kalinya kita bersama dan setelah ini kita akan jarang bertemu. Karena setelah lo pindah ke Inggris gue akan menetap di Indonesia untuk mengurusi perusahan. Gue gak bisa selalu mengikuti lo, karena gue juga punya kehidupan gue pribadi. Ditambah orang tua gue juga akan pindah ke Indonesia dan akan menetap dikota ini." Gumam Devin sambil tersenyum jahil.
Sinta sedari tadi menatap Devin dengan penuh kecurigaan. Tapi dia tidak mau mengurusi urusan Devin. Entah kenapa Sinta sangat kesal saat melihat wajah mengesalkan Devin.
•••••
Ting....
Satu pesan masuk ke handphone Keynan yang pada saat itu Keynan sedang rapat tentang pemindahannya.
__ADS_1
Keynan melirik sekilas handphonenya dan melihat nama Devin dilayar handphonenya. Dengan cepat Keynan membuka pesan dari Devin.
Keynan membelalakan matanya saat melihat foto istrinya yang sedang tersenyum tulus kearah para pemuda-pemuda dan para pemuda-pemuda itu terlihat sangat terpesona saat melihat senyuman tulus istrinya. Ditambah pesan dari Devin yang membuat Keynan geram.
"Awal lo Dev! Gue kirim juga lo ke Afrika. Gue suruh lo jagain istri gue tapi lo malah biarin istri gue deket-deket sama anak-anak bau kencur itu." Gerutu Keynan sambil menggebrak meja rapat sehingga membuat semua orang yang ada diruang rapat itu kaget dan menatap heran ke arah Keynan.
"Rapat kali ini sampai disini dulu." Ucap Keynan terburu-buru dan keluar dari ruang rapat sehingga membuat semua orang diruang rapat itu menatap Keynan dengan penuh pertanyaan dipikirannya.
••••••
"Sin, gue mau berkeliling sendiri bolehkan? Akhir-akhir ini terlalu banyak yang terjadi. Gue mau nenangin pikiran gue dulu." Ucap Biola.
"Baiklah, kalau gitu gue cabut dulu ya. Tapi lo lagi mikirin apa?" Tanya Sinta penasaran.
"Semuanya telah terungkap Sin." Jawab Biola yang langsung membuat Sinta terkejut karena Sinta sudah mengerti dengan arah pembicaraan Biola.
"Yang benar?" Tanya Sinta kaget.
"Iya, Neneknya Mona koma dan perusahaan Ayah diambang kebangkrutan." Jelas Biola yang masih tidak mau mengakui Oma Laras sebagai Neneknya.
"Apa Keynan mengetahuinya?" Tanya Sinta.
"Sepertinya dia telah mengetahuinya." Jawab Biola santai.
"Jadi itu sebabnya Keynan ngajakin lo pindah?" Tanya Sinta.
"Mungkin, yang jelas gue mau terbebas dari semua ini. Dulu mungkin gue gak perduli tapi sekarang gue peduli karena gue gak mau kehilangan Keynan. Entah kenapa gue ngerasa, gue pernah kehilanaan Keynan sebelumnya. Tapi gue gak inget apa-apa. Yang jelas perasaan gue terus berteriak kepada gue kalau gue harus menggenggam Keynan untuk tetap berada disisi gue." Jelas Biola dengan raut wajah yang sedih.
"Kalau itu pilihan lo, gue pasti akan dukung lo 100% karena gue juga ingin lihat lo bahagia." Ucap Sinta tulus sambil memeluk Biola.
"Terima kasih sudah mau jadi sahabat gue." Ucap Biola dipelukan Sinta.
"Terima kasih kembali karena lo telah membuat gue tersadar dari ego gue dan karena lo juga gue masih bisa bernafas didunia ini." Balas Sinta.
"Ya udah gue cabut dulu." Ucap Sinta yang diangguki oleh Biola.
Biola mengelilingi pekarangan rumah Sinta yang sudah dibuat seperti tempat latihan untuk anak-anak atau remaja-remaja berlatih karate.
Cukup lama Biola mengelilingi tempat perguruan yang lumayan luas itu. Biola mendekati sebuah pohon besar yang rindang dan terdapat hamparan rumput hijau dibawah pohon itu.
Biola duduk dibawah pohon besar itu dengan beralaskan rumbut hijau. Biola menyandarkan punggungnya kepada pohon besar itu sambil menutup matanya untuk merasakan ketenangan disekitar tempat itu.
"Aku rindu ketenangan seperti ini." Gumam Biola sambil menutup matanya dan tersenyum mengingat masalalunya diperguruan itu.
___________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guys 😘
__ADS_1