
Dengan beratnya Keynan membuka matanya. Ia baru saja tertidur beberapa nenit yang lalu karena kelelahan.
Hari ini Keynan hampir seharian berada dirumah sakit untuk menjaga istrinya sambil berkeja mengurusi perusahan Alexa milik istrinya secara online.Tapi tidurnya harus keganggu karena si kecil Viola terbangun dan menangis.
Tangisan Viola juga membangunkan Violin yang berada tak jauh dari box bayi Viola. Keynan mengucek matanya yang sangat berat lalu bangun dari tidurnya.
"Iya sayang, Daddy datang." Ucap Keynan dengan setengah sadarnya lalu menghampiri box bayi kedua putrinya.
Keynan menenangkan Violin terlebih dahulu lalu menggendong Viola yang entah kenapa tiba-tiba rewel.
Dengan telatennya Keynan menenangkan kedua putrinya yang menangis. Violin juga sudah kembali tertidur lagi. Namun Viola masih belum kembali tertidur.
"Putri Daddy mau apa? Apa mau minum cucu?" Tanya Keynan yang menirukan suara anak-anak.
Keynan mencium pipi putrinya dengan gemas karena mata Viola tampak berkaca-kaca seperti menginginkan sesuatu.
"Ya udah, Daddy buatin kamu susu dulu ya. Tapi kamu jangan rewel lagi. Kasian kembaran kamu yang lainnya jadi pada kebangun." Ujar Keynan dengan nada lembutnya.
Keynan menatap box bayi Kenan yang tidak memangis seperti kembarannya yang lain. Keynan terkejut pada saat mendapati si sulungnya masih terjaga dan tersenyum menatapnya.
"Lohh... Jagoan Daddy kok masih bangun? Apa kamu kebangun gara-gara tangisan adik kamu?" Tanya Keynan sambil menatap putranya yang ada didalam box bayi.
Kenan hanya tersenyum sambil merentangkan tangannya ingin menyentuh wajah Daddynya.
Keynan tersenyum kearah putranya sambil mencium tangan mungil putranya.
"Kamu memang putra Daddy yang paling pengertian. Kamu pasti kebangun gara-gara tangisan Viola. Tapi kamu tidak menangis sama sekali. Makasih ya sayang. Kamu udah jadi putra Daddy yang paling pengertian. Kamu gak nangis walau tidurmu keganggu. Kamu malah tetap diam disaat kembaranmu yang lain pada rewel." Gumam Keynan sambil menatap putranya dengan penuh kasih sayang.
"Mau minum susu juga?" Tanya Keynan kepada putranya.
Kenan hanya tersenyum dengan gemasnya saat mendengarkan pertanyaan Daddynya.
"Tunggu Daddy ya sayang." Ucap Keynan sambil mengelus Kenan dan menidurkan Viola dikasurnya.
Keynan sudah menyiapkan semua keperluan bayi-bayinya dikamarnya. Bahkan kamarnya sudah disiapkan susu formula dan juga air panas untuk membuat susu. Karena Keynan tidak bisa meninggalkan ketiga bayinya jika mereka tiba-tiba minta minum susu ditengah malam seperti saat ini.
Dengan telatennya Keynan membuatkan susu untuk kedua bayinya yang masih terjaga. Keynan meneteskan satu-persatu susu didalam botol susu itu punggung ketanganya untuk mengukur suhu didalam susu itu.
Setelah dirasa suhunya sudah cukup, Keynan pun menggendong Kenan kekasur dan menidurkannya disebelah Viola yang masih terjaga karena ingin minum susu. Sementara Violin sudah tertidur kembali sedari tadi.
Keynan memberikan kedua susu itu kepada Kenan dan Viola. Keynan dengan telatennya membantu kedua bayinya minum susu. Keynan bahkan sampai hampir tertidur karena kelelahan. Tapi sebisa mungkin Keynan berusaha untuk tetap terjaga. Karena kedua buah hatinya masih terjaga.
Setelah beberapa lama Kenan dan Viola pun akhirnya selesai minum susu lalu tertidur disamping Keynan. Keynan yang sudah tidak bisa menahan kantuknya pun langsung menutup matanya sambil menepuk-nepuk Viola untuk memberikan kenyamanan kepada bayinya agar bayinya itu cepat tertidur.
•••••
Keesokan harinya Mama Kania berniat untuk membangunkan Keynan. Namun betapa terkejutnya Mama Kania pada saat ia meliha tingkah Daddy muda dan anak-anaknya saat itu.
Mereka tertidur dengan sangat imutnya. Tampak Viola memegangi wajah Daddynya dan wajahnya berhadapan dengan wajah Keynan. Tangan dan kaki mungil Kenan menimpa tubuh kembarannya. Sementara tangan Keynan menjadi bantalan untuk kedua bayi kembar itu.
Mama Kania terkekeh melihatnya. Tapi tiba-tiba saja Mama Kania mendengar Violin menangis. Dengan cepat Mama Kania menggendong Violin yang masih berada di dalam box bayi.
"Iya sayang, Oma datang. Sini sayang, kamu pasti kesel ya karena kamu gak tidur sama Daddy kamu. Kalau gitu nanti Oma marahin Daddy kamu karena saudara kembarmu yang lain pada tidur dengannya tapi kamu malah ditinggalin sendirian didalam box bayi." Ucap Mama Kania sambil tersenyum dan menggendong cucunya keluar kamar untuk membuatkan Violin susu.
•••••
Keynan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasakan keram dibagian tangan kanannya. Dan ia juga merasakan ada tangan mungil yang menyentuh wajahnya.
Keynan menatap kesebelah tempat tidurnya dan betapa terkejutnya Keynan pada saat ia melihat gaya tidur kedua bayi kembarnya yang tampak sangat menggemaskan.
Keynan tersenyum dan mencium tangan mungil Viola yang menempel dipipinya.
"Kalian ini benar-benar menggemaskan seperti Mommy kalian." Gumam Keynan dengan suara seraknya sehabis bangun tidur.
Keynan tiba-tiba teringat dengan bayinya yang lain. Dengan segera Keynan melepaskan tangannya yang digunakan menjadi bantal oleh kedua bayinya dengan perlahan agar tidak membangunkan kedua bayi mungil itu.
__ADS_1
Keynan berjalan kearah box bayi milik Violin namun Violin tidak ada disana. Dengan paniknya Keynan mencari-cari Violin yang hilang dari dalam box bayinya.
"Violin? Violin kamu dimana?" Teriak Keynan dengan suara yang tidak terlalu tinggi karena takut membangunkan Kenan dan Viola.
"Violin kamu dimana nak?" Keynan terus mencari putrinya yang hilang.
Dengan cepat Keynan keluar dari kamarnya tanpa memikirkan penampilannya yang acak-acakan. Keynan hanya memakai celana pendeknya dengan kemeja putih yang belum sempat ia ganti tadi malam. Bahkan dasinya saja masih menempel dikemeja itu.
Keynan kemarin kerumah sakit mengenakan jas karena ia akan ada rapat dan Keynan melakukan rapatnya secara online dari rumah sakit sekalian menjaga Biola.
"Ma, Mama lihat Violin gak? Violin gak ada dikamar?!" Tanya Keynan dengan berteriak kepada Mamanya yang sedang membantu cucunya minum susu.
"Kamu ini pagi-pagi udah teriak-teriak aja. Cucuku aman sama Mama." Saut Mama Kania sambil membantu Violin meminum susu formulanya.
Keynan menghembuskan nafasnya dengan lega. Ia sangata khawatir pada saat ia tidak menemukan Violin dikamarnya.
Keynan menatap putrinya yang sedang minum susu formula dengan tatapan sendunya. ketiga bayinya masih kecil tapi mereka harus meminum susu formula bukan asi dari sang Ibu.
Sungguh hati Keynan sangatlah sakit saat melihat ketiga bayi mungilnya harus meminum susu formula. Ditambah keadaan Biola saat ini yang masih koma. Keynan benar-benar sangat rapuh saat mengingat semua itu.
"Sini Ma, biar Keynan aja." Ucap Keynan sambil ingin mengambil alih Violin dari gendongan Mamanya tapi dengan cepat Mama Kania menjauhkan Violin dari Keynan.
"Gak! Kamu mandi dulu sana! Terus ganti baju dulu baru bisa gendong cucu Mama." Saut Mama Kania.
Keynan menatap penampilannya yang tampak sangat memalukan. Untung disana cuman ada Mama Kania dan putrinya. Coba kalau ada orang lain, Keynan pasti akan sangat malu saat ini.
"Ya udah Ma, Keynan titip Violin dulu." Jawab Keynan sambil berjalan kembali kekamarnya.
Mama Kania hanya terkekeh saat melihat tingkah putranya yang sekarang sudah menjadi Daddy muda.
"Coba aja kamu masih ada disini Biola. Mungkin kebahagian keluarga ini akan lengkap dengan adanya kamu. Cepatlah sadar karena cucuku membutuhkan kamu sebagai Ibunya." Batin Mama Kania sambil menatap cucunya yang sangat mirip dengan Mommynya.
••••••
Keynan melihat jam didinding kamarnya yang masih menunjukan pukul 06:00 pagi.
"Huft.... masih jam 6 pagi." Gumam Keynan sambil menatap kedua bayinya yang masih tertidur pulas diatas kasur.
Setelah itu Keynan masuk kedalam kamar mandi dan memulai ritual mandinya.
Keynan tampak berlama-lama dikamar mandi karena berendam air hangat. Keynan sungguh sangat kelelahan dan pada akhirnya Keynan pun tertidur didalam bak mandi hingga satu jam lamanya.
Keynan mengerjap-ngerjapkan matanya lalu terbangun dengan sangat terburu-buru karean ia kelamaan berada didalam kamar mandi.
"Ah, sial! Kenapa aku bisa ketiduran. Gawat anak-anak gimana?" Ucap Keynan panik sambil menghambil handuk kimononya dan memakainya dengan terburu.
Brakk....
Keynan membuka pintu kamar mandinya dengan sangat kasar sampai-sampai mengejutkan Mama Kania yang berada didalam kamarnya.
"Loh... anak-anak kemana Ma? Kenapa mereka gak ada dikamar?" Tanya Keynan panik saat menyadari ketiga bayinya tidak ada didalam kamarnya.
Mama Kania mengerutkan keningnya saat melihat rambut basah putranya dengan penampilannya yang acak-acakan.
Mama Kania sangat mengerti kalau putranya itu sangat kewalahan merawat sikembar dan ia juga harus menjaga Biola. Sehingga sepenuhnya waktu yang dimiliki Keynan, Keynan habiskan untuk keluarga kecilnya. Ia sama sekali tidak memiliki waktu untuk merawat dirinya sendiri.
"Si kembar lagi dimandiin sama Bi Aidah dan Teh Sarah. Ini Mama lagi bawa handuk buat si kembar. Lagian kamu itu mandi kok sampai satu jam." Ucap Mama Kania sambil membuang nafasnya dengan kasar dan mengambil handuk dan peralatan mandi sikembar.
"Maaf Ma, Aku jadi ngerepotin Mama." Jawab Keynan dengan wajah bersalahnya.
"Gak ada yang direpotin kok. Mereka juga cucu Mama jadi wajar kalau Mama juga bantu mengurusi mereka. Mama tahu mengurusi bayi kembar tiga itu tidaklah mudah. Jadi kamu jangan sungkan untuk meminta bantuan." Jawab Mama Kania dengan nada lembutnya. Dimana nada lembut itu tidak pernah keluar dari mulut Mama Kania kepada Keynan yang dulu.
Sikap Mama Kania kepada Keynan dulu selalu serampangan dan selalu ingin menang sendiri. Tapi karena keadaan putranya saat ini sangat memperihatinkan maka sikap Mama Kania pun berubah kepada Keynan.
Mama Kania juga tampak lebih menunjukan rasa sayangnya kepada Keynan. Berbeda dengan Mama Kania yang dulu, dimana Mama Kania menunjukan rasa sayangnya kepada putranya dengan ucapan semena-menanya yang tampak seperti perintah sang ratu yang harus dipenuhi.
__ADS_1
"Maaf ya Ma, aku jadi selalu ngerepotin Mama untuk jagain si kembar." Gumam Keynan dengan suara yang sangat pelan namun masih terdengar ketelinga Mama Kania.
Mama Kania menatap putranya itu dengan tatapan Malasnya. Ia sangat kesal dengan ucapan putranya yang merasa bersalah itu.
"Udah ah, Mama kan udah bilang gak ada yang direpotin. Si kembar biar Mama yang bantu ngurus. Kamu lebih baik ganti baju terus sarapan. Bukannya pagi ini kamu harus menemani Biola?" Tanya Mama Kania.
"Iya Ma." Jawab Keynan singkat.
"Ya udah Mama mau kebawah dulu nganterin handuknya untuk si kembar." Lanjut Mama Kania sambil berjalan kearah pintu. Namun Mama Kania tiba-tiba berhenti diambang pintu.
"Kapan kalian akan pindah ke Inggris?" Tanya Mama Kania dengan nada suara lembutnya tanpa melihat kearah Keynan.
"Mungkin sekitar satu minggu lagi Ma." Jawab Keynan.
"Mama berharap yang terbaik untuk keluargamu. Semoga saja setelah kalian pindah ke Inggris, Biola bisa sadar dari komanya." Ucap Mama Kania dengan nada lirihnya dan meninggalkan kamar putranya.
Keynan tampak tersenyum saat mendengar icapan Mamanya. Ia memandangi punggung Mamanya yang sudah menjauh dari kamarnya.
"Terima kasih Ma, Mama adalah Ibu terbaik. Padahal aku tahu kalau Mama sangat berat untuk berjauhan dari si kembar dan Biola. Tapi Mama mengikhlaskan kita pergi karena ingin kita bahagia." Gumam Keynan sambil tersenyum menatap punggung Mamanya yang sudah menjauh dan menghilang dari pandangannya.
•••••
Setelah beberapa saat Keynan sudah rapih dengan pakaiannya. Keynan mendekati nakas untuk mengambil ponselnya yang ia letakan diatas nakas, namun ia tak sengaja melihat sebuah kotak hitam yang berada didalam laci yang sedikit terbuka.
Karena rasa penasarannya Keynan pun membuka laci itu. Keynan memandangi kotak kecil berwarna hitam itu yang tak asing baginya.
"Ini kan kotak yang waktu itu Biola larang aku buka kalau gak didalam rumah pohon yang ada dihalaman belakang di Vila ini." Pikir Keynan sambil mengingat ketika istrinya melarangnya untuk membuka kotak itu.
Keynan tampak menatap kotak itu yang sangat tak asing baginya. Ia juga sangat penasaran dengan isi didalam kotak itu.
Tiba-tiba saja datanglah angin yang lumayan kencang dari arah jendela yang terbuka dikamar Keynan. Angin itu menjatuhkan bingkai foto yang diletakan tak jauh dari atas nakas dekat Keynan.
Brak...
Bingkai foto itu terjatuh kelantai dan pecah. Keynan menatap bingkai foto itu dengan terkejutnya.
Keynan bejongkok untuk mengambil foto yang ada didalam bingkai foto itu.
"Foto apa ini? Kenapa aku sampai lupa dengan foto ini?" Gumam Keynan sambil menatap foto itu yang belum ia balik.
Keynan membalikan foto itu dan menatap foto itu dengan seksama. Keynan membuang nafasnya saat melihat foto itu yang tak lain adalah fotonya pada saat ia berusia 10 tahun.
Dimana disana Keynan sedang duduk diatas rumah pohon dan menatap kedinding seolah-olah disana seperti ada seseorang dan Keynan sedang bermain dengan orang itu. Namun nyatanya disana tidak ada apa-apa selain dinding.
"Foto ini? Bukannya foto yang dilihat Biola terakhir kali saat dia baru pertama kali ke Vila ini?" Pikir Keynan sambil menatap fotonya saat masih kecil.
Keynan menyadari adanya kejanggalan didalam foto itu. Ia menatap rumah pohon yang ada didalam foto itu lalu menatap arah matanya yang menatap kearah dinding rumah pohon itu.
Terlihat waktu itu Keynan sangat bahagia dan menatap dinding yang ada dirumah pohon itu seolah-olah Keynan sedang bermain dengan seseorang. Tapi disana tidak ada apa-apa.
Keynan mendekati jendela dan menatap foto itu dengan pandangan herannya. Tiba-tiba saja sinar mata hari pagi menyinari foto itu dan menampakan sesosok gadis kecil yang berada dihadaoan Keynan difoto itu.
Deg....
Jantung Keynan tiba-tiba saja berdebar sangat kencang saat melihat sosok gadis kecil berusia 5 tahun yang ada difoto itu. Sosok itu persis ada dihadapan Keynan yang berada di foto itu. Seolah-olah Keynan pada waktu itu sedang bercanda tawa dengan sosok gadis kecil yang ada difoto itu.
"Sosok gadis kecil ini kenapa sangat familiar. Sebenarnya apa yang telah aku lupakan saat aku berusia 10 tahun." Gumam Keynan dengan jantunya yang berdebar sangat kencang.
Keynan mencengkram foto dan kotak kecil berwarna hitam itu dengan kuat. Keynan merasakan sebuah persaan yang sangat kuat dari dalam hatinya. Perasaan itu seolah-olah mengatakan kepadanya untuk pergi dan mencari tahu tentang sosok gadis kecil yang ada didalam foto itu.
"Ah sial! Siapa sebenarnya gadis kecil ini! Kenapa jantungku berdegup sangat kencang saat melihatnya dan kenapa hatiku jadi tak tenang jika tidak mengetahui siapa dia!" Bentak Keynan sambil berlari menuju rumah pohon yang berada dihalaman belakang Vilanya.
Keynan menggenggam erat foto dan kotak kecil berwarna hitam itu sambil berlari kerumah pohon itu. Ia bahkan sampai mengabaikan Mama Kania yang bertanya kepadanya.
Sungguh perasaan Keynan tak karuan saat ini. Ia ingin tahu siapa sosok gadis kecil yang ada didalam foto itu.
__ADS_1