
Pak Bayu masih mencerna semua kata-kata Keynan. Pak Bayu menatap Keynan dengan tatapan kosongnya. Seolah-olah apa yang diucapkan Keynan itu tidak masuk kedalam otaknya.
"Cu....cu....ku..." Gumam Oma Laras terus menerus memanggil Biola.
Keynan mengalihkan pandangannya ke arah Oma Laras. Ia tersenyum sinis menatap Oma Laras yang tampak menyedihkan.
"Ayah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Semoga kedepannya kita bisa saling mengenal seperti orang asing. Oh ya, aku melupakan sesuatu! Kami akan berangkat ke Inggris satu minggu lagi. Sebenarnya kami akan berangkat ke Inggris tiga minggu lagi tapi setelah aku mengetahui tentang masa lalu istriku, aku jadi tidak bisa berlama-lama dinegara ini." Keynan menatap Ayah mertuanya dengan iba. Jujur saja Keynan juga merasa kasihan kepada Ayah mertuanya.
Tapi apa boleh buat, Keynan harus mengambil keputusan ini agar dia dan istrinya bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang masalalu yang menghantui rumah tangganya.
"Nak Keynan, apa sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk meminta maaf kepada anakku?" Tanya Pak Bayu dengan air mata yang tidak bisa ia tahan.
"Kesempatan itu banyak Ayah, tapi kesempatan itu juga memiliki batas. Sama halnya seperti hujan yang turun dengan lebatnya tapi itu tak bertahan lama." Keynan menghentikan langkahnya dan menjawab ucapan Ayah mertuanya tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Pak Bayu.
Pak Bayu yang mendengar ucapan Keynan pun hanya bisa menundukkan wajahnya dengan air mata yang tak habis-habisnya keluar dari mata peria paruh baya itu.
•••••••
"Ya ampun, aku memang tidak seharusnya mengizinkan kalian menginap disana. Kalau saja Papa tidak mengajak Mama ke perjalanan bisnisnya mungkin semua ini tak akan terjadi." Heboh Mama Kania dengan membahananya sambil menatap Pak Raihan dengan tajam.
Seolah-olah menyalahkan Pak Raihan yang memaksa Mama Kania untuk ikut bersamanya dan meninggalkan anak dan menantu kesayangannya.
Pak Raihan pun hanya bisa menunduk pasrah ditatap tajam oleh sang istri.
Pak Raihan sendiri sangat kaget saat mendengar kejadian yang terjadi kepada anak dan menantunya juga keluarga sahabat baiknya yang hancur dari Devin.
Mama Kania kembali menatap menantu kesayangannya dengan penuh khawatir.
Mama Kania memegang kedua pundak menantunya sambil menatap menatunya dengan penuh penyesalan karena telah meninggalkan anak dan menantunya.
Mama Kania dan Pak Raihan sendiri baru pulang dari perjalanan bisnisnya dan mengetahui semua kejadian yang menimpa anak dan menantunya dari Devin.
Sungguh mereka tidak menyangka kalau akan terjadi sebuah kekacauan sebesar ini kepada anak dan menantunya juga keluarga dari menantunya.
"Apa kau baik-baik saja sayang? Apa wanita ular dan anak ular itu menyakitimu? Apa Keynan menjagamu dengan baik? Kenapa kau jadi tambah kurusan sayang? Apa selama Mama pergi Keynan tidak memberimu makan? Dasar anak itu selalu saja memikirkan dirinya sendiri. Gak tahu apa kalau setatusnya sekarang sudah menjadi suami. Seharusnya dia mengurusmu dengan baik." Ucap Mama Kania memberikan seberondong pertanyaan kepada Biola sambil membulak-balikkan tubuh Biola seperti ikan asin untuk memeriksa keadaan menantu kesayangannya dan ujung-ujungnya dia mengomeli anaknya yang saat ini sedang diperjalanan pulang kerumahnya karena habis dari kantornya.
Padahal Mama Kania dan Pak Raihan hanya pergi hanya 3 hari. Biola hanya bisa pasrah menaggapi kekhawatiran mertuanya yang berlebihan.
"Aku baik-baik saja kok Ma, gak ada yang terjadi kepada aku dan Keynan." Biola berusaha menenagkan mertuanya yang masih uring-uringan memarahi semua yang ada disana kecuali Biola menantu kesayangannya.
Tapi Mama Kania tidak menghiraukan ucapan menantunya dan masih saja memarahi Keynan tak ada dan Pak Raihan yang tak berdosa.
Hacimm.....
Tiba-tiba Keynan beresin didalam mobilnya tanpa sebab.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa beresin didalam mobil ini, padahal mobil ini sudah dipasangi alat pemberesih debu." Gumam Keynan binging sambil menggosok hidungnya lalu pokus kembali mengemudi.
•••••
Mama Kania terus uring-uringan sendiri. Dan memarahi Pak Raihan yang tidak salah apa-apa. Karena dia masih kesal dengan ulah Mama Mirna dan anaknya yang ia dengar dari Devin.
"Pokoknya Mama mau wanita ular dan anak ular itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat." Omel Mama Kania kepada Pak Bayu.
"Iya sayang, aku pasti akan mengerahkan semua anak buah terhebatku untuk mencari keberadaan kedua wanita itu. Aku juga tidak akan membiarkan wanita itu dan anaknya hidup bahagia setelah apa yang mereka lakukan kepada keluarga Kristian dan sahabat baikku." Jawab Pak Bayu menyakinkan istrinya.
"Jangan iya iya aja, kamu harus cepat bertindak aku mau mematah-matahkan tulang Ibu dan anak itu. Berani-beraninya mereka berencana memisahkan anakku dan menantuku maka tak akan aku biarkan mereka hidup dengan tenang." Geram Mama Kania sambil menggenggam erat bahu Pak Bayu sehingga membuat Pak Bayu meringis menahan sakit.
"Gini amat punya istri bar-bar. Rasanya pengen ganti yang baru tapi cintaku dan sayangku hanyalah padanya seorang." Jerit Pak Bayu didalam hati.
Biola yang melihat tingkah Mama dan Papa mertuanya pun hanya bisa menahan tawanya karena takut dosa jika menertawakan orang tua.
"Hei sayang, apa yang kau tertawakan?" Tanya Keynan yang entah datang dari mana dia sudah berada disamping Biola dan mencium kening istrinya.
Semua mata memandang Keynan dengan terkejut. Mereka benar-benar tidak menyadari keberadaan Keynan termasuk para pelayan yang ada dirumah itu karena terlalu sibuk melihat adegan romantis kedua pasangan paruh baya yang masih dimabuk cinta meski usia mereka tak lagi muda.
Mama Kania melepaskan cengkramannya dari bahu suaminya dan berjalan mendekati Keynan dengan api membara.
Mama Kania menjewer telinga Keynan yang sedang bermesraan dengan istrinya.
"Aww.... aww....aww...!! Mama apa-apaan si. Sakit tahu! Lepasin ngapa? Udah bagus gak ada dirumah kenapa malah balik lagi si." Pekik Keynan sambil menggerutu.
Omellan Mama Kania tentu saja membuat Keynan terkejut. Karena dia tidak pernah menyiksa istrinya. Boro-boro menyiksa, Keynan saja tidak berani membuat istrinya marah sedikitpun sama seperti Papanya Pak Raihan yang takut kepada istri.
"Nyiksa apa si Ma, aku gak pernah nyiksa istriku sendiri." Bela Keynan yang difitnah oleh Mamanya.
"Elehh... mau ngelak kamu! terus kalau kamu gak nyiksa menantuku lalu kenapa dia kurusan? Lihat tuh! menantu Mama kayak engga makan satu tahun." Tanya Mama Kania dengan sinisnya sambil menunjuk tubuh Biola yang memang agak kurusan.
Keynan menatap istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Iya ya, istriku tambah kurusan Apa aku terlalu sering mengajaknya olah raga malam sehingga dia jadi tambah kurus? Ini gak bisa dibiarkan. Aku harus membuat Biola gemuk supaya enak dipeluk pas malam." Gumam Keynan yang mulai berfikiran mesum.
Biola yang mulai mengerti dengan tatapan suaminya secara replek menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Hehehe... kau tahu aja apa yang aku pikirkam sayang." Gumam Keynan saat melihat Biola menyilangkan tangannya didadanya saat melihat raut wajah mesum suaminya.
"Apa kau senyum-senyum!" Ucap Mama Kania sambil memperkuat jewerannya.
"Aww... ampun Ma, iya aku salah. Aku ngaku salah, aku akan buat istriku gemuk lagi kalau bisa aku buat dia melendung biar Mama gak bawel lagi." Jawab Keynan yang membuat semua orang yang ada disana mematung mencerna ucapan Keynan.
Kecuali Pak Raihan yang langsung tertawa terbahak-bahak karena mengerti apa yang diucapkan oleh anaknya.
__ADS_1
"Hahaha.... itu baru anakku." Ucap Pak Raihan sambil tertawa.
Keynan yang merasa Mamanya lengahpun langsung kabur dan bersembunyi dibelakang tubuh istrinya.
"Sayang selamatkan aku." Bisik Keynan dibelakang tubuh istrinya.
"Kau ku hukum Keynan Kristian." Jawab Biola sambil menatap Keynan tajam karena baru sadar dengan ucapan suminya yang membuat pipinya merona.
•••••••
Setelah adegan baku hantam yang sangat mengharukan antara Ibu dan anak tadi sore. Kini semua anggota keluarga Kristian kembali kemode seriusnya dan sedang membicarakan masalah serius kembali diruang keluarga.
"Ma, Pa! Aku sama Biola mau tinggal di Inggris. Kita mungkin akan menetap disana." Ucap Keynan memulai pembicaraan.
Ucapan Keynan seketika membuat Mama Kania dan Pak Raihan terkejut.
"Apa! Menetap disana?!" Ulang Mama Kania dengan kagetnya.
"Iya Ma, Pa! Ini semua demi kebaikan aku dan Biola. Lagi pula kastil itu aku dirikan memang untuk ku dan Biola dimasa depan. Untuk memulai rumah tangga kita dan untuk menikmati hari-hari kita bersama disana. Aku telah berjanji kepada almarhumah Ibunya Biola kalau aku akan menjadikan Biola sebagi Ratuku dikastil itu." Jawab Keynan sambil menatap wajah istrinya dengan dalam.
"Tu...tunggu! Bukannya kastil itu kamu bangun untuk seorang wanita hamil yang kamu lamar saat kamu berusia 5 tahun?" Tanya Mama Kania kepada Keynan yang membuat Pak Raihan yang sedang menyeruput teh nya langsung menyemburkannya.
"Apa? Keynan lamar wanita hamil? kapan? dimana? kok aku tidak diberitahu." Tanya Pak Raihan terkejut karena dia tidak mengetahui kalau anaknya pernah melamar wanita hamil dan lamarannya berpindah kepada anak yang ada didalam rahim wanita hamil itu.
"Jelas kamu gak tahu, orang kamu sibuk mulu. Aku aja tahunya dari Bi Aidah. Kalau Bi Aidah gak cerita aku juga mungkin gak akan tahu." Jelas Mama Kania kepada Suaminya.
"Ya ampun Ma, aku kan udah pernah Bilang kalau yang aku lamar itu anak yang ada didalam kandungan wanita itu." Jelas Keynan karena Mamanya itu selalu salah mengingat orang yang Keynan lamar.
Pak Raihan yang mendengarnya pun tertawa terbahak-bahak.
Keynanpun menceritakan keseluruhan tentang kisah itu yang membuat Mama Kania meneteskan air matanya.
"Ya ampun sayang, malangnya nasibmu." Ucap Mama Kania sambil memeluk tubuh Biola dengan air mata yang menetes.
"Itu sudah berlalu Ma, aku baik-baik saja sekarang. karena sekarang aku memiliki Papa, Mama dan Keynan." Ucap Biola sambil membalas.
"Yah udah Key, Papa sekarang sudah mengerti kondisinya. Jadi Papa serahin saja semuanya kepadamu. Dan untuk Mirna dan anaknya, itu biar Papa saja yang mencari mereka. Kalian pokuslah menjalani hidup kalian." Ujar Pak Raihan yang mengerti dengan kondisi anaknya.
"Baiklah Pa." Jawab Keynan.
"Tapi Mama gak mau pisah sama mantu Mama." Rengek Mama Kania sambil memeluk Biola erat.
"Iya kan kita bisa kesana kapan-kapan Mah." Jawab Pak Raihan berusaha menasehati istrinya.
"Baiklah... " Tanya Mama Kania pasrah sambil memonyongkan bibirnya
__ADS_1
_________________
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guys 😘