Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 106


__ADS_3

Saat ini Biola, Mama Kania dan Pak Raihan sudah ada diruang baca Pak Raihan. Pak Raihan sudah menjelaskan tentang keluarga Alexa yang ingin meminta maaf kepada Biola dan Keynan.


"Benarkah Pa Ma?" Tanya Biola dengan antusias dan membuat Pak Raihan dan Mama Kania kaget.


Mereka tak menyangka kalau reaksi menantu mereka akan sangat sebahagia ini saat mendengar keluarga Alexa yang akan datang mengunjunginya dan suaminya untuk meminta maaf.


"Benar, mungkin mereka akan datang pada saat jam makan malam." Jawab Pak Raihan dengan pandangan yang menatap heran kearah menantunya.


"Kalau begitu izinkan mereka datang Ma Pa. Aku juga ingin mengetahui tentang keluarga Alexa." Jawab Biola antusias. Dia sangat penasaran dengan keluarga Alexa yang menghantuinya beberapa hari ini.


"Tapi sayang, bagaimana kalau suamimu melarang kamu untuk bertemu keluarga itu. Karena sikap Darius tempo hari yang membuatmu pingsan." Ujar Mama Kania dengan cemasnya.


"Mama tenang aja. Keynan biar jadi urusan Bio." Jawab Biola penuh percaya diri.


Pak Raihan dan Mama Kania saling pandang. Mereka sungguh tak menyangka akan mendapatkan respon yang sangat menggembirakan bagi menantu mereka saat mengetahui keluarga Alexa akan datang kekediam keluarga Kristian.


"Aku ingin melihat anggota keluarga Alexa. Aku yakin ada sesuatu yang sangat penting yang aku lupakan. Tapi aku takut kalau aku tidak dapat mengingat apa-apa lagi. Sama seperti saat aku bertemu dengan Keynan. Padahal aku telah menemukan bukti kalau aku dan Keynan pernah bertemu waktu kita masih kecil. Tapi tetap saja aku tidak mengingatnya." Gumam Biola dengan raut wajah sedihnya karena tidak bisa mengingat kenangan yang seolah-olah tidak ada didalam ingatannya saat ini. Tapi Biola sangat yakin kalau rasa familiar yang ia rasakan itu memang memiliki memori yang sangat indah.


Tapi kenapa Biola tidak bisa mengingatnya? Semua itu masih menjadi misteri. Dan masih banyak lagi sesuatu yang Biola rasakan familiar tapi nyatanya ia tidak memiliki ingatan apa-apa tentang itu.


•••••••


Setibanya diperusahaan Kristian, Keynan tampak menjadi pusat perhatian saat ia membawa bekal sarapan paginya ditambah botol minumannya yang berbentuk doraemon.


Jika ditanya apakah Keynan malu atau tidak? maka jawabanya adalah sangat malu. Karena mau bagai mana lagi. Saat diperjalanan Keynan disibukan dengan teleponnya dari rekan bisnisnya jadi dia tidak ada kesempatan untuk memakan bekal sarapan paginya. Ditambah didalam mobil tidak ada kantong kresek atau apapun itu untuk menjinjing bekal makan siangnya dan botol minuman berbentuk doraemon itu. Sungguh Keynan saat ini sangat sangat malu tapi apalah daya. Dia tidak bisa meninggalkan botol minuman itu didalam mobilnya karena dia tidak ingin melukai hati istrinya barang sedikit pun.


Banyak para karyawan yang menahan tawa mereka pada saat mereka melihat Keynan sang bos dingin dan galak mereka membawa bekal makanan dan botol minuman lucunya, namun itu hanya sesaat karena Keynan menatap mereka dengan tatapan mematikannya.


Tatapan itu seolah-olah mengatakan jika mereka menertawainya maka mereka akan lenyap dari muka bumi ini tanpa meninggalkan jejak atau jasad mereka.


Sungguh saat ini mood Keynan sangat buruk. Pagi-pagi ia harus muntah-muntah dua kali karena bau susu dan morning sickness yang seharusnya dialami oleh ibu hamil tapi malah dialami oleh calon Ayah.


Devin yang baru datang pun tergelak saat melihat Keynan menenteng barang bawaanya yang lebih mirip bekal untuk anak-anak TK.


"Hahaha..... woi Bro! Lo bawa apaan itu? Lo mau kerja atau mau belajar sama anak-anak TK." Ejek Devin sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk bahu Keynan.


Keynan sudah mengerutkan keningnya saat mendengar ejekan dari asisten laknatnya itu. Aura Keynan yang tadinya dingin sekarang malah bertambah menjadi suram dan mencekam.


Dengan kasarnya Keynan menepis tangan Devin yang bertengger dibahunya dari arah belakangnya.


Plak...


Dengan kasarnya Keynan menepis tangan Devin sampai-sampai membuat Devin mengaduh kesakitan.


"Aww... sakit woi...!!!" Teriak Devin sambil memegangi lengannya yang memerah.


"Minggir lo bau!" Ucap Keynan ketus dan dingin tanpa membalikan tubuhnya untuk menatap Devin.


"Hei! gue udah gak pake wewangian apa-apa kekantor hanya demi lo dan lo masih bilang gue bau. Gue bahkan gak pake deodoran agar lo gak muntah-muntah. Lo bener-bener sepupu dan sahabat laknat tau gak." Bentak Devin penuh emosi.


Keynan membalikan badannya ingin membalas ucapan Devin namun ia tak sengaja melihat bekas luka dibibir Devin.


Dengan pandangan dinginnya Keynan membalikan tubuhnya lagi dan melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan Devin yang menatapnya kebingungan.


"Woi apa-apaan lo! Gak jelas tau gak." Gerutu Devin dibelakang Keynan.


"Gue larang lo buat gak pake wewangian saat ke kantor, bukan ngelarang lo buat ngaca. Gue ngerti kalau lo masih penganten baru tapi kita akan ada rapat penting hari ini. Jika lo keluar dengan tampang seperti itu, gue takutnya nama baik perusahan kita bisa hancur karena elo." Sindir Keynan dengan nada dinginnya dan masuk kedalam lift.


Devin mematung didepan lift karena memikirkan arti dari kata yang diucapkan Keynan.


"Muka? Emang muka gue kenapa?" Pikir Devin sambil menyentuh mukanya sendiri.


Devin melihat beberapa rombongan karyawan yang ingin masuk lift.


"Hei tunggu! Lo liat muka gue. Muka gue emangnya ada apa?" Tanya Devin sambil menarik salah satu karyawan wanita dari rombongan itu dan menunjuk wajahnya sendiri dengan wajah polosnya.

__ADS_1


Sontak saja apa yang dilakukan Devin itu mencuri perhatian dari rombongan karyawan itu. Para Karyawan itu menatap wajah Devin dengan kagetnya dan ada pula yang menahan tawanya tapi ada juga yang ngilu sendiri karena dia tidak tahu apa tanda yang ada diwajah Devin.


Wajah karyawan wanita yang ditarik oleh Devin itu tampak memerah saat melihat wajah Devin.


"A...a...anu Pak, bibir Bapak..." Ucap Karyawan wanita itu menggantung karena malu sekaligus gerogi. Sungguh ia bingung harus menejelaskan apa kepada Devin atasannya. Karena dia juga gak polos-polos amat. Dia mengerti tanda apa itu.


"Anu anu apa..!!??" Bentak Devin tak sabaran.


Karyawan wanita itu tidak sanggup berucap apapun. Hingga pada akhirnya ia merogoh tasnya dan mengambil cermin kecil dari dalam tasnya yang sering ia bawa-bawa untuk merapihkan riasannya bila riasannya rusak.


Karyawan wanita itu menyodorkan cermin itu kehadapan Devin dan membuat Devin menyengitkan alisnya sambil menatap cermin yang disodorkan kearahnya.


"Silahkan Bapak lihat sendiri." Jawab karyawan wanita itu sambil menyodorkan cerminnya kearah Devin dengan kedua tangannya memegang cermin itu dan tubuh yang ia tundukan ke hadapan Devin.


Dengan perasaan aneh, bingung dan lainnya Devin mengambil cermin itu lalu menatap kearah rombongan karyawannya yang menatapnya dengan tatapan aneh-aneh.


"Ada apa si dengan wajah gue? Meski gue gak pake wewangian apa-apa tapi gue yakin kalau gue tetep ganteng kok." Gumam Devin penuh percaya diri sambil mengarahkan cermin itu dihadapan wajahnya. Sementara ia masih menatap kearah para rombongan karyawannya yang menatapnya dengan tatapan aneh menurut Devin.


Devin mengalihkan pandangannya kearah cermin yang disodorkan oleh karyawan wanita itu. Devin melihat wajahnya dengan kaget. Seketika Devin terdiam saat pandangannya fokus kearah bibirnya yang tampak luka dan memerah.


"Ahh... Sial! Awas lo Sinta..!!!"


PRANG......


Dengan kesalnya Devin membanting cermin milik karyawan wanita itu sampai-sampai si pemilik cermin tercengang dan menatap cerminnya yang telah menjadi serpihan-serpihan kaca dilantai.


"Cerminkuuuu........." Gumam karyawan wanita itu didalam hati sambil menatap cerminnya yang hancur dengan tatapan sedihnya.


Sementara Devin sudah masuk kedalam lift dengan langkah terburu-buru dan tangan yang menutupi bibirnya karena malu.


"Ini semua gara-gara titisan gurita itu. Kalau saja dia gak buat ulah pagi-pagi pasti gue gak akan malu seperti ini. Pantesan dari tadi bibir gue sakit." Ucap Devin didalam hati sambil memegangi bibirnya yang terluka.


Flashback On


Diapartemen Devin hanya ada satu kamar dan kamar Devin dikuasai oleh Nyonya Sinta seorang. Devin yang seorang laki-laki pun harus mengalah dan tinggal diruang kerjanya. Ia bahkan membeli kasur untuk ia tempati diruang kerjanya.


Tapi pakaiannya tetap berada diakamarnya yang dulu. Devin juga mandi dikamarnya yang dulu yang kini dikuasai oleh Nyonya Sinta yang berkuasa itu.


"Woi! Bangun lo! Bikinin gue sarapan sana. Punya istri kok gak guna kayak lo." Teriak Devin yang membangunkan istri dadakannya itu.


Sinta masih meringkuk dan mendengkur diatas kasurnya yang empuk dan hangat. Ia tidak mendengarkan ocehan Devin yang bagaikan nyayian nayamuk baginya.


Devin yang kesal karena teriakannya tidak dianggapun langsung menarik selimut yang menyelimuti tubuh Sinta.


"Bangun lo octopus!" Teriak Devin sambil menarik selimut yang sedang digunakan Sinta.


Devin membelalakan matanya saat melihat dres tidur Sinta yang tersingkap keatas dan memampangkan pakaian dalam Sinta yang berwarna putih polos dengan renda-renda yang menghiasi setiap sisinya.


Gluk...


Devin menelan salivanya dengan kasar saat melihat pemandangan yang menggoyahkan imannya itu. Dengan cepat Devin menggelengkan kepalanya. Wajahnya sudah sangat merah saat melihat pemandangan yang memggoyahkan imannya.


"Gak! Gue gak boleh tergoda lagi. Inget kalau dia itu hanya titisan gurita." Gumam Devin sambil menggenggam erat selimut Sinta yang ia tarik.


Devin melihat selimut yang ia genggam dan berniat ingin menyelimuti Sinta yang pakaiannya itu sangat menggugah hawa nafsu Devin.


"Eh! Lo titisan lumba-lumba awas lo ya. Gue bakalan jadiin lo sate ikan!" Ucap Sinta mengigau dengan mata yang masih terpejam.


Sontak saja Devin langsung terperanjat dan melepaskan selimut yang ia pegang karena terkejut. Namun tak lama kemudian Devin mengelus dadanya saat mengetahui kalau Sinta hanya mengigau.


"Fiuhh.... bikin kaget aja tuh gurita." Devin membuang nafasnya dengan lega saat menyadari kalau Sinta hanya mengigau.


Sinta tiba-tiba merubah posisi tidurnya dan menampakan pemandangan yang benar-benar membuat adik kecil Devin bangun dari tidurnya. Dengan sekuat tenaga Devin menahannya agar tidak kebablasan. Namun ucapan Sinta yang mengigau lagi sungguh membuat Devin naik pitam.


"Eh! Titisan lumba-lumba. Lo itu ngeselin tau gak? Lo udah buat gue nikah dadakan. Gue kesel sama lo. Lo itu ngeselin pake banget dan lo itu impotennn! Lo laki-laki lemah, lembek, penyuka sesama jenis." Ngigau Sinta lagi. Sinta memaki Devin dengan sadisnya didalam mimpi indahnya.

__ADS_1


Devin yang dimaki pun darahnya sudah mendidih. Wajahnya sudah merah padam dengan tangan yang ia kepalkan.


Dengan dipenuhi emosi Devin naik keatas kasur Sinta dan menindih tubuh Sinta yang saat itu masih mengoceh memaki Devin padahal matanya masih terpejam.


"Impotennn dia bilang! Lemah, lembek dan penyuka sesama jenis? Lo akan tahu apakah gue seperti yang lo ucapin atau enggak saat lo merasakan kekuatan tempur gue. Gue akan buat lo tidak bisa bergerak dari tempat tidur selama satu minggu bila perlu." Ucap Devin dengan penuh emosi dan menyunggingkan senyuman devilnya.


Devin menarik kedua tangan Sinta keatas kepala Sinta dengan mencengkaram kedua tangan Sinta dengan satu tangannya dan tangan lainnya ia pergunakan untuk mengangkat dagu Sinta.


Dengan dipenuhi oleh hawa nafsu Devin mencium bibir istri dadakannya itu. Ciuman Devin begitu panas dan sangat menggoda. Sinta yang merasakan bibirnya diciumpun membuka matanya dengan kaget.


Sinta membelalakan matanya saat melihat Devin yang sedang asik menikmati bibirnya.


"Emm... lepas!" Ucap Sinta disela-sela ciumannya dengan Devin.


Devin menghentikan aksinya dan menatap Sinta dengan pandangan berkabutnya.


"Nikmatilah dan diam! Gue akan tunjukin ke elo apakah gue itu lemah atau bukan." Ucap Devin sambil menyeringai dan mengelus pipi Sinta lembut.


"Lo gil... emm..." Devin membungkam mulut Sinta dengan bibirnya.


Sinta sungguh tidak menyangka akan mendapatkan perlakukan dadakan yang membuatnya sangat-sangat terkejut ketika ia bangun tidur.


Dengan kesalnya Sinta menggigit bibir Devin yang sedang asik-asiknya menikmati bibir merah mudanya.


"Awww....!!! Lo serigala ya? Maen gigit-gigit orang aja. Mana gigitan lo ganas lagi." Pekik Devin sambil memegangi bibirnya yang berdarah.


Sinta mengusap bibirnya yang dipenuhi oleh saliva Devin dan darah dari bibir Devin yang ia gigit.


"Rasain lo cowok mesum! Pergi lo dari kamar gue. Dasar cowok mesum!" Teriak Sinta sambil menendang tubuh Devin keluar dari kamarnya.


"Woi! Ini juga kamar gue! Lagian lo juga yang duluan nantangin kekuatan tempur gue." Teriak Devin dibalik pintu kamarnya yang Sinta tutup.


"Diam lo dolphin!" Teriak Sinta didalam kamarnya sambil memegangi dadanya yang bergemuruh karena debaran jantungnya yang tidak bisa ia kendalikan.


"Awas aja lo nanti. Gue pasti akan makan lo sampai habis!" Teriak Devi dari balik pintu dan berlalu meninggalkan kamar Sinta.


Deg...deg...deg...


Jantung Sinta sungguh tak bisa ia kendalikan saat mendengar ucapan Devin.


"Berhenti lo jantung! Eh... maksud gue berhenti jangan berdebar kencang lagi. Kalau berhenti beneran nanti gue mati." Ucap Sinta didalam hati sambil merasakan debaran dari detak jantungnya yang menggebu-gebu karena tindakan dan ucapan Devin.


Flashback Off


Devin mendengus dengan kesalnya saat mengingat kejadian tadi pagi.


"Gue bakalan buktiin ke elo kalau gue itu gak impotennn! Lo pasti bakalan gue buat gak berdaya." Ucap Devin yakin sambil memasangkan masker kewajahnya. Karena hari ini ia akan rapat penting bersama Keynan dan rekan bisnis perusahaan Kristian. Bisa malu Devin bila orang-orang penting itu melihat luka dibibit Devin.


•••••••


Jam sudah menunjukan pukul 17:30 sore. Biola terus mundar-mandir menunggu suaminya pulang. Biola sedang berusaha membuat alasan yang tepat agar suaminya itu tidak marah saat ia memberitahukan tentang keluarga Alexa yang sebentar lagi mau datang kekediaman keluarga Kristian.


Tapi tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Biola melihat ponselnya dan itu ternyata sebuah pesan yang dikirim dari suaminya.


"Sayang maafkan aku karena aku akan pulang telat malam ini. Aku akan telat satu jam dari jam biasanya aku pulang mungkin aku akan pulang pas jam makan malam. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kamu jangan lupa minum susu mu ya sayang. Aku menyayangimu dan anak kita. Muachhh..." itulah pesan lebay dari Keynan.


Biola bingung harus berbuat apa saat membaca isi pesan dari suaminya itu. Biola sungguh tidak tahu harus berbuat apa kali ini. Ia berusaha menghubungi suaminya tapi ponsel suaminya itu tidak aktif.


Keynan biasanya akan pulang sebelum jam makan malam. Ia akan pulang lebih awal karena ingin bermanja-manja dengan istrinya. Tapi entah kenapa dihari yang penting ini Keynan malah akan pulang telat.


"Ah terserah nanti saja deh." Ucap Biola pasrah sambil melempar ponselnya keatas tempat tidur.


_______________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guys 😘

__ADS_1


__ADS_2