Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 88


__ADS_3

"Selamat ya Dev, akhirnya lo nikah juga. Eh, maskud gue akhirnya lo kawin juga terus dipaksa nikah deh." Sindir Keynan sambil menepuk bahu Devin dengan cengengesan.


Biola hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah konyol suaminya.


"Sialan lo! Gue gak pernah lakuin hal-hal kayak yang lo pikirin! Gue tuh pria baik-baik!" Ucap Devin dengan penuh amarah.


"Udah ngaku aja, gue tau kalau lo itu udah kelamaan jomblo. Jadi lo takut lumutan makannya lo ngebet kawin." Balas Keynan yang masih cengengesan menertawai penderitaan Devin.


"Lo... ...." Belum sempat Devin membalas perkataan Keynan, tiba-tiba saja si pengantin wanita merengek dan memeluk Biola.


"Huaaaa..... Bi, gue gak pernah lakuin hal kayak gitu. Lo harus percaya sama gue. Gue gak mau nikah sama titisan lumba-lumba. Itu semua gara-gara si Dolphin, kalau saja dia gak bawa gue ke apartemennya mungkin saat ini gue gak perlu nikah dadakan sama dia." Rengek Sinta dipelukan Biola.


"Woi! Sadar diri lo! Lo yang mabuk-mabukan dan nyusahin orang! Gue hanya sebagai manusia yang peduli terhadap sesama jadi gue tolongin lo. Kalau gue tau bakalan jadi gini pada akhirnya mendingan gue tinggalin lo dikamar mandi. Biar jadi santapan para lelaki hidung belang!" Ucap Devin yang tak mau disalahkan.


"Lo juga salah! Seharusnya lo gak buka baju gue tanpa seizin gue tadi malam!" Balas Sinta dengan nada tinggi.


"Tunggu... tunggu... tungg... Gue gak ngerti dengan apa yang kalian alami. Tolong jelasin lebih rinci."  Ucap Biola menghentikan pertengkaran pasangan suami istri baru itu.


Devin dan Sinta pun mulai menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka tadi malam. Dan Devin masih merahasiakan apa yang hampir saja ia lakukan kepada Sinta.


"Ini semua gara-gara dia! Kalau saja dia bisa nahan hawa nafsunya untuk sesaat dan nyerahin teleponnya ke Kakak ipar pasti ini semua tidak akan terjadi." Tuduh Devin kepada Keynan sambil menunjuk ke arah wajah Keynan.


"Key, apa bener yang Devin bilang?" Tanya Biola penuh selidik.


Karena tadi malam Keynan memang meminta jatah Kepada Biola dan permintaan Keynan itu sedikit memaksa dan buru-buru. Keynan bilang anaknya mau ditengokin bapaknya.


Keynan tampak cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe.... maaf sayang. Aku gak bisa nahan diri jadi aku singkirin orang-orang yang mengganggu malam kita." Ucap Keynan cengengesan.


Biola menepuk jidatnya karena tak tahu lagi harus berbicara apa kepeda sahabatnya dan adik iparnya.


"Lo emang cowok gila! Bener-bener gak punya hati lo!" Teriak Sinta sambil memunjuk keynan.


"Bi, lo harus tegakin keadilan buat gue. Lo harus balesin dendam gue. Lo mesti hukum laki lo yang ngeselin itu. Minimal jangan kasih dia jatah sampai anak kalian lahir." Pinta Sinta Kepada Biola yang membuat Keynan membelalakan matanya karena tidak terima.


"Iya Kakak ipar, kamu harus tegakin keadilan untuk adik iparmu ini." Lanjut Devin menyetujui ucapan Sinta.


"Hei! Kalian ngomong seenak jidat kalian. Gue gak mau! Enak aja maen hukum-hukum orang yang gak bersalah." Tolak Keynan dengan lantangnya.


"Gue gak nanya sama lo!" Teriak Sinta dan Devin serempak sambil menatap Keynan tajam.


Keynan tak mau kalah ia juga menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan dinginnya.


Biola berusaha menenangkan ketiga orang kekanak-kanakan yang ada dihadapannya.


"Sudah cukup! jangan ribut lagi! Aku pasti akan hukum Keynan." Jawab Biola yang membuat Sinta dan Devin  tersenyum cerah.


Devin dan Sinta menatap mengejek kearah Keynan yang tampak sedih dengan keputusan istrinya.


"Sayang, aku gak mau dihukum! Aku masih mau nengokin anak kita." Rengek Keynan dengan tak tahu malunya.


"Jangan lebay Keynan. Kamu itu udah mau jadi Bapak. Jadi bersikap sedikit lebih dewasalah." Omel Biola kepada suaminya yang langsung membungkam mulut suaminya.

__ADS_1


Keynan memoyongkan bibirnya karena masih kesal dengan keputusan istrinya. Ditambah dia tidak bisa protes akan keputusan istrinya.


"Rasain lo!" Sindir Devin dan Sinta sambil menertawai penderitaan Keynan.


"Gitu dong Bi, itu baru shabat terbaik gue. Meski tidak bisa mengulang masa lalu tapi setidaknya dapat mengurangi rasa stres gue gara-gara harus menikahi titisan lumba-lumba. Lagian lo punya kemampuan istimewa yang luar biasa masa si lo gak tahu kalau gue dalam bahaya? Secarakan gue sahabat lo satu-satunya."  Tanya Sinta yang membuat Biola membelalakan matanya karena Sinta tanpa sadar telah mengungkapkan kamampuan istimewa yang dimiliki oleh Biola dihadapan Keynan dan Devin.


"Kemampuan istimewa?" Ulang Keynan yang tidak mengeti dengan ucapan Sinta.


Sinta membelalakan matanya dan menatap Biola dengan rasa bersalah dan paniknya.


"Bi, gue lupa!" Bisik Sinta dengan panik.


"Bersikap biasa saja, jangan bersikap mencurigakan. Aku ingin mengatakan kemampuanku kepada Keynan tapi tidak untuk sekarang." Balas Biola sambil berbisik dan mendapat anggukan dari Sinta.


Keynan dan Devin menatap Biola yang tampak santai dan biasa-biasa saja sementara Sinta tampak panik sendiri. Sungguh Keynan dan Devin tidak mengerti dengan apa yang tengah kedua wanita itu bisikan.


"Kemampuan istimewa yang kalian maksud itu apa kemampuan untuk melihat masa depan?" Tanya Devin yang membuat Sinta dan Biola terkejut.


"Melihat masa depan?" Tanya Keynan bingung.


"Gue juga gak tahu si Key. Yang pasti gue pernah denger Kakak ipar dan tu Nenek lampir lagi bahas tentang ramalan atau masa depan apalah aku juga gak tahu. Gue pikir Kakak ipar sama Nenek lampir lagi main-main aja." Jawab Devin yang membuat kedua wanita itu tampak panik namun masih tetap santai.


"Woi! Jangan panggil gue Nenek lampir!" Teriak Sinta yang berusaha mengalihkan topik namun sepertinya gagal.


"Tunggu! aku inget pada waktu pengangkatanku sebagai CEO, si Mona buat ulah. Dan kamu bilang kalau kamu sudah menebak kalau Mona akan melakukan kekacauan itu. Ditambah penerbangan kita yang batal karena kamu mau kerumah sakit dan pada hari itu juga Nenek tua itu meninggal." Ucap Keynan kepada Biola yang malah membuat Sinta panik.


Sementara Biola sedang berusaha untuk tetap tenang.


"Sudahlah, kami hanya sedang main-main saja. Aku hanya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan apa-apa." Jawab Biola dengan santainya dan langsung membuat Keynan dan Devin terdiam.


Biola menatap raut wajah aneh suaminya yang sedang memandangi kalung liontin yang ia pakai.


Biola menghembuskan nafasnya dengan kasar setelah menatap wajah suaminya karena tiba-tiba saja sejuta pikiran datang dan menghantuinya.


•••••••


Malampun tiba, Devin dan Sinta saat ini sedang berada dirumah Sinta.


Sinta tak henti-hentinya meminta maaf kepada Bunda dan Ayahnya. Sinta berusaha berulang-ulang kali menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi antara dia dan Devin. Dibantu oleh Devin yang meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.


Hingga pada akhirnya kedua orang tua Sinta menyerah dan mau mendengarkan penjelasan anak mereka.


Sinta dan Devin mulai menjelaskan apa yang terjadi tadi malam. Sinta bahkan berencana memanggil Adinda sebagai saksi jika kedua orang tuanya tidak percaya. Namun orang tuanya menghentikannya.


Karena orang tua Sinta sudah cukup mendengarkan penjelasan dari putri mereka. Pak Sinan dan Bunda Ratih sudah mempercayai semua ucapan Sinta dan Devin. Namun penjelasan saja tidak mampu merubah apa yang terjadi.


"Meski apa yang kalian katakan itu benar, tapi apa itu berguna bagi masyarakat? Mereka akan menilai hal-hal negatif dari apa yang mereka dengar dan akan menutup telinga mereka rapat-rapat terhadap penjelasan dari orang yang bersangkutan." Jelas Pak Sinan sambil membuang nafasnya dengan kasar.


Sinta dan Devin hanya bisa terdiam sambil mendengarkan penuturan dari Pak Sinan.


"Sudahlah yang lalu biarlah berlalu. Sekarang mau tidak mau kalian harus jalani pernikahan ini! Dan berusahalah untuk saling menerima satu sama lain." Ucap Pak Sinan dengan nada mengintimidasi.


Sinta dan Devin hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang mereka alami saat ini.

__ADS_1


"Ya sudah kalian lebih baik istirahat saja dulu." Saut Bunda Ratih dengan nada yang lembut.


Devin dan Sinta pun berjalan kearah kamar mereka dengan lemasnya.


"Tunggu!!" Teriak Pak Sinan yang menghentikan langkah kaki Sinta dan Devin.


Kedua pasangan pengantin baru itu langsung membalikan tubuh mereka menghadap Pak Sinan.


"Kamu! Bersiaplah untuk bertanding denganku besok. Meski aku sudah menerima apa yang terjadi tapi sebagai seorang Ayah aku juga berhak mengetes kemampuan menantunya. Aku harus tahu sejauh apa kemampuanmu. Apakah kamu bisa melindungi putriku atau justru putrikulah yang nelindingimu." Tantang Pak Sinan yang membuat bulu kuduk Devin merinding. Tapi Devin juga sangat kesal memdengar ucapan Pak Sinan yang tampak meremehkannya.


"Yah, jangan gitu ah!" Peringat Bunda Ratih kepada Suaminya.


"Nak Devin ucapan Ayah janga dimasukin kedalam hati. Kalian lebih baik pergi istirahat aja. Kalian pasti capek." Ucap Bunda Ratih dengan lembut.


"Terima kasih Bunda." Jawab Devin sedikit canggung karena harus memanggil Bunda Ratih dengan sebutan Bunda sambil mengelus dadanya yang merasa lega karena tantangan Ayah mertuanya gagal.


"Gak! Kalau dia gak ditantang Ayah gak bakalan tahu apakah dia mampu menjaga putri kita atau tidak. Pokoknya kamu harus menerima tantanganku. Jangan jadi laki-laki pengecut!" Ucap Pak Sinan dengan nada tinggi dan menatap Devin dengan tajam.


Seketika Devin merasa separuh jiwanya telah melayang saat mendengar ucapan Ayah mertuanya.


Bunda Ratih hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat menghadapi ke keras kepalaan suaminya.


"Ba...baiklah A..Ayah." jawab Devin dengan gugup karena ketakutan.


"Nasib-nasib, udah dapet istri Nenek lampir aneh bin ajaib ditambah punya Ayah mertua yang galak dan berotot. Ini mah Otw masuk rumah sakit tiap hari." Keluh Devin didalam hati sambil meratapi nasibnya yang sial.


Sementara itu Sinta sedang tertawa didalam hati. Ia menertawankan kesialan Devin.


"Rasain! Emang Ayah gue bakalan nerima lo dengan mudahnya setelah apa yang telah lo lakuin ke anaknya. Gue yakin ada cerita yang belum si dolphin itu ceritain ke gue. Gue harus siksa si titisan lumba-lumba supaya dia kapok dan gak ngebantah gue lagi." Ucap Sinta didalam hati sambil cengengesan sendiri.


••••••••


"Lo tidur dilantai!" Perintah Sinta saat mereka telah sampai dikamar dan telah rapih memakai pakaian tidur mereka masing-masing.


"Gak! Gue mau tidur dikasur. Lo aja yang tidur dilantai." Tolak Devin.


"Ini kamar gue jadi lo harus tidur dilantai!" Teriak Sinta kepada Devin.


"Mau ini kamar lo atau bukan. Gue tetep tidur di kasur." Ucap Devin ngeyel sambil menjatuhkan tubuhnya keatas kasur.


"Lo minggir! Ini tempat tidur gue!" Teriak Sinta sambil menarik tangan Devin agar terbangun dari kasurnya.


Dengan perasaan jengkelnya Devin tak sengaja menarik tangan Sinta yang menari-narik tangannya untuk berdiri. Sehingga Sinta terjatuh keatas kasur dan menimpa tubuh Devin jadilah saat ini Sinta berada diatas tubuh Devin.


Devin yang tak sengaja menarik Sinta keatas tubuhnya pun membelalakan matanya. Dia tidak menyangka kalau tindakannya akan mengakibatkan ketidak canggungan diantara keduanya


Sinta dan Devin saling berpandangan dengan begitu dalamnya sampai Devin akhirnya tersadar dan mendorong tubuh Sinta kesampingnya.


"L...lo tidur disamping gue. Kasur ini masih luas untuk kita berdua jadi kita bisa berbagi tempat tidur." Ucap Devin dengan gugup.


Sementara itu pipi chabi Sinta sudah sangat merah seperti kepiting rebus. Dengan rasa malunya yang menggebu-gebu Sinta mengambil guling dan membuat sekat ditengah-tengah kasur.


____________________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guys 😘


__ADS_2