Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 75


__ADS_3

"Key, lo gak jadi pindah nih ceritanya." Goda Devin saat menyerahkan beberapa berkas keruangan Keynan.


"Diem lo! Kerja sana yang bener." Kesal Keynan sambil merebut berkas-berkas yang disodorkan oleh Devin.


"Kerjaan gue setiap hari selalu bener kali." Balas Devin.


"Pergi lo! Gue enek banget liat muka lo." Keynan mengibas-ngibaskan tangannya kearah Devin.


"Muka gue ganteng gini dari mananya coba yang bikin enek." Kesal Devin sambil mengelus-ngelus wajahnya.


Keynan memfokuskan matanya kearah layar laptonya dan menghiraukan Devin.


"Oh ya Key, bini lo gimana kuliahnya kalau lo gak jadi pindah atau nunda kepindahan lo?" Tanya Devin.


Keynan nampak memberhentikan aksinya dihadapan laptopnya. Ia memikirkan ucapan Devin. Keynan benar-benar lupa tentang masalah kuliah istrinya.


Tanpa menjawab pertanyaan Devin, Keynan langsung mengambil handphonenya yang ada di atas meja kerjanya. Ia langsung menghubungi nomor yang ia beri nama My Wife.


"Tuh kan ngeselin banget. Kalau gue gak ingetin pasti dia bakalan lupa. Ditambah Kakak Ipar yang dingin kayak patung es itu pasti dia bakalan cuek-cuek aja." Gumam Devin sambil duduk disofa ruangan Keynan dengan santainya menanti adegan mesra sepasang suami istri yang akan berteleponan.


•••••••


Di sisi lain Mama Kania mengajak menantunya diam-diam tanpa sepengetahuan Keynan ke salah satu butik milik seorang desainer terkenal yang merupakan butik milik Adik ipar Mama Kania sekaligus Ibu dari Devin yang bernama Devi Wijaya.


Tante Devi baru membuka butik itu karena ia dan keluarganya memutuskan untuk menetap di Indonesia setelah cukup lama menetap di Amerika.


"Lihat deh sayang! cantikan? kamu coba pake yang ini ya, terus yang ini, ah yang ini juga, oh itu juga kayaknya cantik," Mama Kania memilih-milih beberapa gaun untuk Biola.


Mama Kania menumpuk semua pakaian yang menurutnya cantik kepada Biola. Lalu menyuruh Biola untuk mencoba semua pakaian yang ia pilih dan ia tumpuk bagaikan gunung.


Biola hanya bisa tersenyum miris kepada dirinya sendiri saat Mama Kania menumpuk semua pakaian yang menurut dia cantik kepada Biola. Dan menyuruh Biola memakainya.


"Ayo sayang, kamu coba sana diruang ganti!" Perintah Mama Kania sambil mendorong tubuh menantunya keruang ganti.


"Iya Ma," Jawab Biola dengan wajah lesunya.


Biola memasuki ruang ganti dengan lemasnya. Ia mencoba beberapa gaun berwarna putih. Lalu keluar dari ruang ganti untuk diperlihatkan kepada Mama mertuanya.


"Giman Ma?" Tanya Biola canggung saat memperlihatkan gaun yang ia kenakan.


Mata Mama Kania berbinar saat melihat kecantikan menantunya begitu juga dengan Tante Devi yang ikut terkagum-kagum melihat kecantikan Biola.


"Uwahhh... menantuku sangat cantik. Gaun ini sangat sempurna dikenakan oleh menantuku." Puji Mama Kania sambil menatap kagum kearah menantunya.


"Iya Kak, menantumu sangat cantik. Aku jadi pengen menantu cantik seperti menantumu." Sambung Tante Devi.


"Iyalah menantu pilihanku memang yang terbaik." Ucap Mama Kania dengan bangganya.


"wah... kalau gitu nanti tolong pilihkan menantu secantik dan seanggun menantumu ya Kak. Soalnya keponakanmu itu jomlo terus. Dia seolah-olah gak tertarik kepada wanita." Curhat Tante Devi kepada Kakak Iparnya.


"Iya nanti Kakak pilihkan menantu yang terbaik untuk Devin. Kita akan menikahkan dia satu bulan lagi. Udah kelamaan jomlo dia. Takutnya nanti berlumut." Jawab Mama Kania sambil terkekeh dan dibalas tawa oleh Ibunya Devin.


Sementara Biola hanya bisa tersenyum kikuk.


Drttttt......


Tiba-tiba saja ponsel Biola yang ada didalam tas nya yang ia letakan diatas sofa di butik itu berbunyi tapi tak ada seorang pun yang mendengarnya karena jarak mereka yang cukup jauh.


Mama Kania sibuk mempotret menantunya yang terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya.


Sementara ditempat lain Devin sedang bersin-bersin gak jelas diruangan Keynan.


"Berisik lo, keluar sana!" Bentak Keynan kepada Devin.


Keynan sekarang sedang mengomel-ngomel plus khawatir karena panggilannya tidak diangkat.


"Ya ela beresin bukan gue yang mau kali." Balas Devin sambil menggosok-gosok hidungnya.


"Sayang angkat dong. Kamu jangan buat aku khawatir." Ucap Keynan sambil mundar-mandir dihadapan Devin dengan tangan yang terus berusaha menghubungi Biola.


Niatan awal ingin menanyakan persoalan kuliah kepada istrinya. Eh malah jadi Keynan yang khawatir karena Biola tidak mengangkat teleponnya.


"Woi! Bisa diem gak lo! Pusing gue liat lo mundar-mandir kayak setrikaan." Kesal Devin sambil melempar Keynan dengan bantal sofa.


"Pergi lo jomlo! Ganggu aja." Ucap Keynan yang bagaikan belati yang menusuk tubuh Devin.


"Berisik lo! Jomlo-jomlo gini juga gue gak kayak setrikaan kayak lo." Kesal Devin.


"Berisik banget lo. Pergi sana!" Usir Keynan kepada Devin sambil menatap tajam kearah Devin.


"Gak! Gue mau disini." Jawab Devin ngotot.


"Gue hajar juga lo!" Kesal Keynan.


"Ayo sini! Gue gak takut!" Tantang Devin yang membuat Keynan mendapatkan sasaran empuk untuk mencurahkan semua emosinya karena khawatir kepada istrinya yang tidak mengangkat teleponnya.


Dengan langkah yang terburu-buru Keynan mendekati Devin dan menarik kerah kemeja yang Devin pakai lalu mengangkat tangannya siap untuk meninju wajah tampan Devin.


"Buset! Dia serius ini. Gue pikir dia bercanda. Uwahhh... Tante Kania tolong aku. Anakmu sudah menggila. Keponakan kesayanganmu mau dipukul." Ucap Devin didalam hati sambil memejamkan matanya.


Tapi belum sampai tinjuan Keynan sampai dipipi mulus Devin, Keynan lebih dulu memberhentikan tinjuannya.

__ADS_1


Devin yang tidak merasakan sakit apa-apapun akhirnya membuka matanya dan melihat Keynan seperti mematung ditempatnya dengan dahi yang mengerut seperti menahan sesuatu.


"Gue tahu lo pasti gak ba... ...."


Huekk......


Devin melongo ditempatnya saat Keynan tiba-tiba muntah dihadapannya dan muntahannya sampai mengotori kemeja dan jas yang ia pakai.


Keynan memegang pundak Devin dan memuntahkan semua yang ada diperutnya. Devin hanya bisa pasrah sambil menangis didalam hati.


"Dev, Huekk... lo bau banget. Mandi gak si lo!" Ucap Keynan sambil berlalu kekamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya didalam kamar mandi.


Devin hanya mematung mencerna setiap ucapan Keynan.


"Apa? Bau? Sialan tu anak. Gue wangi-wangi kayak gini dia bilang bau?." Kesal Devin sambil menciumi bau badannya dan tak sengaja mecium bau muntahan Keynan yang membuatnya juga mau ikut-ikutan muntah.


Huekk...


"Tu anak awas aja lo. Baju gue jadi penuh muntahan dia. Gue harus cepet-cepet gan... huek....." Kesal Devin sambil menutup hidungnya karena menahan bau muntahan Keynan.


Devin segera keluar dari ruangan Keynan tapi sebelum itu ia memanggil sekertaris baru Keynan yang merupakan seorang laki-laki sesuai keinginan istri Nyonya bosnya untuk mengurus Keynan yang muntah-muntah gak jelas.


••••••••


Disisi lain Biola sudah pulang dari butik Tante Devi dengan memborong gaun-gaun yang tadi Mama Kania pilihkan untuk menantunya.


Kini Biola sedang berada didalam kamarnya dengan tubuh yang ia lemparkan kearah kasur. Karena terlalu capek disuruh gunta-ganti baju oleh Ibu mertuanya.


Biola merogoh ponselnya yang ada didalam tasnya. Biola menyalakan ponselnya dan membelalakan matanya saat melihat 80 panggilan tak terjawab dan ada 30 pesan yang belum terbaca dari kontak yang ia beri nama My Big Baby.


"Panggilan tak terjawab sebanyak ini. Apa tingkat keposesifan suamiku tambah menjadi-jadi." Pikir Biola karena tercengang dengan panggilan tak terjawab dari Keynan.


Biola mulai membaca satu persatu pesan dari suaminya.


"Sayang kamu dimana?"


"Sayang, aku khawatir angkat teleponnya."


"Sayang aku rindu." Biola mengapaikan pesan itu dan membaca pesan selanjutnya.


"Honey angkat teleponnya!"


"Sayang kamu gak apa-apa kan? Ayo angkat teleponnya honey??!."


Dan masih banyak lagi pesan spam dari suaminya.


Biola meletakan ponselnya diatas nakas tanpa ingin membalas satupun pesan dari suaminya atau menelepon balik suaminya.


Drtttt.....


Belum sempat Biola menutup matanya tiba-tiba ponselnya sudah berbunyi. Sehingga membuat Biola mau tak mau harus mengangkat telepon itu.


Dengan malasnya Biola menggeser panel berwarna hijau dan mengangkat teleponnya. Tanpa melihat nomor kontak yang meneleponnya.


"Ha.... ...."


"Nyonya Muda!! Itu Pak Keynan, dia...."


Huek...


Ucap seseorang yang asing bagi Biola dengan berteriak panik dan terdengar suara seseorang muntah didalam telepon itu.


"Hallo! kamu siapa?" Tanya Biola yang ikut-ikutan panik.


Huek....


"Tolong air!" Perintah seorang laki-laki yang sedang muntah didalam telepon kepada orang yang menelepon Biola.


Biola mengenali suara orang yang muntah itu. Suara itu adalah suara suaminya.


"Hallo diamana suami saya? Hei jawab!!!" Teriak Biola kepada sekertaris baru Keynan.


"Ini Nyonya kita sedang berada dikantor." Jawab sekertaris Keynan.


Dengan segera Biola mematikan sambungan teleponnya dan berlari menuruni anak tangga menuju perusahaan keluarga Kristian.


"Sayang kamu mau kemana?!!" Teriak Mama Kania yang melihat Biola berlari-lari keluar rumah.


"Keperusahaan Ma!" Teriak Biola sambil membuka pintu.


"Pake supir jangan panggil taksi!" Teriak Mama Kania.


"Iya Ma!" Balas Biola sambil berteriak.


"Dasar anak muda. Sekalinya sudah mengenal cinta dunia serasa milik mereka berdua. Yang lainnya pada ngontrak." Ucap Mama Kania sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


•••••


Biola membuka pintu ruangan Keynan dengan kasar. Kali ini tidak ada yang melarang dia untuk masuk kedalam ruangan suaminya seperti dulu lagi.


Karena setelah kejadian itu semua kariawan langsung mengingat-ngingat wajah istri dari bosnya.

__ADS_1


Terlihat diruangan Keynan ada seorang laki-laki muda tampan walau tak setampan suaminya. Laki-laki itu tersenyum ramah ke arah Biola.


Biola mengerutkan dahinya karena tidak mengenali laki-laki itu.


"Nyonya Muda, Pak Keynan ada didalam kamarnya. Mari saya antar." Ucap laki-laki itu lembut dan mengantar Biola sampai didepan kamar diruangan Keynan.


"Kamu siapa?" Tanya Biola kepada laki-laki itu.


"Nama saya Andre, saya sekertaris baru Pak Keynan." Jawab Andre sopan.


Biola menganguk-nganguk terus berjalan kedalam kamar. Didalam sudah ada Dokter yang sedang memeriksa kondisi Keynan.


"Sayang kamu ada disini?" Ucap Keynan kaget saat melihat istrinya ada dikantornya.


"Dokter bagai mana kondisi suami saya?" Tanya Biola kepada Dokter dan menghiraukan ucapan suaminya.


"Pak Keynan baik-baik saya. Tidak ada masalah serius. Mungkin Pak Keynan hanya kurang istirahat saja." Jawab sang Dokter.


Setelah memberi resep obat Dokter itupun berpamitan dan pergi dari kamar Keynan.


"Sayang peluk!" Ucap Keynan manja sambil merentangkan tangannya kearah Biola.


"Kamu apa-apaan si kayak anak kecil minta peluk-peluk segala." Ucap Biola menatap heran kearah Keynan.


Mata Keynan sudah berbinar menahan tangis seperti anak kecil yang tidak diberi jajan.


Biola yang melihat tingkah suaminya yang menggemaskanpun jadi tak tahan dan langsung memeluk suaminya.


"iya, iya, sini aku peluk." Ucap Biola pasrah. Seketika ekspresi Keynan berubah menjadi ceria.


Keynan mengangkat tubuh istrinya kedalam pangkuannya lalu mendekap istrinya dipelukannya.


"Key, kamu aneh banget si hari ini. Tadi kenapa kamu muntah-muntah?" Tanya Biola.


"Devin bau banget. Kayaknya dia gak mandi-mandi." Adu Keynan dengan nada manja.


"Hah?!" Biola terkejut mendengar penuturan aneh dari semuaninya.


"Iya dia itu bau banget sayang. Jangan deket-deket dia nanti kamu bau juga." Jelas Keynan seperti anak kecil yang mengadu kepada Ibunya.


"Ini laki gue kenapa dah sikapnya kayak bocah." Pikir Biola sambil menatap heran kearah suaminya yang sedang memeluknya.


Cklek.......


Devin masuk kedalam kamar Keynan yang ada diruang kerja Keynan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"woi! ini kantor!" Teriak Devin yang kaget melihat sepasang suami istri sedang berpelukan diatas kasur.


"Ngapain lo kesini, lo bau tau gak. Pergi sana!" Usir Keynan sambil mempererat pelukannya kepada istrinya. Karena gara-gara keberadaan Devin membuat Biola jadi tidak bisa diam karena malu.


"Key lepas! itu ada Devin." Bisik Biola sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya yang bagaikan gurita sedang menangkap mangsanya.


"Gue wangi, lo aja kali yang bau." kesal Devin sambil mendekati Keynan.


Huekk.....


"Minggir lo! lo bau banget." Keynan langsung berlari kekamar mandi saat didekati Devin.


Biola segera menyusul Keynan kedalam kamar mandi dan memijit-mijit tengkuk suaminya.


"Heran deh gue, perasaan gue wangi gini dari mananya yang bau coba. Tadi aja gue langsung mandi pas dimuntahin si Keynan. Seharusnya gue yang paling wangi disini." Ucap Devin sambil menciumi lagi seluruh tubuhnya.


Huekk....


"Key, kamu kenapa si? Kata Dokter kamu gak apa-apa tapi muka kamu pucet banget dan terus muntah-muntah kayak gini. Kita pulang aja ya?" Ucap Biola penuh khawatir sambil memberikan segelas air putih kepada suaminya.


"Ini semua gara-gara Devin. Dia bener-bener bau." Jawab Keynan sambil menyandarkan kepalanya yang pusing dipundak istrinya dan dengan penuh kasih sayang Biola mengusap-ngusap rambut suaminya dengan lembut.


"Masa si Key? perasaan tadi aku gak nyium bau apa-apa pas Devin masuk." Ucap Biola jujur.


"Dia bau banget sayang. Usir dia! nanti aku muntah lagi." Ucap Keynan sambil memegang kedua bahu istrinya dan menatap istrinya.


"Ya udah kamu tunggu disini ya?" Ucap Biola lembut sambil mengelus kepala Keynan seperti mengelus kocheng.


Biola masuk kembali kedalam kamar dan melihat Devin yang sedang menciumi bau badannya.


"Dev, kamu keluar gih!" Perinta Biola.


"Hah! Keluar? Emang kenapa?" Tanya Devin bingung.


"Keynan Bilang lo bau jadi dia pengen muntah mulu pas nyium bau tubuh lo." Jelas Biola yang membuat Devin terkejut.


"Gue wangi gini dari mana baunya coba. Kalau gak percaya coba aja lo cium bau badan gue nih!" Ucap Devin sambil menyodorkan ketiaknya kearah hidung Biola.


Dengan cepat Biola mundur 1000 langkah tapi dikuranglangin 990 dengan hidung yang ia tutup.


"Jorok banget lo!" Ucap Biola sambil mendorong tubuh Devin keluar kamar Keynan.


"Kakak Ipar, tubuh gue wangi gini dari mana baunya." Ucap Devin sambil didorong oleh Biola keluar kamar.


"Ketiak lo bau!" Jelas Biola sambil menutup pintu kamar.

__ADS_1


"Hah! masa si, perasaan tadi gue udah pake deodoran banyak." Devin langsung menciumi ketiaknya yang wangi.


__ADS_2