
"Key kita mau kamana? Terus tadi Mama sama Papa kemana? Kok mereka gak ada dirumah?" Tanya Biola kepada suaminya.
Saat ini mereka sedang berada diperjalanan menuju kesuatu tempat.
"Kita mau makan malam diluar sayang. Kalau Mama sama Papa palingan mau kencan kayak anak ABG." Ucap Keynan dengan santainya sambil mengemudikan mobilnya.
Sementara Biola memutar bola matanya dengan malas saat mendengar penuturan dari suaminya.
Keynan memberhentikan mobilnya didepan hotel bintang 5 milik keluarga Kristian. Karena tujuan mereka adalah hotel keluarga Kristian.
Keynan nampak sibuk sendiri mencari sesuatu didalam mobilnya.
"Kamu cari apa Key?" Tanya Biola yang keheranan melihat tingkah aneh suaminya.
"Cari handphone aku. Kamu lihat gak?" Tanya Keynan sambil mencari-cari handphonenya.
"Emang kamu naruhnya dimana tadi?" Tanya Biola sambil membantu mencari handphone suaminya.
"Kamu duluan aja kedalam sayang. Biar aku yang nyari handphoneku." Ucap Keynan mencegah Biola membantunya.
"Gak apa-apa biar aku batu." Tolak Biola yang masih ingin membantu suaminya.
"Nanti kelamaan, kamu tunggu aku didalam aja." Keynan mendorong tubuh istrinya keluar dari dalam mobil.
"Bener nih?" Tanya Biola memastikan.
"Iya sayang sana!" Usir Keynan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kok mencurigakan ya?" Batin Biola yang merasakan kalau tingkah suminya hari ini penuh dengan kecurigaan.
Biola pun berjalan kedalam hotel dan disambut hangat oleh para pegawai dihotel itu.
"Nyonya Muda mari ikut saya. Tuan Muda menyuruh saya untuk mengantar Nyonya Muda ketempat yang telah disediakan." Ucap salah satu pegawai hotel itu dengan ramah.
Biola pun mengikuti langkah kaki pegawai hotel itu.
"Nyonya Muda kita telah sampai didepan ruangan yang telah disiapkan oleh Tuan Muda. Nyonya Muda silahkan masuk kedalam. Saya mohon pamit Nyonya Muda karena masih ada urusan yang belum saya selesikan." Ujar pegawai hotel itu yang ikut-ikutan bertingkah aneh seperti Keynan.
Biola pun mengizinkan pegawai hotel itu untuk pergi. Biola membuka pintu ruangan tempat ia dan suaminya untuk makan malam. Namun ruangan itu nampak sangat gelap.
Biola ingin memanggil pegawai hotel yang tadi namun pewai hotel itu malah pergi dengan terburu-buru. Jadi mau tidak mau Biola pun masuk kedalam ruangan gelap itu.
Tiba-tiba lampu menyala saat Biola masuk kedalam ruangan itu dan terdapat banyak orang didalam ruangan itu yang mengejutkan Biola.
Semuanya menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepada Biola. Biola benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Happy Birthday sayang!!" Ucap Mama Kania Kania sambil memeluk menantunya.
"Makasih Ma, aku gak nyangka kalau kalian menyiapkan kejutan untuk ulang tahunku." Ucap Biola yang terharu dengan kejutan yang dilakukan oleh keluarganya.
"Kamu kan sekarang sudah menjadi anggota keluarga Kristian jadi sudah sewajarnya kami merayakan hari ulang tahunmu. Dan maaf ya sayang, karena kami telat membuat perayaan ulang tahunmu jadi hanya bisa merayakannya dengan pesta sederhana." Ucap Mama Kania meras bersalah.
"Tidak apa-apa Ma, pesta ini sudah lebih dari cukup untuk Biola. Makasih Ma, Biola sangat menyukai pestanya." Ucap Biola sambil memeluk Mama mertuanya.
"Selamat ulang tahun ya nak, semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga cucu Opa bisa lahir dengan selamat dan menjadi anak yang baik dan penurut sama orang tua." Do'a Pak Raihan untuk menantunya.
"Amin.... semoga do'a Papa dikabukan oleh sang maha kuasa." Balas Biola sambil melepaskan pelukannya dari Mama Kania dan menghadap Pak Raihan.
"Selamat ulang tahun sayang." Ucap seorang laki-laki dari arah kerumunan tamu yang hadir sambil membawa sebuah kue ditangannya dengan lilin yang berbentuk angka 21 th.
"Kok kamu ada disini? Bukannya tadi kamu masih ada dibawah?" Tanya Biola yang kaget saat melihat suaminya sudah berada dihadapannya.
"Sebenarnya handphoneku ada disaku bajuku. Aku hanya ingin mengejutkanmu. Happy Birthday sayang." Ucap Keynan sambil tersenyum dan mencium pucuk kepala istrinya.
Biola yang sangat bahagiapun langsung memeluk tubuh suaminya dan hampir saja menjatuhkan kue yang dibawa oleh Keynan tapi untungnya Keynan sigap sehingga kue itu tidak terjatuh kelantai.
"Makasih sayang." Ucap Biola yang membuat pipi Keynan merona karena setelah sekian purnama akhirnya istrinya itu memanggilnya lagi dengan sebutan sayang dan tanpa ada paksaan dari siapapun.
Ehemmm...
"Anggap aja kami patung Bi. Kayaknya asik banget tuh yang lagi pelukan." Goda Sinta yang entah datang dari mana.
Sinta diundang oleh Keynan karena mengingat Sinta adalah teman satu-satunya Biola.
Sinta juga sudah mengetahui tentang kebatalan penerbangan Keynan dan Biola termasuk juga kehamilan Biola yang baru Sinta ketahui dari Mama Kania.
Entah kenapa Sinta dan Mama Kania langsung akrab saat baru bertemu beberapa jam yang lalu. Seolah-olah mereka itu satu kawanan.
Dengan malu-malu Biola melepaskan pelukannya dari suaminya. Sementara Keynan sudah memalingkan wajahnya yang merona.
__ADS_1
Sontak saja tingkah suami istri itu mendapatkan gelak tawa dari para tamu yang hadir.
"Udah ayo kita tiup lilinnya." Ucap Pak Raihan yang menghentikan tawa dari para tamu.
Biola pun bersiap-siap untuk meniup lilinnya namun Keynan menghentikan Biola.
"Tunggu dulu sayang jangan tiup lilin sendirian." Cegah Keynan yang membuat dahi Biola mengerut karena bingung.
"Lalu aku harus tiup lilin sama siapa?" Tanya Biola bingung.
"Sama aku lah sayang. Aku kan juga ingin merayakan hari ulang tahunku bersama istriku." Jawab Keynan yang membuat Biola terkejut. Karena Biola benar-benar tidak tahu kapan hari ulang tahun suaminya.
"Kamu juga ulang tahun? Kapan?" Tanya Biola dengan kagetnya.
"Aku ulang tahun beberapa hari yang lalu tapi aku memang sengaja tidak merayakan hari ulang tahunku karena aku ingin merayakannya bersama dengan hari ulang tahun istriku." Ujar Keynan yang membuat Biola merasa bersalah.
"Maaf...." Lirih Biola merasa bersalah.
"Hei kenapa kamu harus minta maaf. Kamu kan gak salah apa-apa. Jadi untuk apa meminta maaf." Ujar Keynan sambil memegang kedua pipi istrinya.
"Aku merasa menjadi istri yang tidak berguna untukmu. Masa suami tahu hari ulang tahun istrinya tapi istrinya gak tahu hari ulang tahun suaminya." Ucap Biola dengan suara pelan.
Keynan tersenyum saat mendengarkan ucapan istrinya. Keynan menggenggam kedua tangan istrinya sambil berlutut dilantai.
Semua orang nampak terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh Keynan.
"Dengarkan aku sayang. Gak peduli kamu inget atau tidak hari ulang tahunku atau kamu melupakan aku dikehidupanmu sekalipun. Aku pasti akan tetap mencintaimu dan akan terus membuatmu jatuh cinta lagi kepadaku. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi dan lagi kepadaku sampai-sampai hanya aku yang ada dihatimu." Ucap Keynan tulus dari dalam hatinya yang paling dalam dan mendapat tepuk tangan dari para tamu yang hadir.
Biola hanya bisa menundukan wajahnya karena malu plus senang dengan ucapan suaminya.
Keynan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya dan membuka kotak kecil itu dihadapan Biola dengan posisi yang masih berlutut dihadapan Biola.
"Happy Birthday honey." Ucap Keynan sambil membuka kotak kecil itu.
"Ini untukku?" Tanya Biola yang terkejut saat melihat sebuah gelang berwarna perak dengan hiasan berlian berbentuk bunga dan bintang yang sangat indah.
Keynan hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan istrinya. Lalu Keynan memasangkan gelang cantik itu dipergelangan tangan istrinya.
Gelang itu nampak sangat serasi dengan kulit putih Biola dan gaun putih selutut yang sedang dipakai oleh Biola.
"Suka?" Tanya Keynan sambil berdiri dan memeluk tubuh istrinya dari samping.
"Aku tahu istriku memang beda dari wanita lain." Balas Keynan sambil terkekeh.
Tiba-tiba raut wajah Biola berubah menjadi murung.
"Maaf Key, aku tidak menyiapkan hadiah apa-apa untuk hari ulang tahunmu." Ucap Biola merasa bersalah.
"Tapi aku janji akan memberikan hadiah yang terbaik untukmu." Lanjut Biola dengan penuh percaya diri.
Keynan yang mendengar ucapan istrinya pun langsung menyunggingkan senyuman Devilnya.
"Kau sudah memberikan hadiah terbesar dalam hidupku. Aku sangat menyukai hadiah yang tak terduga ini." Saut Keynan sambil mengusap perut rata istrinya.
Biola pun langsung menyunggingkan senyumannya karena terharu dengan ucapan suaminya.
"Tapi...... ...." Biola langsung mendonggakan kepalanya saat mendengar ucapan suaminya yang menggantung.
"Kalau kamu tetap bersikeras ingin memberiku hadiah maka lahirkanlah 15 anak untuk ku." Lanjut Keynan sambil terkekeh yang membuat Biola menarik kembali rasa harunya tadi.
"Kau pikir aku ini kucing yang dapat melahirkan banyak anak hanya sekali melahirkan?" Kesal Biola sambil memukuli suaminya.
"Pa, minta semangka lagi dong Pa. Punya Mama udah abis nih!" Ujar Mama Kania yang sedang asik menonton tontonan romantis anaknya dan menantunya.
Sontak saja Biola dan Keynan terkejut saat mendengar perkataan Mama Kania.
"Nih Ma!" Pak Raihan memberikan sepotong semangka paling besar kepada istrinya.
"Iya nih Tan, semagka satu aja kayaknya gak bakalan cukup untuk nonton adegan romantis ini." Balas Sinta dengan menekankan kata adegan sambil membuang biji semangka dari mulutnya.
"Woi! Jadi cewek jorok amat lo!" Bentak Devin kepada Sinta yang merasa tidak suka melihat perilaku Sinta.
"Berisik lo Dolphin! Ganggu gue aja yang lagi nonton tontonan romantis." Bentak Sinta balik.
"Mak lampir lo!" Ledek Devin yang membuat Sinta marah dan pada akhirnya Devin dan Sinta pun berakhir dengan aksi saling ledek meledek.
Sementara Biola dan Keynan hanya bisa menundukan wajahnya denagn malu-malu meong karena telah mengaggap dunia milik mereka berdua. Yang lain mah anggep aja patung.
••••••
__ADS_1
Di lain tempat ada sepasang kekasih yang tiap harinya hanya di isi oleh pertengkaran dan pertengkaran.
Ya mereka adalah Mama Mirna dan pacarnya Miko.
"Apa yang kamu katakan!!?" Bentak Miko kepada Mama Mirna.
"Mo...Mona sedang mengandung dan kita harus segera menggugurkan kandungannya sebelum Mona menyadari kalau dia sedang mengandung. Karena itu akan sangat memperburuk mental Mona. Dan Mona bisa stres jika dia tahu kalau dia sedang mengandung. " Tutur Mama Mirna dengan gugup kepada pacarnya Miko.
"Kenapa dia bisa hamil?! Siapa pria kurang ajar yang telah menghamili putriku!!" Teriak Miko kepada Mama Mirna.
"I...i...itu Mo...Mo...Mona.."
"Jawab dengan jelas Mirna! Siapa laki-laki kurang ajar itu. Aku pasti akan membunuh dan mencincang laki-laki brengsek itu!" Bentak Miko yang sudah kesal dengan ucapan Mama Mirna yang gagap.
"A...aku juga tidak tahu." Jawab Mama Mirna sambil memegang ujung bajunya dengan kuat.
"Bagai mana kamu tidak tahu! Kamu kan Ibunya?!" Miko benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Dia terus membentak-bentak Mama Mirna yang selalu berbicara gugup.
"Aku tidak tahu karena laki-laki yang berhubungan badan dengan Mona itu bukan hanya satu." Jawab Mama Mirna dengan lantangnya.
Mama Mirna sudah tidak peduli mau pacarnya itu marah atau membunuhnya. Biarlah mengalir dengan sendirinya. Itulah yang saat ini Mama Mirna pikirkan.
PLAKK...
Dengan penuh amarah Miko menampar pipi Mama Mirna dengan sangat kasar.
"Apa ini ajaranmu selama ini! Kau membiarkan Putri kita seperti gadis murahan." Bentak Miko yang menyalahkan Mama Mirna.
"AKKKHHHHH......!!!!"
PRANG.........
Miko mengamuk dan memecahkan benda apa saja yang ada disekitarnya. Ia bahkan sampai memukul tembok dengan tangan kosong saking marahnya.
"Pergi dari hadapanku atau aku akan membunuhmu!" Teriak Miko sambil membanting apa saja yang dia lihat.
Dengan tubuh yang gemetaran Mama Mirna melangkahkan kakinya kearah pintu keluar dari ruangan itu. Tapi belum sempat Mama Mirna membuka pintu Miko lebih dulu memojokan Mama Mirna ketembok.
"Aku gak mau tahu, kau harus memusnahkan anak haram yang ada didalam kandungan anakku. Aku gak mau anakku sampai gila karena anak yang ada didalam kandungannya. Bunuh janin itu atau aku yang akan turun tangan langsung dan membunuhnya." Ancam Miko sambil mencengram rahang Mama Mirna dengan kuat.
"A...a...akan aku lakukan. Biarkan aku yang membunuh janin yang ada dikandungan Mona." Ucap Mama Mirna gugup dengan tubuh yang gemetaran dan keringat dingin yang bercucuran dari seluruh tubuhnya.
Miko pun melepaskan cengkraman tangannya dari rahang Mama Mirna. Dengan langkah yang terburu-buru Mama Mirna Keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Miko yang sedang mengamuk didalam ruangan itu.
Diluar ruangan itu terdapat seseorang yang mendengarkan pertengkaran Mama Mirna dan Miko. Orang itu langsung berlari saat Mama Mirna keluar dari ruangan itu.
Orang itu tak lain adalah Mona. Mona langsung berlari kekamarnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Mona mengunci pintu kamarnya dengan sangat rapat. Ia bahkan menggeser meja riasnya untuk mengganjal pintu agar tidak ada satu orang pun yang bisa masuk kedalam kamarnya.
Mona pada awalnya sangat terusik dengan pertengkaran Mama Mirna dan Miko sehingga dia menghampiri asal pertengkaran itu. Namun betapa terkejutnya Mona saat mendengarkan pertengkaran Mama Mirna dan Ayah kandungnya.
Dengan wajah yang pucat Mona duduk disudut kamarnya dengan kaki yang ia peluk. Bola mata Mona tampak membulat dan tidak berhenti menatap kekiri dan kekanan.
Mona benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Tidak itu pasti bohong. Aku gak mungkin hamil. Aku selalu memakai pengaman setiap aku melakukan hubungan itu dengan pria manapun. Jadi aku gak mungkin hamil." Gumam Mona dengan bibir yang gemetaran.
"Tunggu! Terakhir kali aku melakukan hubungan itu dengan Tama. Ya waktu itu aku tidak sadarkan diri karena sedang mabuk berat. Apa jangan-jangan pada waktu itu? Gak! Ini gak mungkin! Kenapa kehidupanku jadi sekacau ini. Aku gak mau hamil!" Teriak Mona sambil memukul-mukul perutnya.
"Gak! Gue gak mau hamil! Hidup gue sudah hancur! Oma udah pergi untuk selama-lamanya karena ulah penjahat psikopat itu dan Mama. Ditambah Ayah menghilang gak tahu dimana. Gue udah gak punya siapa-siapa lagi. Gue gak mau hidup bersama seorang penjahat psikopat itu. Lebih baik gue mati dari pada harus hidup menyedihkan seperti ini!" Teriak Mona seperti orang gila.
Mona mengacak-ngacak lacinya tapi sepertinya dia tidak menemukan sesuatu yang ia cari. Mona mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.
Mona memfokuskan pandanganya kearah meja riasnya yang ia pergunakan untuk mengganjal pintu.
Mona mengambil handphonenya dan melemparkan handphonenya kearah kaca dimeja rias itu.
PRANG........
Kaca meja rias itu pecah berkeping-keping dan pecahan kacanya berserakan dilantai.
Dengan tubuh yang bergetar Mona memungut pecahan kaca yang berukuran lumayan besar. Mona berjalan mendekati nakas untuk mengambil pulpen dan buku catatan.
Mona menulis beberapa kata didalam kertas itu dengan tangan yang bergemetaran bahkan tulisannya pun tidak terlihat rapih dan acak-acakan.
Mona memandangi pecakan kaca itu dengan tatapan yang sudah tidak bisa diartikan lagi.
____________________
Tinggalkan jejak kalian guys 😘
__ADS_1