
"Keynan kamu mau kemana? Kenapa kamu buru-buru?" Tanya Mama Kania sambil berteriak karena ia khawatir kalau menantunya dalam keadaan yang berbahaya.
Keynan tidak menjawab Mama Kania. Ia terus berlari dan menghiraukan teriakan Mama Kania.
Dengan paniknya Mama Kania menelepon pihak rumah sakit tempat menantunya dirawat. Mama Kania takut kalau keadaan menantunya tambah memburuk karena yang membuat putranya bisa bersikap seperti itu ialah istrinya dan keluarganya.
Setelah mendapat jawaban dari pihak rumah sakit kalau menantunya baik-baik saja, Mama Kania langsung bertanya-tanya dengan sikap Keynan yang sangat panik dan terburu-buru tadi.
Tiba-tiba Mang Aslan datang dan memberi tahu kemana Keynan pergi.
"Maaf Nyonya besar. Tuan Muda tadi berlari kehalaman belakang, bukan kerumah sakit." Jawab Mang Aslan yang membuat Mama Kania keheranan.
"Ada apa dengan anak itu. Ku pikir ada sesuatu yang terjadi kepada menantuku." Mama Kania membuang nafasnya dengan kasar dan mendudukan tubunya disofa.
•••••••
Keynan menatap rumah pohon yang berada dihalaman belakang Vilanya. Entah kenapa perasaan sesak tiba-tiba saja muncul dari dalam hatinya yang paling dalam saat melihat rumah pohon itu.
"Sebenarnya kenangan apa yang aku lupakan tentang rumah pohon ini. Kenapa rasanya sangat sakit saat melihat rumah pohon ini." Gumam Keynan sambil menatap rumah pohon yang tampak sudah usang dimakan waktu.
Keynan menyentuh dadanya untuk merasakan debaran detak jantungnya yang terus berdetak kencang saat Keynan mulai mendekati rumah pohon itu.
Keynan mulai menaiki rumah pohon itu. Ia melihat setiap sudut didalam rumah pohon itu yang sangat tidak asing baginya.
Keynan lagi-lagi merasakan perasaan sesak dihatinya saat melihat rumah pohon itu dari dalam. Seperti ada sebuah kenangan yang ia lupakan dirumah pohon itu.
"Sial! Ada apa denganku? Kenapa rasanya ingin menangis." Keynan mengucek matanya yang tiba-tiba berair dan ingin meneteskan air mata.
Keynan menatap foto dan kotak kecil berwarna hitam yang ia pegang erat sedari tadi.
"Aku sudah ada dirumah pohon ini. Apakah aku bisa membukanya?" Ucap Keynan sambil menatap kotak kecil berwarna hitam yang ia pegang.
Keynan mengambil nafasnya dan membungnya dengan kasar saat lagi-lagi ia merasakan persaan sesak dihatinya.
"Sayang, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku. Kenapa aku harus membuka kotak ini disini? Dan kenapa perasaanku selalu tidak enak saat aku berada dirumah pohon ini. Apakah kamu juga merasakan perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan saat berada dirumah pohon ini dulu?" Ucap Keynan didalam hati sambil memejamkan matanya karena tidak kuat merasakan perasaan sesak dihatinya.
Keynan mulai membuka matanya kembali dan mulai membuka kota kecil berwarna hitam itu dengan perlahan. Keynan menatap isi didalam kotak itu dengan dahi yang mengerut. Tapi didalam hatinya Keynan serasa seperti merasakan sakit dan dan sesak saat melihat isi didalam kotak kecil berwarna hitam itu. Namun Keynan juga merasakan hatinya menghangat saat melihat ketiga benda yang ada didalam kotak itu.
Keynan benar-benar bingung dengan persaannya yang kacau balau saat ini. Dia merasakan persaan sakit dan perasaan hangat dihatinya berbarengan.
"Kertas, daun kering dan jepitan rambut." Gumam Keynan sambil menatap heran isi didalam kotak itu.
Keynan mengambil daun kering berkelopak empat itu dari dalam kotak kecil berwarna hitam itu.
"Ini kan daun semanggi berkelopak empat?" Gumam Keynan sambil menatap daun itu dengan perasaan sesak dihatinya tanpa membalikan daun semanggi kering itu.
Tanpa Keynan sadari air matanya sudah jatuh dengan sendirinya saat menatap daun semanggi berkelopak empat itu.
"Eh, kenapa tiba-tiba aku menangis? Lalu kenapa hatiku sangat sesak. Rasanya sangat sakit tapi aku tak tahu apa alasannya." Gumam Keynan sambil menghapus air matanya.
Sungguh Keynan merasa sangat familiar dengan benda-benda itu tapi ia tidak bisa mengingat apa-apa. Yang ia rasakan hanyalah perasaan sesak dihatinya dan persaan sedih yang sangat mendalam yang entah apa penyebabnya.
Keynan meletakan daun kering itu kembali kedalam kotak kecil berwarna hitam itu tanpa membalikan daun itu yang tertulis nama Biola. Keynan menatap ketiga benda yang ada didalam kotak kecil berwarna hitam itu dengan perasaan sedihnya.
Deg...
Tiba-tiba saja sebuah memori datang dan melintas dipikiran Keynan. Keynan memegangi kepanya yang berdenyut sangat keras.
"Sakit! ada apa ini. Ingatan apa ini." Gumam Keynan sambil memegangi kepalanya dengan kuat.
Didalam ingatan Keynan, Keynan melihat sesosok gadis kecil yang terus mengejar-ngejarnya dan selalu mengajaknya bermain dengan penuh senyuman lebarnya. Tapi Keynan selalu menghindarinya dan berkata 'Kita beda dunia jadi pergilah keduniamu sendiri!' Itulah yang selalu Keynan katakan dengan dinginnya kepada sesosok gadis kecil itu yang terus mengikutinya dan memanggilnya Kakak.
"Hai Kakak! Namaku Biola." Ucap sesosok hadis kecil itu yang tiba-tiba muncul didalam ingatan Keynan.
Deg...
Pandangan Keynan mulai kosong seketika saat mengingat sosok gadis kecil itu menyebutkan namanya yang sama persis dengan nama istrinya.
Keynan memegangi dadatnya yang berdebar sangat cepat saat mengingat ingatan yang tiba-tiba muncul itu. Air matanya juga berjatuhan dengan sendirinya tanpa ia sadari.
Brak.....
Tanpa sadar Keynan sudah menjatuhkan kotak kecil berwarnah hitam itu dengan foto masa kecilnya yang ia bawa dan ia pegangi sedari tadi bersama kotak kecil berwarna hitam itu.
__ADS_1
Bruk....
Keynan terduduk lemas dilantai bersama dengan barang-barang dari dalam kotak kecil berwarnah hitam itu dilantai.
Keynan menatap setiap benda yang berhamburan dilantai dengan tatapan kosongnya dan air mata yang menetes dengan sendirinya.
Tiba-tiba saja pandangan Keynan tertuju kepada daun semanggi berkelopak empat itu lagi. Keynan membelalakan matanya saat melihat daun semanggi berkelopak empat itu.
Keynan mengulurkan tangannya dengan gemetarannya untuk mengambil daun semanggi yang tergeletak dilantai.
"Bi....Biola...." Ucap Keynan dengan terkejutnya saat membaca tulisan didalam daun semanggi kering itu.
"Ini gak mungkin! Sebenarnya siapa gadis kecil itu? Apa benar gadis kecil itu adalah Biola yang sama dengan Biola istriku." Gumam Keynan dengan wajah frustasinya.
Pandangan Keynan tiba-tiba tertuju kearah keretas yang tadinya ada didalam kotak kecil berwarna hitam itu. Keynan ingin mengambil kertas yang dilipat dari dalam kotak kecil berwarna hitam itu.
Keynan membuka keretas itu dengan perasaan yang sulit untuk ia artikan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dear Biola Anggara,
Aku senang telah mengenalmu. Kamu adalah seorang anak perempuan paling pemberani dan anak paling ceria yang pernah aku temui.
Aku sangat nyaman ketika bermain denganmu. Aku sangat sayang padamu melebihi persahabatan kita yang beda alam ini.
Kau adalah mahluk yang sangat sepesial bagiku. Kau adalah penyemangat dalam hidupku.
Kau selalu ada disetiap aku bersedih, marah, bahagia dan disaat aku sedang terpuruk. Aku berharap kau memiliki raga sepertiku sehingga aku bisa memelukmu disaat aku senang dan sedih.
Aku ingin membagi semua kesedihanku dan kebahagiaanku bersamamu. Dengan cara memelukmu dengan hangat. Aku sangat ingin memelukmu didekapanku dan tak akan ku biarkan kau pergi dan menghilang dari hidupku.
Aku ingin memberikanmu banyak hadiah agar kau bisa memakainya seperti jepitan pita ini yang tidak bisa aku berikan kepadamu.
Tapi nyatanya itu hanyalah anganku semata. Kau tetaplah pergi dan menghilang dari dunia ini.
Tapi janjiku akan selalu aku pegang dan akan selalu aku tepati sampai akhir hidupku. Kalau aku hanya akan mencintai mu seumur hiduku. Dan aku hanya mau menikahimu untuk yang pertama dan yang terakhir dihidupku.
Walau pun kamu sudah tidak ada lagi disisiku, tapi aku selalu berdoa dan memohon kepada tuhan agar mempertemukan kita kembali dalam keadaan didunia yang sama bukan didua dunia yang berbeda.
Makannya aku menuliskan namamu didaun semanggi yang kau berikan kepadaku. Karena aku percaya dengan harapanku dan cintaku kepadamu yang akan membawa kita kepada suatu kebahagiaan.
Kuharap suarat ini sampai kepadamu, burung beo ku yang cerewet.
Love You
Keynan Kristian
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keynan menjatuhkan surat itu setelah ia selesai membacanya. Tatapan Keynan kosong dengan air matanya yang tak bisa berhenti menetes dari matanya.
"Apakah takdir cinta kita sesulit itu untuk bersama sayang. Kenapa selalu ada sebuah jalan pembatas yang akan menghalangi kisah cinta kita. Dari renkarnasi kita yang tidak bisa bersama dikehidupan dulu dan pertemuan masa kecil kita yang tidak bisa kita ingat. Hahaha... apakah seburuk itu takdir cinta kita." Keynan tertawa dengan air mata yang menetes saat mengingat masa kecilnya ketika ia berusia 10 tahun.
Brak....
Brak...
Brak...
Keynan memukul-mukul lantai dirumah pohon itu dengan kuatnya saat menyadari kisah cintanya yang begitu sulit bersama istrinya.
"Sial! Sial! Sial! Kenpa semuanya jadi seperti ini. Apakah kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama! Kenapa kita selalu dipisahkan oleh takdir. Kita telah melalui berbagai kehidupan untuk bersama tapi takdir selalu memisahkan kita. Apakah kali ini kita akan dipisahkan oleh takdir lagi?" Teriak Keynan sambil memukul mukul lantai dengan air mata yang terus menetes.
"Hiks... kenapa semuanya seperti ini. Aku ingin bersama Biola. Dia hanya satu-satunya istriku. Tolong jangan kau pisahkan aku dengan dia lagi. Biarkan kami bersama sampai kami menua. Biarkan kita bahagia bersama anak-anak dan cucu-cucu kita kelak." Do'a Keynan dengan air mata yang terus menetes.
Flashback On
"Bi Aidah kapan Mama dan Papa akan pulang. Mereka akan pulang kan? Kalau mereka gak pulang, Key mau tidur aja. Bibi lebih baik bubarin aja tamu undanganya." Ujar Keynan dengan nada dinginnya kepada pengasungnya.
Bi Aidah tampak gelagapan karena tidak tahu harus berbuat apa. Karena Nyonyanya telah mengabarinya bahwa dia dan suminya akan telat datang menghadiri pesta ulang tahun putranya yang ke 10 tahun.
"Aduh Tuan Muda, jangan gitu dong. Kan kasihan sama tamu undanganya." Ucap Bi Aidah panik.
__ADS_1
"Itu bukan urusanku. Lagian aku udah besar. Jadi gak perlu ngerayain pesta ulang tahun kayak gini. Apa lagi yang ngadain pestanya malah ngilang entah kemana. Ini juga udah hampir jam 9 malam. Udah waktunya tidur." Jawab keynan dengan acuhnya dan ingin meninggalkan tempat pesta ulang tahunnya.
"Oh.... jadi udah ngerasa besar ya sekarang?" Tanya seseorang dibelakang Keynan yang tak lain adalah Pak Raihan dan Mama Kania yang baru saja datang dari sebuah pesta dikapal pesiar.
"Telat. Aku mau bubarin tamunya." Saut Keynan sambil menatap kedua orang tuanya dengan tatapan malasnya.
"Telat apanya. Ini baru jam 20:50 malam." Jawab Mama Kania dengan santainya.
"Orang-orang udah pada ngantuk nungguin kalian datang." Jawab Keynan dingin sambil menatap kearah kerumunan anak-anak seusia Keynan yang tampak mengantuk dan menguap.
Mama Kania dan Pak Raihan hanya cengngesan karena menyadari keterlambatan mereka menghadiri pesta ulang tahun putranya.
"Udah, udah.... Papa dan Mama minta maaf ya. Ini hadiah untuk kamu dari Papa dan Mama." Ucap Pak Raihan sambil menyodorkan kado untuk putranya.
Keynan menatap kado itu dengan tatapan malasnya.
"Gak bu tuh." Jawab Keynan dengan nada sombongnya dan mengeja kata-katanya.
"Kamu itu jadi anak ngeselin banget si. Kamu itu anak siapa si? Dinginnya gak ketulungan." Kesal Mama Kania kepada putranya sendiri.
"Anaknya Kania Wijaya dan Raihan Kristian." Jawab Keynan dengan santainya.
Mama Kania mengerutkan keningnya dan mengepalkan tanganya saat mendengarkan ucapan putranya yang menguras emosi.
"Sini kamu! Mama pukul kamu!" Bentak Mama Kania sambil mengangkat tanganya bersiap-siap memukul bokongg putanya. Namun dengan cepat dicegah oleh Pak Raihan.
"Udah Ma malu diliatin orang." Bisik Pak Raihan sambil menatap kerumunan para tamu yang menatap mereka dengan tatapan herannya.
"Ta.... ...."
" Ya udah semuanya mari kita mulai pesta ulang tahunnya." Saut Pak Raihan kepada para tamu dan memotong pertengkaran Ibu dan anak itu.
"Ih Papa ini." Gerutu Mama Kania yang tidak dihiraukan oleh Pak Raihan.
Keynan tampak menatap heran kearah belakan Mama dan Papanya. Disana seperti ada seseorang yang sedang bersembunyi dibalik tubuh Mamanya.
"Ma, Pa. Kalian kesini sama siapa?" Tanya Keynan kepada kedua orang tuanya.
Mama Kania dan Pak Raihan saling pandang dengan herannya saat mendengar pertanyaan putranya.
"Kita kesini gak dengan siapa-siapa Key." Jawab Pak Raihan dengan dahi yang mengerut.
"Tapi dibelakng kalian itu siapa?" Tanya keynan lagi yang membuat Pak Raihan dan Mama Kania membalikan tubuh mereka kearah belakang.
Mama Kania dan Pak Raihan mengerutkan keningnya saat mereka tidak menemukan siapa-siapa dibelakang mereka.
"Gak ada siapa-siapa Key." Jawab Mama Kania dengan bingungnya.
Keynan menatap orang yang ada dibelakang Mama Kania itu dengan tatapan biasa-biasa saja. Sepertinya Keynan sudah mengetahu siapa sosok dibelakang Mamanya.
Mama Kania tiba-tiba merinding saat mengingat kemampuan yang dimiliki putranya sejak lahir.
"Ke...Key, kamu gak liat mahluk halus kan?" Tanya Mama Kania dengan tubuh merindinya karena ketakutan.
Keynan menatap Mamanya dengan tatapan malasnya.
"Gak kok. Aku hanya salah lihat saja." Jawab Keynan santai.
Mama Kania membuang nafasnya dengan lega.
"Kamu itu nakut-nakutin Mama aja Key." Ucap Mama Kania sambil mnglus dadanya.
"Udah-udah. Kita keacara inti aja ya. Karena hari udah sangat larut." Jawab Pak Raihan sambil tersenyum.
Keynan menatap sosok gadis kecil yang berdiri dibelakang Mama Kania. Gadis kecil itu tampak ketakutan saat ditatap oleh Keynan sehingga ia tidak berani mengikuti Mama Kania lagi dan hanya berdiri ditempatnya.
"Key, ayo cepat!" Teriak Mama Kania saat menyadari putranya masih berdiri ditempatnya.
"Iya Ma bentar!" Jawab Keynan dengan berteriak.
Keynan kembali menatap tajam gadis kecil yang mengikuti Mamanya itu yang kini sudah ada dihadapannya.
"Pergi kamu! Ini bukan tempatmu! Kita beda dunia jadi pergilah keduniamu sendiri!" Usir Keynan dengan nada dinginnya kepada soaok gadis kecil yang ada dihadapannya.
__ADS_1