
"TIDAKK....!!" Teriak Biola sambil memegangi kepalanya yang sedang berdengung dengan kuatnya saat ramalannya mulai muncul.
Teriakan Biola membuat semua orang dikediaman keluarga Kristian terkjut.
Mereka langsung berlari kearah kamar Biola dan Keynan. Karena Biola saat ini sedang merawat Keynan yang sudah pulang dari rumah sakit dan mulai dirawat dirumah.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Keynan panik sambil menggeser duduknya kearah istrinya yang sedang duduk ditepi tempat tidur.
"Ayah...Paman..." Jawab Biola ambigu dan hanya mengucapkan nama Ayah dan Pamannya.
"Ada apa dengan Ayah dan Pamanmu? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu sayang?" Tanya Keynan panik.
Biola ingin menjawab tapi tiba-tiba saja Mama Kania, Pak Raihan dan Tuan Davindra yang sedang mengunjungi cucunya dan mengobrol-ngobrol dengan Pak Raihan diruang keluarga pun dikagetkan oleh teriakan Biola sehingga membuat mereka semua naik keatas kamar Biola dan Keynan untuk melihat keadaan Biola yang tadi berteriak-teriak.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu teriak-teriak?" Tanya Mama Kania khawatir.
Terlihat Keynan sedang memeluk tubuh istrinya walau keadaannya masih sangat lemah. Tapi bagi Keynan itu tidak ada apa-apanya dibandikan rasa takutnya kalau-kalau istrinya itu akan tiba-tiba mengamuk seperti terakhir kali. Dan membahayakan janin yang ada didalam kandungan Biola.
"Tidak tahu Ma, tiba-tiba Biola megang kepalanya dan berteriak-teriak. Dia juga manggil-manggil nama Ayah dan Pamannya." Jawab Keynan yang membuat semua orang terkejut.
"Ada apa cucuku? Ada apa dengan Ayah dan Pamanmu?" Tanya Tuan Davindra sambil mendekati Biola.
"Ayah dan Paman Kek. Kapal yang ditumpangi Ayah dan Paman akan karam ke dasar laut." Jawab Biola yang membuat semua orang terkejut.
"Apa kamu melihatnya dari ramalanmu cucuku?" Tanya Tuan Davindra kaget.
Tuan Davindra sudah mengetahui semuanya tentang cucunya yang memiliki kekuatan untuk meramal masa depan yang kemungkinan besar didapatkannya dari liontin hati malaikat dan telah membuka sedikit kekuatan penyihir yang ada didalam tubuh Biola. Mama Kania dan Pak Raihan juga diberitahu oleh Biola tentang kekuatannya yang bisa meramal masa depan orang terdekatnya.
Biola hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Tuan Davindra. Tampak semua orang sangat terkejut dengan anggukan kepala Biola. Bahkan Pak Raihan dan Keynan masih belum bisa menemukan Pak Bayu tapi Biola dengan dipenuhi rasa khawatirannya ia mengatakan kalau Ayahnya akan tenggelam dilautan bersama Pamannya.
Terus kenapa Pak Bayu bisa bersama Darius? Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah Darius dan Pak Bayu saling kenal? Itulah yang menjadi tanda tanya bagi semua orang yang ada dikamar Biola dan Keynan tapi tidak termasuk Tuan Davindra yang mengetahui keberadaan Pak Bayu.
Mama Kania sampai menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saking kagetnya.
"Apa yang kamu lihat disana Nak?" Tanya Tuan Davindra yang juga panik karena ia tahu kalau saat ini Pak Bayu memang mengantar senjata ilegal ke Indonesia lewat jalur air. Tapi Darius? Kenapa dia bisa ada dikapal itu? Bukannya dia hanya ingin menerima hasinya? Ia tidak pernah mau ikut-ikutan mengantar senjata seperti itu. Itulah yang menjadi beban pikiran bagi Tuan Davindra saat ini.
"Aku hanya melihat Ayah dan Paman ada dikapal itu. Setelah itu kapalnya tenggelam kedasar laut. Semuanya tidak terlalu jelas karena kemampuan meramalku semakin lama semakin memburuk. Dan karena memburuknya kemampuan meramalku akhir-akir ini maka ramalan itu akan terjadi dalam waktu beberapa menit lagi." Jawab Biola dengan sesenggukan yang membuat semua orang tercengang saking kagetnya.
"Kapal, kapal apa yang ditumpangi oleh Ayahmu dan Pamanmu Bi. Biar Papa lacak keberadaannya. Meski hanya ada sedikit waktu tapi Papa akan usahakan untuk menyelamatkan Ayah dan Pamanmu." Jawab Pak Raihan dengan paniknya dan langsung mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Tidak tahu Pa. Kapal itu sangat besar dan berada ditengah laut. Keberadaan kapal itu juga sangat jauh ke sebuah pulau. Kapal itu terjebak badai dan dikelilingi ombak yang sangat besar. Setelah itu aku hanya bisa melihat kapalnya terbalik karena disapu ombak yang sangat besar." Jawab Biola dengan air mata yang tak bisa berhenti menetes karena panik.
Sungguh meski Ayah nya memiliki banyak kesalahan dimasalalu tapi Biola sudah memaafkannya. Dan akhir-akir ini Biola juga ingin menerima Ayahnya kembali. Tapi keberadaan Ayahnya itu entah dimana. Ditambah Pamannya, mereka baru beberapa kali bertemu tapi kenapa harus ada hal seperti ini yang menimpa Paman dan Ayahnya.
Terus kenapa mereka bisa bersama? Biola sendiri tidak tahu dan tidak peduli. Karena yang dia pedulikan saat ini adalah keselamatan Ayahnya dan Pamannya. Biola bahkan sudah menganggap Darius seperti Ayahnya sendiri sejak Darius mengunjunginya terakhir kali sebelum ia ke Inggria.
"Bagai mana ini Pa? Apa sesuatu yang buruk akan menimpa Bayu dan Darius?" Tanya Mama Kania dengan paniknya.
Pak Rihan tidak menjawab ucapan Mama Kania. Ia malah sibuk dengan ponselnya untuk menelepon orang kepercayaannya.
Tuan Davindra yang melihat semua orang tampak panik pun malah membuatnya pusing saat melihatnya.
"Sudah kalian jangan panik dulu! Saya tahu keberadaan Darius dan Bayu. Saya juga punya nomor ponsel mereka." Jawab Tuan Davindra yang membuat semua orang terkejut.
Mereka kaget karena Tuan Davindra bilang punya nomor ponsel Pak Bayu. Kalau nomor ponsel Darius ya pasti sudah wajar karena Darius adalah putranya.. Tapi Pak Bayu? Dari mana Tuan Davindra mendapatkan nomor ponsel Pak Bayu. Bahkan baik semua orang yang ada dikamar itu tidak ada yang tahu nomor ponsel baru Pak Bayu.
"Bagai mana Kakek bisa tahu nomor telepon Ayah?" Tanya Keynan penasaran.
"Nanti Kakek jelaskan." Jawab Tuan Davindra sambil mengambil handphonenya dari saku celananya dan menghubungi Darius.
Tampak telepon itu tersambung namun Darius tidak menjawabnya. Tuan Davindra terus menghubungi Darius lalu menghubungi Pak Bayu tapi ponsel keduanya masih tidak aktif.
Tuan Davindra juga mengirim pesan kepada Darius dan Pak Bayu tapi tetap saja tidak ada balasan dari keduanya. Hingga pada akhirnya ia menelepon kemarkas besar kelompok mafia Angel's heart untuk menanyakan keberadaan Darius dan Pak Bayu.
"Dimana Darius dan Bayu?" Tanya Tuan Davindra kepada salah satu anggota kelompok mafia Angel's heart yang mengangkat telepon dari Tuan Davindra.
Anggota kelompok mafia Angel's heart yang masih berada dimarkas besar kelompok mafia Angel's heart itu pun terkejut saat mendengarkan suara dari balik teleponnya yang sangat ia kenali suaranya. Yaitu suara dari Tuan Davindra, pemimpin terdahulu kelompok mafia Angel's heart.
"Pimpinan dan wakil pimpinan sedang berada diperjalanan menuju kemarkas besar Tuan Davindra." Jawabnya gugup.
"Perjalanan? Apa yang terjadi? Apa Bayu tidak mengantar senjata-senjata itu?" Tanya Tuan Davindra dengan dahi yang mengerut.
__ADS_1
"Sebenarnya telah terjadi sesuatu kepada kapal yang mengangkut senjata-senjata itu ditengah laut. Kapal itu sudah tersapu ombak dan tenggelam kedasar laut karena badai yang sangat besar. Tapi untungnya sebelum hal itu terjadi, salah satu anggota kita menelepon ke markas dan menyuruh markas untuk mengirimkan semua helikopter yang kita miliki untuk menyelamatkan mereka. Dan tadi saya dapat laporan kalau semuanya selamat. Mereka juga sedang menuju kemarkas besar kelompok mafia Angel's heart." Jawab anggota mafia Angel's yang ada dimarkas besar kelompok mafia Angel's heart.
Tuan Davindra tampak membuang nafasnya dengan lega saat mendengarkan kabar baik itu.
"Baguslah kalau begitu." Jawab Tuan Davinda sambil mematikan sambungan teleponnya.
"Bagai mana Kek? Apa Ayah sama Paman baik-baik saja?" Tanya Biola penuh khawatir.
Tuan Davindra tersenyum kearah cucunya dan mengelus kepala cucunya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah dan Pamanmu baik-baik saja. Mereka selamat dari maut." Jawab Tuan Davindra yang membuat semua orang menghirup nafas mereka dengan tenang.
"Tapi Tuan Davindra, bagai mana Tuan Davindra bisa mengenal Bayu?" Tanya Pak Raihan bingung.
Tuan Davindra tampak gelagapan saat mendengar pertanyaan dari Pak Bayu. Ia sebenarnya tidak ingin mengatakan itu tapi melihat cucunya yang sangat khawatir membuatnya membongkar segalanya. Ia juga tidak tahu apakah Bayu mau rahasianya dibongkar atau tidak kepada putrinya. Jadi apa yang harus Tuan Davindra ucapkan kepada keluarga Kristian dan cucunya?
Tuan Davindra tampak mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.
"Iya Kek, apa Kakek mengenal Ayah? Lalu kenapa Paman bisa sama Ayah?" Lanjut Biola yang ikut-ikutan bertanya kepada Kakeknya.
"Maafkan Kakek ya Biola. Kakek belum bisa memberi tahumu sekarang. Karena Ayahmu sedang memperbaiki dirinya agar dia bisa menjadi Ayah yang baik untukmu seperti dulu lagi." Jawab Tuan Davindra yang membuat Biola mengerucutkan Bibirnya.
"Tapi kenapa Kek? Apa yang Ayah lakukan? Kenapa dia tidak ada kabarnya?" Tanya Biola dengan wajah kecewanya.
"Nanti kamu juga akan tahu. Kakek tidak bisa memberitahumu. Karena Ayahmu pasti ingin memberitahumu secara langsung." Jawab Tuan Davindra yang membuat semua orang hanya mengangguk mengerti. Tapi Biola malah memasang tampang sedihnya.
"Sudah ya sayang, Ayah pasti akan kembali kesisi kita lagi. Kita hanya bisa menunggu sampai waktu itu tiba." Jawab Keynan sambil mengelus kepala istrinya.
"Hmmmm...." Jawab Biola dengan bibir monyongnya yang membuat Keynan gemas sendiri melihat bibir istrinya.
"Udah dong jangan dimonyong-monyongin tu bibirnya. Nanti kalau aku cium gimana? Emang kamu mau aku cium kamu dihadapan Kakek, Papa sama Mama?" Bisik Keynan ditelinga istrinya yang membuat Biola membelalakan matanya dan menatap Keynan tajam.
Sunggung Keynan memang tidak tahu malu. Bagai mana bisa dia mau mencium istrinya didepan para orang tua yang sedang menontonnya. Pikir Biola dengan tatapan tajamnya kearah Keynan.
"Coba aja kalau berani. Hukumanmu aku tambah sampai anak kita berumur 5 tahun." Ancam Biola yang malah disambut senyuman devil oleh suaminya.
"Terus aku goda kamu deh supaya kamu nyerang aku duluan." Jawab Keynan dengan seringaiannya.
"Aku gak akan tergoda!" Jawab Biola dengan kerasnya sehingga membuat semua orang menatap Biola heran.
Mama Kania, Pak Raihan dan Tuan Davindra menatap Biola dan Keynan dengan tatapan bingungnya.
"Ini gara-gara kamu." Bisik Biola karena malu ditatap semua orang tua sambil mengusap air matanya yang bekas menangis karena mengkhawatirkan Paman dan Ayahnya.
"Yang penting kan istriku gak sedih lagi." Jawab Keynan sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Is kalian ini. Mama kira tadi terjadi apa-apa sama Biola. Ya udah Pa, besan, yuk kita keruang tamu lagi. Mereka memang udah biasa seperti itu. Terbar cinta gak tau tempat." Ucap Mama Kania yang diangguki oleh Pak Raihan dan Tuan Davindra.
Tuan Davindra tampak tersenyum kepada Keynan dan Biola.
"Meski suami dari cucuku itu sedikit kekanankan dan posesif tinggi kepada istrinya tapi setidaknya dia tahu cara menghibur cucuku yang sedang sedih. Sungguh cucuku sangat beruntuk mendapatkan suami seperti dirinya. Dan sepertinya mereka memang sudah terikat oleh takdir." Ucap Tuan Davindra didalam hati sambil menatap cucunya dengan penuh kebahagiaan.
"Ya udah Biola, Kakek kebawah dulu ya." Ucap Tuan Davindra dengan lebutnya.
"Iya Kek nanti aku nyusul." Jawab Biola sambil tersenyum.
Tuan Davindra, Pak Raihan dan Mama Kania pun kembali keruang keluarga untuk mengobrol lagi.
•••••••
Setelah kejadian dikapal itu semuanya berjalan seperti biasanya. Tuan Davindra pun telah memberitahu Pak Bayu tentang keceplosannya kepada cucunya.
Pak Bayu tampak kaget saat mendengarnya karena dia masih belum siap untuk bertemu Biola. Tapi untuknya Tuan Davindra tidak memberitahu keberadaannya saat ini.
Jadi Pak Bayu masih punya banyak waktu untuk mempersiapakan diri dan merubah dirinya jikalau takdir mempertemukannya dengan putrinya.
Usia kandungan Biola juga semakin lama semakin bertambah dan membuat perutnya buncit. Sinta juga sering main ke kediaman Kristian untuk melihat perut Biola yang buncit.
Usia kandungan Biola saat ini sudah menginjak usia ke 8 bulan. Dimana satu bulan lagi Biola akan segera melahirkan.
Dan untuk jenis kelamin anaknya sengaja Biola rahasiakan agar menjadi sebuah kujutan nantinya bagi keluarga Kristian dan keluarga Alexa.
__ADS_1
Yah meski Keynan kekeh kalau anaknya itu adalah anak perempuan. Katanya si 'aku yang merasakan ngidamnya, jadi aku tau persis kalau anakku adalah anak perempuan.' Itulah yang diucapkan Keynan dengan penuh percaya diri. Padahal Biola juga kadang-kadang merasakan ngidam. yah meski tak sesering Keynan.
Sungguh lenyapnya keluarga Mama Mirna dan Miko membuat kebahagian Biola semakin bertambah tanpa adanya sebuah penghalang sedikitpun. Meski ada sekit kekuarangan didalam kebahagiannya. Yaitu keberadaan Ayahnya yang masih tak tau diaman.
Tuan Davindra juga telah mewariskan perusahan keluarga Alexa kepada cucunya. Yah walau pun saat ini perusahaan itu diurus oleh Keynan karena Biola sedang hamil besar.
Lagi pula Keynan tidak akan membiarkan istrinya bekerja. Jadi Keynan lah yang akan mengurusi kedua perusahaan besar keluarga Kristian dan keluarga Alexa itu nantinya. Meski pemilik asli perusahan Alexa adalah Biola bukan Keynan, Karena itu warisan untuk Biola. Tapi tak apalah, Keynan rela kerja menjadi CEO didua perusahaan besar demi sang istri yang tidak boleh capek-capek karena sedang hamil.
Kalau hubungan antara Darius dan Keynan memang dari dulu sampai sekarang tidak pernah akur.
Seperti saat ini, keduanya sedang memperebutkan marga untuk anak yang sedang Biola kandung.
"Pokonya marganya harus Alexa titik!" Teriak Darius dengan nada tingginya kepada Keynan.
"Mana bisa, saya Ayahnya jadi anak saya harus ikut marga saya." Balas Keynan tak terima.
"Tapi dia juga keturunan keluarga Alexa. Maka marganya harus Alexa!" Jawab Darius yang tak mau kalah.
Perdebatan itu terus berlangsung selama beberapa hari dan membuat semua orang menutup telinga mereka rapat-rapat saat Keynan bertemu Darius. Karena mereka sudah hapal betul jika Keynan bertemu Darius atau sebaliknya maka mereka pasti akan bertengkar seperti tom and jery.
Biola menulikan telinganya saat mendengar paman dan suaminya sedang memperebutkan marga untuk bayi yang ada didalam kandungannya.
"Bi, jadi lo mau pake marga mana ni?" Tanya Sinta yang sedang berkunjung kekediaman keluarga Kristian dan menemani Biola yang sedang nonton tv dikamarnya.
"Ada deh, gue udah kasih marga yang cocok buat anak gue. Biar kedua orang itu gak debat lagi." Jawab Biola dengan senyuman manisnya dan memakan cemilannya sambil nonton tv.
Semenjak bertambahnya usia kandungan Biola, Biola juga jadi sering makan bahkan sering menyusahkan Keynan karena Biola sering makan tengah malam.
"Emang marganya apa?" Tanya Sinta penasaran.
"Nanti lo tau." Jawab Biola sambil memakan keripik kentangnya dan menata layar tv.
Sinta yang mendengarkan ucapan Biola pun langsung memonyongkan bibirnya karena kesal.
"Ya udah kalau gitu. Tapi lo bagi ngapa tu cemilan. Lo pelit banget deh sejak jadi bumil." Gerutu Sinta yang tidak dibagi cemilan oleh Biola.
"Is beli aja sana! Gue laper tau." Jawab Biola yang membuat bola mata Sinta hampir saja melompat dari sarangnya saking kagetnya.
Bagai mana tidak kaget. Sedari tadi Biola sudah pesen ini itu dan sudah memakan cemilan sampai pelastiknya menggunung tapi Biola bilang masih laper? Ingin sekali Sinta pingsan jika ia yang memakan makanan sebanyak itu.
"Lo udah makan sebanyak itu, lo bilang masih laper? Terus tadi lo pesen Ayam geprek sampai nambah 5 porsi itu lo kemanain Bi. Emang tu perut muat nampung makanan sebanyak itu? Perasaan dulu lo makan sepiring aja gue yang abisin." Ucap Sinta jujur.
Biola tampak memanyunkan bibirnya beberapa centi saat mendengarkan ucapan Sinta.
"Lo itu gimana si Sin. Lo kan tau kalau gue lagi hamil. Itu artinya makanan yang gue makan gue bagi dua sama anak yang ada didalam kandungan gue." Jawab Biola dengan santainya dan mengunyah keripik kentangnya lagi.
"Lah... Emang bener?" Tanya Sinta bingung.
"Makannya lo cepet hamil juga. Lo kan udah lama ni nikah dadakan sama Devin tapi kok lo belum hamil-hamil. Bahkan katanya lo digerebeg pas lagi berduaan tanpa sehelai benangpun dikamar bersama Devin sebelum menikah. Jadi gue yakin lo pasti seringkan bikin anak sama Devin. Udah jangan malu, gue ngerti kok. Moga aja lo cepert hamil biar anak gue ada temennya." Jawab Biola yang mulai menggoda Sinta. Tanpa memberi Sinta kesempatan untuk perotes.
Padahal dia tahu kalau Sinta dan Devin itu masih seperti cat and dog yang tak pernah akur dan selalu bertengkar saat mereka saling bertemu. Mereka itu tak pernah akur barang sedikit pun.
"Sialan lo, lo ngehina gue ya?" Tanya Sinta yang membuat Biola cengengesan.
"Gak kok." Jawab Biola sambil mengambil keripik kentangnya lagi namun sepertinya keripiknya itu sudah habis.
"Yahhhh.... habis. Padahal keripiknya enak." Keluh Biola dengan wajah sedihnya.
"Syukurin! itu akibatnya lo gak bagi-bagi sama temen." Ucap Sinta dengan sinisnya dan membuat Biola memonyongkan bibirnya beberapa centi.
"Sin, lo beliin dong. Gue mau keripik ini lagi." Ucap Biola sambil memohon kepada Sinta.
"Gak ah males." Jawab Sinta sambil berbaring dikasur Biola dan menutup matanya rapat-rapat karena mengantuk.
"Sin lo tega banget sama gue. Gue kan dilarang keluar rumah sama laki gue." Ucap Biola kesal.
"Kalau gitu lo suruh aja laki lo keluar untuk beliin lo Keripik kentang." Jawab Sinta santai sambil menutup matanya dikasur empuk Biola karena ia sudah sangat mengantuk dan ingin tidur.
"Oh iya juga ya." Pikir Biola yang nampak memikirkan ucapan sabahatanya itu.
"KEYNAN BELIIN GUE KERIPIK KENTANG....!!" Teriak Biola dari dalam kamarnya yang membuat Sinta terbangun dari mimpi indahnya dan langsung terperanjat karena kaget saat mendengarkan teriakan sahabatnya.
__ADS_1
Sungguh saat ini Biola yang ada didekatnya bukanlah Biola sahabat patung es nya lagi. Melainkan seorang bumil yang kemauannya harus dipenuhi.