Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Extra part 2


__ADS_3

Flashback On


Beberapa bulan setelah Biola bangun dari komanya. Sinta dan Devin mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Sinta mulai mengikuti kuliahnya dengan seriusnya dan menyibukan diri dengan tugas-tugas kuliahnya. Begitu juga dengan Devin. Ia juga semakin sibuk diperusahaan sejak Keynan pindah ke Inggris.


Saking sibuknya, mereka hampir tidak pernah bertemu satu sama lain disiang hari atau pun malam hari.


Tapi tidak bagi Devin, Devin sering masuk kekamar Sinta yang sidah tertidur hanya sekedar untuk mencium kening Sinta saat ia baru pulang dari kantor. Karena baginya mencium kening istrinya itu adalah salah satu cara untuknya melepaskan rasa lelahnya setelah pulang kerja.


Devin sering pulang larut malam disaat Sinta sudah tertidur dengan pulasnya karena pekerjaannya yang terlalu sibuk akhir-akhir ini sehingga ia harus berkerja lembur hampir setiap harinya.


Jujur saja perasaan cinta sudah muncul dihati Devin untuk Sinta terlebih dahulu. Dan Devin sangat sadar akan hal itu. Ia selalu merindukan istrinya tapi baik Devin maupun Sinta, mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Jadi tak ada kesempatan untuk Devin memperjuangkan cintanya.


Saat pagi hari pun Devin harus pergi pagi-pagi buta karena selalu mendapat panggilan dari sekretarisnya. Jadi itu sebabnya Devin jarang bertemu dengan Sinta akhir-akhir ini.


Sinta yang masih belum menyadari perasaannya kepada Devin pun merasakan adanya kekuarang didalam hidupnya. Ia juga sering memikirkan Devin yang sangat sibuk akhir-akhir ini sehingga ia pun mulai menyibukan diri dengan tugas-tugas kuliahnya untuk meredam perasaan aneh didalam hatinya untuk Devin.


Jujur saja Sinta sendiri ingin memperbaiki hubungannya dengan Devin didalam rumah tangganya karena dia hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Namun lagi-lagi karena egonya Sinta pun sulit untuk menerima Devin seutuhnya dan tidak bisa untuk menjadi pasangan suami istri pada umumnya.


•••••


Sinta terbangun dari tidurnya karena suara alarem yang ia pasang sudah berbunyi dengan nyaringnya. Sinta meraih jam yang ada diatas nakas itu dan melihat jam berapa ia bangun pagi ini.


"Emm... sudah jam 05:30 pagi. Seharusnya dia masih tidurkan?" Gumam Sinta sambil turun dari atas trmpat tidurnya.


Sinta segera mencuci mukanya dan mengganti baju tidurnya dengan pakaian santainya tanpa mandi terlebih dahulu. Sinta langsung keluar dari dalam kamarnya dan menuju ruang kerja Devin yang saat ini telah diubah menjadi kamar dan ruang kerja Devin diapartemen itu.


"Ini terlalu pagi, seharusnya dia masih belum berangkat kekantorkan? Lagian aku juga udah lama gak liat dia." Gumam Sinta sambil ingin mengetuk pintu ruang kerja Devin.


Entah kenapa saat ini Sinta sangat ingin melihat wajah suami dadakannya itu karena ia sudah lama tidak bertemu secara langsung dengan suami dadakannya.


Tok...tok...tok...


Sinta mengetuk pintu ruang kerja Devin namun tidak ada respons apapun dari dalam ruang kerja Devin sehingga Sinta pun memberanikan diri untuk masuk kedalam ruang kerja Devin..


"Devin! Kamu ada didalamkan?" Tanya Sinta setelah membuka pintu ruangan kerja Devin yang tidak dikunci.


Terlihat didalam ruangan itu tidak ada siapapun. Ruangan itu tampak sepi dan dingin seolah-olah penghuni didalam ruangan itu sudah lama meninggalkan ruangannya.


Sinta membuang nafasnya dengan kasar. Terlihat dari raut wajahnya kalau dia merasa sangat kecewa karena tidak mendapati suamunya didalam ruang kerjanya.


"Tidak...tidak...tidak...! Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku merasa sedih hanya karena titisan lumba-lumba itu sudah pergi kekantor." Ucap Sinta yang baru tersadar dari lamunannya sambil menepuk-nepuk pelan pipinya dengan telapak tangannya.


"Ah bodo amatlah. Aku mau buat sarapan aja." Sinta pun meninggalkan ruangan kerja Devin dengan menghentak-hentakan kakinya karena merasa kesal tidak mendapati Devin didalam ruang kerjanya.


"Kenapa si dia akhir-akhir ini. Dia terus menerus sibuk dan mengabaikan aku. Padahal aku udah berpikir untuk memperbaiki hubungan pernikahan kita dan memulai semuanya dari awal. Tapi kenapa dia seolah-olah menghindari aku." Gerutu Sinta sambil menyantap sarapan pagi dengan kasar.


"Akh... kenapa aku jadi kesel kayak gini? Kenapa juga aku harus kesel karena dia menghindari aku?" Jerit Sinta sambil menjambak rambutnya sendiri karena menyadari tingkah emosionalnya yang tidak jelas.


Sinta menatap kearah kursi yang biasanya ditempati oleh Devin saat makan dimeja makan itu. Tiba-tiba Sinta teringat saat-saat dia dan Devin sedang makan dimeja makan itu.


Mereka sering kali bertengkar dan mempertengkarkan sesuatu yang tidak penting setiap saat bahkan saat mereka sedang makan pun mereka masih bertengkar.


Tanpa sadar Sinta tersenyum saat mengingat kenangan-kenangannya bersama Devin. Tapi itu hanya sesaat dan Sinta pun sudah kembali tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Apa yang aku pikirkan. Ahh... kenapa aku jadi kepikiran dia terus? Dasar titisan lumba-lumba ngeselin!" Gerutu Sinta sambil menyantap sarapan paginya dengan terburu-buru.


Setelah selesai sarapan pagi, Sinta pun langsung memberesihkan meja makan. Tapi lagi-lagi Sinta teringat Devin dan itu membuat perasaan Sinta jadi bimbang.


"Dia pergi pagi-pagi buta dan pulang larut malam. Apa dia makan dengan teratur ya? Aku jarang banget liat dia makan dirumah akhir-akhir ini. Bahkan makanan yang ada dikulkaspun masih utuh." Gumam Sinta yang mulai mengkhawatirkan kesehatan suami dadakannya.


Sinta terdiam sesaat dengan pemikirannya.


"Akh... sial! Bodo amat lah. Mending gue ke kampus." Gerutu Sinta dengan bimbangnya dan ingin meninggalkan dapur. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti karena teringat sesuatu.


"Lah? Hari ini kan gak ada kelas pagi. Yang ada juga kelas siang. Apa aku buatin makanan aja ya buat makan siangnya. Lagian aku udah lama gak liat dia." Pikir Sinta sambil menatap dapur.


Setelah berpikir sesaat Sinta pun memutuskan untuk membuatkan makan siang untuk suami dadakannya. Kali ini ia tidak mementingkan egonya lagi karena egonya kini telah dimusnahkan oleh rasa kemanusiaannya dan rasa cintanya yang masih belum ia sadari.


Dengan penuh semangatnya Sinta membuat bekal makan siang untuk suaminya. Bahkan tanpa Sinta sadari, ia memasak dengan senyuman hangatnya. Sinta juga tak henti-hentinya memikiran ekspresi Devin saat melihatnya mengunjungi perusahaan keluarga Kristian tempat Devin berkerja untuk mengantarkan bekal makan siang untuknya.


Setelah memasak, Sinta pun mulai bersiap-siap. Tanpa Sinta sadari ia sudah berdandan dengan sangat cantiknya sampai-sampai menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya karena ingin berpenampilan cantik dihadapan Devin.


Entah kenapa Sinta sangat ingin berpenampilan cantik saat bertemu dengan Devin nanti. Ia juga tidak sabar ingin melihat reaksi Devin saat ia memberikan bekal makan siang yang ia buat untuknya.


"Ok, masak udah, dandan cantik juga udah. Sekarang saatnya pergi kekantor titisan lumba-lumba itu. Oh iya, Sekarang jam berapa ya?" Ucap Sinta kepada dirinya sendiri sambil menatap cermin dimeja riasnya. Lalu ia pun melihat kearah jam yang ada didinding kamarnya.


Sinta membelalakan matanya saat melihat jam yang sudah menunjukan pukul 11:20 siang.


"Apa? Kenapa bisa jam 11:20  siang? Bukannya tadi masih jam 09:45 pagi? Perasaan aku dandan gak lama deh?" Ucap Sinta dengan kaget.


"Akh... bodo amat lah! Aku harus cepet-cepet. Kalau enggak dia bisa makan siang diluar." Sinta dengan tergesah-gesahnya mengambil tasnya dan berlari kebawah, ia tak lupa mengambil bekal makan siang untuk suaminya.


Sesampainya dikantor perusahaan keluarga Kristian, Sinta langsung turun dari taksi yang ia tumpangi. Ia dengan tergesah-gesahnya masuk kedalam kantor besar perusahaan keluarga Kristian namun sayangnya Sinta dicegat oleh satpam yang menjaga dipintu masuk.


"Saya mau cari titisan lumba-lumba." Jawab Sinta secepolosnya.


Kedua satpam yang menjaga pintu masuk perusahaan keluarga Kristian itu pun saling tatap karena mendengar ucapan Sinta yang aneh.


Sinta yang kesal karena ditahan lama diluar pun akhirnya angkat bicara lagi.


"Pak satpam minggir akh. Nanti titisan lumba-lumanya keburu makan siang diluar. Kan gak lucu kalau aku udah nyiapin makan siang untuknya tapi dianya malah makan diluar." Gerutu Sinta sambil menerobos kedua satpam itu,namun kedua satpam itu lagi-lagi menghalangi Sinta.


"Maaf Mbak, sebenarnya Mbak ini cari siapa? Lalu siapa titisan lumba-lumba yang Mbak cari itu?" Tanya salah satu satpam itu kepada Sinta.


Sinta menepuk jidatnya dengan kasar dan sontak saja tindakan Sinta itu membuat kedua satpam itu terkejut.


"Apa wanita ini gila? Sayang cantik-cantik tapi gila." Batin kedua satpam itu sambil menatap heran kearah Sinta.


Sinta tampak sibuk mencari ponselnya didalam tasnya dan membuka galeri diponselnya.


"Nih! Kalau aku gak nunjukin buktinya kalian pasti gak akan izinin aku masuk kan? Makanya aku kasih kalian liat foto pernikahanku dengan titisan lumba-lumba itu." Ucap Sinta sambil menunjukan foto pernikahannya dengan Devin yang difoto secara asal oleh Mama Kania.


Terlihat bahwa difoto itu Sinta sedang memasang wajah kusut dan kesalnya. Sementara wajah Devin terlihat seperti wajah orang-orang sengsara karena difitnah yang tidak pernah ia lakukan kepada Sinta.


Kedua satpam itu tertegun saat melihat foto atasannya yang sedang memakai pakaian pengantin tapi tidak terlihat bahagia difoto itu.


"Maafkan kami Nyonya, silahkan masuk." Ucap kedua satpam itu ramah. Tapi tidak dengan hatinya yang merasa kasihan saat melihat wajah menderita atasannya difoto itu.


Sinta pun masuk dengan langkah sobongnya kedalam perusahaan keluarga Kristian.

__ADS_1


"Aku pernah denger Tuan Devin menikah karena digerebek. Kupikir itu hanya rumor saja tapi ternyata itu nayata. Tapi aku yakin kalau itu hanya kecelekaan saja. Karena aku yakin selera Tuan Devin tidak seperti wanita aneh itu." Ucap salah satu satpam itu.


"Iya, aku tadi juga liat kalau wajah Tuan Devin kayak tersiksa gitu difoto itu. Apalagi wanita itu memanggil Tuan Devin dengan sebutan Titisan lumba-lumba. Kalau dia gak nunjukun foto itu mungkin kita gak tau siapa itu titisan lumba-lumba yang dia maksud." Jawab satpam lainnya sambil menatap Sinta yang masuk kedalam.


Kedua satpam itu hanya bisa menatap Sinta heran dari kejauhan. Semenatra Sinta sudah masuk kedalam lift menuju lantai ruangan suaminya berkerja.


Sesampainya didepan pintu ruangan Devin,  Sinta sempat terdiam ditempatnya. Ia mulai mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Entah kenapa ia merasa gugup karena akan bertemu dengan Devin.


"Kenapa jantungku berdebar kenceng kayak gini si? Padahalkan aku cuman mau ngasih makan siang buat dia terus setelah itu aku pergi kekampus. Tapi kenapa aku gugup dan jantungku juga berdebar kenceng kayak gini?" Ucap Sinta didalam hati sambil menatap pintu ruangan Devin.


"Akh terserahlah! Sekarang aku masuk aja." Sinta langsung membuka pintu ruangan Devin tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Sinta tertegun saat melihat pemandangan yang tidak pernah ia banyakan sebelumnya. Ia mematung ditempatnya sambil melihat sesuatu yang entah kenapa membuat hatinya sangat sakit dan terluka.


Didalam sana Sinta melihat Devin yang sedang disuapi oleh seorang wanita sexy yang juga memakai pakaian kantoran. Mereka terlihat sangat romantis dan itu membuat hati Sinta sakit.


Mereka bahkan tidak menyadari keberadaan Sinta yang sekarang sedang diambang pintu sambil menatap keromantisan mereka.


Brakk....


Jatuhlah sudah bekal makan siang yang sudah Sinta buat dengan susah payah untuk suaminya. Ia juga meneteskan air matanya saat melihat pemandangan yang tiba-tiba saja membuat hatinya terluka.


Devin dan wanita sexy itu pun terkejut pada saat mendengar suara benda jatuh dari arah pintu. Mereka bahkan tambah terkejut pada saat mereja melihat Sinta yang sedang mematung ditempatnya sambil menatap kearah mereka dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Sinta, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" Devin langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Sinta dengan terburu-buru. Namun Sinta sudah lebih dulu berlari sambil menangis.


"Sial! Sinta tungggu!" Teriak Devin sambil mengejar Sinta.


Mereka pun menjadi bahan tontonan diperusahaan karena Devin yang terus berteriak memanggil-manggil Sinta dengan kerasnya.


"Sinta tunggu! Dengarkan penjelasanku dulu!" Devin menari tangan Sinta sehingga Sinta menghentikan langkahnya.


"Dengerin apa?! Dengerin kalau kamu punya selingkuhan! Oh.... atau dia adalah kekasihmu sebelum kita menikah?!" Bentak Sinta dengan air mata yang terus mengalir dari matanya.


Devin tetegun pada saat mendengarkan ucapan Sinta tapi ia juga harus memberitahu apa yang terjadi kepada Sinta agar tidak ada kesalah pahaman lebih jauh.


"Dengarkan aku Sin! Aku tahu pernikahan kita pada awalnya adalah sebuah kesalahan tapi semenjak aku kenal kamu ak..... ..."


"Ya! Pernikahan ini hanyalah sebuah kesalahan. Jadi mari kita akhiri kesalahn ini. Aku mau kita cerai!" Teriak Sinta sambil menepis tangan Devin yang memegangi tangannya dengan kasar lalu ia pergi dengan berlari dari hadapan Devin begitu saja.


Devin tertegun pada saat mendengarkan kata cerai yang keluar dari mulut istrinya. Ia memegangi tangan kanannya yang diperban dengan tangan kirinya karena merasakan sakit akibat ditepis oleh istrinya dengan kasar.


"Akh... Sial! Kenapa kau tidak ingin mendengarkan penjelasanku dan malah pergi begitu saja tanpa tau alasannya. Aku gak akan menceraikanmu!" Teriak Devin dengan lantangnya dan dapat didengar oleh Sinta tapi Sinta malah mengacuhkannya.


Sungguh perasaan Sinta saat ini sangat kacau. Ia merasakan perih dihatinya dan itu membuanya tersiksa. Ia tak henti-hentinya meneteskan air matanya sepanjang jalan ia berlari keluar dari perusahaan keluarga Kristian.


"Maafkan saya Pak, ini semua gara-gara saya. Kalau saja pada saat itu Bapak tidak menolong saya, mungkin saya akan hancur. saya akan menjelaskan semuanya kepada istri Bapak." Ucap wanita sexy itu yang tak lain adah sekretarisnya Devin.


Tak ada jawaban dari Devin. Ia sangat ingin mengejar istrinya dan menjelaskan semuanya kepada Sinta, namun Sinta tidak pernah mau mendengarkan penjelasannya. Ia bahkan memati dayakan ponselnya karena Devin terus meneleponinya.


Devin menatap kearah bekal makan siang yang tadi dibawa oleh Sinta yang kini telah berserakan dilantai. Sungguh hatinya merasa sangat sakit saat melihat bekal makan siang yang telah istrinya buat untuknya dengan susah payah.


"Padahal ini kali pertamanya dia membuatkanku bekal makan siang dan mengantarkannya secara langsung kekantorku. Tapi karena tangan kananku yang terluka ini membuatnya jadi salah paham dan bahkan meminta cerai." Devin tersenyum kecut sambil menatap tangan kanannya yang diperban karena menyelamatkan sekretarisnya yang hampir diperkosa oleh pereman tadi pagi dijalanan.


Sekretaris Devin hanya bisa menunduk karena merasa bersalah. Ia hanya ingin membantu atasannya untuk makan siang karena tangan Devin yang terluka dan diperban sehingga membuat Devin kesusahan untuk makan pada waktu itu.

__ADS_1


"kosongkan jadwalku untuk hari ini. Aku ingin pulang dan menjelaskannya lagi kepada istriku." Perintah Devin kepada sekretarisnya dan menjawab anggukan daru sekretarisnya.


__ADS_2