
Flashback On
Seorang gadis berusia kisaran 12 tahun dengan memakai seragam sekolah menengah pertama sedang dikejar oleh beberapa orang preman bertubuh besar.
Gadis itu berlari sekuat tenaga ke sebuah gang kecil dipinggiran kota untuk menghindari para preman itu.
"HEI, BERHENTI!!!" Teriak salah satu preman itu kepada gadis berusia 12 tahun itu.
BRAAKKK....
Gadis itu menjatuhkan tong sampah yang ukurannya lumayan besar untuk menghalau para preman itu.
"Sial!" Umpat preman itu sambil menendang tong sampah yang menghalangi jalannya.
"Ayo kejar! Jangan biarkan dia lolos. Kita harus bisa melenyapkan gadis itu hari ini juga!" Bentak salah satu preman yang diyakini sebagai pemimpin dikelompok itu.
"Baik Bos!!" Jawab anak buahnya serempak dan berlari mengejar gadis itu lagi.
Gadis itu terus berlari meski nafasnya sudah sangat tersengal-sengal dengan kaki yang terus ia paksakan untuk berlari walau kakinya sudah sangat lemas untuk berlalri.
"BERHENTI BOCAH!!!" Teriak pereman itu lagi.
"Gak! Aku harus tetap hidup. Meski dunia ini gak adil kepadaku. Tapi aku harus tetap hidup. Ramalanku mengatakan jika aku terus berlari maka aku akan diselamatkan oleh seseorang. Aku harus hidup. Aku selalu merasa kalau aku mempunyai sebuah janji yang harus aku tepati." Gumam gadis itu yang tak lain adalah Biola pada saat berusia 12 tahun dan baru masuk sekolah menengah pertama.
Biola terus berlari tanpa arah di gang sempit itu sampai dia tiba dijalan buntu yang terhalangi oleh tembok besar dan tinggi.
"Hosh.... hosh.... aku harus selamet. Jika bukan karena Mona yang terus menghalangiku, mungkin aku bisa pulang lebih awal dan menghindari para preman bayaran wanita ular itu dan anaknya karena aku telah mendapatkan ramalanku melihat masa depan sebelumnya. Tapi gara-gara Ibu dan anak itu yang merencanakan rencana licik ini. Aku jadi harus terpojok seperti ini." Ucap Biola tersengal-sengal sambil mencari cara untuk keluar dari gang buntu itu dan mengusap keringatnya yang ada didahinya dengan punggung tangannya.
Biola melihat kesekeliling gang buntu itu untuk menemukan sesuatu yang bisa ia pakai untuk keluar dari gang buntu itu.
Biola melihat setumpukan kotak di gang itu. Kotak itu terbuat dari kayu yang biasanya digunakan untuk mengangkut buah-buahan.
Biola segera menyusun kotak-kotak itu untuk ia jadikan tangga agar dia bisa melewati tembok tinggi di gang buntu itu yang tingginya mencapai 3 meter.
"TANGKAP DIA!! JANGAN BIARKAN DIA KABUR!!" Teriak pemimpin pereman itu kepada anak buahnya saat melihat Biola sedang menyusun kotak-kota yang terbuat dari kayu itu.
Salah satu anak buah dari preman itu menarik paksa kaki Biola yang sedang berusaha untuk memanjat tembok dengan kotak yang terbuat dari kayu itu.
BRUUGGG.....
Biola terjatuh kebawah karena kakinya ditarik oleh salah satu preman.
Biola terduduk ditanah dengan memegangi sikunya yang berdarah karena tergores oleh kotak kayu yang ikut jatuh bersamanya dengan mata yang menatap tajam kearah ketua preman itu.
"Kau memang tidak bisa lari dariku gadis manis. Hari ini kau akan habis ditanganku." Ucap pimpinan preman itu sambil tersenyum licik dan mengeluarkan pisau belati dari sakunya.
"Gue gak akan pernah mati ditangan preman rendahan kayak lo." Teriak Biola sambil menatap tajam kearah pimpinan preman itu.
"Berani lo hah!! Gue cabut mata lo yang telah berani menatap gue dengan tatapan tajam lo." Bentak preman itu sambil menjambak rambut panjang Biola kearah belakang.
"MATI LO BOCAH!!" Teriak pimpinan preman itu.
BUUKKK....
Pimpinan preman itu membenturkan tubuh Biola ke tembok di gang buntu itu. Sehingga membuat Biola batuk darah saking kuatnya benturan itu.
"AKU GAK AKAN MATI!!!" Teriak Biola sambil menatap pimpinan preman itu dengan tatapan tajamnya lagi.
"Sialan lo bocah! Gue pasti bakalan bunuh lo hari ini juga." Bentak preman itu sambil mencengkram leher Biola dengan kuat.
"Mati ka. ... ....."
BUUKKK.....
Tiba-tiba seseorang meloncat dari balik tembok di gang buntu itu dan menghajar pimpinan preman itu saat pimpinan preman itu ingin memperkuat cengkraman tangannya di leher Biola.
Pukulan orang itu membuat pimpinan preman itu tersungkur menghantam tembok.
"Uhuk.... uhuk.... siapa kau?" Tanya pimpinan preman itu dengan terbatuk-batuk.
"Aku kira siapa yang berani berbuat keributan didekat perguruan karateku, ternyata hanya segerombolan sampah yang hanya bisa menganiaya seorang gadis kecil!!" Bentak orang itu yang tak lain adalah Pak Sinan.
__ADS_1
Pak Sinan mengabaikan pertanyaan dari pimpinan preman itu dan malah langsung menghajar semua preman yang ada disana.
Ternyata dibalik gang buntu itu adalah rumah Pak Sinan dan juga tempat perguruan Karate milik Pak Sinan. Jadi pada saat Pak Sinan sedang melatih murid-muridnya tiba-tiba saja ia mendengar suara kegaduhan dibalik tembok tinggi yang mengelilingi rumahnya.
Pak Sinan yang penasaran pun langsung memeriksanya dengan meloncati tembok itu, yang tinggi mencapai 3 meter.
Saat melihat keadaan yang terjadi dan melihat seorang gadis seusia Putrinya di aniaya membuat Pak Sinan marah.
Setelah memberi tinjuannya kepada pimpinan preman itu. Pak Sinan langsung mengalahkan semua preman itu tanpa ampun dengan kemampuan karate yang dimilikinya.
Setelah mengalahkan pimpinan preman dan anak buahnya Pak Sinan berniat menelepon polisi, tapi Biola mengatakan sesuatu kepada Pak Sinan lalu setelah mengatakan itu Biola pingsan. Karena luka yang dimiliki Biola cukup parah.
"Ja.. jangan te... telepon polisi." Setelah mengucapkan kalimatnya Biola langsung pingsan dan membuat Pak Sinan panik.
Pak Sinan membawa Biola kerumahnya dan menyuruh murid didiknya untuk membereskan para preman itu.
"Ayah! kenapa dengan anak ini?!" Tanya Bunda Ratih panik saat melihat suaminya membopong seorang gadis remaja yang tak sadarkan diri dengan luka yang sangat parah.
"Panjang ceritanya Bun, Bunda sebaiknya cepat menghubungi Dokter saja!" Perintah Pak Sinan yang dituruti oleh istrinya.
"Baiklah Yah! Ayah bawa gadis itu ke kamar Sinta saja." Balas Bunda Ratih sambil menghubungi Dokter. Dan Pak Sinan membawa Biola kekamar Sinta.
Setelah itu Dokter datang dan langsung merawat luka Biola. Pak Sinan juga menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada istrinya.
Bunda Ratih sangat terkejut mendengar penuturan dari suaminya.
"Ya ampun! Kasihan sekali anak ini." Ucap Bunda Ratih sambil menatap iba kepada Biola dan mengelus rambut Biola dengan lembut. Yang pada saat itu Biola masih tak sadarkan diri.
Setelah beberapa jam Biola masih tak kunjung sadarkan diri sehingga membuat Pak Sinan dan Bunda Ratih khawatir.
"Bagai mana ini Yah? Apa Ayah mengenal keluarga dari gadis ini?" Tanya Bunda Ratih kepada Suaminya.
"Ayah juga tidak tahu Bun. Ayah akan interogasi para preman itu. Ayah yakin kalau preman itu adalah preman bayaran. Dan gadis itu pasti tahu siapa dalang dibalik kejadian yang menimpanya. Soalnya dia berpesan untuk tidak melaporkannya kepada polisi." Jawab Pak Sinan.
"Kalau begitu cepatlah Yah!" Ujar Bunda Ratih.
Pak Sinan pun pergi ketempat dimana murid-muridnya menyekap para preman itu.
"Bunda....!!" Teriak seorang gadis yang seumuran dengan Biola pada waktu itu.
"Eh, sayang! Kamu sudah pulang?" Tanya Bunda Ratih kepada Putrinya yang masih kelas 7 SMP.
"Gak! Aku masih dijalan." Jawab gadis itu yang tak lain adalah Sinta.
"Sembarangan kalau ngomong!" Kesal Bunda Ratih kepada Putrinya.
"Lagian pertanyaan Bunda aneh banget. Udah tahu anaknya ada dihadapan Bunda tapi Bunda malah tanya lagi. Udah ah aku mau kekamarku dulu." Balas Sinta tak mau kalah sambil berlalu kekamarnya.
"Eh Sin tunggu!" Bunda Ratih ingin menjelaskan kalau dikamarnya ada seorang anak gadis yang baru saja diselamatkan oleh Ayahnya. Tapi Sintanya sudah lebih dulu pergi.
"Dasar anak itu susah sekali jika diajak bicara." Gerutu Bunda Ratih.
"AHHHHH....!!! BUNDA INI SIAPA??!!!" Teriak Sinta saat sampai dikamarnya dan melihat seorang gadis seusianya berbaring dikasurnya.
"Tuh kan!" Gerutu Bunda Ratih lagi sambil berjalan kekamar Putrinya.
Biola yang mendengar suara teriakan Sinta yang sangat melengking itu pun langsung tersadar dari pingsannya dan mendudukan tubuhnya di atas kasur milik Sinta sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Sin! Kamu jangan teriak-teriak nanti gadis itu ba... ..." Omel Bunda Ratih kepada Putrinya tapi itu tak lama saat dia menyadari kalau gadis yang diselamatkan oleh suaminya telah siuman.
"Kamu sudah sadar nak? Apa ada yang sakit? Maaf ya gara-gara Putri Tante, kamu jadi kebangun." Ucap Bunda Ratih sambil mendekati Biola dan duduk disamping Biola.
Biola tak menjawab pertanyaan Bunda Ratih karena kepalanya masih sangat pusing ditambah dia harus menahan rasa sakit akibat lukanya yang sangat parah.
Sementara Sinta yang merasa diacuhkanpun mengerucutkan bibirnya karena merasa cemburu dengan perlakuan Bundanya yang menurutnya lebih menyayangi Biola.
"Bunda belum jawab pertanyaanku! Siapa dia?" Tanya Sinta dengan nada tinggi dan menunjuk Biola dengan kesalnya.
"Huss! Gak boleh begitu sama tamu. Dia itu anak yang Ayahmu selamatkan dari preman." Jawab Bunda Ratih.
"Lalu kenapa dia ada dikamarku. Aku gak suka ada orang lain dikamarku." Ucap Sinta dengan kesalnya.
__ADS_1
"Sinta! Jangan ngomong gitu ah! Dia itu tamu dirumah ini jadi kita harus layani tamu kita dengan baik." Ucap Bunda Ratih berusaha menjelaskan kepada Putrinya.
Sinta memalingkan wajahnya kesembarang arah dengan wajah cemberutnya.
Biola bangun dari tempat tidurnya dengan semponyongan.
"Eh! Nak, kamu mau kemana?" Tanya Bunda Ratih saat melihat Biola bangun dari tempat tidur.
Biola berdiri dihadapan Bunda Ratih dengan wajah yang tampak serius.
"Aku pasti akan membalas jasamu yang telah menolongku." Ucap Biola dengan nada dinginnya tanpa mengucapkan kata terima kasih sedikitpun.
Karena Bagi Biola pada waktu itu kata terima kasih itu hanyalah sebuah kata ungkapan yang tidak bisa membuktikan kesungguhan seseorang dalam mengucapkan kata terima kasih.
Bunda Ratih tertegun mendengar ucapan Biola. Dia sangat tidak menyangka kalau gadis yang seumuran dengan Putrinya itu sangatlah dewasa.
Bunda Ratih pada awalnya berpikir kalau gadis itu akan merengek-rengek karena kesakitan. Mengingat luka yang dimiliki gadis itu bukanlah luka ringan.
Kalau Putrinya yang mengalami musibah itu mungkin saat ini Sinta sudah merengek-rengek kesakitan sambil memeluk Ibunya.
Biola berjalan keluar kamar Sinta dengan sempoyongan.
"Bun, Gawat! Para Preman itu melarikan diri pada saat anak-anak membawa mereka. Dan anak-anak tidak bisa menagkapnya karena teman mereka membantu mereka kabur." Teriak Pak Sinan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sinta dan mengagetkan Sinta dan Bunda Ratih.
Pandangan Pak Sinan menatap kearah Biola yang juga mematung ditempat karena pintu untuknya keluar dihalangi oleh Pak Sinan.
"Kamu sudah bangun?" Tanya Pak Sinan terkejut dan tak direspons oleh Biola.
Biola menatap pakaian yang dipakai oleh Pak Sinan. Tiba-tiba Biola berlutut dikaki Pak Sinan yang membuat Pak Sinan, Bunda Ratih dan Sinta terkejut.
"Hei nak, kenapa kau berlutut dikakiku? Ayo cepat berdiri." Ucap Pak Sinan sambil berusaha membuat Biola berdiri tapi Biola tetap berlutut dikaki Pak Sinan.
"Tolong jadikan aku muridmu!!" Ucap Biola dengan lantangnya yang membuat semua orang diruangan itu terkejut.
Pak Sinan melihat tatapan tajam Biola yang menyiratkan keseriusannya. Pak Sinan jadi teringat akan masa lalunya dimana dia juga sangat bersungguh-sunghuh untuk berlatih karate.
Tapi tatapan Biola tidak seperti tatapan Pak Sinan dulu yang sangat menyukai karate. Tatapan Biola bukanlah tatapan serius karena ingin mempelajari karate tapi tatapan itu seolah-olah menginstruksikan kalau dia ingin belajar karate karena ingin melindungi nyawanya.
Tatapan itu seperti memberi tahu Pak Sinan kalau Biola masih ingin hidup karena suatu alasan.
"Tatapan ini, sebenarnya seberapa kuatnya gadis ini menjalani hidupnya." Ucap Pak Sinan didalam hati sambil menatap mata Biola.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini nak. Karena kalau kau ingin menjadi muridku maka kau bisa dengan mudah menjadi muridku karena aku adalah seorang pendiri perguruan karate ini. Dan aku juga melatih banyak murid diperguruan karate ini. Jadi kau tidak perlu berlutut seperti ini." Jawab Pak Sinan sambil berusaha membantu Biola berdiri.
"Jadi apakah aku sudah diterima untuk belajar karate?" Tanya Biola sambil berdiri dihadapan Pak Sinan.
"Tentu saja aku dengan senang hati menerimamu sebagai muridku. Tapi kalau boleh tahu namamu siapa nak?" Tanya Pak Sinan.
"Nama saya Biola Ang... ... ya nama saya Biola. Kapan kita akan berlatih?" Tanya Biola sambil menutupi nama marganya.
"Nak Biola bisa berlatih setelah luka nak Biola sembuh." Ujar Pak Sinan.
"Aku baik-baik saja. Bisakah mulai besok kita berlatih?" Tanya Biola lagi yang membuat Pak Sinan dan Bunda Ratih lagi-lagi terkejut.
"Tapi.. ...." Belum sempat Pak Sinan menyelesaikan ucapannya, Biola sudah memutuskan dengan seenak jidatnya
"Sudah diputuskan kalau mulai besok aku akan belajar karate diperguruanmu." Ucap Biola seenaknya.
"Dan aku pasti akan membayar hutangku karena kalian telah menyelamatkanku. Aku pamit." Lanjut Biola yang membuat Pak Sinan dan Bunda Ratih lagi-lagi mematung ditempatnya.
Biola berjalan dengan sempoyongan kearah pintu keluar.
"Tunggu nak, biar Bapak antar kamu pulang. Ini sudah hampir malam. Bapak tak akan membiarkan anak gadis sepertimu pulang malam-malam. Lagi pula kelompok preman yang menyerangmu itu melarikan diri. Bapak hanya khawatir kalau mereka akan mengincarmu lagi." Jelas Pak Sinan.
"Mereka tidak akan berani menyerangku lagi. Lagi pula jarak dari rumah Bapak Ke rumah saya tidaklah jauh." Jawab Biola sambil berlalu dan keluar dari pekaranan rumah yang luas milik Pak Bayu.
"Yah! Sebaiknya Ayah mengikuti nak Biola. Bunda khawatir akan terjadi sesuatu kepadanya. Mengingat nak Biola masih kecil." Ucap Bunda Ratih yang mengkhawatirkan Biola.
"Tidak perlu Bun, dia bukanlah gadis yang lemah." Ujar Pak Sinan sambil menatap punggung Biola yang mulai keluar dari rumahnya.
___________________
__ADS_1