
"Nak Devin, Sinta nya mana? Kok dia gak keluar bersama nak Devin?" Tanya Bunda Ratih sambil melirik kearah kamar anaknya.
"Oh itu Bunda, Sinta nya masih tidur." Jawab Devin dengan gugup.
"Ya Allah!! Anak itu benar-benar kelewatan. Sudah jadi istri orang pun masih saja tidur kesiangan. Aduh maaf ya nak Devin, Sinta memang kebiasaan dimanja Ayahnya jadi sikapnya begitu." Ucap Bunda Ratih yang merasa bersalah kepada Devin.
"Tidak apa-apa kok Bun, aku bisa maklumi keadaan Sinta saat ini. Mungkin Sinta sedang kecapean."Jawab Devin gugup.
Bunda Ratih tampak mencerna ucapan Devin sesaat lalu tak berapa lama Bunda Ratih menutup mulutnya karena terkejut. Setelah itu Bunda Ratih tampak tersenyum dengan tangan yang masih menutup mulutnya dan pipi yang merona.
Devin yang menyadari tingkah Bunda Ratih pun mengerutkan dahinya.
Sedetik kemudian.......
JENG....JENG....
Devin baru menyadari kalau ucapannya kepada Bunda Ratih itu ambigu dan bisa membuat Bunda Ratih dan siapapun yang mendengarnya salah paham.
"Sial! Apa yang gue omongin! Omongan gue bener-bener bisa bikin orang lain salah paham. Gue yakin kalau Bunda saat ini pasti juga salah paham dan mengira gue sama titisan octopus itu tadi malam melakukan malam pertama!" Batin Devin sambil mengerutuki dirinya sendiri.
"Ok, Bunda paham kok. Bunda hanya gak nyangka aja kalau kalian bisa sedekat ini hanya dalam satu malam." Ucap Bunda Ratih sambil tersenyum.
"Bun, enggak! Bukan gitu mak.... ....."
"Sudah, Bunda sangat paham dengan apa yang dimaksud nak Devin. Nak Devin jangan malu-malu. Sebagai pasangan suami istri sudah sewajarnya melakukan hal itu dimalam pertama." Ucap Bunda Ratih sabil tersenyum dan memotong ucapan Devin.
"Tapi Bun, aku be... ..." Lagi-lagi ucapan Devin dipotong oleh Bunda Ratih.
"Oh iya Bunda kan ke kamar kalian mau manggil kalian untuk sarapan. Kalau gitu Bunda mau bangunin Sinta dulu ya, nak Devin langsung aja ke meja makan. Disana sudah ada Ayah yang menunggu untuk sarapan bareng." Saut Bunda Ratih sambil menepuk kedua tangannya dan berlalu masuk kedalam kamar Sinta.
"Hikss.... perasaan hidup gue sial banget ya akhir-akhir ini. Selalu aja disalah pahami oleh orang lain." Tangis Devin didalam hati sambil mengelus dadanya berusaha bersabar.
Semuanya telah berkumpul dimeja makan. Tampak Sinta adalah orang yang paling akhir datang ke meja makan.
Sinta tampak kacau dengan rambut yang acak-acakan dan masih memakai piama tidurnya. Sinta tak henti-hentinya menguap sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
Devin yang melihat tingkah Sinta pun bergidik ngeri.
__ADS_1
"Ya Allah... istri hamba gini amat ya. Perasaan dulu mantan-mantan gue pada cantik-cantik. Tapi kenapa bini gue gak ada 1% pun dari kecantikan dan gak ada bagus-bagusnya dari mantan-mantan gue dulu." Keluh Devin didalam hati sambil menatap Sinta dengan tubuh yang merinding.
"Hoammm...... Bunda kita sarapan apa pagi ini?" Tanya Sinta sambil menguap.
"Astagfirullah Sinta!! Kamu kan Bunda Suruh mandi tapi kenapa kamu masih acak-acakan dan masih memakai baju tidur kayak gini!" Bentak Bunda Ratih yang kaget melihat tampilan acak-acakan putrinya.
"Mager ah Bun, mandinya nanti aja. Aku nya udah lapar." Saut Sinta sambil duduk dimeja makan dan mengambil piring.
"Gak! Mandi dulu sana! Kalau gak mandi Bunda gak bakalan ngasih kamu jatah sarapan untuk pagi ini." Ancam Bunda Ratih sambil mengambil piring Sinta yang sudah Sinta beri lauk tapi belum sempat dimakan oleh Sinta.
"Ah.... Bunda jangan diambil aku kan lapar. Lagian aku kan udah izin selama satu minggu gak masuk kuliah. Jadi gak apa-apa dong kalau aku males-malesan." Mohon Sinta sambil memeluk lengan Bunda Ratih.
"Bener-bener titisan gurita lo! Kemana dan dimana pun dia berada pasti dia suka meluk-meluk orang lalu menjeratnya supaya bisa dimangsa." Gumam Devin didalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sinta tak sengaja melirik kearah Devin yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya saat menatap Sinta kilas.
"Hei lo dolphin! ngapain lo geleng-geleng kepala. Lo mau gue bakar jadi ikan panggang hah!" Bentak Sinta penuh emosi sambil menatap Devin dengan pandangan bencinya.
Namun Devin tidak menghiraukan ucapan Sinta karena saat ini ada Aymer dan Bumer (Ayah mertua dan Bunda mertua) yang sedang berada dimeja makan dan melihat putri mereka yang sedang ngajak ribut kepada suaminya sendiri.
Bunda Ratih menatap Putrinya dengan mata yang menyala-nyala.
"Jangan gitu dong Bunda! Nanti kalau anakmu ini mati gimana? Aku kan anak satu-satunya Bunda sama Ayah." Mohon Sinta sambil berlutut dikaki Bunda Ratih.
"Makannya minta maaf dulu sama suami kamu." Jawab Bunda Ratih dengan nada tinggi.
Devin tampak tersenyum penuh kemenangan kearah Sinta. Sinta yang melihatnya pun langaung mengepalkan telapak tangannya sambil memelototi Devin.
Sinta mengalihkan pandangannya kearah Ayahnya dengan pandangan memohon dan memelas meminta bantuan. Pak Sinan yang tak tega pun langsung mengacungkan jempolnya.
"Selamat...." Batin Sinta sambil mengelus dadanya.
"Sudahlah Bun, biarkan saja. Itu urusan anak muda. Mendingan kita makan aja." Saut Pak Sinan membela putrinya.
"Kamu nih selalu saja membela putrimu. Ini semua salahmu! Karena kamu terlalu memanjakan putrimu jadi putrimu bersikap kurang ajar seperti ini." Omel Bunda Ratih yang membuat Pak Sinan langsung terdiam dan menggelengkan kepalanya kearah putrinya.
"Maafkan Ayah nak, Ayah hanya bisa membantumu sampai disini. Amarah Bundamu sangat menakutkan dari amarah musuh-musuh Ayah." Gumam Pak Sinan yang lebih memilih mengalah dan terdiam.
__ADS_1
Sinta mendengus dengan kesalnya dan menatap tajam kearah Devin yang sedang menahan tawanya.
"Baiklah Bunda, aku akan minta maaf." Jawab Sinta dengan wajah menunduk.
"Ya udah sana!" Ucap Bunda Ratih acuh.
"Dev maafin gue ya?" Ucap Sinta sambil membuang nafasnya dengan kasar dan menundukan kepalanya menatap lantai.
Devin ingin sekali mengerjai Sinta tapi karena ada Aymer dan Bumer jadi membuat Devin mengurungkan niatnya.
"Ya gak apa-apa kok Sin. Aku udah maafin kamu." Jawab Devin dengan penuh kepalsuan sambil tersenyum palsu kearah Sinta.
Sinta sangat tahu betul kalau suami titisan lumba-lumbanya itu sedang memainkan peran dihadapan Bunda dan Ayahnya.
"Dasar titisan lumba-lumba sirkus yang licik." Umpat Sinta didalam hati sambil menatap tajam kearah Devin.
"Udahkah Bun, jadi apakah aku boleh makan?" Tanya Sinta dengan mata yang berbinar.
"Gak!" Jawab Bunda Ratih singkat.
"Yahhh.... kok gitu si Bun. Aku kan udah minta maaf." Protes Sinta.
"Iya Bunda tahu kamu sudah minta maaf tapi kamu kan belum mandi. Kalau kamu udah mandi kamu baru dapat jatah makan." Jawab Bunda Ratih yang membuat Sinta mendengus dengan kesalnya
Akhirnya ketika Bunda Ratih, Pak Sinan dan Devin selesai makan, Sinta baru selesai mandi dan makan seorang diri dengan mengumpat kesal didalam hati.
Ketika Devin ingin meninggalkan meja makan tiba-tiba Pak Sinan mencegah Devin dan mengajak Devin berbicara.
"Bersiap-siaplah untuk bertanding denganku. Aku tunggu ditempat latihan karate. Jika kamu kalah maka bersiap-siaplah mendapat pelatihan keras dariku. Aku juga telah menelepon orang tuamu dan memberitahu beliau kalau kau dan Sinta akan menetap disini selama satu bulan lamanya." Ucap Pak Sinan dengan nada dinginnya lalu berlalu pergi dari hadapan Devin yang sedang mematung ditempat.
"Satu bulan? Apakah itu batas waktu penderitaanku ya Tuhan." Keluh Devin didalam hati sambil berjalan dengan malasnya kearah kamarnya dan Sinta untuk mengganti pakaian kantornya.
Pak Sinan dan Devin pun mulai bertarung. Devin memang bisa menghindari jurus Pak Sinan tapi Devin hanyalah seorang asisten biasa yang tidak terlalu pandai dalam bertarung. Hingga akhirnya Devin pun kalah dari Pak Sinan dan mendapatkan hukuman yang sangat berat yaitu latihan keras selama satu bulan dirumah Aymer dan Bumer.
"Sakit ya?" Tanya Sinta sambil cengengesan saat melihat Devin sedang mengoleskan obat kewajahnya yang memar sambil duduk diatas tempat tidur dikamarnya.
Devin hanya menatap Sinta dengan tatapan malasnya lalu mulai fokus mengolesi obat kewajahnya lagi.
__ADS_1
Sinta memegang tangan Devin yang sedang mengolesi obat kewajahnya yang memar. Sinta mengambil obat dari tangan Devin dan membantu Devin mengolesi obat kewajah Devin dengan sangat lembut dan hati-hati.
Devin hanya Bisa mematung dengan mulut bungkamnya saat melihat wajah cantik Sinta yang sangat dekat dengan wajahnya. Tiba-tiba saja jantung Devin berdetak sangat cepat saat memandang wajah cantik Sinta.