
Pukul 07:30 malam disebuah apartemen mewah di Inggris.
Tok.... Tok....Tok.....
"Sayang buka pintunya! sampai kapan kamu mau seperti ini. Terimalah kenyataan kalau Ayah kandungmu adalah Miko, bukan Bayu pria pengecut itu." Teriak Mama Mirna dibalik pintu kamar anaknya.
Dari dalam kamar tampak sepi. Didalam kamar Mona hanya tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Sungguh Mona tidak mau menerima kenyataan pahit yang ia terima. Ia masih tidak mau mengakui Ayah kandungnya yang seorang penjahat kelas kakap dan seorang psikopat yang dapat membunuhnya kapan pun jika dia khilaf. Itulah yang saat ini Mona pikirkan tentang Ayah kandungnya.
"Sayang buka pintunya! Terimalah keyataan. Kita tidak selama-lamanya harus hidup dengan menyembunyikan sifat asli kita. Mama sangat benci harus bermuka dua dihadapan keluarga bodoh itu." Teriak Mama Mirna namun lagi-lagi Mona mengabaikannya.
"Ayolah Mona! Kamu harus makan. Jangan seperti ini terus." Teriak Mama Mirna lagi dan masih tidak dianggap oleh Mona.
"Bagai mana? Apa dia mau keluar dari kamarnya?" Tiba-tiba Miko datang dan bertanya kepada Mama Mirna.
"Dia masih sama seperti sebelumnya." Jawab Mama Mirna sambil memeluk Miko.
"Apa perlu aku dobrak pintunya?" Tanya Miko dengan wajah serius.
"Jangan! nanti Mona akan semakin benci kepadamu." Cegah Mama Mirna dengan paniknya dan melepaskan pelukannya dari pacarnya.
"Lalu sampai kapan dia akan bersikap seperti itu?! Kita akan segera menikah beberapa hari lagi. Bukankah ini yang kita impikan selama ini!" Teriak Miko kepada Mama Mirna.
Mama Mirna nampak panik dan gelagapan karena pacarnya sudah marah. Mama Mirna sangat mencintai Miko sehingga dia dibutakan akan cinta dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"A...aku a...akan usahakan agar Mona mau keluar kamar. Kamu tenangkan dirimu dulu. Ini biar menjadi urusanku." Jawab Mama Mirna gugup dengan keringat yang bercucuran.
"Baiklah cepat buat dia menerima kenyataan kalau aku adalah Ayah kandungnya. Atau aku yang akan membuat dia menerima keberadaanku!" Ucap Miko dengan nada mengancam.
"Tentu saja sayang, aku akan usahakan. Aku juga mau keluarga kita dapat bersama dan hidup bahagia." Jawab Mama Mirna dengan gugup tapi tetap tersenyum dihadapan pacarnya.
"Oh iya, aku mendapat kabar kalau Nenek tua itu sudah mati beberapa hari yang lalu." Ucap Miko yang sudah mengetahui kematian Oma Laras dari beberapa temannya yang berada di Indonesi.
Miko sengaja menempatkan beberapa teman premannya untuk mengawasi keluarga Anggara sebelum Miko pergi ke Inggris.
"Baguslah kalau begitu. Lalu bagai mana dengan pria pengecut itu? Seharusnya dia sudah mati karena racun yang aku berikan." Tanya Mama Mirna kepada pacarnya.
"Kata temanku si Bayu itu masih hidup dan terlihat sangat sehat. Dia tidak terlihat sedang diracuni. Apa kamu selama ini benar-benar meracuninya atau tidak!" Bentak Miko dengan kesalnya.
Mama Mirna tampak kaget mendengar penuturan dari pacarnya.
"Apa! Bagai mana bisa? Aku selama ini selalu meracuninya. Bagai mana bisa dia tidak terkena racunnya. Aku bahkan menambahkan dosis racun itu ketika malam kekacauan itu. Seharusnya dia mati pada malam itu juga." Ucap Mama Mirna tak percaya.
"Lalu menurutmu temanku yang bohong! Temanku bahkan mengirimkan video ketika dia sedang berada dipemakaman Nenek tua itu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau dia masih hidup dan tampak sehat!" Bentak Miko dengan nada mengintimidasi seketika nyali Mama Mirna langsung menciut karena ketakutan.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau harus membunuhnya. Aku takut dia akan menghancurkan kebahagiaan kita." Ucap Mama Mirna ketakutan.
"Bodoh! Apa kau lupa tentang gadis sialan yang selalu lolos dari maut yang telah kita buat? Gadis itu juga mengincar nyawa kita. Keluarga mertuanya sangat berpengaruh dan tidak akan membiarkan kita hidup dengan tenang. Itu sebabnya aku bergabung dengan kelompok mafia terbesar diseluruh negara walau hanya sebagai anak buah terkecil dari kelompok mafia itu. Tapi mereka sangat konsisten dan akan melindungi anak buahnya dengan baik. Itu sebabnya sampai sekarang kita masih hidup. Jika saja gadis itu bisa kita bunuh lebih awal mungkin saat ini kita sudah menikmati harta keluarga Anggara sepenuhnya bukan setengahnya. Sekarang kita hanya bisa jadi incaran mereka untuk membalas dendam." Teriak Miko yang menyadarkan Mama Mirna.
"Sial! Aku lupa kalau gadis itu yang membongkar segalanya." Batin Mama Mirna sambil mengumpat.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Setidaknya kau harus membunuh si Bayu itu. Jangan biarkan dia hidup dengan tenang dan membalas dendamnya kepada kita. Mungkin dengan kematian pria pengecut itu Mona mau menerimamu." Ucap Mama Mirna memeberikan saran.
"Aku juga maunya begitu tapi si Bayu itu tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Bahkan dia membiarkan perusahaannya bangkrut begitu saja. Tak ada jejak keberadaannya dimana-mana. Teman-temanku saja tidak bisa melacak keberadaannya." Jawab Miko dengan nada tegasnya.
"Menghilang? Bagai mana mungkin pria pengecut itu bisa menghilang. Dia itu tak lebih dari seorang pria manja yang tidak berguna." Ucap Mama Mirna tak percaya.
"Mana aku tahu! Jika saja rencana awal kita lancar dan kita dapat membunuh seluruh keluarga Anggara dan mengusai hartanya mungkin kita tidak akan dalam posisi seperti ini." Ucap Miko dengan nada tinggi.
Mama Mirna hanya bisa menunduk pasrah dibentak-bentak oleh pacarnya.
"Sudahlah aku tidak mau membahas itu lagi. Yang terpenting saat ini kita harus mengabdikan diri kita kepada kelompok mafia Angel's heart agar kita bisa menghindari keluarga Kristian." Ucap Miko.
"Ya kau benar. Yang terpenting saat ini kita harus menghindari keluarga Kristian." Lanjut Mama Mirna.
"Ya sudah aku mau kemarkas dulu. Pimpinan nyariin aku, katanya ada anggota baru yang bergabung tapi dia langsung diangkat menjadi wakil barunya pimpinan. Aku mau lihat sehebat apa pria itu sampai-sampai pimpinan mengangkatnya sebagai wakilnya dikelompok mafia Angel's heart." Ujar Miko dngan tampang seriusnya.
"Baiklah sayang, kamu pergilah biar Mona aku yang urus." Balas Mama Mirna.
"Ini semua gara-gara anak dari wanita murahan itu. Andai saja dulu aku bisa membunuhnya mungkin keadaanku dan keluargakku tidak akan menjadi seperti ini." Gumam Mama Mirna sambil mengepalkan tangannya.
Tanpa Mama Mirna sadari Mona sedang menguping pembicaraan Mama Mirna dan Miko dibalik pintu.
Awalnya Mona sedang berbaring ditempat tidur tapi dia mendengar Ibunya dan Ayah kandungnya sedang membicarakan Oma Laras jadi Mona pun mulai turun dari atas tempat tidurnya.
Mona menguping semua pembicaraan Mama Mirna dengan Ayah kandungnya. Mona menutup mulutnya dengan air mata yang menetes saat mendengar pembicaraan Mama Mirna dengan Miko.
"O...Oma menginggal..... hiks... ini gak mungkin... Oma gak mungkin ninggalin aku. Hiks... Oma..." Ucap Mona pelan sambil terisak.
"Ayah maafkan Mona Yah, Mona salah. Mona sering ngelawan sama Ayah. Ayah kamu dimana Yah. Ayah aku mau pergi dari sini. Ayah maafkan Mona. Meski Ayah selalu menyayangi Biola tapi Ayah tidak pernah meninggalkan Mona. Ayah selalu menyayangiku dengan tulus meski itu ancaman dari Oma Laras. Ayah aku ingin kau menjadi Ayahku satu-satunya. Maafkan Mona Yah, maafkan ke egosian Mona selama ini. Oma maafkan Mona. Mona salah, hiks...." Isak Mona sambil terduduk lemas dilantai.
"Kenapa! Kenapa aku harus tersadar sekarang! Aku tidak menginginkan harta lagi. Aku hanya ingin keluargaku kembali. Aku ingin Ayah dan Oma kembali. Tolong kembalikan mereka kepadaku.!!" Teriak Mona didalam hati.
Awalnya Mona sangat takut jatuh miskin setelah meninggalkan kediaman keluarga Kristian tapi setelah dia jauh dari Oma Laras dan Pak Bayu, Mona Baru menyadari kalau kebaradaan Oma Laras dan Pak Bayu itu sangat berharga dihatinya melebihi uang dan kemewahan dikehidupannya.
Kehidupan Mona terasa hampa tanpa adanya Oma Laras dan Pak Bayu. Mona sangat mengkhawatirkan kondisi Oma Laras yang terkena serangan jantung dan Pak Bayu yang diracuni oleh Mama Mirna.
Kehidupan Mona sangat kacau dengan kekhawatiran yang menghantui hatinya dan pikirannya. Mona sangat menyesali ke egoisannya selama ini.
Andai saja dia tidak mengikuti kelakuan Mamanya mungkin dia akan merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya namun Mona telah menyia-nyiakan semua itu. Sehingga ini lah penyesalan terbesar yang harus ia ambil.
__ADS_1
Tiba-tiba Mona merasa kalau perutnya sakit dan merasakan mual.
"Perutku kok sakit. Emm.. ukh....." Ucap Mona sambil menutup mulutnya yang tiba-tiba merasakan perutnya sakit dan merasa mual-mual.
Huekk.....
Tiba-tiba Mona berlari kekamar mandi dengan terburu-buru. Mona memuntahkan isi perutnya yang hanya mengeluarkan cairan karena Mona belum makan apapun sehrian ini.
Mama Mirna yang masih diluar kamar Mona pun mendengar Mona muntah-muntah. Dengan penuh khawatir Mama Mirna menggedor pintu kamar putrinya.
Brak... Brak... Brak....
"Mona buka pintunya! Kamu kenapa?" Teriak Mama Mirna dengan penuh khawatir sambil menggedor-gedor pintu kamar putrinya.
BRUKK....
Tiba-tiba didalam terdengar suara seseorang terjatuh. Dengan panik Mama Mirna menelepon pacarnya Miko. Namun Miko tidak mengangkat teleponnya.
"Ahh sial! Kenapa dia selalu saja tidak bisa diandalkan. " Kesal Mama Mirna sambil menggenggam handphonenya dengan erat karena khawatir dengan putrinya.
"Ya! Kunci cadangannya!" Ucap Mama Mirna sambil mencari kunci cadangan kamar Mona.
Setelah beberapa menit mencari kunci cadangan kamar Mona akhirnya Mama Mirna menemukannya. Dengan segera Mama Mirna membuka pintu kamar Putrinya dan mendapati Mona yang sedang pingsan didalam kamar Mandi.
"Mona!!!! Mona bangun sayang. Ada apa denganmu. Mona bangun nak." Teriak Mama Mirna dengan berlinang air mata.
Dengan tangan yang bergetar Mama Mirna menelepon Dokter. Dan 15 menit kemudian Dokter pun datang dan langsung memeriksa Mona.
"Bagai mana keadaan Putri saya Dok?" Tanya Mama Mirna menggunakan Bahasa Inggris.
"Keadaannya sangat lemah. Dan itu bisa sangat membahayakan bagi kandungannya. Diharapkan bagi keluarganya untuk menjaga pola makan pasien dan tidak membuat pasien stres karena itu bisa mempengaruhi kondisi kandungan pasien." Ujar Dokter itu menggunakan Bahasa inggris.
Ucapan Dokter itu membuat Mama Mirna mematung ditempatnya. Mama Mirna seperti terkena sambaran petir yang sangat kuat dan menusuk kedalam hatinya.
"Kandungan? Apa yang kamu bicarakan Dokter?!" Tanya Mama Mirna tak percaya.
"Pasien sedang mengandung dan usia kandungannya sudah memasuki usia sekitar 6-7 mingguan." Jawab sang Dokter itu yang membuat hati Mama Mirna hancur.
"Gak! Itu gak mungkin. Anak saya tidak mungkin hamil!" Teriak Mama Mirna tidak percaya.
"Maaf Bu, tapi ini kenyataannya." Jawab Dokter itu lalu memberikan beberapa obat dan vitamin untuk Mona setelah itu dia berpamitan dan pergi dari apartemen Mama Mirna.
Mama Mirna hanya bisa terdiam tidak mempercayai semua yang terjadi. Dia sudah tahu kelakuan Mona yang sering tidur dengan banyak pria namun yang dia takutkan adalah kehamilan Mona akan mengganggu mental Putrinya.
"Kenapa anak itu harus muncul sekarang. Disaat Mona baru tahu kalau Ayah kandungnya bukanlah si Bayu. Selama ini Mona selalu tertekan setelah mengetahui bahwa Bayu bukanlah Ayah kandungnya. Aku takut itu akan mengganggu mental Mona. Aku harus menggugurkan kandungan Mona tanpa sepengetahuan Mona. Kalau tidak Mona akan menjadi gila karena tidak bisa menerima keadaannya saat ini." Gumam Mama Mirna sambil menatap anaknya yang terbaring tak sadarkan diri ditempat tidur.
__ADS_1