
"Burung Beoku yang kecil dan imut dimana kamu? Kakak bawain hadiah untuk kamu!" Teriak Keynan sambil berlari kearah rumah pohon tempat tinggal Biola.
Keynan mulai menaiki tangga yang terbuat dari kayu dirumah pohon itu. Keynan melihat Biola yang sedang tertidur dengan pulasnya diatas kasurnya.
"Loh? Tuben-tumbenan burung Beoku yang bawel tidur siang? Apa lagi tidurnya pulas kayak gini." Gumam Keynan sambil menatap Biola yang tertidur pulas.
Keynan menatap Biola dengan tatapan paniknya saat ia baru menyadari kalau tubuh Biola perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya.
"Loh? Ada apa ini? Biola bangun! Hei, kamu harus bangun! Kamu jangan menghilang begitu aja!" Teriak Keynan dengan paniknya dan tubuh bergetarnya.
Tubuh Biola perlahan-lahan mulai meredu-rudup dan terliat sangat tranparan sehingga membuat Keynan panik.
Keynan terus berusaha untuk membangunkan Biola namun Biola tak kunjung bangun dari tidurnya. Keynan terus berteriak sambil menangis karena Biola seperti akan menghilang pada saat itu juga.
"Gak! Biola kamu harus bangun! Kamu gak boleh tinggalin aku sendiriaan kayak gini. BIOLA BANGUN...!!! Hiks... Biola bangun...." Keynan menangis sambil terus berteriak membangunkan Biola tapi usahanya itu sia-sia.
Biola tampak tersenyum dan tertidur pulas dikasurnya. Keynan ingin menggoyang-goyangkan tubuh Biola agar ia bangun tapi ia tidak bisa menyentuh Biola.
"Hiks... Biola bangun...." Keynan menangis dengan sangat lirihnya saat tubuh Biola sudah sangat tranparan dan hampir tak terlihat lagi diamata Keynan.
Sementara itu Biola sedang menelusuri sebuah lorong yang sangat panjang. Lorong itu sangat indah dengan dihiasi bunga-bunga yang sangat cantik dan tanaman merambat yang menghiasi atap dan sisi lorong itu.
Gadis mungil itu berjalan diatas sebuah lantai yang sangat putih dan cantik. Lantai itu seperti kaca yang transparan dan menunjukan bahwa dibawahnya adalah sebuah lautan awan yang sangat cerah dengan nuansa biru dan putih.
"Ini dimana? Bukannya tadi Biola ngantuk terus Biola ketiduran? Tapi kenapa Biola ada disini?" Pikir gadis kecil itu sambil berjalan menelusuri lorong panjang dan indah itu.
Pandangan Biola tak henti-hentinya menatap langit-langit lorong itu dan sekitaran lorong itu yang tampak sangat cantik dan indah.
"Tempat ini sangat cantik. Biola juga merasa udah lama berjalan tapi Biola tidak merasa capek. Sebenarnya Biola ada dimana?" Pikir gadis kecil itu yang tampak sangat polos.
Biola terus berjalan dilorong yang panjang dan hanya menunjukansatu arah itu hingga ia sampai diujung lorong dan ia menemukan sebuah pintu yang hanya ada satu-satunya diujung lorong itu.
Biola membuka pintu besar yang ada diujung lorong itu dengan perlahan.
"Wahh... ini sangat indah." Gumam Biola yang tampak sangat mengagumi ruangan yang ia masuki.
Ruangan itu tampak seperti diatas awan yang dihalangi oleh sebuah kaca. Didalam ruangan itu terdapat tananaman merambat dan buang-bunga cantik yang menghiasi ruangan itu.
Disana juga ada sebuah kursi dan sebuah meja yang benar-benar sangat cantik juga. Terlihat juga kalau disalah satu kursi itu telah diduduki oleh seorang wanita cantik yang tampak sangat mirip dengan Biola.
Wanita itu memakai gaun berwarna putih dengan hiasan rambut yang terbuat dari bunga asli. Wanita itu tampak sedang meminum secangkir teh dan menikmati pemandangan yang ada diruangan itu.
"Siapa Tante itu? Dia terlihat sangat cantik." Gumam Biola sambil menatap kagun kearah wanita yang ada dihadapannya.
Wanita itu tiba-tiba menengok kearah Biola dengan terkejutnya. Lalu tak lama kemudian wanita itu tersenyum kearah Biola dan berdiri dari duduknya.
"Sini sayang. Mama sudah lama menunggumu." Ucap wanita itu dengan begitu lembutnya dan membuat Biola kebingungan.
"Mama?" Tanya Biola sambil menatap wanita cantik itu dengan tatapan polosnya.
Wanita cantik itu mengangguk sambil tersenyum kearah Biola.
"Iya, ini Mama sayang. Sini peluk Mama." Ucap Wanita itu sambil menitikan air matanya.
"Mama...!!" Tanpa sadar Biola berlari kearah wanita itu dan memeluk wanita itu erat.
Wanita itu tak lain adalah Viola, Ibu kandung dari Biola yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu.
"Hiks... Mama... Biola kangen Mama." Biola menangis dipelukan Mamanya.
Viola memeluk putrinya dan menggendong putrinya sambil tak henti-hentinya memberikan Biola sebuah ciuman kerinduan yang sangat dalam.
"Mama juga kangen sama Biola." Ucap Viola sambil mencium pucuk kepala putrinya dan duduk dikursinya sambil memeluk dan menggendong putrinya.
"Mama kenapa gak pulang-pulang. Mama kenapa lama disurganya. Kata Bi Sumi Mama sudah ada disurga. Tapi kenapa Mama lama pulangnya?" Tanya Biola dengan polosnya kepada Mamanya.
Biola menatap wajah Mamanya yang terlihat sangat cantik dan mirip dengannya. Ia mengusap air mata mamanya yang membasahi pipinya dengan tangan mungilnya.
__ADS_1
"Mama gak bisa pulang sayang. Mama harus tetap ada disini. Kamu harus baik-baik ya sayang. Kamu harus temenin Ayah. Dia pria yang baik tapi dia masih terbelunggu dalam ikatan keluarganya jadi dia tidak bisa memberi kamu kasih sayang yang penuh. Tapi percayalah kalau Ayahmu sangat menyayangimu." Ucap Viola sambil mencium tangan mungil putrinya yang mengusap air matanya yang menetes.
"Tapi Biola juga mau Mama sama Ayah tinggal bersama. Biola ingin punya orang tua yang lengkap seperti yang anak-anak yang lainnya. Biola gak mau Mama Mirna. Dia jahat." Ucap Biola dengan mata penuh harapnya.
"Mama tidak bisa pulang bersamamu lagi sayang. Karena saat ini, disinilah rumah Mama. Kamu juga harus hati-hati sama Ibu tiri kamu itu ya sayang. Tolong jangan terlalu membenci sikap Ayahmu saat ini." Ucap Viola sambil memeluk erat putrinya.
Ia benar-benar sangat merindukan putrinya. Biola juga sangat merindukan sesosok seorang Ibu didalam hidupnya.
"Baiklah Ma. Biola pasti akan melakukan apa yang Mama katakan." Ucap gadis kecil itu yang membuat Viola tersenyum hangat.
"Anak pinter. Oh iya, Mama juga mau kasih tau kamu kalau kamu juga memiliki seorang paman dan Kakek yang tinggal di Inggris. Mereka bermarga Alexa yang merupakan marga keluarga Mama dulu. Mereka orang-orang yang sangat baik. Mereka pasti akan melindungi kamu dan menyayangi kamu dengan sepenuh hati mereka. Mama juga punya salah kepada mereka dimasalalu karena keegoisan Mama. Jadi maukah Biola menebus kesalahan Mama dan menyayangi mereka seperti Mama menyayangi kamu sayang?" Tanya Viola dengan mata sendunya.
Biola terlihat sangat bahagia saat mendengarkan ucapan Mamanya.
"Biola punya Paman dan Kakek Ma?" Tanya Biola antusias yang langsung diangguki oleh Viola dengan senyuman kebahagiaannya.
"Asik!! Biola punya keluarga yang banyak. Jadi Biola sekarang punya Ayah, Oma, Mama, Kakek, dan Paman." Ucap gadis kecil itu dengan penuh semangatnya sambil menghitung jari-jemari mungilnya saat mengucapkan kata-katanya.
"Iya sayang. Kamu adalah anak yang paling beruntung. Tapi kamu harus menjadi anak kuat untuk mendapatkan kasih sayang dari mereka kelak." Viola menatap putrinya dengan tatapan sendunya.
"Biola pasti akan menjadi anak yang baik Ma. Jadi Mama jangan khawtir." Jawab Biola dengan wajah polosnya.
"Mama sangat percaya kepadamu sayang." Viola mencium pipi putrinya dengan begitu lamanya karena sangat merindukan putrinya.
"Mama gak usah khawatir. Biola kan anak kuat dan pinter." Jawab gadis kecil itu dengan begitu polosnya lalu ia mencium kening mamanya kilas.
"Biola sayang Mama." Ucap gadis kecil itu setelah ia mencium kening Mamanya.
Viola mengusap air matanya yang menetes karena terharu dengan ucapn putrinya.
Viola tiba-tiba menurunkan putrinya dari pangkuannya dengan begitu tidak relanya. Ia menatap Biola dengan tatapan penuh air matanya yang menggenang.
"Biola sayang, Mama harus pergi sekarang. Biola harus jaga diri Biola dengan baik ya nak. Liontin pemberian Tante Kania juga harus kamu jaga dengan baik ya sayang. Liontin itu akan menunjukan sebuah kebahagiaan untukmu kelak." Ucap Viola dengan begitu lembutnya.
"Mama mau pergi kemana? Biola masih mau sama Mama." Tanya Biola dengan wajah sedihnya.
"Hiks... tapi Biola masih kangen Mama." Biola menangis saat tubuh Mamanya perlahan demi perlahan mengilang dan berubah menjadi cahaya.
"Kita pasti akan bertemu lagi sayang. Tapi tidak untuk sekarang." Ucap Viola yang kini benar-benar sudah menghilang dan berubah menjadi cahaya.
"Tidak! Biola masih mau sama Mama! Hiks... Biola mau sama Mama...." Teriak Biola sambil menangis dan terduduk dilantai dengan begitu menyedihkannya.
Tubuh Biola perlahan demi perlahan juga menghilang dan hanya menyisakan cahaya putih diruangan itu.
•••••••
"Mama... Biola mau ikut Mama..." Ucap Biola sambil mengigau.
Keynan yang sudah sangat panik dan sudah menangis sedari tadipun langsung mendonggakan kepalanya kearah Biola yang mengigau.
"Biola bangun! Kamu harus bangun! Kamu jangan tinggalkan aku kayak gini! Aku gak terima kamu ninggalin aku!" Teriak Keynan saat mendengar Biola mengigau.
Tiba-tiba Biola terduduk dengan wajah pucatnya. Keynan tak kuasa menahan air matanya. Ia melihat Biola yang sebentar lagi akan menghilang.
Sungguh hati pria kecil itu sangat hancur saat melihat orang yang ia sangat sayangi akan menghilang.
"Biola... kamu gak boleh tinggalin aku. Kalau kamu mau masuk rumahku juga boleh asalkan kamu jangan tinggalin aku. Kamu juga bisa tanya apa pun yang kamu mau kepadaku. Aku pasti akan jawab semua pertanyaanmu. Tapi tolong jangan tinggalkan aku. Hiks...." Keynan menangis dihadapan Biola dengan begitu lirihnya.
Biola menatap Keynan dengan tanda tanyanya.
"Kakak kenapa nangis?" Tanya Biola dengan polosnya.
"Biola, Kakak minta maaf jika selama ini Kakak banyak berbuat salah kepadamu. Kakak baru menyadari kalau selama ini perasaan Kakak sama kamu itu melebihi perasaan seorang Kakak beradik saat melihat kamu tidak sadarkarkan diri dan hampir menghilang. Kakak mohon jangan tinggalkan Kakak ya. Kakak sayang kamu." Keynan menatap Biola dengan tatapannya yang penuh dengan air mata.
"Maksud Kakak apa?" Tanya Biola yang tidak mengerti.
"Kakak cinta kamu Biola. Kakak tau Kakak masih kecil kamu juga masih kecil tapi Kakak tidak bisa membohongi perasaan Kakak. Kakak selalu ingin kamu menjadi satu-satu istri Kakak kelak. Tapi Kakak selalu tersadar kalau Kakak dan kamu selalu tidak bisa bersama makanya Kakak hanya bisa diam dan mengelak permintaan kamu untuk menikahimu kelak." Ungkap Keynan dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Biola tampak tersenyum dengan lembutnya dan mengusap pipi Keynan walau telapak tangan mungil Biola harus tembus dipipi Keynan dan tidak bisa benar-benar menyentuh Keynan.
"Kakak percayak gak sama Biola?" Tanya Biola sambil tersenyum dan diangguki oleh Keynan dengan sesenggukannya.
"Jika Kakak percaya sama Biola. Maka Kakak harus kuat. Kakak gak boleh nangis. Biola yakin kalau Biola pasti akan bertemu Kakak lagi nanti. Tapi kedaan kita nanti mungkin akan berbeda. Kakak harus tunggu Biola. Kakak gak boleh nikah sama siapapun selain Biola ya." Ucap Biola sambil tersenyum tulus.
"Hiks... tapi Kakak gak mau kehilangan kamu. Kakak ingin selalu bersamamu." Ucap Keynan dengan sesenggukan karena ia yakin kalau ucapan Biola itu tidak akan pernah terjadi.
"Kita mungkin berpisah sekarang tapi Biola yakin takdir tidak sejahat itu sampai harus memisahkan kita berdua. Biola sayang Kakak. Biola yakin jika suatu saat nanti Kakak dan Biola akan dipertemukan kembali. Seperti Biola yang bertemu Mama tadi." Ucap Biola dengan polosnya.
"Kakak gak mau kehilangaan kamu Biola. Jangan pergi.... ku mohon..." Keynan menatap Biola dengan tatapan penuh cintanya.
Tiba-tiba saja muncul sebuah liontin dari leher Biola. Liontin itu bersinar terang dan membuat Biola tampak sangat bercahaya.
"Liontin itu?" Gumam Keynan yang sangat mengenal liontin yang tiba-tiba muncul dileher Biola.
"Kakak, Biola harus pergi. Biola sayang Kakak." Ucap Biola tiba-tiba dan membuat Keynan terkejut.
Keynan menatap tubuh Biola yang perlahan-lahan berubah menjadi cahaya.
"Tidak! Tidak! Tidak...!! Kamu gak boleh pergi! Biola kamu gak boleh pergi!!" Teriak Keynan dengan begitu kerasnya sampai mengundah semua penghuni rumah keluarga Kristian ke halaman belakang karena kaget mendengar Keynan berteriak.
Tubuh Biola kini sudah sepenuhnya menjadi cahaya dan menghilang dari hadapan Keynan.
"TIDAKK...!!! Kamu gak boleh pergi. Hikss... Kakak sayang kamu. Kamu gak boleh pergi! TIDAK...!!" Keynan menangis dengan begitu lirihnya sambil memegangi jepitan ramput yang belum sempat ia berikan kepada Biola.
Mama Kania dan yang lainnya langsung berlari kearah taman dihalaman belakang rumahnya. Ia melihat putranya menangis dengan begitu menyedihkannya diatas rumah pohon.
"Ada apa Key? Kenapa kamu menangis?" Tanya Mama Kania panik.
Keynan menatap Mamanya dengan tatapannya yang penuh dengan air mata. Tiba-tiba Keynan teringat dengan liontin yang dimiliki Mamanya yang sama persis dengan liontin yang tiba-tiba muncul dileher Biola.
"Mama! Dimana liontin hati malaikat yang sering Mama kenakan?" Tanya Keynan dengan begitu paniknya dan membuat Mama Kania terkejut.
"Ada apa Key?" Tanya Mama Kania bingung.
"Jawab Ma!!" Teriak Keynan dengan mata merahnya karena terlalu lama menangis.
"Liontin itu telah Mama berikan kepada pemilik aslinya." Jawab Mama Kania.
"Siapa pemilik aslinya Ma?" Tanya Keynan yang mulai tak sabaran.
"Namanya kalau gak salah Biola. Dia seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahunan yang sangat imut." Jawab Mama Kania yang membuat Keynan sangat senang.
"Dimana gadis kecil itu Ma? Apa dia masih hidup?" Tanya Keynan dengan begitu bersemangat.
Mama Kania tampak terdiam sambil berpikir.
"Em... Mama tidak tahu dimana dia. Mama hanya bertemu dengannya sekali. Tapi kata orang-orang ada seorang gadis kecil berusia kisaran 5 tahun yang terjatuh kelaut pada saat pesta dikapal pesiar itu dan dia terluka sangat parah. Orang-orang juga bilang kalau gadis kecil itu tidak mungkin selamat dengan luka yang sangat patal ditubuhnya. Tapi Mama yakin kalau yang terjatuh itu Bukan Biola karena disana banyak anak kecil." Jawab Mama Kania dengan jujurnya.
Deg...
Jantung Keynan seolah-olah berhenti pada saat itu juga. Karena mendengar ucapan Mamanya. Ia sangat yakin kalau yang terjatuh itu adalah Biola. Karena roh Biola datang bersama Mamanya saat Mamanya dan Papanya pergi kepesta dikapal pesiar 1 tahun yang lalu.
Keynan tampak murung lagi. Ia tidak bisa kehilangan Biola. Sungguh sakit saat mengetahui apa yang terjadi kepada orang yang ia cintai.
"Jadi kamu memang benar-benar sudah meninggal." Ucap Keynan didalam hati. Ia kembali menangis dengan begitu lirihnya dan membuat semua orang khawatir.
Keynan tetap bersedih atas kepergian Biola sampai kecelakaan itu terjadi dan merenggut semua memori indahnya bersama hantu gadis kecil yang telah merebut cinta pertama.
Flashback Off
________________________
Hai guys maaf ya flashbacknya kelaman hehehe....
Oh ya jangan lupa jejaknya ya guys.😘
__ADS_1