Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 72


__ADS_3

"Bi_Biola... i_itu kamu nak?!" Ucap Pak Bayu tak percaya.


Biola menghiraukan ucapan Pak Bayu, dia berjalan perlahan mendekati Oma Laras yang terbaring. Keynan hanya berdiri diambang pintu sambil menatap istrinya dengan dipenuhi kekhawatiran.


Pak Bayu masih menatap putrinya dengan tak percaya karena Putrinya datang untuk menemuinya dan Oma Laras. Biola menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Biola menatap Oma Laras yang masih menyebut-nyebut namanya. Perlahan Biola mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Oma Laras. Seketika Oma Laras langsung terdiam saat Biola menyentuh tangannya dan tidak menyebut-nyebut nama Biola lagi.


Keynan dan Pak Bayu hanya bisa membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Aku memaafkanmu, jangan paksakan dirimu lagi. Beristirahatlah dengan tenang.  Aku tahu kamu memaksakan diri untuk tetap bertahan karena ingin meminta maaf kepadaku. Sebenarnya aku dari dulu sampai sekarang tidak pernah membenci keluarga Anggara. Aku hanya tidak bisa melupakan perlakuan keluarga Anggara dimasa lalu." Ucap Biola sambil menatap wajah Oma Laras yang masih terpejam.


"Maaf karena aku belum bisa atau tidak akan pernah bisa memanggilmu Nenek, meski kamu sudah diambang maut. Aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan itu karena kamu sudah sedari dulu melarangku untuk memanggilmu seperti itu. Aku bukanlah cucumu tapi aku adalah anak dari anakmu Bayu. Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang." Lanjut Biola sambil melepaskan tangan Oma Laras dari genggamannya.


Dan seketika itu pula kondisi Oma Laras memburuk.


Pak Bayu yang panikpun langsung menelepon Dokter dan Dokterpun datang dengan terburu-buru dan langsung memeriksa Oma Laras.


Pak Bayu, Biola dan Keynan pun disuruh menunggu diluar kamar pasien Oma Laras.


Pak Bayu terus mundar-mandir dengan khawatir. Ia sangat senang melihat putrinya menemuinya dan Oma Laras namun dia juga takut kehilangan Ibunya.


"Sayang kamu...." Keynan mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Istrinya. Dia masih sangat bingung dengan apa yang terjadi.


"Sebenarnya rahasia apa yang kamu sembunyikan." Gumam Keynan.


"Ada apa?" Tanya Biola


"Ti_tidak apa-apa." Jawab Keynan gugup.


"Kamu pasti bingung?" Tebak Biola dengan tenangnya dan dijawab anggukan oleh Keynan.


"Nanti aku jelasin." Jawab Biola sambil menggenggam tangan suaminya.


Keynan menatap wajah istrinya yang terlihat tenang tapi tersirat sedikit kesedihan diwajah istrinya.


Pak Bayu langsung berhambur mendekati Dokter yang baru keluar dari ruangan Oma Laras.


"Bagai mana kondisi Ibu saya Dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Pak Bayu dengan sangat panik.


"Maaf, Seperti yang pernah saya bilang kalau harapan hidup pasien sangatlah kecil. Aku pikir dengan kedatangan cucunya akan menambah semangat hidup pasien tapi sepertinya saya salah. Karena kondisis pasien sudah sangat lemah dan tidak mungkin bisa bertahan hidup lebih lama lagi." Jawab sang Dokter yang membuat Pak Bayu bagai disambar petir disiang bolong namun Pak Bayu berusaha setegar mungkin dan tetap berpikiran positif.


"Maksudnya apa ya Dok?" Tanya Pak Bayu berusaha untuk menghalau semua kemungkinan negatif dipikirannya.


"Maaf Pak, saya tahu mungkin ini berat untuk Bapak tapi ikhlaskanlah almarhum." Jawab Dokter itu yang membuat Pak Bayu mematung ditempatnya.

__ADS_1


Keynan menatap wajah istrinya yang tampak murung.


"Apa yang kamu pikirkan sayang? Apa kamu sedih karena meninggalnya Nenek tua itu?" Pikir Keynan sambil berucap didalam hati.


Keynan menggenggam telapak tangan istrinya dengan erat sambil menatap Pak Bayu dengan iba.


Oma Laras pun dibawa ke kediaman keluarga Anggara untuk segera dimakamkan. Pak Bayu hanya bisa terdiam dengan tatapan kosongnya tanpa meneteskan setetes air mata pun dari matanya sambil mengikuti setiap upacara pemakaman Oma Laras.


Pak Raihan dan Mama Kania datang dengan terburu-buru saat mendapatkan kabar duka dari kediaman besannya.


"Jadi kalian menunda penerbangan kalian karena kalian tahu kalau Ibunya Bayu meninggal?" Tanya Pak Raihan saat sampai dikediaman keluarga Anggara.


Keynan menggelengkan kepalanya karena dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Hanya istrinyalah yang mengetahui hal itu.


"Lalu untuk apa kalian kerumah sakit A?" Tanya Pak Raihan lagi sambil menatap Keynan dan Biola bingung.


"Ak... ....."


"Untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Ibunya Ayah." Jawab Biola menyela ucapan suaminya.


Ucapan Biola membuat Keynan, Pak Raihan dan Mama Kania bingung.


"Maksudnya?" Tanya Mama Kania bingung.


"Kita bicarakan soal itu nanti saja Ma. Gak enak sama tamu yang lain. Pah! Ayo kita bantu Ayah." Ajak Keynan kepada Papanya.


"Iya Pah." Jawab Mama Kania sambil mengangguk.


Acara pemakamanpun berjalan lancar. Pak Bayu yang tadinya terlihat tegar pun akhirnya menangis dihadapan kuburan Ibunya. Pak Raihan dengan setianya menemani sahabatnya.


"Sungguh malangnya nasibmu Bay, dulu kamu kehilangan seorang wanita yang sangat kamu cintai. Dan sekarang kamu kehilangan seorang Ibu yang sangat berharga dalam hidupmu. Meski dia itu adalah seorang wanita yang sangat keras kepala." Gumam Pak Raihan sambil menepuk-nepuk pundak Pak Bayu.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Keynan sambil merangkul pundak istrinya dan menatap wajah istrinya yang terlihat tenang tapi tersirat sedikit kesedihan diwajah istrinya.


"Aku baik-baik saja. Cuman hatiku sedikit terasa sakit." Ucap Biola pelan.


"Apakah ini ada kaitannya dengan Ibunya Ayah?" Tanya Keynan.


"Hidupku rumit Key. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa memiliki perasaan serumit ini yang bahkan tidak aku mengerti. Hatiku tidak pernah membenci Ibunya Ayah maupun Ayah tapi ragaku selalu bertolak belakang dengan apa yang aku rasakan." Ucap Biola jujur.


Keynan menghembuskan nafasnya dengan kasar dan memeluk istrinya dengan pelan.


"Menangislah jika kamu ingin menangis." Ucap Keynan sambil membenamkan kepala istrinya didada bidangnya.


Biola menggelengkan kepalanya didada bidang Keynan.

__ADS_1


"Perasaanku memang selalu rumit seolah-olah ada yang merebutnya tapi perasaanku padamu selalu ada dihatiku. Seolah-olah perasaan ini telah lama tumbuh." Ucap Biola.


"Perasaanku juga sama sayang. Aku selalu bergunta-ganti pacar cantik dan seorang model. Tapi nyatanya hatiku hanya terkunci kepada seorang putri kecil yang aku lamar 20 tahun yang lalu. Meski aku merasa ada hal yang aku lupakan tapi aku sudah sangat bahagia bersamamu putri kecilku." Ucap Keynan sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


"Aku mau pulang Key." Lirih Biola.


"Ayo kita pulang! Disini biar Papa dan Mama yang urus." Ucap Keynan yang diangguki oleh Biola.


•••••••


Setelah acara pemakaman berakhir Pak Bayu diantar oleh Pak Raihan dan Mama Kania kerumahnya. Pak Raihan menawarkan diri untuk menemani Pak Bayu tapi Pak Bayu menolaknya sehingga Pak Raihan hanya bisa menghormati keinginan sahabtanya.


Pak Raihan dan Mama Kania pergi meninggalkan kediaman keluarga Anggara dan meninggalkan Pak Bayu seorang diri dirumah besar keluarga Anggara.


Pak Bayu melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.


Cklek.....


Pak Bayu membuka pintu rumahnya yang tampak sepi tanpa adanya kehidupan. Semua pembantunya telah ia pecat karena Pak Bayu tidak sanggup untuk membayar gaji para pembantu itu. kecuali Bi Sumi yang lebih dulu mengajukan surat pengunduran diri karena urusannya telah selesai di keluarga Anggara.


Ditambah perusahaannya yang semakin lama semakin memburuk dan tinggal menunggu kebangkrutan.


Sebenarnya Pak Raihan sudah menawarkan bantuan kepada Pak Bayu namun Pak Bayu menolaknya. Karena selama ini Pak Bayu sudah tidak peduli lagi dengan perusahaan itu. Bahkan Pak Bayu sempat ingin membuat perusahaannya bangkrut akibat keserakahan Mama Mirna dan Mona.


"Ini semua karena Mirna. Hahaha.... semuanya karena wanita ular itu!! Ya karena dia. Kenapa kamu harus datang ke kehidupanku Mirna. Kenapa kamu harus menghancurkan keluargaku!!" Teriak Pak Bayu sambil tertawa seperti orang gila.


"Tidak ada lagi alasan untuk aku hidup didunia ini selain putriku Biola. Aku harus membalaskan dendam ini kepada wanita ular itu. Aku ingin melindungi putriku meski aku tahu ini terlambat tapi aku akan berusaha melindungi putriku dari belakang. Apapun resikonya akan aku ambil. Asalkan aku bisa balas dendam dan bisa lebih kuat lagi untuk melindungi putriku." Ucap Pak Bayu sambil menajamkan matanya dan mengepalkan telapak tangannya.


Pak Bayu merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang.


"Aku ingin bergabung dengan agotamu!" Ucap Pak Bayu to the point.


"Kamu yakin? Bukannya kamu sangat tidak suka dengan dunia hitam ini." Ucap seorang pria seumuran Pak Bayu diserbang sana.


"Aku tidak peduli aku tidak memiliki pilihan lain. Aku ingin membalas dendam dan ingin menjadi lebih kuat agar aku bisa melindungi putriku. Jawab Pak Bayu.


"Kamu tahu resikonya jika bergabung denganku." Jelas pria itu.


"Resiko apapun akan aku ambil. Aku ingin melindungi putriku. Aku khawatir kalau penjahat itu akan datang kembali dan merenggut kebahagiaan putriku. Aku harus balas dendam." Jawab Pak Bayu meyakinkan.


"Baiklah kau datanglah kemarkas besarku jika kau sudah bertekad." Jelas pria itu.


Pak Bayu mematikan teleponnya dan menajamkan matanya sambil mengepalkan tangannya.


"Aku akan melindungi Putriku apapun yang akan terjadi dan akan membalaskan dendamku kepada wanita ular itu. Aku ingin menjadi superhero untuk putriku lagi. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus semua dosaku agar putriku bisa hidup bahagia." Ucap Pak Bayu dengan mata yang menajam.

__ADS_1


__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian guya 😘


__ADS_2