
Pak Bayu akhirnya pergi keruangan Darius dengan diantarkan oleh anak buah Darius.
"Tuan Darius sudah menunggu didalam. Silahakn Tuan untuk menemuinya." Ucap anak buah Darius sambil membungkukan badanya dan membukakan pintu untuk Pak Bayu.
Pak Bayu langsung masuk kedalam ruangan Darius. Anak buah Darius pun langsung menutup pintu ruangan Darius saat Pak Bayu masuk kedalam ruangan Darius.
BRUGG.....
Tanpa aba-aba Darius langsung menghantam pipi Pak Bayu dengan tinjuannya saat Pak Bayu baru masuk kedalam ruangannya.
BRUGG.....
"Darius! Ada apa dengan mu! kenapa kau meng... ..." Ucapan Pak Bayu tidak dihiraukan oleh Darius, dia terus memukuli Pak Bayu tanpa ampun.
Darius terus menghantam Pak Bayu untuk melampiaskan semua kekecewaan dan amarhnya kepada Pak Bayu.
BRUGG....
"Tunggu ada apa ini Darius!!" Bentak Pak Bayu yang berusaha menghindari serangan Darius kepadanya.
"INI UNTUK KAKAKKU YANG TELAH KAU REBUT DAN KAU BIARKAN DIA PERGI KEALAM SANA....!!!"
BRUGG.....
Pak Bayu tersungkur kelantai saat mendapatkan tinjuan yang lebih kuat dari tinjuan Darius yang sebelumnya. Pak Bayu memegangi wajahnya yang babak belur karena ditinju oleh Darius.
"Kakak? Aku tidak pernah bertemu dengan Kakaknya Darius, apa lagi berurusan dengannya. Dan bukannya Kakanya Darius itu sudah meninggal? Kapan aku bertemu dengannya dan berurusan dengannya?" Pikir Pak Bayu sambil memegangi wajahnya yang lebam.
Pak Bayu yang lengah pun langsung tak menyadari kalau Darius mulai mendekatinya. Darius langsung menarik kerah kemeja yang digunakan oleh Pak Bayu.
BRUGG....
Dengan sekuat tenaga Darius menghantam pipi Pak Bayu dengan sangat kuat sampai-sampai topeng yang digunakan Pak Bayu terlepas dari wajahnya dan Pak Bayu pun tersungkur kelantai dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"INI UNTUK KEPONAKAN KU YANG TELAH KAMU SIA-SIAKAN KEBERADAANNYA DAN KAU BIARKAN DIA MENDERITA TANPA SEORANGPUN YANG MEMBANTUNYA UNTUK BERTAHAN HIDUP DIKELUARGAMU YANG BAGAIKAN NERAKA BAGINYA....!!!!" Bentak Darius yang membuat Pak Bayu terdiam.
Pak Bayu berusaha mencerna ucapan Darius yang bagaikan sebuah panah yang menusuk tubuhnya dengan bertubi-tubi.
"Apa yang kau maksud Darius? Kapan aku bertemu dengan Kakakmu dan keponakanmu?" Tanya Pak Bayu yang tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Darius.
"Ahhh...!!! Sial!" Teriak Darius sambil duduk dikursinya dengan termenung.
"Aku tidak akan memaafkanmu Bayu. Kau telah membuat Kakakku pergi meninggalkanku. Kau juga telah membuat keponakanku hidup menderita." Gumam Darius yang masih terdengar ketelinga Pak Bayu.
"Ada apa ini Darius! Kenapa kau menghajarku dan menuduhku tanpa bukti!" Bentak Pak Bayu sambil berdiri dengan sempoyongan dan memegangi pipinya yang lebam.
"Kau minta bukti?!! Bukannya semuanya sudah jelas. Jika kau masih ingin bukti maka ambilah ini dan bacalah semuanya dengan teliti!" Bentak Darius sambil melemparkan berkas-berkas tentang Biola kewajah Pak Bayu.
Pak Bayu menahan emosinya karena diperlakukan semena-mena oleh Darius. Pak Bayu memungut selembar berkas yang dilemparkan oleh Darius kearah wajahnya. Pak Bayu membelalakan matanya pada saat ia memungut selembar berkas yang didalamnya terdapat foto almarhumah istrinya.
Dengan cepat Pak Bayu memungut semua berkas yang berserakan dilantai dan membacanya secara terburu-buru.
"Untuk apa kau mencari tahu tentang seluruh anggota keluargaku! Dan untuk apa kau sampai mencari tahu kehidupan pribadi putriku sampai semendetail seperti ini!!" Bentak Pak Bayu setelah membaca semua isi didalam berkas yang dilemparkan Darius kewajahnya.
"Apa kau bodoh!? Apa kau tidak mengerti dengan apa yang aku katakan tadi? Ingat nama lengkap istrimu ini dengan baik-baik Bayu! Nama lengkap istrimu adalah Viola Alexa. Anggota keluarga Alexa. Anak pertama keluarga Alexa, sekaligus pewaris dari perusahan Alexa!!" Jelas Darius sambil menekankan setiap kata yang ia lontarkan kepada Pak Bayu.
Pak Bayu hanya bisa terdiam ditempat saat mengetahui marga dari keluarga istrinya yang selama ini selalu istrinya itu sembunyikan.
"Ja...jadi yang dimaksud Viola sebelum meninggal itu adalah keluarga Alexa yang sama dengang keluarga Alexa Darius?" Ucap Pak Bayu didalam hati dengan tak percayanya.
"Sesuai permintaan dari Papa, aku akan memberikan kamu kesempatan untuk menebus dosamu. Habisi kedua manusia yang tidak berguna itu dengan rasa sakit 1000 kali lipat dari apa yang dirasakan Kakakku dan keponakanku dimasa lalu!" Ucap Darius dengan nada dingin dan keluar dari ruangannya dengan membanting pintu ruangannya.
BRAK....
Dengan emosinya Darius berjalan dengan cepat.
"Kalau bukan karena ingin melihat kesungguhanmu untuk menebus dosamu kepada Kakaku dan keponakanku, aku pasti sudah mencincang kedua manusia rendahan itu!" Umpat Darius didalam hati.
Sementara Pak Bayu masih terdiam diruangan Darius. Ia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Darius kepadanya.
"A...apa aku tidak bisa bertemu dengan putriku lagi? Apa keluarga Alexa akan mengambil Biola seperti apa yang diucapakan Viola sebelum dia meninggal? Kenapa semuanya jadi seperti ini. Aku ingin menebus semua kesalahanku dimasa lalu. Tapi kenapa keadaannya malah menjadi seperti ini." Ucap Pak Bayu sambil terduduk lemas dilantai dengan berurai air mata.
Namun beberapa detik kemudian Pak Bayu mengusap air matanya dan berdiri dari duduknya dengan mata yang menajam.
"Aku tidak boleh lemah. Aku harus melindungi Biola. Dia satu-satunya alasan aku untuk tetap berada didunia ini. Aku akan membalas semua perbuatan mereka dimasa lalu. Aku akan membuat mereka merasakan sakitnya hidup didunia tapi bagaikan dineraka. Sama seperti apa yang mereka lakukan kepada Biola dimasa lalu." Ucap Pak Bayu dengan dipenuhi perasaan dendam dihatinya.
__ADS_1
Pak Bayu memungut kembali topengnya dan memakaikannya kembali kewajahnya untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia keluar dari dalam ruangan Darius dan berjalan kearah ruangan tempat Mama Mirna dikurung.
"Ambilkan aku botol racun yang dapat membuat orang yang meminumnya menderita kesakitan yang luar bisa sampai dia memilih mati dari pada hidup!" Perintah Pak Bayu kepada penjaga diruangan Mama Mirna.
Penjaga itu tampak kaget saat melihat wajah lebam-lebam disekitar pipi dan sudut bibir dari wakil ketuanya tapi dengan cepat dia mengalihkan pandangannya karena melihat ekspresi menyeramkan Pak Bayu.
"Baik Tuan!" Jawab Penjaga itu sambil pergi mengambil racun yang diminta Pak Bayu.
Pak Bayu masuk kedalam ruangan Mama Mirna. Didalam ruangan Mama Mirna, Mama Mirna tampak sedang memeluk tubuhnya sendiri sambil berbaring dilantai karena merasakan rasa sakit dan dingin akibat cambukan dan guyuran air dingin setiap harinya.
Ditambah efek samping dari racun mematikan yang menguras usianya setiap hari dengan rasa sakit yang tak hilang-hilang dari dalam tubuhnya.
Pak Bayu duduk dikursinya yang hanya disediakan untuk Pak Bayu diruangan Mama Mirna untuk menonton penyiksaan yang dilakukan anak buah Pak Bayu kepada Mama Mirna.
Mama Mirna yang merasakan ada seseorang yang masuk kedalam ruangannyapun dengan perlahan menggerakan kepalanya untuk melihat orang yang masuk kedalam ruangannya.
Mama Mirna tertawa dengan lemahnya saat melihat wajah Pak Bayu yang lebam-lebam.
"Hahaha..... mati kau Bayu! Kenapa kau tidak mati dengan luka separah itu. Kau bukan manusia! Kau sangat kejam!" Teriak Mama Mirna sambil tertawa senang saat melihat luka lebam diwajah Pak Bayu.
Pak Bayu yang emosi dengan ucapan Mama Mirna pun mulai melepas sabuknya dan mengarahkan sabuknya kearah tubuh Mama Mirna untuk mencambuk Mama Mirna.
"Diam kau wanita ular!"
PLAKK....
ARGHHH.....!!!
Untuk yang pertama kalinya Pak Bayu menyiksa Mama Mirna karena terbawa emosi.
Anak buah Pak Bayu yang Pak Bayu suruh untuk mengambilkan racunpun dibuat terkejut pada saat ia melihat Pak Bayu mencambuk Mama Mirna dengan sabuknya sendiri. Karena selama ini Pak Bayu tidak pernah berurusan dengan hal-hal yang berbau darah. Dia akan mengutus seseorang atau anak buahnya untuk menghukum ataupun membunuh seseorang.
Pak Bayu yang menyadari ke datangan anak buahnya pun langsung menatap kearah anak buahnya dengan tatapan mematikan. Dimana tatapan itu tidak pernah terlihat dimata Pak Bayu yang ada dimasa lalu. Dimana Pak Bayu yang dulu itu sering tersenyum hangat dan dipenuhi rasa kasih sayang juga seorang penyayang keluarga.
"Ma...maaf Tuan, saya tidak bermaksud untuk mengganggu Tuan. Saya hanya ingin mengantarkan racun yang Tuan minta." Ucap anak buah Pak Bayu dengan gugup dan tidak berani menatap mata Pak Bayu.
Pak Bayu mengambil racun itu dari tangan anak buahnya. Ia membuka tutup botol racun itu.
"Buka mulutnya!" Perintak Pak Bayu kepada anak buahnya.
"Gak! aku gak mau minum racun lagi! Kamu telah memberikan aku racun yang memperpendek usiaku menjadi satu minggu. Ditambah racun itu setiap harinya selalu menyiksa tubuhku. Aku tidak mau minum racun lagi. Lebih baik kau bunuh aku dari pada aku harus minum racun penyiksaan ini lagi!" Teriak Mama Mirna dengan lantangnya.
"Membunuhmu kau bilang? Itu gak akan pernah terjadi! Aku akan membuatmu menderita 1000 kali lipat dari apa yang telah kau lakukan kepada anak dan istriku disisa usiamu yang masih 5 hari lagi ini. Aku akan membuatmu hidup dineraka sebelum kamu masuk neraka!" Ucap Pak Bayu dengan nada dinginnya yang membuat Tubuh Mama Mirna bergetar ketakutan begitu juga dengan anak buah Pak Bayu yang merasakan aura mematikan dari atasannya.
"Cepat buka mulutnya!" Perintah Pak Bayu kepada anak buahnya.
Dengan cepat anak buah Pak Bayu membuka mulut Mama Mirna. Mama Mirna terus melawan namun apalah daya. Mama Mirna yang sekarang sangatlah lemah dan tidak memiliki cukup banyak tenaga untuk melawan.
Setelah meminumkan racun itu kepada Mama Mirna, Pak Bayu langsung menyunggingkan senyuman devilnya.
"Cambuk dia 50 kali lagi untuk hari ini. Jangan biarkan dia pingsan. Guyur dia dengan air es saat dia pingsan. Dan cambuk lagi saat dia sadarkan diri. Dia harus merasakan apa yang telah dirasakan Putriku selama ini. Putriku bahkan menderita selama satu tahun lamanya demi melawan rasa sakitnya saat dia koma. Ditambah rencana jahatnya yang mengincar nyawa Putriku. Sungguh hukuman ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami Putriku dan juga Viola dimasa lalu." Perintah Pak Bayu dengan wajah sedihnya saat mengingat penderitaan istri dan anaknya.
"Baik Tuan!" Jawab anak buah Pak Bayu sambil mengambil cambuknya.
Pak Bayu pun duduk dikursinya lagi untuk menyaksikan penderitaan Mama Mirna. Pak Bayu sengaja melihat Mama Mirna saat dicambuk, bukan untuk kepuasannya sendiri. Tapi untuk mengingatkan Pak Bayu kalau rasa sakit yang diderita Mama Mirna saa ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami istri dan anaknya dimasa lalu.
•••••••••
"Sayang dasi aku yang warna silver kamu taruh dimana?" Teriak Keynan sambil mengobrak-abrik laci tempat penyimpanan dasi miliknya diruang ganti.
"Kamu cari aja didalam laci Key!" Teriak Biola dari dalam kamar mandi.
"Udah tapi gak ada. Kalau gak percaya kamu bisa cari sendiri!" Teriak Keynan masih mencari dasinya.
"Aku lagi mandi Keynan!" Teriak Biola yang membuat Keynan menyunggingkan senyumannya.
"Mau aku temenin gak? Aku bisa mandi lagi kalau kamu mau!!" Goda Keynan yang membuat dahi Biola mengerut.
"Gak! Kamu masih dalam masa hukuman!" Teriak Biola.
"Hukumanya kelamaan sayang. Adiku bisa jamuran ini!" Teriak Keynan yang membuat pipi Biola merona.
"Diam kamu Keynan!" Teriak Biola dari dalam kamar mandi.
"Aku beneran sayang. Adiku udah mau jamuran karena kamu anggurin." Balas Keynan yang membuat waja Biola memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Biola tidak menjawab godaan dari suaminya dan memilih untuk diam.
"Kok diam? Kalau diam berarti itu tandanya aku boleh manjain adiku biar adikku gak jamuran!" Ucap Keynan yang mengambil keputusan sepihak.
"Diam kamu Keynan! Pagi-pagi udah teriak-teriak ngomongin jamur. Gak malu kamu sama para pelayan dirumah ini yang mendengar teriakanmu yang menggoda istrimu. Kalau kamu begitu ingin jamur, nanti Mama siapin menu sarapan jamur enoki untukmu. Ngidam kok aneh-aneh." Teriak Mama Kania dari balik pintu kamar Keynan dan Biola saat dia melewati kamar anaknya dan tak sengaja mendengar anaknya dan menantunya itu sedang teriak-teriakan dipagi hari memperebutkan jamur.
Mama Kania yang risih mendengar teriakan anaknya yang menggoda istrinya dengan jamur pun akhirnya membalas teriakan putranya yang tidak dijawab oleh Biola.
"Enoki? Tunggu kenapa yang bales malah Mama bukan Biola?" Pikir Keynan lalu tak berapa lama Keynan menepuk jidatnya saat mengingat kalau dia belum mengaktifkan peredam suara dikamarnya.
"Sial! gue lupa, malu banget gue." Ucap Keynan dengan pipi yang merona.
Sementara Biola terdiam ditempatnya sambil diguyur shower. Wajahnya sudah sangat merah seperti tomat yang sudah matang sempurna saat tahu kalau Mama Kania juga memdengarkan teriakan-teriakannya dan suaminya dipagi hari.
Dengan cepat Biola mengambil handuknya dan menyelesaikan mandinya. Karena dia takut suminya itu akan berbuat ulah memalukan lainnya lagi.
"Dasar Keynan Bodoh!" Umpat Biola dengan wajah meronanya dan memakai pakaiannya dengan terburu-buru.
"Key! menu sarapan kamu hari ini adalah jamur enoki. Sesuai keinginanmu pagi ini." Teriak Mama Kania lagi yang membuat Keynan tersadar.
"Ah sial! Gue bukan mau makan jamur enoki. Gue hanya mau makan bini gue." Keluh Keynan sambil menendang laci bagian bawah dengan sangat kuatnya diruang gantinya sehingga membuat laci bagian atas yang dibuka oleh Keynan sampai laci itu menempel pun akhirnya terjatuh dan menimpa kakinya yang sebelah kanan.
"Aaawwww..... sial banget si gue!" Keluh Keynan sambil menendang laci penyimpanan dasi yang menimpa kaki sebelah kananya dengan kaki sebelah kirinya.
Tuing....
Tiba-tiba suatu benda bulat keluar dari dalam laci penyimpanan dasi yang ditendang oleh Keynan. Benda bulat itu menggelinding dihadapan Keynan dengan melepabarkan tubuhnya yang tadinya digulung.
Keynan menatap benda bulat itu dengan kesalnya. Benda itu tak lain adalah dasi berwarna silver yang sedari tadi Keynan cari-cari sampai teriak-teriak.
"Bener-bener lo ya! Gue hajar lo!" Kesal Keynan sambil menarik-narik dasinya.
Biola yang sudah selesai mandi dan berpakaian dengan rapihnya pun tak sengaja melihat tingkah konyol suaminya. Biola menatap suaminya dengan tatapan datarnya sambil menyandarkan punggungnya diambang pintu.
Biola menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah konyol Keynan yang mengajak dasi berwarna silver miliknya untuk kerkelahi.
"Sayang kalau kamu sudah lahir dan besar nantinya jangan contoh Daddy kamu ya!" Sindir Biola sambil mengelus perut ratanya yang membuat Keynan menghentikan tingkah konyolnya yang mengajak dasinya untuk berkelahi.
"Eh sayang, kamu sejak kapan ada disana?" Tanya Keynan cengengesan.
"Sejak kamu nendang laci dan ngajak dasi silver milikmu untuk berkelahi." Jawab Biola dengan entengnya yang membuat Keynan malu.
Biola melangkahkan kakinya kearah suaminya dan berdiri dihadapan Keynan. Biola mengambil dasi yang ada ditangan Keynan lalu memasangkannya ke kemeja Keynan.
"Dasi itu untuk dipakai bukan untuk diajak berkelahi Key." Saut Biola sambil merapikan dasi yang ia kenakan dikemeja suminya.
"Iya aku lupa cara pakainya karena aku sudah terbiasa dipakein dasi sama istri tercintaku." Balas Keynan sambil mengangkat dagu istrinya.
Merekapun saling bertatapan dengan begitu dalam. Keynan menatap setiap inci diwajah cantik istrinya begitu juga dengan Biola yang tampak sangat menikmati wajah tampan suaminya.
"Cium boleh?" Pinta Keynan yang diangguki oleh Biola.
Dengan semangat penuh Keynan langsung menarik dagu istrinya dan mencium bibir merah muda istrinya dengan rakus. Ia bahkan tidak membiarkan Biola untuk melepaskan ciuman panasnya.
"Udah Key, kita udah ditungin Mama sama Papa intuk sarapan." Ucap Biola disela-sela ciumannya.
Keynan tidak mendengarkan ucapan istrinya. Ia masih sangat menikmati bibir merah muda milik istrinya dan memperdalam ciumannya. Mereka sudah berciuman cukup lama dan Biola tidak bisa menghentikan aksi nakal suaminya.
Tangan Keynan mulai bermain-main nakal dan menyentuh bagian-bagian yang seharunya tidak boleh disentuh.
Keynan mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjang istrinya namun tiba-tiba suara teriakan seseorang dari balik pintu menghentikan aksi Keynan. Biola pun mengambil kesempatan itu untuk mendotong tubuh suaminya.
"Key, jamur enoki kamu sudah matang! Katanya mau makan jamur enoki tapi kenapa masih betah didalam kamar?" Tanya Mama Kania sambil berteriak diluar kamar putranya dengan suara khasnya yang melengking dan cempreng.
Dengan Kesalnya Keynan membuka pintu kamarnya dan mendapati Mama tercintanya tengah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Mama gak punya kerjaan lain selain mengganggu anak dan menantu Mama?" Tanya Keynan dengan penuh kekesalan.
Karena setelah hukuman itu membuat Keynan tidak bisa menyentuh istrinya sesuka hatinya lagi seperti dulu.
"Lah! Kerjaan Mama kan Ibu rumah tangga yang tiap hari kerjaannya ngurusin keluarga. Jadi wajar-wajar saja kalau manggil anak dan mantu sarapan." Jawab Mama Kania dengan santainya dan membuat Keynan bungkam.
Setelah menyelesaikan ucapannya, Mama Kania pergi keruang makan dengan wajah tanpa dosanya.
Didalam kamar Biola tampak menertawai suaminya yang tidak bisa menjawab perkataan Mama Kania.
__ADS_1