
Saat ini Keynan dan Biola sudah sampai dikediaman keluarga Anggara untuk menjenguk Pak Bayu.
Ting tong.......
Suara bel dipencet oleh Keynan lalu muncullah seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu untuk Keynan dan Biola.
Wanita paruh baya itu terdiam saat melihat Biola dan Keynan yang tampak serasi. Wanita paruh baya itu tampak berkaca-kaca tapi sebisa mungkin ia tahan agar air matanya tidak terjatuh.
"Nona Biola tampak cantik dan tampak terurus dengan baik. Syukurlah Nona Biola mendapatkan keluarga yang menyayanginya dan dapat mengurusnya dengan baik dari keluarga ini. Pakainnya juga tampak indah dan cantik. Berbeda sekali saat dia tinggal dikeluarga ini. Dimana dia bahkan tidak mendapatkan pakaian yang bagus dan indah seperti saat ini. Pak Bayu selalu membelikan pakain yang indah untuk Nona Biola namun Nona Mona dan Nyonya Mirna selalu saja merusak pakain itu. Sehingga Nona Biola selalu memakai pakain sederhana dan tidak mencolok karena tidak ingin berdebat dengan kedua wanita gila harta itu." Gumam wanita paruh baya itu yang tak lain adalah pengasuh Biola dan Mona dulu.
Tapi dia lebih sering mengasuh Mona dari pada Biola dan hanya mengasuh Biola untuk beberapa kali saat Biola kecil karena Pak Bayu selalu mengajak putri sulungnya itu kemanapun ia pergi kecuali pada saat Pak Bayu tidak bisa mengajak Biola saat perjalanan bisnisnya keluar negri sehinga dia harus menyerahkan Biola kepada pengasuh Biola dan Mona. Itu pun dilakukan Pak Bayu sebelum Oma Laras mengancam Pak Bayu dan mulai menghidari Biola.
Biola dan Keynan hanya bisa menatap wanita paruh baya itu heran. Karena sedari tadi dia menatap Biola dengan mata layaknya seorang ibu yang senang melihat putrinya pulang.
"Ehemm..." Deheman Keynan mengagetan wanita paruh baya itu karena sedari tadi wanita paruh baya itu hanya menatap Biola dengan mata yang berkaca-kaca tanpa menghiraukan kedatangan Biola dan Keynan.
Wanita paruh baya itu tersadar dari lamunannya dan mempersilahkan Biola dan Keynan masuk.
"Eh.. maaf Nona Biola dan Tuan Keynan tadi Bibi ngelamun, silahkan masuk." Ucap Bi Sumi kaget sambil mempersilahkan Keynan dan Biola masuk.
"Hmmm.... Ayah dimana?" Tanya Biola dingin.
"Tuan dikamarnya Nona." Jawab Bi Sumi sambil menunduk untuk menyembunyikan air matanya agar tidak terlihat karena air matanya sudah menetes.
Sungguh Bi Sumi tak sanggup melihat perubahan sikap Biola yang dingin kepadanya.
"Apakah ini balasan untuk dosaku kepada Nona Biola. Maafkan Bibi Nona, jika saja pada saat itu Bibi punya keberanian untuk melawan Nyonya Mirna dan menyelamatkan Nona Biola pada waktu itu mungkin pada saat ini Nona Biola masih memjadi gadis periang dan menggemaskan bukannya dingin dan cuek seperti ini. Tapi nyatanya Bibi hanyalah seorang pengecut yang takut akan kuasa seseorang yang akan mengancam keluarga Bibi." Gumam Bi Sumi sendu sambil menatap punghung Biola dan Keynan.
Flashback On
Bi Sumi diajak keacara pesta dikapal pesiar 15 tahun yang lalu untuk menjaga Biola dan Mona karena pada saat itu Pak Bayu pasti akan sibuk dengan rekan kerjanya untuk membicarakan soal bisnis. ditambah dia pada saat itu sedang berusaha membuat jarak diantanya dan putri sulungnya karena ancaman Oma Laras. Begitu juga dengan Mama Mirna yang sibuk memamerkan kekayaannya kepada teman-teman satu sosialitanya.
Bi Sumi terus memperhatikan kedua gadis kecil itu dengan seksama. Bi Sumi sangat kagum kepada Biola yang mampu mencuri banyak perhatian orang-orang kepadanya.
Pandangan semua orang-orang menatap kearah Biola yang sangat menggemas.
Bi Sumi hanya bisa menatap Biola sambil tersenyum dari kejauhan sementara Mona sedang asik merajuk kepada Mama Mirna karena orang-orang lebih memperhatikan Biola dari pada dirinya.
Hingga ada seorang wanita dewasa yang memberikan Biola sebuah liontin yang sangat indah.
__ADS_1
Mona tambah geram saat melihat Biola diberi sebuah liontin yang sangat indah. Begitu juga Mama Mirna yang sama geramnya dengan anaknya karena Biola telah merebut perhatian yang menurut dia seharusnya menjadi milik Mona anaknya.
"Ma! Aku mau kalung itu." Rajuk Mona sambil menarik-narik baju Mamanya dan menunjuk kearah Biola.
"Sebaiknya aku manfaatkan kesempatan ini untuk membunuh Biola. Dan orang-orang akan berfikir jika kematian Biola adalah sebuah kecelakaan karena mereka gak akan pernah menyalahkan anak kecil sebagai pembunuh. Mereka akan berfikir jika Mona dan Biola hanya anak kecil yang sedang bermain-main ditempat itu tanpa sepengetahuan orang tuanya." Gumam Mama Mirna sambil tersenyum licik.
"Baiklah sayang, jika kamu mau kalung liontin yang dipakai Biola maka kamu harus mengikuti apa yang akan Mama ucapkan." Kata Mama Mirna kepada putrinya.
"Mona akan mendengarkan semua ucapan Mama. Asalkan Mona mendapatkan kalung yang Biola pakai." Ucap Mona dengan polosnya.
"Bagus sayang, itu baru putri Mama. Sekarang kamu ajak Biola kebelakang kapal dan rebut kalung itu dari Biola lalu dorong Biola kelaut. Agar dia tidak bisa mengambil kalung itu lagi." Hasut Mama Mirna kepada putrinya.
"Ta_tapi Ma, gimana kalau Biola terluka?" Tanya Mona takut.
"Dasar bodoh! Dibawahkan air mana mungkin Biola terluka. Kamu hanya perlu mendorong Biola kebawah laut agar Biola tidak mengambil kalungnya lagi." Mama Mirna terus membodohi putrinya yang masih polos itu untuk membunuh Biola.
"Benarkah Ma?" Tanya Mona dengan wajah polosnya.
"Tentu saja tidak akan terjadi apa-apa. Biola hanya akan basah kuyup saja. Lagian itu hukuman untuknya karena telah merebut perhatian yang seharusnya menjadi putriku." Jelas Mama Mirna yang masih membodohi putrinya sambil mengelus pucuk kepala putrinya.
"Mama benar! Mona kesel sama Biola. Biola harus Mona beri pelajaran agar Biola tidak merebut perhatian orang-orang dari Mona lagi. Mona akan rebut kalung cantik itu dan Mona akan dorong Biola kebawah laut biar basah kuyup." Ucap Mona yang sudah terhasut oleh Mamanya.
"Bagus, dibelakang kapal adalah tempat yang tidak terdapat CCTV jadi tidak akan ada yang tahu Mona mendorong Biola. Dan mereka akan mengagap kematian Biola karena kecilakaan. Monaku tidak akan disalahkan karena mereka akan beranggapan kalau kedua gadis kecil itu sedang bermain." Ucap Mama Mirna sambil menyeringai.
"Apapun yang Mama katakan Mona pasti akan menurutinya." Balas Mona lalu pergi kearah Biola dan menarik tangan Biola paksa kearah luar kapal.
PRANG.......
Piring yang Bi Sumi pegang tidak sengaja terjatuh saking terkejutnya dengan apa yang dia dengar dari Ibu dan anak itu. Tapi untungnya tak ada satu orang pun yang mendengarnya karena mereka jauh dari para tamu-tamu yang lain.
Bi Sumi pada awalnya ingin menghampiri Mona karena ingin memberikan kue-kue yang Mona inginkan namun dia tak sengaja mendengar rencana jahat Mama Mirna untuk membunuh Biola lewat anaknya yang masih polos dan hanya berusia 4 tahun.
Saking kagetnya Bi Sumi menjatuhkan piring yang berisi kue-kue kesukaan Mona tersebut dan mengagetkan Mama Mirna yang sedang tersenyum licik.
"Kamu...!!!" Ucap Mama Mirna kaget terus menyeret Bi Sumi ke tempat yang sepi.
BUKKK.....
"Ngapain kamu disini!!! Apa kamu mendengar apa yang aku katakan kepada Mona!!??" Bentak Mama Mirna kepada Bi Sumi dan menghempaskan Bi Sumi ketembok.
__ADS_1
"Nyonya tolong jangan kau bunuh Nona Biola, dia hanyalah gadis kecil yang tidak tau apa-apa. Kenapa Nyonya ingin membunuhnya. Hentikanlah tindakan kriminal Nyonya. Tuan akan sangat marah jika dia tahu kalau Nyonya mencoba membunuh putri sulungnya." Ucap Bi Sumi dengan nada tinggi sambil menahan rasa sakitnya akibat terbentur tembok.
"Oh berani kamu melawan saya hah!!" Bentak Mama Mirna kepada Bi Sumi.
"Biola anak baik dan ceria. Meski saya harus matipun saya pasti akan melindungi Nona Biola. Saya juga akan memberitahu kejahatan Nyonya kepada Tuan." Teriak Bi Sumi sambil terisak.
"Coba saja kalau kamu tidak ingin saya hancurkan keluargamu dan membunuh seluruh keluarga kecilmu yang ada dikampung halamanmu!! Ancaman saya tidak main-main dan jika kamu melawan maka kematianlah yang akan diterima keluargamu. Jadi diamlah dan jangan beri tahu siapa-siapa tentang apa yang kamu dengar. Jika tidak maka orang ini akan membunuh seluruh keluargamu." Ancam Mama Mirna dengan mata tajamnya menatap Bi Sumi. Sambil mencengram rahang Bi Sumi Kuat dan memperlihatkan kontak handphone yang terdapat poto seorang buronan yang sedang dicari-cari polisi karena tindakan psikopatnya yang sangat sadis
Tubuh Bi Sumi tiba-tiba bergetar saat melihat wajah buronan pesikopat itu.
"Apa hubungan Nyonya dengan Psikopat itu? Ya Allah apa yang harus aku lakukan. Nona Biola adalah gadis baik dan polos tapi disisi lain keluargaku akan lenyap. Maafkan Bibi Nona Biola. Bibi harus memilih keluarga Bibi. Lindungilah Biola ya Allah." do'a Bi Sumi didalam hati sambil terisak.
Bi Sumi pun hanya terdiam sambil menunduk.
"Jawab apa pilihanmu!!! Apa kamu akan memberitahukan masalah ini kepada Bayu atau keluargamu akan musnah." Bentak Mama Mirna sambil menghempaskan cengkaraman tangannya dari rahang Bi Sumi dengan kuat. Hingga membuat Bi Sumi tersungkur kelantai.
"Sa_sa_saya a_akan merahasiakannya." Ucap Bi Sumi ragu sambil terisak dilantai.
"Bagus, setidaknya kau tau posisimu." Ucap Mama Mirna sambil menyeringai dan menatap Bi Sumi sinis.
Beberapa saat kemudian terdengar teriakan dari arah belakang kapal dimana Biola dan Mona berada.
Ternyata ada salah satu tamu yang melihat Biola dan Mona terjatuh dan masih berpegangan pada pagar sisi kapal. Tapi tidak mengetahui kenapa mereka bisa terjatuh karena dia hanya melihat sekilas.
Pak Bayu yang pada saat itu sedang mencari kedua putrinya pun dikagetkan dengan teriakan seseorang dibelakang kapal. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia pun berlari ke arah belakang kapal dengan terengah-engah.
Pak Bayu dikagetkan saat melihat kedua putrinya sedang bergelantungan dan hampir terjatuh kelaut.
Pak Bayu dengan cepat berlari kearah kedua putrinya untuk menyelamatkan kedua putrinya.
Dia berencana menyelamatkan putri sulungnya terlebih dahulu namun karena teriakan Mama Mirna yang tidak menyangka kalau anaknya juga akan terjatuh pun berteriak kepada Pak Bayu agar menyelamatkan Mona.
Tanpa pikir panjang Pak Bayu menuruti permintaan Mama Mirna dan menyelamatkan Mona terlebih dahulu. Sementara Biola yang pada waktu itu sudah keritis pun terjatuh kelaut karena pergelangan tangannya terluka cukup dalam dan urat nadinya sedikit lagi akan putus.
Sejak saat itulah Bi Sumi merasa bersalah kepada Biola dan dia juga tidak bisa meninggalkan kediaman keluarga Anggara karena Mama Mirna takut kalau Bi Sumi akan menyebarkan tentang kejahatannya.
Sekarang Bi Sumi dipenuhi oleh penyesalan kepada Biola. Dia ingin pergi karena malu dan kesal kepada dirinya sendiri setiap kali melihat sifat Biola yang tiap hari berubah semakin dingin dan cuek.
"Mungkin ini hukumanku, aku harus dipenjara di rumah neraka ini dan harus mengingat semua dosaku kepada Nona Biola setiap kali melihat perubahan sifat dari Nona Biola. Inilah siksaanku atas dosaku. Maafkan Bibi Nona Biola." Batin Bi Sumi.
__ADS_1
Flashback Off
___________________________