Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es

Dijodohkan Dengan Gadis Patung Es
Episode 71


__ADS_3

"Bagai mana kondisi Ibu saya Dokter?" Tanya Pak Bayu kepada Dokter yang baru keluar dari kamar pasien Oma Laras setelah memeriksa Oma Laras.


Pak Bayu sangat panik setelah mendapat kabar dari rumah sakit tentang kondisi Ibunya yang tiba-tiba memburuk saat Pak Bayu sedang mengurusi perusahaannya yang hampir bangkrut.


"Kondisi pasien semakin hari semakin memburuk. Harapan pasien untuk hidup sangatlah kecil. Pasien terus menerus menyebutkan nama cucunya Biola. Ada baiknya Bapak segera mempertemukan pasien dengan cucu pasien. Setidaknya untuk menambah semangat hidup pasien. Semoga saja dengan bertemunya pasien dengan cucunya maka kondisi pasien akan lebih membaik." Jawab Dokter yang memeriksa Oma Laras.


Pak Bayu sangat kaget mendengar penuturan dari Dokter tentang Ibunya. Tapi Pak Bayu juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Pak Bayu hanya bisa menundukan kepalanya karena bingung harus berbuat apa. Dia sudah sangat sering mendengarkan penuturan Dokter untuk mempertemukan Oma Laras dengan Biola tapi Pak Bayu tidak bisa melakukan itu.


Tiba-tiba Pak Bayu teringat sesuatu. Dia melupakan kalau hari ini adalah hari terakhir anaknya berada di Indonesia.


Pak Bayu terduduk lemas dilantai dengan berurai air mata.


Dokter yang melihatnyapun merasa bingung sendiri dan berusaha membantu Pak Bayu untuk berdiri.


"Bapak kenapa? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter itu panik sambil membantu Pak Bayu berdiri.


"Tidak Dokter, saya tidak apa-apa. Dokter boleh pergi." Jawab Pak Bayu masih terduduk dilantai sambil mengusap air matanya.


Dokter itu pun dengan berat hati meninggalkan Pak Bayu.


"Apa ini adalah hukumanku karena aku telah mengabaikan anak kandungku selama ini? Apa kamu menyesal karena telah menikah denganku sayang? Aku sangat mencintaimu melebihi nyawaku sendiri Viola. Tapi aku tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." Gumam Pak Bayu sambil terduduk lemas dilantai.


"Andai saja waktu bisa diputar kembali. Aku pasti akan memperjuangkan anak kita sama seperti aku memperjuangkanmu dimasa lalu. Bodohnya aku karena telah termakan ancaman Ibu. Andai saja aku sekeras kepala seperti dulu saat aku memperjuangkanmu mungkin saat ini Biola masih menganggapku sebagai seorang Ayah. Aku telah banyak menyakiti anak kita dengan mengabaikannya. Aku bahkan tidak tahu apa yang Mirna rencanakan untuk membunuh anak kita." Ucap Pak Bayu didalam hati meratapi nasibnya dan mengepalkan tangannya menahan emosi.


"MIRNA!!! aku pasti akan membalaskan dendam ini kepadamu. Aku tidak peduli jika aku harus membunuhmu. Penderitaan yang telah kau berikan kepada Putriku akan aku balas berkali-kali lipat!" Teriak Pak Bayu dengan mata yang membulat dan tangan yang mengepal karena emosi.


Pak Bayu berdiri dari duduknya dan membuka kamar pasien Oma Laras. Pak Bayu menatap Ibunya yang masih terbaring dengan mulut yang terus menyebutkan nama Biola.


"Apa yang harus aku lakukan Tuhan. Berikanlah kemudahan untukku agar aku bisa menemukan jalan untuk menyembuhkan Ibuku." Do'a Pak Bayu didalam hati sambil menatap Ibunya dengan raut wajah yang sedih.


•••••••


"Key bisakah kita menunda penerbangannya?" Pinta Biola tiba-tiba saat mereka akan memasuki pesawat.


"Apa ini karena Mama? Kamu jangan khawatir sayang, Mama orangnya memang begitu. Dulu waktu aku kuliah di Amerika Mama juga sering membuat drama seperti ini. Tapi lambat laun ia juga tidak akan memikirkannya lagi." Jawab Keynan sambil menatap istrinya bingung.


"Bukan soal Mama Key!" Jawab Biola sambil menghembuskan nafasnya dengan berat. Seolah-olah ada beban berat yang harus ia hadapi.


"Kalau bukan soal Mama lalu soal apa?" Tanya Keynan heran.


"Bisakah kita kerumah sakit." Pinta Biola lagi yang membuat Keynan bingung plus khawatir.

__ADS_1


"Kerumah sakit? Kamu sakit apa sayang? Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit?" Tanya Keynan khawatir.


"Aku baik-baik saja Key. Sepertinya aku harus memberitahumu sebuah rahasia yang telah aku sembunyikan selama ini dari semua orang dan hanya aku dan Sinta saja yang tahu tentang rahasia ini. Aku ingin jujur padamu mulai sekarang. Tapi untuk sekarang aku ingin pergi kerumah sakit A. Maaf karena menunda penerbangan kita." Ucap Biola dengan raut wajah yang bersalah.


"Rumah sakit A? Itu kan tempat Nenek tua itu dirawat. Kenapa Biola mau kerumah sakit itu? Apa Biola ingin menjenguk Nenek tua itu? Tapi dari mana Biola tahu kalau Nenek tua itu dirawat dirumah sakit A? Padahal selama ini Biola selalu dalam pengawasanku." Pikir Keynan bingung.


"Rahasia apa? Terus untuk apa kerumah sakit A?"Tanya Keynan bingung.


"Aku mohon Key." Ucap Biola dengan wajah yang memelas.


Keynan yang melihat raut wajah istrinya yang memelas seperti orang putus asa pun membuat hatinya terasa sakit. Sungguh Keynan tak tega melihat istrinya memohon seperti itu kepadanya.


Keynan memeluk tubuh istrinya dengan erat dan mendaratkan sebuah kecupan hangat dipucuk kepala istrinya.


"Baiklah sayang, kita akan tunda penerbangan kita ke Inggris. Ayo kita pergi kerumah sakit A. Aku akan menunggumu sampai kamu siap menceritakan rahasiamu kepadaku." Ujar Keynan lembut.


Merekapun menunda penerbangan mereka ke Inggris dan membuat Mama Kania dan Pak Raihan bingung.


"Kenapa kalian menunda penerbangan kalian? Apa kalian tak tega meninggalkan Mama?" Tanya Mama Kania dengan PD nya. Tapi tersirat kegembiraan dihatinya.


"Iya kenapa kalian menunda penerbangannya?" Lanjut Pak Raihan.


"Ada sesuatu yang belum sempat kami urus dan kami lupakan jadi kami perlu mengurus urusan yang terlupakan itu. Agar kami bisa hidup tenang nantinya." Jawab Keynan yang membuat Mama Kania dan Pak Raihan bingung.


"Urusan apa? Yakin karena gak tega ninggalin Mama?" Tanya Mama Kania dengan penuh harap.


"Dasar anak durhaka!" Cibir Mama Kania dengan emosinya dan hanya mendapatkan cengiran tak berdosa dari Keynan.


"Ya udah kalau begitu kalian cepatlah selesaikan urusan kalian." Jawab Pak Raihan.


"Iya Pah." Balas Keynan.


Keynan dan Biola pun pergi kerumah sakit A.


Tanpa bertanya letak kamar pasien yang akan ditujunya, Biola langsung mengajak Keynan ke salah satu kamar pasien di Rumah sakit A.


"Sayang kita mau kemana? Emang kamu pernah kerumah sakit ini dulu?" Tanya Keynan binging.


"Aku gak pernah kerumah sakit A. Kamu ikut aja jangan bawel." Jawab Biola yang lagi-lagi membuat Keynan bingung.


"Belum pernah kerumah sakit A tapi kenapa dia seperti hapal tempat dirumah sakit ini?" Pikir Keynan sambil mengikuti langkah kaki istrinya.


Tiba-tiba Keynan tersadar dengan arah yang Biola tuju.

__ADS_1


"Tunggu,, tunggu,, tunggu...!! bukannya ini arah ke kamar Nenek tua itu dirawat? Lalu kenapa Biola mau menjenguk Nenek tua itu? Dan dari mana dia tahu letak kamar Nenek tua itu?" Pikir Keynan sambil mengikuti langkah kaki istrinya.


Hingga tibalah mereka disalah satu kamar pasien di rumah sakit A. Keynan sudah menduga kalau tempat yang dituju istrinya itu adalah kamar pasien Oma Laras.


Sebelum Biola membuka pintu kamar pasien Oma Laras, Keynan lebih dulu menarik tangan istrinya. Sehingga mereka saling berhadapan didepan pintu kamar pasien Oma Laras.


"Kenapa kesini? Aku gak mau melihat kamu bertemu dengan dia! Dia itu Nenek tua jahat yang tidak mau mengakui cucu kandungnya dan bahkan hampir membunuhmu. Ayo kita pulang!!" Ucap Keynan dengan nada tinggi dan menarik tangan istrinya untuk menjauhi kamar pasien Oma Laras.


"Tidak Key!! Aku ingin memberi dia kesempatan. Aku ingin memberi dia kesempatan untuk yang terakhir kalinya. Setidaknya aku ingin membuatnya tenang dialam sana." Jawab Biola yang membuat Keynan lagi-lagi bingung.


"Apa maksudmu?" Tanya Keynan sambil menatap istrinya dengan bingung.


Sementara Biola hanya bisa menundukan kepalanya untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Tatap aku!" Ucap Keynan yang tidak dihiraukan oleh Biola.


"Tatap aku Bi!" Ulang Keynan dengan nada tinggi tapi lagi-lagi tidak digubris oleh Biola.


Keynan menarik dagu istrinya dengan paksa. Keynan sangat terkejut pada saat melihat mata indah istrinya yang dipenuhi oleh air mata untuk kedua kalinya dihadapannya.


"Hiks... hiks... du_dulu aku sangat ingin mendapatkan kasih sayang darinya. Ta_tapi dia selalu saja memberikan kasih sayangnya kepada Mona. Aku tidak membencinya hingga kecelakaan dikapal pesiar 15 tahun yang lalu membuat hatiku perlahan menjadi membeku. Aku tidak tahu kenapa aku bisa bersikap sedingin dan secuek itu kepada orang lain. Aku selalu merasa kalau sikapku itu karena keluarga Anggara yang tidak menganggapku tapi aku juga merasa ada hal lain yang membuat aku bersikap dingin dan cuek seperti itu. Tapi aku tidah tahu apa?" Ucap Biola sesenggukan yang membuat hati Keynan seperti teriris oleh pisau yang sangat tajam.


Keynan memeluk istrinya dihadapan orang-orang yang sedang berlalu-lalang dirumah sakit itu.


"Maafkan aku yang tidak bisa mengerti perasaanmu sayang. Aku hanya tidak ingin kamu tersakiti lagi. Jangan menangis lagi ya. Karena tangisanmu membuat hatiku sakit." Ujar Keynan sambil memegang kedua pipi istrinya dengan kedua telapak tangannya dengan lembut dan menghapus air mata istrinya.


"Ayo kita masuk! Aku akan selalu menjagamu. Aku akan menjadi kesatria dan pangeranmu yang akan selalu melindungimu Tuan Putri kecilku." Ujar Keynan lagi yang mendapat anggukan dari istrinya.


Keynan membuka pintu kamar Oma Laras perlahan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Terlihat Pak Bayu yang sedang duduk dikursi disisi Ibunya yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Terlihat Pak Bayu juga sedang berurai air mata karena mengingat ketidak becusannya menjaga Biola dulu. Dan mendekatkan anak kandungnya dengan orang yang mengincar nyawa anaknya.


Pak Bayu menghapus air matanya dan menengok kearah pintu yang dibuka. Pak Bayu pikir itu adalah suster yang ingin mengganti infus Oma Laras.


Tapi alangkah kagetnya Pak Bayu saat melihat anak kandungnya yang selalu ia dan Oma Laras rindukan datang menghampiri mereka dengan tak terduga.


Pak Bayu mematung ditempatnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun saking kagetnya.


____________________



__ADS_1




__ADS_2