
"Majukan sedikit punggungmu, dan gerakan tanganmu, lemaskan jari-jarimu jangan terlalu kaku" ujar Meina, wanita tua yang dibayar khusus untuk mengajarkan penari. Dia adalah penari senior yang telah berkeliling Asia selatan.
Gerakan demi gerakan Gayatri coba ikuti hasilnya sangat buruk. Badannya kaku, sekaku ekspresi wajahnya.
"Jaman dulu saat kami belajar menari, para guru bisa mematahkan tulang-tulang kami dengan kayu. Sekarang berusahalah, semuanya harus tampil sempurna saat penobatan nanti" ujar Meina menata tajam Gayatri.
Sepanjang hari Gayatri tidak diizinkan makan dan mandi. Dia hanya diperbolehkan menengak air putih. Gayatri dipaksa mengulang gerakan dan rangkaian tarian yang sama hingga nafasnya tersenggal-senggal.
Gunjana telah dipindahkan kembali ke bangsal wanita. Gayatri tanpa pelayan, tidak ada satupun di Odisa yang boleh berbelas kasih padanya.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Jhanvi pada Rishi.
"Kelelahan" jawab Rishi singkat.
Jhanvi tersenyum sambil membelai perutnya. Itulah balasan untuk wanita yang berani mengujinya. Gayatri harus merasakan itu agar dia tahu posisinya. Jhanvi tidak mau langsung melabrak wanita itu karena lidahnya setajam pedang, tatapan matanya merendahkan Jhanvi seolah mengatakan bahwa Jhanvi adalah perebut suaminya. Sudah cukup dua pertemuan mereka Gayatri memberikan tatapan merendah padanya. Jhanvi benci itu, dia benci semua yang ada pada Gayatri.
Jhanvi memilah-milah baju yang cocok dikenakannya pada upacara nanti. Sebuah gaun merah rasanya terlalu biasa. Bagaimana dengan gaun putih? ah yang benar saja, ini bukan pemakamanku. Gaun biru? terlalu kuno. Aha bagaimana dengan gaun ungu muda nan lembut diselingi butiran permata dari Agra.
"Tambahkan sulaman permata pada gaun ini" ujar Jhanvi.
"Nyonya, mengapa tidak warna merah dan keemasan itu adalah warna bendera Agra" tanya Rishi khawatir.
Jhanvi menata Rishi sambil berpikir. Kemudian dia memutuskan memakai gaun merah yang dihiasi jahitan keemasan pada ujung gaun kembangnya. Meskipun Jhanvi sedikit kecewa tapi mengambil hati rakyat Astapura adalah tujuan utamanya.
"Jangan lupa kenakan penutup wajah" ujar Rishi lagi.
"Seluruh Hindustan telah mengenali wajahku! kenapa aku harus menutup wajahku?" Jhanvi mulai kesal. Emosinya mudah terpancing dengan hal-hal kecil.
__ADS_1
"Ini tradisi nyonya. Sekalipun dunia telah mengetahui kecantikan anda, saat dinobatkan anda harus menutup sebagian wajah terlebih dahulu sampai pangeran mengumumkan penobatan ratu" Rishi berusaha menjelaskan.
Tidak masalah, selangkah lagi aku akan menuju kemenangan dan Gayatri akan sujud di bawah kakiku batin Jhanvi.
Sementara itu Gayatri diizinkan beristirahat pukul 03.00 dini hari dan harus bangun pukul 05.00 pagi. Gayatri nampak kelelahan. Susu, mentega, dan roti tidak mampu membangkitkan semangatnya dan rasa lelahnya. Gayatri menguatkan hatinya, dia telah melalui perjalan panjang yang lebih melelahkan dari ini, dia pasti bisa melewati cobaan ini.
"Pakai pakaian kalian dan bersiaplah!" perintah Meina.
Semua penari yang berjumlah 100 orang berbaris di aula besar itu dengan jarak setengah hasta agar tidak saling menyenggol saat menari.
"Kenakan perhiasan kalian"
Para penari saling membantu memakaikan aksesoris berupa gelang, anting, dan yang paling penting adalah gelang kaki bertabur lonceng kecil. Kemanapun mereka melangkah lonceng itu akan bergemerincing.
Tabuhan gendang mulai dimainkan diikuti bunyi terompet, suling, dan instrumen lain memeriahkan tarian itu.
"Berputar pastikan gaun kalian mengembang" ujar Meina melirik Gayatri yang berada di barisan paling depan.
"Ingat, siapapun yang melakukan kesalahan kalian semua harus mengulang gerakan dari awal" teriak Meina lagi sambil berkeliling memastikan keserasian gerak.
"bugh" tongkat yang Meina pegang menghantam punggung Gayatri.
"Hentikan musiknya!"
"Dengarkan aku, kalian semua akan berhadapan dengan tamu yang hadir. Tidak peduli mereka bangsawan atau rakyat jelata, tugas kalian adalah menghibur. Tundukan kepala dan turunkan punggung kalian, beri hormat pada semua yang hadir!"
Penari di sekitar Gayatri meliriknya kesal salah satu diantara mereka berceloteh "bukankah ini gerakan dasar? kita baru saja mulai dan harus mengulanginya dari awal"
__ADS_1
Wajah Gayatri merah padam. Punggungnya yang belum sembuh dari rasa sakit, semakin bertambah dua kali lipat. Mereka mulai menari lagi dari awal.
Meina naik ke balkon yang ada di aula itu, melihat dari atas gerakan yang belum sama. Pandangannya selalu mengawasi Gayatri, kemampuan menarinya di bawah rata-rata. Tapi lebih baik dari kemarin dia sudah mulai menyesuaikan gerakannya dengan ketukan musik. Mereka berlatih hingga petang tiba.
"Cukup" perintah Meina.
"Istirahatlah, besok kita harus latihan lebih pagi. Sore kalian harus mempersiapkan untuk pesta di hari berikutnya. Makanlah yang banyak, tidurlah lebih awal.
Makanan mewah dihidangkan untuk mereka. Makanan itu adalah permintaan Meina pada ibu suri karena penarinya kelihatan lelah dan kurang gizi. Begitupun jam istirahat mereka diperpanjang agar di hari penobatan nanti mereka dapat tampil maksimal.
"Ibu Suri membuat keputusan yang tepat, Nyonya. Mereka akan menyelamatkan wajah Astapura jika penampilan mereka bagus" ujar Rishi menenangkan Jhanvi yang tampak kesal.
"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Jhanvi menyadari amarahnya tidak memiliki dasar yang masuk akal.
"Mungkin karena ini masa kehamilan anda jadi anda lebih mudah marah dan cemas dari biasanya. Kami kehilangan sosok putri Jhanvi sang pemberani yang anggun" ujar Rishi lagi.
Jhanvi tertegun. Sikapnya sudah terlalu jauh. Dia harus kembali menjadi Jhanvi yang anggun dan tetap tersenyum, cukup satu hari saja.
"Kemana Siddarth" tanya Jhanvi saat menyadari Siddarth belum mengunjunginya hari ini.
"Di pelabuhan, hari ini jadwal barang masuk dari Nusantara dan Tuan Bansheer sepertinya tidak bisa hadir. Yang aku dengar, penghasilan di sana sedang banyak-banyaknya, tidak bisa ditinggalkan begitu saja"
Bansheer? ah, lelaki yang selalu ada di samping Siddarth, ahli strategi perang. Jhanvi mewaspadi lelaki itu sejak awal, namun semakin lama rasanya tidak ada yang perlu ditakuti dari lelaki itu. Mereka berdua, Siddarth dan Bansheer sangat mirip, cara mereka bernegosiasi dan mengambil keputusan. Jhanvi tidak akan melupakan sikap menghakimi Bansheer saat dia selalu berada di dekat Siddarth. Lelaki itu satu-satunya yang terus memperingati Siddarth bahwa dia butuh persetujuan Gayatri sebelum menikahi Jhanvi.
"Baiklah, tidak masalah. Kehadiran Bansheer tidak akan membawa pengaruh apapun dalam penobatan ini" ujar Jhanvi.
"Besok, jangan biarkan siapapun menemuiku hingga hari penobatan. Aku perlu mempersiapkan diriku. Minta dayang-dayang untuk mempersiapkan perawatan tubuh dan rambutku. Pastikan aku memiliki bahan-bahan terbaik. Jangan lupa bajuku harus licin, mengkilap, dan wangi"
__ADS_1
Rishi pamit tanpa banyak bicara. Dia segera mengabari perintah Jhanvi pada dayang-dayangnya. Mereka akan semakin sibuk dua hari ke depan.
...----------------...