Dvesa

Dvesa
Surat dari Utari


__ADS_3

“Permisi tuanputeri” ujar salah seorang pelayan membangunkan Gayatri yang sedang tertidur lelap.


Gayatri kaget saat salah satu diantara mereka membuka jendela kamarnya. Cahaya matahari menyeruak masuk melalui jendela tersebut.


“Saya Rupika  dan ini Gunjana” mulai hari ini


kami adalah pelayan puteri Gayatri” ujar Rupika memperkenalkan diri.


“Ke mana Siddarth?” tanya Gayatri


“Tuan sudah pergi sejak pagi ke kota Badra bersama beberapa pengawalnya” ujar Rupika.


“Ini ada surat dari puteri Utari untuk anda” Rupika meyerahkan surat dengan kedua tangannya.


Gayatri membaca surat tersebut


Untuk Gayatri tercinta,


Besok pagi aku dan suamiku langsung


berangkat ke Dharmapala kerajaan tempat suamiku ditugaskan. Ku harap kau betah


selama tinggal di bangsal wanita. Aku tidak dapat menjelaskan secara rinci, karena sesuai adat yang belaku suamimulah yang akan mengajarimu tradisi selama di Astapura. Salah satu pelayanmu Gunjana, adalah pelayan yang melayaniku dulu.


Aku mempercayainya.


Saudari terkasihmu,

__ADS_1


Utari.


“Tuan puteri kami sudah mempersiapkan pemandiannya silahkan berendam. Kami akan membantumu membersihkan diri”


“Aku bisa membersihkan diriku sendiri. Biarkan aku melakukannya” ujar Gayatri cepat.


Setelah mandi, mereka berdua membantu memakaikan pakaian dan mengeringkan rambut Gayatri.


“Ceritakan padaku tentang Astapura, aku ingin mendengarnya” ujar Gayatri.


“Apa yang ingin anda ketahui?” tanya Rupika sambil menyiapkan teko aroma terapi berisi air mendidih yang dicampurkan dengan pewangi alami dan uapnya digunakan untuk meluruskan rambut yang kusut.


“Pria seperti apa Siddarth? Pertemuan kami sangat singkat aku tidak tahu kebiasaanya”


Rupika dan Gunjana saling berpandangan.


Siddarth kembali ke kerajaan dan mulai ikut dalam beberapa peperangan.


Gayatri membayangkan di usia yang masih sangat muda, Siddarth menyaksikan banyak


pertumpahan darah.


“Tuan Siddarth adalah pria yang sangat serius. Tuan Siddarth sering bersama banyak wanita, tetapi tidak ada satu pun yang menarik perhatian Tuan Siddarth, selain anda” ujar Rupika sambil tersenyum.


Gunjana memandang wajah Gayatri yang tampak tidak tenang.


“Apa ada sesuatu yang menganggu anda?” tanya Gunjana penuh selidik.

__ADS_1


“Siddarth sering bersama banyak wanita?” tanya Gayatri lagi.


“Tentu saja. Hal itu wajar terjadi di Astapura. Pada usia yang ke delapan belas, Tuan Siddarth telah memenangkan peperangan. Raja Sri Narendra sangat senang dan berkata bahwa Tuan Siddarth boleh meminta apapun termasuk setengah kerajaanya. Anda tahu apa yang Tuan Siddarth minta?” tanya Gunjana.


Gayatri menatap pantulan wajah Gunjana dari cermin yang ada di hadapannya, seolah meminta Gunjana melanjutkan ceritanya.


“Tempat tinggal para penari” ujar Gunjana.


Rupika menatap Gunjana dengan pandangan gelisah. Tidak seharusnya mereka menceritakan hal tersebut kepada pengantin baru.


Gayatri teringat pertemuan pertamanya dengan Siddarth di depan tempat tinggal para penari. Utari pernah berbisik padanya bahwa di sana adalah tempat tinggal para penghibur.


“Apa yang Siddarth lakukan di tempat tinggal para penari?” tanya Gayatri.


“Tuan bermalam di sana selama seratus hari” ujar Gunjan bangga.


“prangg!!!!” teko yang dipegang Rupika jatuh, isinya tumpah membasahi ujung saree Gayatri.


“Maafkan saya Tuan Puteri” ujar Rupika sambil berlutut dan membereskan teko yang berserakan.


“Saya akan menganti baju anda yang basah” ujar Rupika panik.


“Tidak perlu, aku bisa mengerikan baju yang basah ini. Kalian pergilah membawa teko itu. Hari ini pengantin baru diijinkan tinggal di kamar sampai matahari terbit besok


pagi" ujar Gayatri pada kedua pelayannya.


Rupika dan Gunjana segera pamit dari kamar Gayatri membawa teko yang isinya tinggal setengah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2