Dvesa

Dvesa
Siapa Gadis itu?


__ADS_3

"Apa yang akan kau rencanakan setelah ini?" tanya Saksenya dalam suratnya. Sejak hari Saksenya bertemu dengannya secara diam-diam pria itu intens mengirim surat pada Gayatri.


Gayatri membalas surat itu. Dia tidak punya rencana balas dendam seperti yang diharapkan Saksenya. Jika keluarganya tidak bersalah, maka sumpah ayahnya akan menjadi kenyataan. 


Satu minggu ini, Gayatri diam-diam memanfaatkan simpati orang-orang di istana dengan terus berbuat kebaikan. Sesuai rencananya, satu persatu pelayan istana mulai berpikir positif tentang dirinya. Bahkan para penari di Odissa mulai melaporkan apa saja yang Siddarth lakukan saat datang ke Odissa di minggu-minggu ini.


"Apa yang kau risaukan anak muda?" tanya Gopal pada Saksenya yang tampak murung. 


"Aku datang ke sini karena putra kawan lamaku tidak menunjukan wajah menyebalkannya di pelataran istanaku" sindir Gopal pada Saksenya yang sedang mengasah mata panahnya.


Saksenya tidak mempedulikan sindiran Gopal. Pikirannya tertuju pada balasan surat Gayatri. Kebaikan seperti apa yang ingin Gayatri tunjukan? bukankah pepatah "utang darah dibayar darah" begitu terkenal seantero Nusantara?


"bugh" pundaknya ditepuk cukup keras oleh Gopal yang merasa diabaikan.


"Siapa gadis yang berani mengacaukan pikiranmu?" tanya Gopal.


Matanya menatap tajam Saksenya.


Saksenya segera menepis tangan Gopal. 


"Hentikan paman!" elak Saksenya menyembunyikan raut terkejutnya.

__ADS_1


Gopal terpingkal-pingkal melihat reaksi Saksenya. Reaksi barusan menarik atensi Gopal lebih dalam. Dia mengekori Saksenya layaknya sahabat yang ingin tahu kelanjutan kisah percintaan Saksenya.


"Katakan padaku siapa dia?" 


"Aku akan menggantikan ayahmu memberi restu untuknya" 


ujar Gopal memaksa Saksenya.


"Tidak ada yang perlu aku ceritakan dan ini bukan seperti dugaanmu. Pulanglah! kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini!" 


Wow, kenapa Saksenya bersikap seperti ini. Dia selalu datang ke Indrajaya dengan sikap menyebalkannya dan hari ini Gopal berpikir untuk melakukan hal yang sama.


Sekeras apapun Gopal memaksa, Saksenya tetap bungkam. Hari ini Gopal menyerah. Dia pulang dengan tangan hampa namun hatinya senang. Ditengah kegundahannya terhadap serangan Hagai Khan, ada hiburan untuknya.


Sementara itu di Khasmir …


"Sonarika, tenanglah" pinta Istri Gopal.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, meninggalkan putraku sendirian?" ujar ibu Saksenya kesal.


"Sudah berminggu-minggu aku bersantai di Khasmir, sedangkan putraku harus mengurus Suballa sendirian" 

__ADS_1


Sonarika mulai bosan di Khasmir. Kabar tentang Hagai Khan seolah ditelan bumi. Pasukan Astapura telah mundur dari pelabuhan, lalu apa yang harus dia takutkan di sini. 


Sonarika ingin kembali ke Suballa. Tiap malam dia tidak dapat tidur dengan tenang memikirkan apa Saksenya makan dengan baik dan beristirahat dengan baik.


"Aku ingin kembali ke Suballa menemui putraku" rengek Sonarika.


"Mengertilah, Gopal dan Saksenya telah melakukan yang terbaik  Aku mohon jangan buat beban mereka bertambah dengan memikirkan kita" 


"Beban?" tanya Sonarika tidak percaya.


"Apakah putraku menganggap ibunya yang sudah tua ini sebagai beban sehingga mengasingkannya ke Kashmir" 


Istri Gopal menatap Sonarika sambil menggelengkan kepalanya. Akting Sonarika tidak bisa mengakalinya lagi.


"Hentikan ibu tua, kau terlalu cerewet" 


Sonarika menghentakan kakinya. Istri Gopal satu-satunya yang tahu tabiatnya. Dan yah, ada satu wanita lagi tapi Saksenya tidak menyukainya. Batin Sonarika sambil cemberut.


"Anak bodoh itu! kalau kami bertemu akan ku jewer telinganya agar dia lebih berperasaan terhadap wanita" batin Sonarika.


"Pantas saja putramu tidak berani pada wanita. Menantunya bisa kabur melihat tingkahmu" ujar istri Gopal seolah tahu apa yang baru saja dipikirkannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2