Dvesa

Dvesa
Apa yang Akan Kalian Lakukan?


__ADS_3

"Hei bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" tanya Rishi pada Gunjana.


"Entahlah, tuan Siddarth telah dibutakan oleh cinta. Kalian lihat, dia menatap putri Madhayaprasta penuh cinta" ujar Gunjana.


"Apa yang kalian lakukan, cepat berkumpul di kuil. Acara pernikahannya akan segera dimulai" Sanjana menegur para pelayan yang sibuk bergosip.


Rishi dan pelayan yang lainnya berlari menuju kuil.


"Oh Dewa, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Tuan Siddarth menggendong putri Jhanvi melewati 99 anak tangga, agar tiba di kuil Mahadewa" ujar Rishi heboh.


"Tuan bahkan tidak melakukan itu pada putri Gayatri" ujar Gunjana yang disambut tatapan mengancam Sanjana.


Telinga Gayatri panas mendengar ocehan Gunjana. 


Gunjana benar. Saat itu Siddarth meminta upacara mengelilingi api suci dilakukan di pelataran istana karena alasan, kami baru saja menempuh perjalanan jauh dari Nusantara. 


Hari ini mereka telah menunggang kuda bermil-mil jauhnya, Siddarth tetap memaksakan diri menggendong Jhanvi ke hadapan pandita.


Gayatri memandang ke-99 tangga yang tampak menjulang di hadapannya. Dia dan yang lainnya hanya bisa berdiri di tangga pertama membiarkan Siddarth berjuang bersama Jhanvi.


Saat Laksmi pergi, Gayatri pikir posisinya telah aman. Namun kehadiran Jhanvi membuat dirinya kembali ragu.


Jhanvi berasal dari keluarga bangsawan, putri tunggal raja Madhyaprasta. Gayatri dengar Janvi telah mempelajari bela diri, perang, politik, dan pemerintahan sejak kecil.


Tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya selain label sebagai istri sah Siddarth. 

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan nak? Jhanvi hanya seorang selir. Tidak perlu takut. Berbahagialah. Percayalah Siddarth akan berlaku adil" ujar Ibu Suri menenangkan Gayatri yang tampak gelisah.


"Tuan putri anda baik-baik saja" bisik Rupika.


Gayatri mengangguk lemah.


Beberapa saat kemudian upacara pernikahan di kuil telah selesai. Siddarth membopong Jhanvi di pundaknya sambil menuruni satu persatu anak tangga.


Siddarth tampak bahagia, sedangkan Jhanvi tersenyum malu-malu sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Siddarth.


Siddarth membawa Jhanvi menuju Odissa.


"Tinggalah sementara di sini" ujar Siddarth. Dia telah menyiapkan kamar paling indah, dan luas di dalam Odissa.


"Kau dan Gunjana makanlah makanan ini" ujar Gayatri dia tidak bernafsu terhadap makanan yang dibawa Rupika.


"Ahh, Tuan Siddarth sedang menuju kemari!" ujar Rupika ikut mengintip dari celah kamar Gayatri.


"Matikan lampu! katakan padanya aku sudah tidur" perintah Gayatri.


Kedua pelayannya memadamkan pelita dan mengibas-ngibaskan asapnya agak tidak terlihat seperti baru dimatikan.


"Tuan" hadang Gunjana saat Siddarth hendak masuk ke kamar.


"Tuan putri sedang istirahat. Beliau kelelahan seharian ini" bohong Gunjana.

__ADS_1


Siddarth menyingkap sedikit gorden kamarnya. Dia melihat Gayatri tidur membelakangi pintu kamar. Siddarth meninggalkan pesan pada kedua pelayan itu, bahwa besok dia ingin berbicara dengan Gayatri.


"Tuan sudah pergi" lapor Rupika saat wujud Siddarth tidak terlihat lagi dari celah kamar.


Gayatri bangun perlahan dari tempat tidurnya. Dia duduk di sisi ranjang.


"Jangan!" cegah Gayatri pada Gunjana yang hendak menyalakan pelita.


"Jika kalian ada di posisiku apa yang akan kalian  lakukan?" Bisik Gayatri pada kedua pelayannya.


Rupika dan Gunjana saling berpandangan dalam gelap.


"Singkirkan dia" ujar Gunjana.


"Tapi hanya dia yang berhasil buat Siddarth tersenyum semanis itu" bisik Gayatri lagi.


Mereka bertiga diam. 


Hening.


"Tidurlah, lupakan pertanyaan konyol itu. Besok pagi kita berdoa di kuil Mahadewa"


Gunjana dan Rupika meninggalkan Gayatri sendirian dalam gelap. Gayatri menghembuskan nafasnya berulang kali sambil berpikir bagaimana dia bisa menghadapi Siddarth besok.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2